Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, December 11, 2018

Bagaimana Memajukan Iptek Indonesia


Sudah rahasia umum iptek kita masih belum maju. Upaya untuk jadikan iptek kita unggul sudah dilakukan sejak Indonesia resmi menjadi Republik meskipun terlihat lebih gencar di zaman Orde Baru ketika BJ. Habibie menjabat sebagai Menristek RI. Orde baru jatuh pada 1998, diikuti dengan kejatuhan iptek nasional. Setelah itu pengembangan iptek dilakukan namun tidak sesistematis Orde Baru dan dengan reduksi-reduksi seperti dorongan untuk publikasi di jurnal internasional terindeks. Ditambah lagi dengan sikap responsif Pemerintah dalam upaya turut serta menjawab dunia yang tengah berubah. Terlihat dari kampanye serba 4.0 tanpa adanya upaya sistematis bagaimana kita ke sana.

Sialnya ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh tanpa penguasaan iptek. Iptek pun menjadi barang mewah di Indonesia, seperti halnya belum lama ini ada salah satu kampus nasional yang berhasil membuat prototipe motor listrik, publik heboh. Padahal jika kita mau "search", Elon Musk dengan Tesla-nya sudah dapat menjual mobil listrik sporty-nya ke berbagai negara dunia. China juga melakukan hal serupa, juga produsen mobil konvensional lain juga sedang berlomba-lomba kembangkan mobil listrik. Ini memperlihatkan bahwa motor listrik bukan barang baru, ada hal yang esensial di mesin listrik ini yaitu baterai. Lantas riset terkait baterai di Indonesia seberapa masif ? Jika motor listrik nantinya diproduksi massal, apakah sudah siap R&D-nya sehingga produknya nanti bisa kompetitif ?.

Mulai dari Mana

Kita seolah gegabah ketika bicara iptek. Sekarang heboh industri 4.0, nanti lagi bisa ganti. Kita tidak pernah berkaca bahwa kita pernah berhasil kembangkan teknologi tertentu di masa lampau. Selain BJ. Habibie, kita punya teknolog lain seperti Samaun Samadikun, Iskandar Alisjahbana, dll, tapi tidak pernah sedikitpun kita tahu peninggalan mereka di bidang teknologi apa. Tahunya Samaun adalah ketua LIPI dan Iskandar adalah Rektor ITB, tidak yang lain. Padahal jika kita bisa mengeksplorasi teknologi yang dikembangkan mereka, kita bisa mulai tidak dari nol sama sekali. Konkretnya jika bicara industri 4.0, Pemerintah harus bisa mapping periset-periset ML, IoT, dsb yang menjadi landasannya. Tanpa itu, mustahil kita bisa berperan lebih di industri 4.0. Kita tak lebih hanya sekedar konsumen para kooporasi besar dunia.

Lantas bagaimana jika kita belum punya SDM mumpuni di bidang-bidang di atas ? Kita bisa tidak bermain di riset basic, namun ke riset terapan. Tapi tetap ini dengan mapping para pelaku nasional. Mapping ini tidak dengan mengundang sekenanya unsur akademik dan perusahaan lantas berdiskusi tentang regulasi apa yang cocok. Tidak sekedar itu ! Regulasi hanya satu unsur, ada unsur lain. Saran saya, perlu kita perhatikan supply chain global. Shenzen bisa jadi kota metropolitan hanya dalam waktu 40 tahun (Silicon Valley China) karena sangat faham dengan supply chain global. Rantai distribusi dibangun betul di sini. Artinya tidak ada kemajuan tanpa perencanaan yang matang dari A-Z.

Kualitas hidup orang Indonesia sekarang memang naik jika dibandingkan dengan periode awal Indonesia merdeka, tapi apalah artinya kita bisa "makan enak" tapi kita tidak punya daya apapun atas diri kita. Iptek sejatinya adalah mengisi lubang yang kosong dari sisi ketidakberdayaan itu menjadi keberdayaan. Dengan begitu, kata merdeka menjadi hakiki.

Sunday, March 04, 2018

Endorsing New Model of Innovation System in Indonesia


Judul ini pas dibuat paper ilmiah dan dipresentasikan di forum internasional seperti konferensi. Tesis saya kemarin sebenarnya udah propose model sistem inovasi tapi tahapnya masi studi awal. Setelah tesis kelar dan saya mroyek bersama dosen STEI ngelihat persoalan di bidang industri TIK lebih riil. Apalagi setelah tahu bahwa tiap-tiap Kementerian punya road map-nya masing-masing dan seringkali tidak singkron satu dengan yang lain. Di situ saya kemudian mikir, penting adanya model sistem inovasi yang dapat menjawab problematika yang ada di dunia industri di bidang teknologi.

Model sistem inovasi yang saya maksud ini terntunya tidak sama dengan apa yang telah dirancang Pak Habibie di zaman Orde Baru. Saat itu kita tahu bahwa peran negara sangat dominan dalam menentukan arah kemajuan iptek nasional seperti dana pengembangan perusahaan di-backup oleh APBN. Sejak reformasi 1998, hal tersebut tidak mungkin terulang lagi karena Pemerintah tak lagi sekuat Orde Baru di mana pemain di level elite semakin banyak. Kalo dulu apa kata Presiden, sekarang tidak bisa lagi. Tarik kepentingan di legislatif saat ini kuat sekali. 

Ini yang membuat saya berfikir bahwa perlu diajukan sistem inovasi baru untuk menjawab ini semua ; tidak dibebankan sepenuhnya ke Pemerintah (state-led), tidak juga diserahkan begitu saja ke pasar (market-led). Proporsi dua kekuatan tersebut perlu diperhatikan agar pola pengembangan iptek terarah dan berkesinambungan (sustainable). Saya masih sependapat dengan langkah Orba di mana penguasaan iptek melalui industri jadi langsung berkaitan dengan pasar. Nah, model yang dapat mengkalkulasi ini semua mendapatkan berbagai macam batasan (boundary), seperti halnya :
  • Politik nasional yang masih belum stabil dengan saling tarik-ulur kepentingan 
  • Arus informasi lintas-negara dengan hadirnya teknologi informasi yang membuat batas-batas negara semakin tidak jelas
  • Masih kuatnya aliran ekonom konsumtif di Indonesia bukan produktif dengan mencipta produk bernilai tambah (add-value)
  • Ketidaksingkronan road-map antar lembaga Pemerintah seperti Kementerian dan negara
  • Minimnya jumlah industri di Indonesia yang kuat di riset
  • Birokrasi di lembaga Pemerintah/negara masih mengadopsi paradigma lama
Meskipun kita miliki berbagai keterbatasan di atas, namun kita juga memiliki beberapa kelebihan :
  • Hadirnya teknologi informasi memungkinkan kita mendapatkan sumber-sumber primer dari berbagai belahan dunia untuk pengembangan iptek nasional
  • Banyaknya generasi muda yang telah menyelesaikan studi S2/S3 dari berbagai disiplin keilmuan dan universitas terkemuka dalam/luar negeri
  • Etos kerja yang tinggi dan spirit kolaborasi dari generasi muda memungkinkan untuk bekerja lebih produktif
  • Hadirnya teknologi informasi memungkinan market tidak terbatas dari dalam negeri melainkan juga di berbagai belahan dunia lainnya
  • Bonus demografi yang mencapai puncaknya di tahun 2030
Dari kelebihan dan kekurangan di atas, saya berfikir untuk merumuskan model sistem inovasi baru. Semoga saya bisa menumpahkannya di paper ilmiah. Judulnya kurang lebih "Endorsing New Model of Innovation System in Indonesia". Semoga bisa terlaksana dalam waktu dekat, amiin.

*) Gambar diambil dari http://lbs.ac.at/the-performance-of-the-austrian-innovation-system/