Showing posts with label Berbagi pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Berbagi pengalaman. Show all posts

Thursday, December 31, 2020

2020 : Tahun Survival

Awal tahun 2020 awalnya tidak cukup baik-baik saja, pasalnya kakak saya keguguran. Saya kemudian pulang ke rumah secara tidak direncanakan. Saat itu saya sedang di BEC sambil ngeleptop di Upnormal. Setelah mengangkat telpon dari Ibuk, saya mendapatkan firasat kalo kakak bakalan keguguran. Langsung saya ke stasiun, reservasi di tempat, dan berangkat. Semua serba cepat dan singkat. Setibanya di stasiun Lamongan, saya menuju RSML dan ketemu keluarga. Tak lama setelah lahir, jabang bayi yang berusia 4 bulan dikuburkan semalam. Sorenya hari itu juga, orangtua mengantarkan saya ke stasiun menuju ke Bandung. Esok paginya ada rapat dengan pimpinan saya yang baru.

 

Masih di bulan Januari, saya sempat ke Jogja untuk menghadiri nikahan teman dekat saya saat Aliyah (SMA), sekalian bertamu dengan sepupu dan teman-teman dekat. Mungkin seminggu setelah itu, saya harus ke Jakarta untuk menjemput orangtua yang akan menghadiri wisuda adik di Depok. Kakak terpaksa tidak hadir karena recovery pasca keguguran. Alhamdulillah, wisuda di UI berjalan lancar. Pertama kalinya saya menghadiri wisuda di kampus ini. Saya datang agak siangan dari hotel sembari menikmati danau UI.

 

Bulan Februari, kabar virus baru menyeruak ke publik dengan berbagai drama dari Pemerintah. Pada 3 Maret, status pandemi ditetapkan Pemerintah dengan disertai kebijakan lockdown ala Pemerintah yang diistilahkan PSBB. Di awal-awal pandemi ini, berbagai diskursus terjadi di kalangan masyarakat mulai dari kritik ke Pemerintah yang tidak bener menangani pandemi, larangan ke luar, permodelan prediksi pandemi covid-19 akan berakhir, gotong-royong masyarakat untuk atasi pandemi, ancaman resesi, dan lain sebagainya. Intinya semua perhatian tercurah ke pandemi.

 

Sejak awal pandemi, saya tidak keluar sama sekali kecuali untuk hal yang urgen seperti halnya piket ke kantor. Iya kantor buka sejak awal pandemi meskipun dengan cara digilir. Sholat tidak pernah sekalipun di masjid, bahkan jumatan sekalipun. Selama satu Ramadhan penuh, saya ibadah di rumah. Sementara itu, makan saya dari Ibu kos sehari dua kali. Minuman biasanya pesan Go Food kalo tidak Chattime atau Kopi Kenangan. Saya diuntungkan satu : tetap bergaji dan disibukkan dengan pekerjaan. Saya tidak tahu jika pandemi yang menuntut saya tidak boleh kemana-mana tanpa dua hal tadi. Saya mungkin akan stres luar biasa.

 

Skip Lebaran

 

Untuk pertama kalinya, lebaran tidak di rumah. Saya sholat Ied sendiri di kosan. Saya sempat merekam dengan berbagai gadget yang saya punya, namun hasilnya belum juga ada karena belum punya waktu buat ngedit. Pasca sholat, saya video call keluarga dilanjutkan makan opor dari ibu kos. Malamnya saya sempat keluar dan melihat Bandung sepi sekali, seperti kota mati. Di waktu lain, saya sempat jogging keliling jalan Dago, sangat menakutkan karena sepi sekali. Khawatir dipalak orang-orang yang terpaksa memalak. Kita tahu bersama bahwa tak hanya pekerja pabrik yang banyak kehilangan pekerjaan, melainkan juga para preman, Pak Ogah, dan juga tukang parkir. Semua kena dampaknya.

 

“Selamat lebaran” pun hanya ada secara virtual. “Seperti tidak lebaran”, begitu kesan saya. Keluarga saya di rumah merayakan lebaran juga di rumah dengan Bapak sebagai imam. Tak hanya Idul Fitri, hari raya kurban pun saya tidak pulang. Namun, saat itu Bandung sudah ramai, jalanan sudah mulai macet. Saya melakukan sholat hari raya di masjid Salman dengan protokol lengkap. Pasca lebaran, kantor sudah lebih ramai untuk menyambut 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik (PTTI) ITB yang jatuh pada 3 Juli 2020.

 

Mencoba Tetap Sibuk

 

Terlalu sibuk memang tidak baik karena rentan stres, apalagi jika tidak ada kesibukan. Pastinya lebih stres. Saya diuntungkan sejak awal pandemi tetap sibuk. Sejak awal tahun saya membantu menuntaskan portal arsip statis ITB dengan mahasiswa IF dan alhamdulillah selesai sampai pertengahan tahun. Selanjutnya, terlibat lagi di website baru kampus di mana telah kami inisiasi sejak tahun lalu. Website ini di-launching beberapa hari sebelum 3 Juli 2020, tepat 100 tahun PTTI. Selain itu, pembuatan buku dengan MoTLab SBM dan juga pembuatan majalah tetap berlangsung. Majalah “ITB Magz” edisi reborn terbit pada 3 Juli 2020 secara online setelah terakhir terbit pada 2013 silam.

 

Patokannya setelah lebaran, saya mulai keluar untuk ngopi meskipun seringkali di dua tempat. Di waktu bersamaan, saya tengah menyiapkan persyaratan untuk studi S3 di SBM. Saya mengikuti tes TPA bahkan sampai empat kali baru lulus. Pertama beberapa saat sebelum pandemi ditetapkan sampai terakhir lulus dengan skor 575,17 setelah tes tanggal 4 Oktober 2020. Juga secara lebih aktif cari jodoh dengan mengontak beberapa calon potensial. Setelah Juli, saya dengan tim mempersiapkan proses penilaian PPID dan juga mulai mengerjakan majalah untuk edisi Desember 2020.

 

Capaian

 

Produktivitas saya dalam menulis atau membaca buku non-paper saya akui menurun drastis. Meskipun demikian, saya punya beberapa capaian. Pertama, terbitnya ITB Magz mulai dari Juli kemudian Desember 2020. Prosesnya tidak mudah karena berpindah stakeholders mulai dari Forum Guru Besar (FGB) berpindah ke Biro Komunikasi dan Humas. Implikasinya timnya berubah, begitupula konsepnya. Jika edisi Juli 2020 hanya versi online saja, di edisi Desember selain online ada cetak yaitu versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan masing-masing dicetak sebanyak 500 eksemplar.

 

Kedua, diterimanya saya sebagai calon mahasiswa S3 SBM. Sejak awal tahun pra pandemi, saya sudah merencanakan untuk mendaftar di DSM karena tidak memungkinkan saya untuk studi di luar negeri. Persiapan bahasa saya minim sekali. Alhamdulillah pada 24 November saya dinyatakan diterima. Saya akui saat wawancara buruk sekali karena tidak mempersiapkan untuk presentasi dalam bahasa Inggris. Hal itu membuat saya ragu untuk diterima. Namun alhamdulillah, terbayarkan sudah usaha saya empat kali tes TPA meskipun menyisakan tes ITP. Saya diterima dengan keharusan ikut matrikulasi mulai bulan depan. Saya sudah daftar dan bayar. Nantinya saya akan mengikuti kuliah sebanyak 9 SKS selama satu semester sebelum masuk DSM pada pertengahan tahun depan.

 

dia adalah capaian terbesar selama 2020

 

Capaian lainnya yaitu draft buku MoTLab sudah ada, menunggu review untuk saya revisi dan kemudian cetak. Prosesnya masih agak panjang, namun saya cukup lega karena draft-nya sudah jadi. Selain itu, saya sempat menjadi salah satu pembicara di webinar 100 tahun PPTI dengan dosen dan senior saya secara daring. Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya. Dari webinar ini saya mengenal seorang Guru Besar Emiretus dari UI yang mengirimkan email ke saya setelah acara dan kemudian bertukar nomor WhatsApp. Selain itu, belum lama ini saya mulai lancar menyetir mobil setelah pertama kali mencoba pada 2010 silam.

 

Namun dari beberapa capaian di atas, bagi saya mendapatkan jodoh adalah capaian terbesar. Setelah berinteraksi secara daring pada 3 Juli 2020, esoknya saya bertemu di kedai langganan saya dan pada hari tersebut saya langsung yakin bahwa dia adalah jodoh saya. Setelah ketemuan itu, saya berinteraksi secara online selama dua minggu. Di saat menunggu tersebut saya sempat ragu, namun kemudian mantab setelah istikhoroh. 25 Juli 2020 saya jadian dan komitmen untuk serius. Sejak saat itulah malam minggu saya tak lagi sendiri. Kami memutuskan bertunangan pada 12 Desember 2020. Tunangan digelar di salah satu hotel di Bandung dengan dari pihak saya diwakili Bapak, Ibu, adik, dan Pak Lik. Kakak saya hamil tua sehingga berhalangan hadir.

 

 

Tetap survive

 

Pandemi berdasarkan prediksi akan berakhir setelah tiga bulan. Realita menunjukkan lain bahwa sampai sekarang pandemi ini tetap berlangsung dan bahkan lebih parah. Kini tidak jelas kluster adanya di mana. Satu-satunya harapan pandemi bisa diakhiri adalah dengan vaksinasi yang rencananya akan dimulai di awal tahun depan. Jika dulu yang kena covid seolah menjadi aib, saat itu seolah lumrah. Banyak orang dekat terkena covid bahkan ada dari keluarga saya. Virus ini telah masuk kampung saya di Jatim. Di bulan Agustus lalu bahkan sepupu saya meninggal karena penyakit ini. Bahkan di detik ini, keluarga saya berada dalam masa isolasi. Ada seorang positif dengan tanpa gejala.

 

Sebelum tunangan saya sempat pulang ke rumah pertama kali sejak pandemi yaitu pada Oktober sekitar 2 minggu. Kepulangan saya ini setelah saya menyelesaikan wawancara untuk masuk DSM dan beberapa hari setelah ibu dioperasi kakinya. Kepulangan kedua seminggu setelah tunangan yaitu selama 5 hari tepat di hari ulangtahun saya ke-30 (senang sekali pas ultah saya dihadiahi sebuah dompet dan sweater yang dibeli dari Jepang, thanks sayang ). Konsekuensi dari pulkam ini, saya harus menjalani rapid tes antibodi (2 kali di stasiun), tes swab PCR (1 kali di RSML), dan tes rapid antigen (1 kali di Klinik Kimia Farma Unpad Dago).

 

Namun di tengah kondisi yang serba dibatasi khususnya keharusan mematuhi protokol kesehatan dan berbagai fasilitas umum yang dibatasi/ditutup, saya merasa lebih dekat dengan keluarga. Biasanya dulunya seminggu sekali telepon, sekarang dua hari sekali. Ditambah lagi dengan adanya tunangan di mana  setiap hari kami berkomunikasi secara intens menambah semangat saya untuk hidup. Pandemi ini telah membuat saya (mungkin termasuk Anda) untuk memandang hidup dalam kacamata yang berbeda.

 

2021 : Harus tetap survive

 

Pandemi belum juga tanda-tanda berakhir, maka tak lain kita harus tetap bisa survive. Saya kira itu adalah tujuan utama di tahun depan. Tahun depan saya berencana menikah dan juga mulai kuliah S3. Saya kira itu adalah langkah besar saya dalam hidup karena keduanya memiliki konsekuensi yang besar. Tidak seperti 2020, kamar kosan saya akan menjadi kantor utama karena saya akan bekerja secara penuh waktu dari sini. Saya harus lebih patuh pada jadwal dan target yang saya buat sendiri karena tanpa itu rencana akan mudah gagal. Rencananya di awal tahun saya akan memulai riset S3.

 

InsyaAllah siap menjalani tahun 2021 dengan semangat, merdeka !

 

 

 

Bandung, 31 Desember 2020

Thursday, January 02, 2020

Refleksi 2019

Dekade baru 2020 sudah dimulai. Saatnya saya membuat kilas 2019 dari aktivitas yang saya jalani selama itu. Sejak dari awal tahun, kefokusan saya adalah seputar bagaimana riset saya selesai. Keluarannya yaitu publikasi minimal tiga paper di jurnal internasional Q3. Energi saya kesedot ke sana setiap hari khususnya di pagi dan sore hari dengan nongkrong di kafe sampai malam. Tak hanya riset, saya tetap menjalankan pekerjaan saya yang lain terkait manajemen informasi. Meskipun itu prioritas kedua, namun realitanya saya justru habiskan waktu saya lebih banyak ke situ.

Seingat saya di akhir tahun 2018, saya telah menjalin komunikasi dengan dosen Informatika untuk meminta beberapa mahasiswanya membantu kami di PPID. Alhamdulillah, permintaan saya dikabulkan dengan diberikan tujuh mahasiswa dengan satu diantaranya adalah mentor. Kebetulan di jurusan tersebut matakuliah Rekayasa Perangkat Lunak yang tugas utamanya adalah mengerjakan projek profesional secara berkelompok. Saya memberikan tugas mereka untuk membuat website PPID dengan tampilan/fitur kombinasi dari website PPID milik PPID DKI Jakarta, IPB, dan ITS.

Selain melibatkan mahasiswa IF, kami juga melibatkan 10 mahasiswa S1 lintas jurusan untuk magang di PPID. Mereka mengerjakan banyak hal seperti content creator website dan media sosial, infografis, admin media sosial, video creator, pengembangan portal satu layanan, website LLH, mobile app android, dan juga mengembangkan web PPID. Jika ditotal di semester pertama tahun lalu saya harus mengkoordinasi total 17 mahasiswa aktif. Itu belum ditambah dengan aktivitas rutin di PPID di mana saya harus berkali-kali memimpin rapat seperti penentuan Daftar Informasi Publik (DIP) dan Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIK). Saya juga sempat ke Surabaya untuk mewakili kampus di acara sosialisasi PPID dari Kemenristekdikti.

Saya dengan piagam ITB "Informatif" di Intana Wapres RI
Semester awal selesai, selesai juga koordinasi saya dengan mahasiswa IF. Meskipun demikian, pekerjaan mereka perlu penyempurnaan. Untungnya ada mahasiswa magang di PPID yang menangani persoalan ini. Menjelang semester kedua, pekerjaan besar lainnya ada lagi yaitu pengembangan website official ITB. Saat liburan semester genap, kami merekrut 16 mahasiswa yang akan membantu kami dengan posisi content writer, graphic designer, dan photographer. Mereka kami kontrak 5 bulan. Selain mereka yang masuk dalam tim web di bawah koordinasi saya adalah 3 pegawai dengan posisi backend developer, frontend developer, dan administrasi. Sementara itu, mahasiswa magang untuk PPID kali ini bertambah dua menjadi 12 orang dengan posisi sedikit berbeda dengan semester pertama. Kali ini ada empat orang khusus mengerjakan web ITB Magz (2 orang) dan konten majalah tersebut (2 orang). Jika ditotal, saya mengkoordinasi secara langsung 31 orang.

Di semester dua ini, kami dihadapatkan dengan pemeringkatan keterbukaan informasi publik untuk PPID. Untungnya update DIP-DIK udah, begitu pula pengembangan website-nya. Dalam rangka pemeringkatan, saya seperti tahun sebelumnya turut mendampingi atasan untuk presentasi di Jakarta. Di luar pemeringkatan, saya sempat diutus ke Makassar untuk mewakili kampus menghadiri workshop reformasi birokrasi dari Kemenristekdikti. Tiga bulan menjelang berakhirnya tahun, saya memulai menulis buku tentang “Komersialisasi Teknologi” dengan dosen di MoTLab SBM. Pekerjaan ini adalah subtitusi atas belum berhasilnya saya publikasi paper. Dengan beban yang besar ini, saya spend waktu sore saya hampir setiap hari di kafe. Saya di sana sampai malam sekitar jam 21 atau 22.

Selain pekerjaan rutin, tulisan saya sempat diterima di salah satu surat kabar nasional yaitu Jawa Pos setelah sebelumnya ditolak oleh surat kabar lain. Saya aktif menulis di blog wordpress saya, namun tidak dengan blog domain [dot]com dan juga medium saya. Di sana saya menulis beberapa saja. Di tahun itu, saya belum berhasil di hal asmara meskipun sempat dekat dengan beberapa perempuan. Saya biasa habiskan waktu luang saya untuk jogging di Saparua dan juga ngopi di Los Tjihapit setelah sebelumnya sarapan di Mak Eha.

Luaran

Meskipun masih belum berhasil untuk publikasi di jurnal internasional, juga fokus untuk studi doktoral, alhamdulillah ada beberapa capaian yang bisa saya banggakan di tahun 2019 ini. Pertama, ITB melalui PPID mendapatkan penghargaan tertinggi dari Komisi Informasi Republik Indonesia dengan predikat “Informatif” setelah tahun sebelumnya “Menuju informatif” dan “Kurang Informatif”. Kedua, buku ketiga saya akan segera terbit. Kali ini dengan kolega saya dari MotLab SBM. Lebih senangnya lagi, buku ini diberi kata pengantar dari Pak Kusmayanto Kadiman, salah satu tokoh panutan saya. Ketiga, ITB akan segera memiliki tampilan dan fitur website baru. Kritik saya selama ini alhamdulillah dapat terjawab. Keempat, inisiasi kecil saya seperti ITB Magz dan portal satu layanan sudah ada wujudnya. 

Di ranah lari, alhamdulillah untuk pertama kalinya saya dapat finish marathon 42 km dengan waktu 7 jam kurang 42 detik. Saya terbilang nekat mengikuti event Pocari Bandung Marathon pertengahan tahun tersebut. Gelar "finisher" cukup membuat saya percaya diri sebagai pelari amatir. Kurang lebih tiga bulan setelah event tersebut, saya kembali mengikuti event lari yang kali ini di ITB Ultra Marathon Relay 9 atau lari sekitar 20 km. Saya mendapatkan rute di daerah Cianjur. Selain lari, di tahun 2019 saya sempat bertemu dengan tokoh-tokoh yang menjadi role model saya seperti Pak Wiranto Arismunandar, Pak Kusmayanto Kadiman, Pak Saswinadi Atmojo, Pak Subagjo, Pak Gede Wenten, Pak Trio Adiono, mas Arief Widhiyasa dan Pak Tjia May On (alm).

*) ditulis di Graha Pena Surabaya pada 2 Januari 2020 

Monday, September 09, 2019

Belajar menjadi Rektor dari Pak Wir dan Pak KK

Institut Teknologi Bandung (ITB) kini sedang mengalami pesta pemilihan Rektor periode 2020-2025 dengan jumlah kandidat yang mendaftar sejumlah 34 orang. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode awal era BHMN ITB pada 2000-an dengan jumlah pendaftar saat itu lebih dari 100 orang. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas terkait pemilihan Rektor saat ini, melainkan hanya akan memberikan pandangan terkait Rektor itu baiknya ngapain sih. Kebetulan saya beberapa waktu lalu mewawancarai secara langsung dua mantan Rektor ITB yang kata banyak orang ITB fenomenal yaitu Prof. Wiranto Arismundar (Pak Wir) dan Kusmayanto Kadiman, PhD (Pak KK).

Pak Wir dan Kiprahnya

Pak Wir menjabat sebagai Rektor ITB cukup lama yakni dua periode pada 1988-1997. Dalam kepemimpinannya sebagai Rektor, beliau menggagas visi ITB sebagai kampus yang ramah khususnya bagi orang luar. Beliau yang mantan pemain bola Persema Malang juga mencetuskan kuliah wajib olahraga. Baginya, tidak hanya aktivitas akademik yang harus dimiliki mahasiswa ITB melainkan juga aktivitas non-akademik seperti olahraga. Beliau juga sangat mendorong mahasiswa ITB untuk aktif di kegiatan ekstrakulikuler apapun. Tak hanya itu, program lain yang digagas beliau yaitu "zero drop out" belajar dari banyaknya mahasiswa ITB yang keluar tidak pada waktunya saat itu. Program itu tidak berarti ITB umbar ijazah, namun upaya ITB untuk membenahi sistem pengajaran dengan menakankan pendekatan pada mahasiswa khususnya yang bermasalah.

Dengan Pak Wir sekaligus pamer buku saya

Program paling fenomenal dari kepemimpinan beliau adalah pembangunan besar-besaran gedung ITB. Tercatat ada sekitar 13 gedung utama ITB dibangun di mana beliau seperti halnya empat labtek kembar, gedung Sabuga, Saraga, dan Sunken Court. Sampai saat ini, jejak beliau sebagai "Bapak Pembangunan ITB" tak hilang. Kita bisa lihat pesan Pak Wir di Plasa Widya dan juga pintu masuk gedung utama Sabuga. Terlihat pemikiran Pak Wir di sana "... Supaya lulusannya bukan saja sebagai pelopor pembangunan tetapi juga pelopor pesatuan dan kesatuan bangsa". Pembangunan ketika itu tidaklah mudah karena ITB tidak punya uang yang cukup. Berbekal sikap nekat, Pak Wir mengutus jajaran pembantunya untuk pergi ke Jepang cari dana dan dapat. Kepemimpinan Pak Wir dikatakan lengkap karena tak hanya fisik (gedung) yang dibangun melainkan mental juga yakni budaya akademik. 

Kiprah Pak KK

Pak KK bisa dikatakan Rektor dengan periode terpendek (2001-2004) dan bukan profesor satu-satunya sampai sekarang. Sebelum Rektor beliau adalah sekretaris Rektor yang dari sana beliau tahu banyak tentang ITB yang menjadi satu faktor untuk maju pada pemilihan Rektor di periode awal ITB sebagai BHMN. Saat menjadi Rektor, beliau menetapkan visi "ITB Bersih" tak hanya fisik melainkan mental. Program bersih-bersih Pak KK dimulai dengan pembersihan kawasan ITB dari hal yang paling jorok yaitu jamban, halaman, sampai PKL di jalan Ganesha. Saat itu ITB dibagi menjadi delapan zona dengan sejumlah karyawan dan satpam yang standby di sana. Jalan Ganesha yang penuh PKL disulap bersih berbekal kerjasama yang intens dengan Pemkot dan Kodam. Beliau mengadopsi konsep dari Kodam Siliwangi saat itu, "Cukat" yang berati "muncul-sikat" yang berarti ketika melihat PKL langsung diusir biar tidak jualan di sana. Satpam saat itu dipekerjakan khusus untuk mengawasi PKL di Jalan Ganesha. Tak hanya itu, dibuat halte angkot dengan gaya khas ala "gajah" dengan maksud biar PKL susah jualan di sana. 

Dengan Pak KK habis wawancara

Bersih selanjutnya adalah terkait mental. Beliau terapkan metode kepemimpinan ala CEO perusahaan dengan menekankan pada profesionalisme kerja. Beliau menyadari betul bahwa Rektor di masa BHMN harus unggul dalam dua hal sekaligus yaitu akademik yang unggul (The magnificent Rector) dan manajemen (CEO). Di kampus-kampus Amerika dua fungsi tersebut dipisah, namun tidak dengan ITB. Makanya tugas Rektor ITB bisa dikatakan sangat berat. Sebagai cara untuk menjalankan dua fungsi ini, beliau mengangkat Wakil Rektor dengan keunggulan di dua bidang tersebut. Sementara beliau memperkuat ITB melalui penguatan sisi profesionalisme untuk mewujudkan ITB sebagai kampus unggul. Maka di masa beliau memimpin, diterapkan merit system, dibuat Sistem Penjamin Mutu (SPM), PT LAPI, dan Yayasan LAPI. Gedung CC Barat dan CC Timur juga dibangun di masa beliau. Saat itu, beliau setiap rabu-kamis menyambangi alumni-alumni yang menjadi pimpinan di berbagai perusahaan di Jakarta untuk dimintai bantuannya. Nama-nama di Labtek kembar ITB adalah empat penyumbang terbesar saat itu dengan masing-masing menyumbang 25 Milyar rupiah.

Belajar dari Kedua Rektor

Kedua Rektor tersebut memiliki kemiripan yakni sama-sama memiliki visi besar ketika masa kepemimpinan masing-masing. Bagi mereka berdua menjadi Rektor ITB jauh lebih istimewa dibandingkan ketika keduanya diminta Presiden untuk menjadi menteri. Pak Wir adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di era Presiden Soeharto, sementara Pak KK adalah mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) di era Presiden SBY. Kedua Rektor ini sama-sama mengangkat pembangunan fisik dan mental meskipun dengan gaya dan pola yang berbeda. Jika Pak Wir membangun infrastruktur primer ITB (13 gedung utama) dan juga program peningkatan softskill, Pak KK membangun infrastruktur dasar ITB untuk dapat melesat menjadi Perguruan Tinggi terkemuka melalui pembangunan berbagai perusahaan ITB dan penguatan sisi profesionalitas baik untuk kalangan dosen maupun pegawai. 

Dari sana, tidak berlebihan jika keduanya adalah Rektor dengan kontribusi sangat besar pada almamater. Saya tidak mengatakan Rektor yang lain tidak berkontribusi. Sangat mungkin kontribusi Rektor lain juga besar juga namun saya tidak tahu saja. Saya angkat kedua tokoh ITB karena tak hanya saya yang membicarakan, melainkan juga banyak dari kalangan dosen dan pegawai. 

Pesan untuk Rektor ITB 2020-2025

Kata Bung Karno "Jas Merah, Jangan Lupakan Sejarah". Penting bagi 34 calon Rektor terdaftar untuk mengamati kiprah para Rektor sebelumnya lebih khusus dua tokoh yang saya angkat di sini. Kedua tokoh ini telah menulis masing-masing 3 buku (Pak Wir) dan 4 buku (Pak KK) yang isinya kiprah keduanya sebagai Rektor ITB dan Menteri. Mungkin perlu bagi calon Rektor untuk membaca buku-buku tersebut. Jika tidak cukup waktu membaca, mungkin bisa membaca tulisan saya ini, hehehe.

Dari cerita saya tentang kiprah dua Rektor ini dapat saya simpulkan tiga hal penting yang perlu dimiliki Rektor ITB ke depan. Pertama, menjadi Rektor adalah bentuk pengabdian pada almamater dengan implikasi terbesar baik untuk institusi dan orang-orang yang ada di dalamnya dan juga untuk bangsa, negara, dan dunia. Maka, pergunakan masa itu untuk bekerja total. Jangan dipakai posisi ini untuk sekedar jembatan menjadi menteri. Pak Wir dan Pak KK mengatakan menjabat Rektor ITB lebih menantang dari pada Menteri (Menteri tidak sebergengsi Rektor ITB ya, hehe). Kedua, visi boleh besar namun harus terukur dengan diwujudkan melalui program-program yang konkret. Buat apa ITB jadi world class university tapi internet sering mati dan Jalan Ganesha ruwetnya minta ampun, hehe (malah curhat). Ketiga, menggalakkan kolaborasi di lingkungan ITB. Zaman telah berubah, kini tak lagi masanya untuk berkompetisi namun masa untuk berkolaborasi. Jangan sampai ada sentimen antarunit/antarfakultas. ITB harus solid secara internal sehingga kita secara bersama-sama dapat bersaing dengan kampus besar di level ASEAN minimal dengan karya-karya besar tentunya. Bosen rasanya ITB seolah jago di level nasional saja. 


*Uruqul Nadhif Dzakiy (pegawai dan periset biasa)

Monday, July 29, 2019

Marathon dan Melawan Diri



Pertama kalinya saya mengikuti marathon kemarin (28/7) di event yang diadakan tahunan oleh Pocari Sweat. Ini adalah kali kedua saya mengikuti event lari tahun ini, setelah sebelumnya menjadi “pemain pengganti” untuk di Unity Run 6.2k pada 23 Juni lalu. Beberapa teman tidak percaya saya mengikuti marathon 42.195k karena memang saya terhitung jarang mengikuti event lari. Terakhir saya turut serta event lari paling jauh 10k di ITB Ultra Marathon tahun lalu. Saya belum pernah satupun ikut atau latihan lari half marathon (21k), saya latihan paling jauh 10k atau sekitar satu jam keliling lapangan GOR Saparua. Selebihnya saya jogging ringan sekitar 15 menit atau setengah jam. Itupun tidak rutin. Oleh karenanya keikutsertaan saya di marathon tersebut adalah aksi yang nekat.

Telat dan Kram

Jam 5.00 WIB start marathon dimulai. Saya berangkat dari kostan sekitar jam 4.30 WIB diantar oleh Gojek. Setibanya di Gedung Sate saya sempat lakukan pemanasan sendiri sembari menunggu waktu subuh. Semalam saya tidur kurang nyenyak, ketika bangun kepala pusing. Perut saya juga sakit namun saya sulit buang air. Beberapa menit menjelang azan subuh, saya ke masjid gedung Pakuan untuk sholat subuh jamaah. Setelah sholat, saya harus menitipkan barang saya di Baggage Drop. Sialnya saya harus ngantri panjang di belakang. Hasilnya saya telat untuk start sekitar 15 menit. Jadi saya start berbarengan dengan peserta half-marathon. Di belokan Pusdai, saya hampir salah rute karena ikut dengan peserta HM. Untungnya saya sempat tanya salah seorang peserta dan saya pun berbalik dan menuju rute marathon.

Di jalan saya lihat sedikit sekali yang start telat seperti saya. Banyak yang sudah jauh mendahului saya. Rute awal yang saya lewati adalah jalan AH Nasution dari Pusdai menuju Jalan Pastur dan kembali lagi ke Pusdai dan menuju Supratman dan Antapani. Karena saya telah 15 menit, saya bertekad tidak berhenti untuk sekedar minum di Hydration Point (saya lebih suka menyebut Water Station/WS seperti di ITB Ultra tahun lalu) sampai 20k. Namun, saya kuat sampai 11k, di WS depan Pusdai saya sempat minum segelas Pocari Sweat yang disediakan panitia. Di belokan Supratman menuju Antapani, saya sempat buang air kecil di sebuah POM bensin di sana. Setelah itu, saya lanjutkan perjalanan. Saya bertemu dengan alumni ITB 94, Pak Arif namanya. Saya barengan lari dengan beliau sampai daerah Kiaracondong. Di KM 21 kami sempat berfoto bersama.

Bersama Pak Arif (IF94)

Selanjutnya saya terkadang mendahului beliau atau beliau mendahului saya. Seringnya saya berada di belakang beliau. Ada juga Pak Arie (jika tidak salah), seorang Bapak mungkin berusia 50-an yang terkadang di depan/di belakang saya. Ada juga seorang perempuan cantik (jika tidak salah namanya Ingrid) dengan gaya larinya seperti jalan namun konstan yang saya tidak pernah sekalipun bisa mendahuluinya. Dia pernah di belakang saya karena cari pengganjal perut, namun setelah itu saya hampir tidak pernah melihatnya lagi, dia berada jauh di depan. Dari Kiaracondong, kami menuju Gatot Subroto dan kemudian Asia Afrika. Setelah KM 30, saya sempat cari pengganjal perut di salah satu minimarket. Saya saat itu lapar sekali. Panitia menyediakan pisang namun hanya di beberapa titik, jika tidak salah 4 titik saja. Pelayan di minimarket saat itu cantik sekali membuat saya menyesal tidak bicara basa-basi satu kalimatpun.

Setelah dua dari tiga coklat snickers habis dimakan, saya melanjutkan perjalanan. Saya bertekad dari KM 31 ke 37 untuk jarang-jarang jalan jauh. Realitanya, saya tetap seringkali jalan. Saya merencanakan untuk dengarkan musik yang playlist-nya sudah saya siapkan di 5k terakhir namun saya urungkan. Setelah melewati Jalan Kebon Kawung – Pajajaran -  Cihampelas – Riau – Merdeka - Jawa, saya sempat berhenti beberapa menit di WS. Saya meminta bantuan tim PMI untuk membantu melemaskan otot kaki saya yang sempat kram di KM 31. Saat terjadi kram, saya paksakan untuk terus berlari sampai pada akhirnya tidak merasakan lagi. Di lima kilometer terakhir, kaki sudah mulai berat sekali untuk sekedar jalan. Di WS tersebut, saya melihat jam di hape saya menunjukkan pukul 11.17 WIB, artinya waktu saya tinggal 43 menit sebelum Cut-Off Time (COT) atau batas waktu yang ditentukan panitia untuk katagori marathon.

Hitungan Detik

Tiba pada akhirnya di KM 41, artinya tinggal sekitar 1 kilometer garis finish. Sejak saat itu saya urungkan untuk jalan, saya terus berlari. Saya tidak peduli dengan waktu sampai pada akhirnya saya sampai jalan Diponegoro. Itu artinya tinggal beberapa meter lagi saya masuk garis finish. Banyak orang bersahutan menyemangati, saya abaikan semua. Saya fokus pada diri saya yang harus meningkatkan energi untuk mencapai garis akhir sebelum COT. Tepat di depan saya, ada rekan satu tim yang menyemangati kawan timnya dengan memberikan balon. Sementara saya, tidak ada satupun. Satu hal yang membuat saya harus finish di bawah COT hanyalah diri saya sendiri yang menargetkan finish di bawah COT meskipun telat start 15 menit. Jarak semakin dekat, saya melihat waktu menunjukkan kurang dari 2 menit menuju COT. Saya paksakan diri tidak peduli betapa sakitnya kaki saya untuk sekedar lari kecil. Tinggal satu menit lagi dan saya berhasil finish sekitar 40 detik sebelum COT. Alhamdulillahiroobil aa’lamiin.

Tepat habis finish

Monday, July 22, 2019

Energi Positif


Kita pasti pernah dikecewakan dengan suatu hal, entah di masalah pekerjaan atau kehidupan. Di situ kemudian kita luar biasa marah. Di kondisi demikian kemudian kita curhat ke banyak orang atas hal yang pernah kita rasakan ini. Di sana seolah kita mendapatkan "jawaban" atas keluhan tersebut. Alih-alih jawaban, justru orang-orang akan mendapatkan energi negatif dari kita atas curhatan tadi. Seberapa susah persoalan kita, satu hal yang perlu kita ambil yaitu "energi positif".

Menangkap "Energi Positif"

Semua orang pasti ada sisi hitam atau putihnya. Mungkin kita terkena sisi hitamnya yang menjadikan kita jengkel sama orang tertentu. Sisi hitam ini yang membuat perspektif kita akan dia menjadi jelek semua. Apalagi saat perasaan kita tersentuh, kita luar biasa marah. Energi negatif (marah) ini alih-alih membuat positif hidup kita, justru membuat stres dan menjadikan kita tidak produktif. Jika kondisi ini terjadi ke kita, tak ada solusi lain kecuali  kita alihkan "kemarahan" kita menjadi energi positif.

Memang tidak mudah untuk memiliki energi positif, perlu pembiasaan. Kita perlu berlatih sehingga tetap bisa terus positif apapun yang terjadi. Kita tidak lama terlarut pada kekecewaan, namun bisa segera beralih (move on) ke hal yang membuat kita senang. Anggap persoalan yang hadir itu sebagai hal kecil dan fokuskan diri kita ke hal besar yang kita tuju. Kita terkadang perlu sedikit egois untuk kehidupan kita yang lebih baik.

Bersikap Bodo Amat

Kita terkadang mempersoalkan masalah yang sebetulnya kecil menjadi besar. Sebagai contoh, kita bermasalah pada seseorang karena satu pekerjaan. Kita yakin berada pada posisi benar sedang dia salah sehingga kita memperjuangkan bagaimana kita bisa menang atas dia. Meskipun langkah kita benar tapi belum tentu itu paling pas. Terkadang perlu kita mengalah terlebih dahulu untuk menang di hal besar di masa mendatang. Satu hal yang penting untuk kita asah adalah bersikap "Bodo Amat".

Entah kita bersikap positif atau negatif, pasti ada orang yang tidak senang. Maka, jangan terlalu jaga image (jaim) terlalu berlebihan. Fokus aja pada tujuan besar yang akan kita capai di masa mendatang dan ambil sisi positif pada setiap kejadian yang menimpa kita. Hal buruk yang menimpa kita itu bisa jadi tidak terkait langsung dengan cita-cita besar kita. Tegasnya masih ada jalan untuk mimpi kita dan itu yang harus kita kejar. Dengan demikian kita tetap akan berfikir positif yang pada akhirnya akan menjadikan hidup kita lebih produktif.

Tuesday, June 18, 2019

Menghidupkan Hobi

Tumblr saya

Saya coba mengingat-ingat masa S1 dulu kala "terjebak" di unit kajian dan media di mana saya sebagai ketua dituntut untuk hidupkan majalah dan web tentunya dengan menulis. Saya tidak punya background menulis yang baik, cuma punya blog yang isinya curhat dan juga medsos khususnya facebook yang isinya mirip. Sejak "terpaksa" menulis (kala itu berita dan opini), saya mulai belajar dan lama-lama suka. Kala itu saya suka gaya penulisan mengalir, makanya saya pengagum Dahlan Iskan.

Seiring berjalannya waktu, saya lulus S1 dan masuk jurusan sosial di S2. Di sana bahan tulisan saya semakin banyak dan mulai kenalan dengan namanya tulisan serius ala jurnal ilmiah. Peralihan dari menulis opini ke format jurnal membuat saya stres sampai saya berkali-kali harus merevisi draft tesis saya. Setelah lulus, saya bekerja sebagai asisten riset sampai sekarang. Di sana saya dah amat jarang nulis opini, blog saya sepi kecuali satu blog harian berbahasa Inggris. Semakin jauh berinteraksi dengan jurnal, saya nulis jurnal mulu, kali-kali buku tapi formatnya gak jauh. Seringkali saya stres, tapi jalan terus. Udah dua tahun saya jalani pola ini.

Hidupkan Hobi

Ada satu hal yang kurang ketika saya bergulat terus dengan jurnal, "Saya tidak Bebas !". Jurnal membuat tulisan saya tidak mengalir karena harus membaca paper-paper untuk menjustifikasi opini/ide saya tersebut, inilah bedanya dengan opini bebas ala saya dulu. Saya bebas ngomong bagaimanapun. Nah, melihat latarbelakang saya dulu yang suka menulis yang kini arsipnya masih ada (saya punya medium, blogger, wordpress, kompasiana, tumblr, dan quora yang semuanya aktif), saya melihatnya sayang kalo itu pada akhirnya tidak update. Ditambah lagi dengan saya punya akun berbagai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan youtube. Dua tahun terakhir ini saya menggunakan hampir seluruh waktu saya untuk riset meskipun ada kerja profesional lainnya, tapi tetap riset utama. Saya berencana kembali menghidupi hobi saya sebagai blogger.

Meksipun di depan mata, saya dihadapkan dengan empat paper yang harus submit dan satu proposal PhD, tapi tetap saja hobi tidak terlaksana membuat hidup jadi tidak seimbang. Saya sempat hidupkan hobi lain yaitu lari dan badminton, tapi tetap masih ada yang tidak lengkap. Saya pada dasarnya tidak mau diatur, pengen ngatur, dan menulis adalah wujud dari ekspresi kebebasan versi saya. Menulis non-formal (baca jurnal ilmiah) yang coba akan kembali saya hidupkan berupa menulis diary, opini, dan buku. Ya, saya on the way menulis buku, baru kemarin saya mulai lagi. Menulis opini lain seperti di Kompas ini kelasnya mirip jurnal, mikirnya lama. Ini tidak jadi fokus, biarpun seringkali kebayangan ke sana.

Videografi

Di samping blogging kembali akan saya hidupkan, saya akan memulai aktif untuk nambah konten video di channel Youtube saya. Kamera dah saya beli setahun lalu, namun intensitas penggunaannya rendah. Aku dah bosan dengan weekend saya yang begitu-begitu saja. Saya mau isi dengan blogging, membaca, dan videografi. Semua itu dilakukan di luar kosan. Kosan punya magnet yang gede buat males atau lakukan kegiatan yang sama sekali tidak produktif.

Saturday, May 25, 2019

Mengenang Pak Wid

Pak Widyo (diambil dari Grup WA alumni SP)

Saat rapat di DSTI tadi pagi, beberapa grup WhatsApp saya ramai dengan notifikasi baru. Saya baru buka saat pembahasan rapat agak santai. Ternyata notif tersebut sama isinya terkait kabar bahwa dosen S2 saya dulu di Studi Pembangunan ITB, Prof. Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI, meninggal dunia. Rapat berakhir, saya kontak beberapa teman dekat saya di SP dulu terkait situasi terakhir kemudian saya menuju gerbang depan ITB. Saya bertemu Pak Tono, rekan sesama dosen Pak Wid, yang sedang menyiapkan proses penyemayaman jenazah di Aula Barat. Kala itu beliau berbicara dengan Pak Rektor dan LK.

Tak lama setelah itu, saya turut Pak Tono menuju Rumah Sakit Boromeus dan di sana bertemu beberapa civitas ITB yang sebagaian besar dari Geodesi. Namun setibanya di lantai 3 Boromeus tempat Pak Wid biasa dirawat, ternyata jenazah sedang ditujukan menuju masjid Salman. Kami pun menuju ke sana. Di salman, jenazah dimandikan kemudian disholatkan. Selanjutnya disemayamkan di Aula Barat ITB dengan pidato pelepasan jenazah dari Rektor ITB. Terlihat tamu-tamu yang hadir saat itu yang sebagian besar adalah dosen senior ITB.

Pengalaman dengan Beliau

Saya sangat tertarik dengan mata kuliah yang dibawakan beliau saat S2, pembangunan wilayah pesisir. Dalam bayangan saya saat itu, saya dapat memahami bagaimana caranya mengelola laut sehingga datangkan ekonomi bagi negara, apalagi saat itu Pak Jokowi sedang mengangkat visi poros maritim dunia. Ternyata mata kuliah ini jauh lebih luas dari sekedar memandang laut dari sudut pandang ekonomi. Biarpun demikian, kuliah ini memberikan pondasi bagi saya untuk memahami ilmu sosial secara komprehensif. Pak Wid seringkali menekankan pada definisi dengan elaborasi unsur-unsur penyusun definisi tersebut. Saya suka pendekatan beliau karena masuk pola pikir saya sebagai lulusan Matematika.

Saya sempat dibimbing tesis beliau, namun akhirnya saya putuskan pindah setelah saya sulit memahami pendekatan beliau yang sangat makro, sementara saya lebih suka hal yang lebih mikro yang ada unsur manajerialnya. Beliau kemudian merekomendasikan saya untuk menemui salah satu profesor di SBM. Saya pada akhirnya memilih fokus pada penelitian di bidang inovasi, yang merupakan tema pilihan kedua. Tema inovasi inilah yang saya garap sampai sekarang setelah 2 tahun lulus dari SP. Saya juga sempat berkonflik dengan beliau yang mungkin membuat geger kampus kala itu. Namun konflik ini tak lama bisa selesai setelah saya meminta maaf secara langsung kepada beliau. Sejak saat itu tidak ada masalah antara saya dan beliau. Saya tetap menganggap beliau guru saya, dan beliau pun bersikap biasa pada saya seperti mahasiswa lainnya.

Pelajaran dari Beliau

Saya menganggap beliau adalah guru dimana dedikasinya pada pendidikan tidak terbantahkan. Pandangan-pandangan beliau yang tidak pernah saya lupakan diantaranya "bounded rationality" dan "from the whole to the part" yang sampai sekarang saya terapkan dalam proses meneliti dan juga me-manage projek. Selain itu, beliau mengajarkan untuk berfikir strategis. Saya masih ingat ketika beliau mengusulkan dibukanya S3 Studi Pembangunan dan kerjasama jurusan dengan Mendagri untuk menyebaar lulusan SP ke Pemda-Pemda di seluruh Indonesia. Selain itu, beliau seringkali menceritakan pandangan-pandangan beliau terkait ITB ke depan. Mungkin pas menyebut Pak Wid sebagai salah satu ideolog kampus dengan keberanian beliau untuk mengutarakan gagasan di depan Senat. Kala itu (2015-2016), beliau adalah ketua komisi A di Senat ITB.

Selamat jalan Pak Wid, moga saya sebagai generasi muda dapat mengikuti jejakmu untuk berdedikasi di dunia ilmu pengetahuan ...

Wednesday, May 01, 2019

Dua Pelajaran dari Ibuk

Bersama Ibuk saat beliau berlibur di Bandung dua tahun silam

Sudah sejak senin kemarin saya terserang demam. Badan saya panas, kepala saya pusing, dan beberapa bagian tubuh saya pegal-pegal. Saya sudah berobat ke dokter di Bumi Medika Ganesha (BMG) kemarin dan dites darah di sana. Alhamdulillah darah saya normal, tinggal kamis besok saya harus kontrol ke dokter yang memeriksa saya selasa lalu. Sepulang dari BMG, saya mendapatkan oleh-oleh banyak sekali obat yang harus saya telan. Di sini kemudian saya teringat betul pelajaran dari Ibuk saat saya SD dulu. 

Saya dulu tidak bisa menelan obat berbentuk pil. Kala itu, dibantu Ibuk obat dihaluskan kemudian dimasukkan dalam sendok dan diberi sedikit air sehingga encer. Kemudian obat yang encer ini saya telan secepat-cepatnya untuk mengindari rasa pahit yang lama. Setelah tertelan, saya diberikan minuman manis (biasanya teh manis) untuk menghilangkan rasa pahit. Umumnya rasa pahit ini tidak hilang bahkan saat sudah diberikan air manis sekalipun. Karena cara ini tidak efektif, siring bertambahnya usia, Ibuk mengajarkan saya untuk menelan pil dengan pisang. Awalnya susah, bahkan pernah daging pisang sudah ketelan, pilnya belum. Alhasil saya merasa kepahitan. Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin mahir menelan pil dengan pisang, bahkan sudah bisa dengan medium lain seperti roti bahkan air putih. Namun tetap medium pisang tetap terbaik.

Pelajaran kedua ini tidak terkait obat, namun menjemur pakaian. Kala itu saya baru masuk pondok di Jogja. Di suatu pagi Ibuk mengajari saja bagaimana cara untuk mencuci pakaian dan menjemurnya. Baju yang sudah tercuci bersih, dibalik sehingga posisi bagian dalam baju menjadi di luar. Baju yang sudah dalam posisi tersebut siap untuk dijemur. Sampai sekarang apa yang Ibuk sampaikan, saya terapkan. Meskipun sebagian besar pakaian saya laundry-kan, saya tetap mencuci beberapa yang ringan seperti kaos dan daleman. Meskipun awalnya saya tidak tau alasan perlunya pembalikan baju ketika dijemur, seiring berjalannya waktu saya kemudian faham. Ini untuk menghindari kontak langsung sinar matahari. Jika baju tidak dibalik, kontak sinar matahari atas mengenai bagian depan baju sehingga warna baju menjadi pudar warnanya. 

Dua pelajaran ini kelihatannya ringan, namun dampaknya besar dalam kehidupan saya saat ini. Saya tidak bisa bayangkan jika saya harus menghaluskan pil-pil untuk kemudian saya telan. Atau juga pakaian-pakaian saya tampak kusam akibat salah jemur. 

Terima kasih Ibuk, love you ! 

Tuesday, January 01, 2019

Kenangan di Gedung Studi Pembangunan ITB


Januari 2015 adalah bulan pertama saya melanjutkan studi kembali setelah sebelumnya saya diwisuda pada Oktober 2014. Rangkaian seleksi administrasi sudah saya jalani di akhir tahun 2014 sehingga pada bulan itu saya langsung menjalani perkuliahan. Saat itu saya masuk di semester genap dengan hanya tiga orang termasuk saya. Saat itu ada dua kelas, satu kelas dari mayoritas beasiswa Bappenas, satu lagi dari Pekerjaan Umum (PU). Saya masuk di kelas Bappenas. Di sana saya mengenal banyak teman-teman baru yang hampir seluruhnya sudah bekerja. Di kelas, saya adalah mahasiswa termuda kedua.

Proses belajar di jurusan magister ini berbeda sekali dengan saat saya S1. Dosen-dosen di jurusan ini umumnya adalah dosen-dosen yang suka akan ngobrol. Setelah kelas berakhir biasanya kami tidak langsung pulang, namun duduk di lounge jurusan untuk mengobrol dengan Pak Sonny. Awalnya ngobrol seputar materi kuliah di kelas, namun kemudian berkembang ke topik-topik lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia perkuliahan. Ini saya jalani secara terus-menerus karena dasarnya saya memang suka ngobrol. Kami bahkan pernah ngobrol sampai jam 21 malam di gedung jurusan. Tak hanya dengan Pak Sonny, seringkali kami mendengarkan cerita Pak Indra di lounge. Bagi saya yang fresh graduate tentunya saya dapat "banjir" pengetahuan gratis.

Karena sistem kuliah adalah paketan, tidak ada libur bagi saya. Seingat saya selama 2015, libur terpanjang hanya saat lebaran. Saat kuliah semester genap selesai, saya sudah mulai masuk kuliah pilihan dengan Pak Wid untuk mata kuliah pesisir dan Pak Sonny untuk mata kuliah ANT. Kemudian masuk semester ganjil kembali kuliah. Saat itu kuliah padat sekali karena kuliah pilihan yang belum selesai masuk di semester tersebut. Kuliah favorit saya saat itu adalah kuliah Pak Wid tentang pembangunan pesisir dan kuliah PakTasrif tentang system dynamics karena pola pikir deterministik dalam kuliah ini sesuai dengan background saya sebagai lulusan matematika. Sementara di luar kelas, tentunya obrolan dengan Pak Sonny dan Pak Indra sangat berkesan. Istilah "milieu" saya dapatkan dari Pak Indra, sementara istilah "aktor" saya dapatkan dari Pak Sonny. "Bounded rationality" dan "fenomena" saya dapatkan masing-masing dari Pak Wid dan Pak Tasrif.

Rumah Kedua

Jika dulu saat S1 hampir sepanjang waktu saya habiskan di sekre unit, maka saat S2 saya habiskan banyak waktu di jurusan. Bahkan saya pernah nginep di jurusan saat bulan puasa. Kala itu saya nginep dengan Kang Dani yang jaga malam di jurusan. Saya tidur di lounge setelah sebelumnya saya berselancar internet di lab komputer jurusan yang biasa dijaga Pak Gun. Kala itu ITB dah sepi karena libur panjang, sementara kami masih ada kuliah beberapa. Dari pada saya berdiam di kosan, kala itu saya pilih untuk ke jurusan. Waktu lain saya biasanya ke sini adalah saat sore hari setelah kelas dan mengobrol dengan Pak Sonny sampai malam. Di tahun kedua saat mulai mengerjakan tesis, obrolan sampai malam berpindah ke warung bakso Mandeep. Teringat saya ngobrol dengan Pak Sonny enam jam non-stop secara empat mata membahas tesis dan topik-topik lain.

Selain akademis, saya dilibatkan dalam kegiatan lain. Belum lama masuk jurusan ini, saya terlibat dalam kepanitiaan seminar nasional, tak lama kemudian turut menghidupi kelompok diskusi di jurusan, penelitian dengan dosen, dan juga forum kolaborasi dengan Pikiran Rakyat. Biarpun di tahun kedua saya ambil kuliah di matematika dan magister di pertambangan (sit in), saya masih sering berkegiatan non-kuliah di jurusan. Diskusi di sana sangat hangat meskipun terkadang melebar ke kehidupan pribadi. Seringkali saya kena bully karena lama menjomblo. Satu hal legacy yang dulu pernah kami tinggalkan di jurusan ini yaitu dibentuknya kelompok diskusi yang bernama Agora Dialektika. Meskipun pada akhirnya tak lagi aktif seperti dulu tapi kelompok ini cukup bisa menggerakkan atmosfir keilmuan di jurusan ini. 

Tak hanya kenangan manis, jurusan ini juga meninggalkan kisah pahit bagi saya. Saya pernah berkonflik dengan seorang dosen di sini. Konflik melebar ke luar jurusan dan banyak orang tahu. Konflik pun meredam setelah saya bertemu dosen terkait dan saya ajukan permohonan maaf. Setelah kejadian ini, hubungan kami kembali baik seperti sedia kala. Dosen terkait memiliki jiwa besar karena memberikan maaf pada tindakan saya yang salah. Kejadian ini tidak akan terlupakan bagi saya dan mungkin orang-orang yang berada di lingkungan jurusan.

Setelah bergonta-ganti judul tesis, saya akhirnya mantab untuk ambil tesis terkait sistem inovasi dengan bimbingan Pak Sonny. Saya sidang tepat dua tahun pasca masuk jurusan ini dan diwisuda dua bulan setelahnya pada maret 2017. Setelah itu saya bekerja sebagai asisten riset di SBM dan juga turut serta membantu ITB membenahi sistem informasi publik kampus. Biarpun tak lagi di jurusan, namun saya seringkali mampir ke gedung kuliah saya ini untuk sekedar berdikusi atau mengobrol. Candaan saya ke salah seorang teman di jurusan Studi Pembangunan, "Saya ke sini biar pinter". Atmosfer diskusi di jurusan ini semakin kuat dan lebih terarah. Banyak dari mahasiswanya turut serta di berbagai konferensi dan tentunya menulis paper ilmiah.

30 Desember 2018

Lulus dari jurusan ini, saya tergabung di grup WhatsApp alumni. Di grup ini sangat ramai dengan aneka arus informasi yang terkadang terdapat debat antaralumni. Satu setengah tahun setelah lulus, jurusan ini merayakan 25 tahun usia pasca didirikan pada 1993 dengan mengadakan temu alumni. Saya yang baru pulih dari sakit demam, ikut acara ini di CRSC pada 8 Desember 2018. Rencananya bulan Maret 2019 akan diadakan seminar nasional industri 4.0 dengan mengundang beberapa petinggi negara. Saya kira perencanaannya sudah sangat matang. Namun siapa yang menyangka bahwa tanggal 30 Desember 2018 ada kejadian yang sama sekali tidak diduga. Gedung Studi Pembangunan ITB terbakar dan melenyapkan seluruh aset gedung termasuk perpustakaan, labolatorium komputer, dan ruang Tata Usaha (TU).

Sampai tulisan ini sampai pada pembaca sekalian, saya belum mendengar kabar dari tim INAFIS Polri terkait apa yang menjadi penyebab kebakaran ini. Dugaan kuat kebakaran terjadi karena arus pendek listrik di ruang Tata Usaha. Kebakaran ini membuat arsip penting jurusan hangus, buku-buku koleksi dan tesis ikut terbakar, dan juga website jurusan down. Pengembangan jurusan yang sudah berada pada track yang positif, terpaksa harus jeda beberapa saat untuk pemulihan (recovery). Kegiatan perkuliahan yang tinggal beberapa minggu akan aktif kembali pastinya harus dipikirkan, juga kegiatan bimbingan tesis mahasiswa, dan juga perekrutan mahasiswa baru. Penyelamatan data-data jurusan juga merupakan hal besar yang tentunya akan menguras energi. Saya kira data-data ini valuasinya jauh lebih besar dibandingkan dengan sekedar bangunan fisik gedung. Sebagai alumni yang dulu seringkali berada di gedung tersebut tentunya sangat sedih dengan kejadian ini.

Saya sangat yakin para dosen, mahasiswa, pegawai, asisten akademik, dan tentunya kaprodi legowo menerima kejadian ini. Semoga proses recovery jurusan berjalan dnegan baik dan jurusan Magister Studi Pembangunan akan bisa seperti sedia kala bahkan lebih baik.




Sunday, December 16, 2018

BELITONG

Dua minggu lalu (30 November – 2 Desember 2018), pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pulau Belitong. Pulau yang terkenal dengan sebutan pulau “Laskar Pelangi” ini memiliki keindahan alam khususnya pantai yang eksotis. Kala itu saya berkesempatan ke sana dengan rombongan dari Direktorat Administrasi Umum ITB, tempat di mana saya bekerja sekarang. Berangkat kamis malam (29/11) dari Rektorat ITB menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Banten untuk mengejar pesawat Sriwijaya Air yang take-off jam 6 pagi.

Hari Pertama

Setibanya di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan, kami dijemput oleh sebuah bus yang dikomandoi oleh Mas Don dari Arisha Tour and Travel. Bus mengantarkan kami ke kota Tanjung Pandan untuk menikmati Mie Atep yang legendaris. Sulit bagi saya untuk menggambarkan rasa  makanan ini, pokoknya mantab ! Selanjutnya kami diarahkan menuju Danau Kaolin yang merupakan danau bentukan dari penambangan kaolin.  Di sana kami ambil foto dan selanjutnya menuju Belitong Timur, ke kampung laskar pelangi. Di sini kami mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong. Saya baru tahu ternyata sekolah aslinya sudah tidak ada.
Di depan Replika SD Laskar Pelangi

Di sini saya ambil cukup banyak foto dengan berbagai pose sembari mengingat-ingat cerita Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Saat masa mondok dulu, saya adalah penggemar berat Laskar Pelangi, tetraloginya saya koleksi dan selesai saya baca kala itu. Jadi berkunjung ke sini punya kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan selanjutnya adalah ke Rumah Keong Rotan, tepat di depan replika sekolah laskar pelangi ini. Tak lama di sini, kami disambut hujan. Kami pun lanjutkan perjalanan menuju museum kata Andrea Hirata. Sebelum ke sana kami break sholat jumat di masjid depan lokasi. 

Saya pun masuk lokasi museum dengan membayar 50 ribu dengan bonus sebuah buku tipis karangan Andrea Hirata. Dibantu dengan pemandu wisata, saya ambil banyak gambar di sini. Museum ini didesain inspiratif dengan mural, foto, dan karya seni lain yang “bercerita” terkait keharusan menggelorakan optimisme dalam hidup. Ada satu ruangan di bagian belakang dari suatu bangunan yang menyajikan tempat duduk di mana di sana kita dapat memesan kopi. Namun, di sana  saya membeli gantungan kunci untuk oleh-oleh. 

Di dalam Museum Kata Andrea Hirata
Ternyata hanya saya dan mas Tri yang masuk museum kata ini, rombongan lain menunggu di dalam bus. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke kediaman Ahok. Di sana selain ada rumah Ahok yang kini dihuni saudaranya, juga ada bangunan khusus yang menyediakan oleh-oleh dengan tema Ahok, namanya Rumah Batik Ahok. Di sana kami tidak lama. Kala hujan turun, kami coba menikmati pek-empek dan juga pisang goreng di warung tak jauh dari lokasi wisata ini. Ternyata pek-empek-nya berbeda dengan bahan dasar singkong. Disajikan secara hangat, mantab sekali. 

Ternyata kami belum makan siang, dibawalah kami ke rumah makan terkenal, Resto Seafood Sinar Laut, di pinggiran pantai. Mantab sekali masakannya terutama sayur asam dan ikan bakarnya. Selanjutnya kami menuju ke vihara Dewi Kwan Im dan pantai burung mandi. Di warung dekat pantai, saya menikmati es kelapa muda. Perjalanan berlanjut ke kota Tanjung Pandan untuk menuju hotel di mana kami tinggal. Sebelum sampai hotel, kami diarahkan ke rumah makan, Resto Belitung Tempo Dulu. Setibanya di hotel, kami istirahat sejenak. Saya sekamar dengan mas Tri dan Kang Jujun. Setelah beberes dan sholat, kami bertiga dengan Pak Sandi jalan-jalan untuk mencari kopi. Konon tidak lengkap rasanya ke Belitong tanpa berkunjung ke kedai kopi. Awalnya kami menyusuri pusat huburan di depan hotel, meskipun banyak kafe yang menyajikan kopi, kami kurang sreg. Kami pun kembali jalan ke arah pusat kota berbekal Google Map. Kami pun sampai di kedai kopi legendaris, Kong Tji. Kami pesan kopi susu dan mantab sekali rasanya. Saya pesan lagi satu gelas malam itu. Disambi dengan bebincang, tidak terasa sudah dua jam kami di sini. Tidak seperti saat berangkat, pulangnya kami naik Go-car.  

Hari Kedua

Belitong masih agak gelap, saya dan mas Tri ke pantai Tanjung Pendam. Saya mencoba mengelilingi kawasan pantai ini dengan jogging, sementara mas Tri mencari kerang laut. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan sarapan kemudian berkemas-kemas. Pagi itu di ruang tamu dekat lobby hotel, Bu Dyah dan keluarga baru datang dan segera setelah itu bergabung bersama kami. Hari ini seharian kami akan menyusuri pantai-pantai di pulau Belitong dari dermaga pantai Tanjung Kelayang. Kami menumpangi sebuah perahu yang mampu memuat 20 orang lebih.

Seingat saya ada tiga pantai yang dikunjungi. Pertama, pantai lengkuas. Setibanya di sana setelah menembus ombak besar laut lepas. Pantai ini identik dengan mercusuar yang kala itu tidak bisa dinaiki. Juga batu-batu besar yang bagus untuk menjadi objek foto. Setiba di pulau ini, kami disambut hujan namun untungnya tidak lama dan deras. Di pulau ini dilakukan outbound oleh pemandu wisata. Setelah itu baru kami diarahkan ke laut kembali untuk snorkeling. Mata minus menjadi kendala bagi saya untuk melihat dasar pantai yang indah dengan terumbu karang.

Berlatar Mercusuar di Pulau Lengkuas
Objek selanjutnya adalah pulau Kepayang. Di sana kami makan siang. Saya sempat sholat di mushola resto dan juga ambil foto di sekitar pantai. Perjalanan selanjutnya adalah pulau Kelayang. Seperti halnya di pulau Lengkuas, saya mencoba belajar berenang di pantainya yang sangat jernih. Di pantai ini juga sempat diambil video dengan drone. Objek pantai habis, kami diarahkan kembali ke Tanjung Kelayang. Kami berbilas dengan air bersih dan juga ganti baju, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi. Sebelum ke sana ambil foto dulu di depan dermaga Pantai Tanjung Kelayang.

Di Pantau Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi
Pantai tanjung tinggi ini pemandangannya bagus sekali. Bahkan lebih bagus dari pada pantai-pantai yang dikunjungi sebelumnya. Pemandangan batu besarnya sungguh sangat elok, ditambah dengan pantainya yang jernih. Sampai di pantai ini sudah sore menuju maghrib. Tidak bisa lama kami menikmati pantai ini karena harus segera menuju bus. Kami diarahkan menuju pusat oleh-oleh dan souvenir khas Belitong dan setelah itu kami makan malam di Resto Dapur Belitung. Lokasi dua tempat ini di kota jadi tidak jauh dari hotel. Sesampainya di hotel, kembali kami bebersih baru kemudian keluar untuk menyeduh kopi Kong Tji. Kali ini ada dua personel tambahan, Mbak Iyan dan Anisa. Perjalanan PP ke sana dengan Go-car dan Grab-car. 

Hari Ketiga

Pagi itu kami harus check-out. Keluar dari kamar, kami sudah siap untuk menuju bandara. Namun sebelumnya, kami sarapan dulu. Kami sempat ambil gambar depan hotel sebagai bukti rombongan kami telah menunaikan tugas di pulau ini. Kami berpamitan dengan Bu Dyah dan suaminya, sementara dua anaknya sedang bersepeda keliling kota. Jarak hotel ke bandara sekitar setengah jam, setelah tiba kami berpamitan dengan mas Don dan tim yang mengantarkan kami. Dengan Batik Air, kami take-off menuju bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 8.45 pagi.