Showing posts with label Figur. Show all posts
Showing posts with label Figur. Show all posts

Monday, August 01, 2016

Belajar dari Pak Budi Rahardjo (Bagian 2)

Setelah kemarin saya ceritakan petikan ide dari Pak Budi Rahardjo, kini saya akan sampaikan petikan yang lain. Kan kemarin saya tulis beberapa petikan ? Betul, dua petikan kan bisa dikatakan beberapa petikan kan ? Hi hi hi. Oke, pada tulisan kali ini saya akan ceritakan terkait bagaimana konsepsi entrepreneurial university versi pelaku entrepreneurship yaitu Pak Budi sendiri. Saya dulu pernah sih menulis terkait konsep ini di opini saya yang formal, namun malas ah pake referensi-referensi buku kayak gitu. Mengapa ? karena subjek penelitian di buku yang saya baca itu Barat, beda pisan ama ITB. Hehe

Pak Budi ini unik, beliau bukannya sering bicara bahwa menjadi startup itu asik dan bla bla bla, namun beliau ini justru ceritakan panjang lebar tentang kendala yang dihadapi seorang startup. Itupun ditambah dengan “Bisa jadi yang akan Anda rasakan beda dengan yang saya rasakan”. Nah ini kan menegangkan juga menakutkan betul. Ya, Pak Budi pengen ceritakan apa adanya, tidak melebih-lebihkan bahwa profesi bisnis startup ini lebih mulia dan berkasta lebih tinggi dibandingkan yang lain. Tidak kayak gitu. Jika diperas lagi, beliau pengen ceritakan betul bahwa entrepreneurship adalah mental. Tidak ada rumus khusus untuk mempelajarinya (jadi inget Artificial Intelligence yang katanya rumusnya tidak sesaklek kriptografi, hehe).

Oke kembali ke topik pembahasan. Pak Aca (nama panggilan rektor kita semua, Pak Kadarsah Suryadi), di proses kampanye menjelang Pemilihan Rektor beberapa waktu lalu mengenalkan konsep Entrepreneurial University. Intinya sih gini, ITB ingin mencetak buanyuaaaaakkkkk sekali pengusaha muda. Nah, tapi kumaha ieu ? Ini yang sulit kita saksikan hari ini hasilnya. Padahal Pak Aca kan udah hampir 2 tahun menjadi rektor (cek ya barangkali saya salah). Lantas Pak Aca kita salahkan begitu saya ? Jangan buru-buru gitu, saya bukan Jonru/tipikal pengamat politik. Intinya ITB itu kompleks bahkan lebih kompleks dari bilangan kompleks. Di dalamnya banyak sekali orang-orang dengan keminatan yang bueesar di bidang tertentu. Saya pernah menemukan dosen saya baru pulang pagi hari dari kantornya, ini kan jelas bahwa beliau ini tidur di kantornya. Nah, ini satu indikasi bahwa orang-orang ITB umumnya punya determinasi yang tinggi di bidang keilmuan.

Kembali ke topik pembahasan (2). Banyak pelaku bisnis yang juga akademisi (saya ambil sampel dosen tesis dan Pak Budi doang, heu) yang katakan bahwa setiap kita mendengar ungkapan Entrepreneurial University pasti langsung menyebut Stanford University. Betul, kampus inilah yang berada dibalik berdirinya Silicon Valley, yang melahirkan aneka bisnis di bidang IT seperti Google dan Facebook itu. Konon iklim berbisnis startup di sangat di dorong. Sebagai contoh di sana ada data terkait berapa banyak alumni Stanford yang berkiprah di dunia bisnis (di ITB kan ada tracer study, iya sih tapi masih g sedetail mereka). Iklim yang lebih riil di kampus itu saya belum tahu. Mungkin akan dibahas di lain kesempatan (underline kata ‘mungkin’ ya). Nah, kembali ke ITB. Niat Pak Aca sih baik dan saya yakin beliau mengenal konsep entrepreneurship yang cukup dari jurusannya di Teknik Industri (secara beliau professor di sana). Namun, konsep ini  tidak ujug-ujug bisa terlaksana dengan hadirnya Pak Aca dengan idenya tentang Entrepreneurial University. Konsep ini jika akan dilaksanakan kompleks sekali. Sistem pendidikan ITB, pola pengajaran, aturan-aturan akademik, dan suasana di kampus ini harus sama sekali berbeda dengan pola-pola sebelumnya. Itu harusnya, realitanya ? ITB tidak banyak berubah. Periode Pak Aca dengan sebelumnya (Pak Loka) sulit bagi kita temukan perbedaannya secara signifikan. Yang ketara dari ITB sekarang ya dorongan kepada dosen-dosen ITB untuk publikasi paper. Nah, inikan sama saja dengan university pada umumnya. Ya, kita masih universitas yang fokusnya ngajar di kelas. Kata Pak Budi, “Jadi ini sebenarnya secara kenyataan teaching university. Jadi akui aja teaching university.”


Lantas apa yang perlu dilakukan ITB ? Pendapat saya tanggalkan konsep Entrepreneurial University yang masih imajinatif ini. Kita fokus pada rakyat ITB (dosen dan mahasiswa, karyawan gimana ? Itu beda konteks yak). Kita kan sama-sama tahu bahwa ITB itu kumpulan orang-orang yang bergairah dan berhasrat menjadi orang top di bidang tertentu. Nggak cuma dosen saja, mahasiswa juga (mudah kita dapati mahasiswa S1 yang balapan IPK-nya, hehe). Nah itu bagaimana mereka semua itu difasilitasi dan diklaim sebagai bagian dari keunggulan ITB. ITB kudunya tidak membiarkan mereka hidup dengan dunia mereka sendiri, tapi diemong. Sebagai contohnya Pak Budi. Beliau aktif mementor mahasiswa di bidang startup dan juga memiliki beberapa perusahaan di bidang IT. ITB dapat mengklaim kegiatan Pak Budi ini sebagai bagian dari program kerja ITB mendorong mahasiswanya untuk berwirausaha. Nanti ITB bisa gembar-gembor ke publik bahwa ITB berjasa untuk menciptakan pengusaha-pengusaha Indonesia. Pak Budi mengakui sendiri sangat boleh ITB melakukan ini justru beliau pengen ITB bersikap demikian. Ini cara Stanford bisa dicontoh (ITB kan kiblatnya MIT ? Iya gitu, he he).

Langkah kedua adalah ITB membebaskan dan men-support betul mahasiswa untuk berwirausaha selama studi. Pak Budi bercerita bahwa di kampus Luar Negeri sana (Stanford dan Berkeley) mahasiswa diizinkan cuti selama satu semester untuk fokus dalam kegiatan bisnis startup. Masa cuti ini tidak dimasukkan dalam masa studi normal. Sebelum cuti, mahasiswa ini harus menghadap tim reviewer dari kampus untuk ditanyai kelayakan bisnisnya. Jika oke, go !, jika tidak, Balik studi ya !. Nah, dalam prosesnya selama satu semester sang mahasiswa ini gagal, dan dia pengen balik ke kampus, kampus mengizinkan, tidak di-DO. Selain dua langkah ini, langkah lain adalah kampus kudu dinamis dengan pola/ritme kerja yang sama-sekali berbeda baik dari pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, karyawan, dan lain sebagainya. Dinamisasi ini di-support betul. Sebagai contoh adalah ditiadakannya jam malam. ITB terbuka 24 jam bagi segenap civitas akademika yang ingin beraktivitas di dalamnya. Tidak kayak sekarang, jam 23.00 WIB mahasiswa yang nongkrong di unit diusir begitu saja. ITB mendorong kreativitas mahasiwa dengan diberikan kemudahan izin beraktivitas, akses pada stakeholders, dan sebagainya. Keluarannya tidak dengan menang di berbagai perlombaan bisnis lo, tapi alumni-alumni ITB siap berbisnis khususnya di bidang keilmuan yang digelutinya.

Oke itu aja dulu yak, ditunggu komentar-komentarnya. Semoga kita tetap semangat J
Pak Budi Rahardjo (2)

Sunday, July 31, 2016

Belajar dari Pak Budi Rahardjo

Jumat lalu (29/7) sekitar jam 15.00 WIB saya ngobrol dengan Pak Budi Rahardjo di rumahnya, di kawasan Bojong Koneng Bandung. Saya tidak sempat menunggu, beliau langsung melayani wawancara saya dengan energik. Di rumahnya, terdapat tiga perusahaan yang dijalankan beliau. Maka wajar di halaman rumah puluhan motor dan beberapa mobil parkir. Karena beliau sangat semangat, saya terbawa semangat juga. Hi hi hi

Saya ngobrol dengan Pak Budi selama kurang lebih 45 menit. Topik obrolannya yaitu saya ingin menggali kehidupan Pak Budi yang disamping sebagai dosen ITB juga aktif dalam banyak hal khususnya menjadi seorang technopreneur di bidang IT. Sekarang setidaknya ada tiga perusahaan yang di-run beliau ;INDOCISC, Insan infonesia, dan ID-CERT. Saya tidak akan menceritakan terkait perusahaan-perusahaan beliau, namun yang saya anggap penting di sini adalah bagaimana cerita beliau menapaki karier di bidang IT ini. Beliau saya anggap sebagai dosen yang tidak biasa. Pak Budi menyebut dirinya sendiri sebagai hyper multitasking. Bagaimana tidak, kesibukan Pak Budi sungguh sangat luar biasa mulai dari aktif di kampus membimbing mahasiswa, mentoring bisnis di banyak lokasi di Bandung, me-run bisnis, juga mengerjakan berbagai projek terkait sekuriti. Nah, biarpun begitu beliau sangat welcome pada orang-orang yang pengen nemui beliau, termasuk saya pada waktu itu. Orang yang sekedar ingin wawancara atau nanya-nanya terkait IT dengan tanpa syarat apapun bisa bertemu dengan beliau. Jika tidak percaya, lihat saja blog-blog beliau. Terlihat sekali gaya bahasa beliau yang santai. Saya aja ketika baca tulisan beliau, mau ngakak. Ha ha ha

Kembali ke topik. saya akan mengulas beberapa pikiran beliau yang saya kira sangat penting untuk di sampaikan. Agar tidak melebar satu poin saja dulu. Ya, terkait bagaimana berkembang sebagai starter-up (beneran gak sih istilah ini ?) di bidang teknologi jadi bukan bidang buat kafe atau sejenisnya. Pada awal mulanya, inti dari segalanya adalah kecintaan. Nah, pastikan Anda cinta dengan bidang bisnis yang Anda geluti. Belajar dari Pak Budi, beliau sangat gandrung dengan namanya IT khususnya di bidang pemrogaman. Mengerucut lagi di bidang sekuriti. Maka disitu, biarpun pekerjaan beliau sesibuk apapun akan beres. Do till the end.

Berawal dari projek dari KPU yang didanai UNDP beliau menjalani projek pertama di bidang sekuriti. Di sini beliau didorong rekannya untuk membuat suatu perusahaan. Jelas dalam prosesnya beliau berinteraksi dengan aneka jenis orang (you know lah) kayak sesama rekan kerja, komunitas, dan juga investor. Macam-macam lah. Karena trust, banyak pihak memercayakan pekerjaan terkait sekuriti dan topik IT lain kepada Pak Budi. Lihat saja protofolio di CV beliau, banyak sekali. Di sini Pak Budi sadar bahwa semakin banyak orang percaya, maka diperlukan proses belajar soalnya bidang sekuriti itu sangat dinamis. Anda bayangkan malware (atau sejenis virus) dalam komputer kan berkembang luar biasa. Anda pasti ingat pelajaran biologi dan juga matematika, bahwa virus itu berkembang sesuai dengan deret geometri. Oke kembali ke topik lagi, nah maka Pak Budi harus menguasai ilmu dasar dari malware ini. Apa itu ? Kriptografi. Lebih dasar lagi adalah aljabar. Di sini Pak Budi bekerjasama dengan Bu Intan dan tim dari Prodi Matematika ITB. Pak Budi dan Bu Intan rutin adakan riset bersama seputar malware ini. Mereka "mamanfaatkan" mahasiswa bimbingan S2 dan S3 untuk melakukan tesis dan disertasi di bidang itu. Riset ini tak sekedar riset yang tujuannya untuk di-publish di jurnal internasional saja, tetapi dimanfaatkan di dunia industri. Jadi jelas sekali jluntrungan-nya.

Dari uraian singkat yang dapat saya ambil pelajaran dari seorang technopreneur, Pak Budi Rahardjo, adalah beliau adalah pribadi pembelajar. Itu satu. Kedua, beliau pribadi yang egaliter, tidak membeda-bedakan orang dalam hal bergaul. Maka disini beliau terlihat sekali renyah dalam senyum, bahkan ketika akan saya mintai foto beliau pasang kacamata biar kelihatan ganteng. Ha ha ha

Itu saja dulu, jika sempat saya akan tulis lagi terkait pemikiran Pak Budi yang lain. Stay tune di blog saya :) Btw, kalo ingin unduh buku (draft) punya Pak Budi terkait startup bisa berkunjung ke sini http://budi.rahardjo.id/files/start-up.pdf 

Pak Budi Rahardjo 

Saturday, March 21, 2015

Mimpi Keluarga Doktor

Ketika saya menulis artikel ini, saya sedang studi pascasarjana Studi Pembangunan di Institut Teknologi Bandung (ITB), sementara kakak saya, Isni, sedang bergulat dengan tesis pascasarjana Ilmu Keperawatan di Universitas Padjajaran (Unpad), dan adik saya, Faroh, sedang menempuh semester 4 di program studi Ekonomi Islam Universitas Airlangga (Unair).

Bapak saya memang seorang yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan. Ia telah berikrar untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai pendidikan pascasarjana (S2). Ia bercita-cita semua anaknya menjadi tenaga pendidik di universitas (baca : dosen). Menurut beliau dosen itu profesi yang sangat menjanjikan. Kata Bapak, dosen memiliki waktu luang yang cukup banyak dimana itu bisa dimanfaatkan untuk beraktivitas lain seperti halnya berbisnis. Saya memandang wajar pemikiran Bapak saya seperti itu berhubung Bapak biarpun telah menempuh pendidikan S2, beliau tinggal di kota kecil Lamongan Jawa Timur yang dinamikanya berbeda seperti halnya di kota besar seperti Bandung dan Surabaya. Bapak saya bukan seorang dosen, Ia adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan profesi sebagai pengawas SMA/SMK di kota Lamongan. Pendidikan S2 ditempuh Bapak sebagai syarat baginya untuk naik pangkat.
 
Adik, Saya, dan Kakak dalam sebuah foto studio pasca wisuda saya (Oktober 2014)
Saya memandang Bapak saya termasuk orang unik dibandingkan dengan teman sebayanya di kantor. Saya sering dengar bahwa orang seusia Bapak dengan profesi yang sama rela memberikan anak-anaknya barang mahal yang sedang in di masyarakat seperti gadget smartphone terbaru, motor sport, tablet PC, atau bahkan mobil. Bapak saya tidak memilih itu, tapi Ia memberikan 'beasiswa' kepada anak-anaknya di pendidikan sampai pascasarjana. Jadi, saya, kakak, dan adik dibiayai mulai dari biaya pendidikan sampai beasiswa hidup per bulannya. Saya sendiri tidak tahu apa sebab Bapak saya memiliki pemikiran demikian. Padahal jika melihat lingkungan, Bapak saya tinggal di desa jadi interaksinya dengan bapak-bapak yang maksimal pendidikan anak-anaknya adalah sarjana, bahkan banyak anak-anaknya yang hanya berpendidikan tingkat SMA kemudian bekerja di perusahaan.

Setiap saya pulang, Bapak saya seringkali cerita tentang toko pertanian yang dia buka tiga tahun silam. Bapak ceritakan jika toko yang dimilikinya itu memiliki arus kas sekian. Ia perlihatkan perhitungan akuntasinya dengan semangat. Bapak saya memang orang yang miliki kemampuan perbukuaan dan akuntasi yang relatif bagus. Ia pernah kursus akuntansi saat menempuh studi D3 di Surabaya. Bapak juga sering kali bilang bahwa bisnis yang ia buka tak lain hanyalah untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Bapak seperti halnya orang tua lain, menceritakan masa susahnya saat muda kepada saya. Satu harapan beliau agar anak-anaknya berani 'menderita' seperti halnya yang pernah ia alami.

Tak Cukup Master

Bapak saya hanya menargetkan anak-anaknya berpendidikan sama dengannya yakni memperoleh gelar master (S2). Bagi saya gelar master tidaklah cukup. Saya rasa saya dan saudara saya harus menempuh pendidikan doktor. Alasanya senderhana, berpendidikan doktor itu cermin dari seorang yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Pengembang ilmu dijanjikan oleh Allah SWT akan diangkat derajatnya. Juga merupakan bagian dari kebangkitan suatu peradaban. Tak ada bangsa besar tanpa didalamnya dijumpai banyak pengembang ilmu. Jika saya bagian dari pengembang ilmu berarti saya turut serta memajukan umat, bangsa, dan negara. Alasan lain, peluang untuk studi S3 besar sekali di masa sekarang. Banyak sekali beasiswa yang tersedia.

Bapak saya seringkali bilang ke saya bahwa dia ingin anaknya jadi dosen. Terkait permintaan Bapak ini, mungkin tidak bisa saya penuhi. Saat ini saya belum ada cita-cita jadi dosen, saya lebih tertarik untuk menjadi profesional. Jadi pasca studi S3, saya akan bekerja di perusahaan atau mendirikan perusahaan. Bapak juga pernah nyletuk ke saya jika dia ingin anaknya menjadi menteri. Karena ini jabatan politik sedang saya belum tertarik terjun di jalan politik, maka saya belum yakin bisa memenuhi keinginan Bapak. Saya hanya ingin menjadi seorang yang mimiliki kepakaran di bidang tertentu. Dengan itu, kemanfaatan saya terhadap masyarakat jelas.

Pada akhirnya cita-cita mewujudkan keluarga doktor dimana saya, kakak, dan adik berpendidikan S3 adalah semata-mata bukan untuk kejar status sosial. Ini semata-mata untuk semakin mendekatkan diri dengan-Nya. Kata Nabi "Jika ingin bahagia di dunia gunakan ilmu, ingin bahagian di akhirat gunakan ilmu, ingin bahagia keduanya gunakan ilmu". Semoga cita-cita mulia ini bisa terwujud di masa mendatang. Amiin. 
Posted on Saturday, March 21, 2015 | Categories: ,

Friday, July 19, 2013

Mengenal Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir (doc. google.com)

Sjahrir dan Sosialisme

Banyak orang menyebut Sjahrir kebarat-baratan. Sjahir adalah pengagum Barat karena rasionalitas Barat yang tinggi. Sjahrir menganut paham sosialisme. Menurut Sjahrir, sosialisme menempatkan semua manusia dalam derajat yang tinggi. Sosialisme di Asia menekankan usaha untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan sedangkan sosialisme di Eropa telah dimasuk di dunia politik untuk mewujudkan demokrasi parlementer. Hal ini tidak lain dipengaruhi keadaan sosial ekonomi masyarakat Asia yang sangat berbeda dengan masyarakat Eropa.

Melihat realita sosial dan ekonomi rakyat Indonesia, Sjahrir mencetuskan konsep sosialisme kerakyatan yaitu suatu konsep sosialisme yang menjunjung tinggi derajat manusia, menghormati hak-hak kemanusiaan dan membentuk kesadaran sosial. Dengan konsep ini diharapkan penindasan terhadap kemanusiaan akan hilang.
Sjahrir menentang keras fasisme Jepang dan semua elemen yang mendukungnya. Sjahrir menyebut kolabolator dengan Fasis Jepang dalam pamflet Perdjoeangan Kita sebagai anjing-anjing suruhan dan antek-antek kaum fasis Jepang. Oleh karenanya, Sjahrir tidak menyetujui langkah Soekarno dan Hatta yang rela berkolaborasi dengan Jepang demi capai kemerdekaan. Baginya kolaborasi dengan Fasis Jepang termasuk fasis juga. Dalam hal ini terdapat kemiripan Sjahrir dan Tan Malaka bahwa kemerdekaan itu bukanlah "hadiah" melainkan "direbut".

Sjahrir juga menentang komunisme. Bagi Sjahrir komunisme akan membentuk diktator proletariat , pemimpin otoriter dari kaum proletar. Hal ini tidak sejalan dengan prinsip sosialisme dimana menerapkan prinsip ekualitas humanisme. Bagi Sjahrir, komunisme akan ciptakan penindasan kaum proletar terhadap pemilik modal. Sjahrir menghendaki pemerintahan dimana kuasa ada di tangan rakyat. Semua sendi pemerintahan dilaksanakan oleh rakyat. Kemakmuran adalah tujuannya bukanlah "negara". Oleh karenanya hal awal yang dilakukan adalah pengentasan kemiskinan dan memerangi kebodohan dengan pendidikan. Secara umum dapat diringkas bahwa tiga hal klasifikasi politik Sutan Sjahrir ; kebebasan, humanisme universal, dan sosialisme kerakyatan.

Gagasan Yang Utopis

Gagasan sosialisme kerakyatan yang dicetuskan oleh Sutan Sjahrir diwujudkan dalam pendirian Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada 1948. Partai ini adalah partai kader yang sangat ketat menyeleksi calon anggota partai. Petinggi partai ini adalah jebolan Pendidikan Nasional Indonesia yang anggotanya adalah para intelektual Indonesia baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri.

Prinsip sosialisme kerakyatan yang ditonjolkan Sjahrir memalui PSI nyatanya tidak mendapat simpati dari rakyat Indonesia. Partai ini tidak pernah memang dalam pemilu. Rakyat Indonesia ternyata lebih bersimpati pada Partai Komunis Indonesia (PKI) yang lebih turun tangan langsung ke basis rakyat seperti petani, nelayan, dan buruh. Partai ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1960 dengan keluarnya Surat Keputusan Presiden Soekarno no. 201.

Setidaknya ada beberapa hal mengapa PSI tidak mendapat hati rakyat Indonesia. Pertama, secara umum  rakyat Indonesia belum mendapatkan pendidikan yang layak. Angka buta huruf pada saat itu masih tinggi. Pendidikan merupakan hal baru di masyarakat. Kedua, kader PSI yang kebanyakan adalah para intelektual kurang begitu dekat dengan masyarakat. Akibatnya rakyat pun sulit menangkap gagasan PSI. Ketiga, PSI sentralis ke Sjahrir. Keempat, masalah utama rakyat Indonesia masih ditataran ekonomi, oleh karenanya partai yang lebih membawa gagasan peningkatan kesejahteraan seperti PKI lebih diterima rakyat.

Secara ringkas dapat saya simpulkan bahwa gagasan Sutan Sjahrir tentang ekualitas humanisme yang terwujud dalam Partai Sosialis Indonesia adalah gagasan yang utopis, gagasan yang susah dicerna oleh rakyat Indonesia.

Referensi : Buku Pemikiran Politik Soetan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia, Tentang Sosialisme Demokratis

Saturday, June 22, 2013

Wiji Thukul, Sastra, dan Perlawanan

doc. google.com
Wiji Thukul adalah seorang seniman biasa. Ia tak tamat SMK. Berbekal ijazah SMP, ia pun masuk pendidikan tinggi seni di Solo. Ia pun ambil seni tari. Ia ternyata bukanlah sesosok yang jago tari. Tariannya sering tidak pas. Guru Thukul tahu betul bahwa bakat Thukul adalah membaca puisi. Thukul sangat produktif dalam mencetak puisi-puisi. Puisi awal Thukul adalah tentang cinta.

Selang beberapa waktu, puisi-puisi Thukul pun merambah ke media-media. Suatu ketika Thukul berkenalan dengan alumni Filsafat UGM, murid dari WS. Rendra.  Mulai dari sini Thukul dibukakan jaringan ke banyak wilayah di Jawa. Thukul pun keliling kota dan adakan pertunjukan.

Thukul akhirnya dirikan Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker).  Jaringan ini merambah ke berbagai daerah di Jawa. Puisi-puisi Thukul pun merambah ke masalah sosial. Suatu ketika, Thukul dan buruh berdemonstrasi menentang kenaikan upah perusahaan. ketika itu Thukul kena hantaman di muka yang akibatkan mata kirinya lebam. Mata Thukul harus dioperasi dengan biaya 1.5 Juta yang dibantu oleh rekan-rekan Thukul dari partai PRD. Biarpun pada akhirnya, dokter yang merawat Thukul mengggratiskan biaya operasi.

Saat itu, Jaker yang dikepalai Thukul menjadi sayap Partai rakyat Demokratik (PRD). PRD dicap pemerintah Soeharto sebagai partai komunis dan pastinya terlarang. Thukul pun menjadi salah satu pengurus partai. Puisi-puisi Thukul pun berbau politik. Puisi Thukul sangat keras menentang kebiadaban pemerintah Soeharto. Puncaknya, pada kerusuhan di kantor PDI, diduga aktor kerusuhan dari partai PRD salah satunya adalah Thukul. Thukul pun akhirnya harus bersembunyi untuk menghindari penangkapan.

Pada 21 Mei 1998, reformasi bergulir. Pemerintah Soeharto tumbang. Namun, saat itu justru Thukul tidak diketahui keberadaannya. Banyak pihak meyakini bahwa Thukul diculik. Berdasakan klarifikasi Tempo, Thukul sampai saat ini masih misterius keberadaannya. Tidak ada fakta yang menunjukkan Thukul mati. 

Sumber : Majalah Tempo
Posted on Saturday, June 22, 2013 | Categories:

Sunday, November 20, 2011

Ibu Inspirator dan Pemberani

Di penguhujung Latihan Gabungan Wilayah Barat PPSDMS Nurul Fikri dilangsungkan Dialog Tokoh dengan mantan menkes RI Sti Fadilah Supari. Beliau menceritakan pengalaman beliau menjadi menteri termasuk gebrakan-gebrakan yang pernah dilakukannya.

Menurut beliau WHO merupakan kepanjangan tangan dari Amerika Serikat yang menghancurkan banyak negara di dunia melalui penjualan vaksin. Menurut beliau penyakit seperti flu burung adalah buatan AS yang vaksinnya hanya diproduksi negara ini. Virus-virus yang ada di negara berkembang seperti Indonesia harus dikirim ke WHO tuk diteliti, padahal realitanya tidak hanya demikian. Virus tersebut diolah di Pentagon sebagai senjata biologi kemudian. Disini kebusukan Amerika Serikat.

Menurut beliau, menjadi bangsa yang lebih baik dan bermartabat itu tidak cukup. Kita harus menjadi bangsa yang berdaulat yang tidak bisa dijual harga dirinya. Kita tahan pada sogokan karena kita memiliki jiwa cinta bangsa dan tanah air. Hal ini bertoloak belakang dengan kondisi politik kita yang keruh dan sarat korupsi. Bagi beliau berdaulat merupakan harga mati.

Bu Fadilah juga menceritakan perjuangan beliau mengungkap fakta tersembunyi WHO diatas ke dunia internasional biarpun ia sempat dikucilkan dengan Amerika Serikat. Beliau ini tipikal wanita pemberani yang mengidolakan Soekarno dan Kartini.

Nasehat yang beliau berikat kepada para hadirin diantaranya agar kita tidak bercita-cita untuk menjadi pejabat. Jika kita bercita-cita demikian berarti kita kan mencapai mimpi tersebut dengan cara apapun dan kita tidak akan menyuarakan hati rakyat karena bagi kita kelanggengan jabatan itulah yang terpenting.

Semoga menginspirasi.
Posted on Sunday, November 20, 2011 | Categories:

Thursday, May 05, 2011

DOKTOR RIZAL RAMLI: PEMIMPIN PERUBAHAN, UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK

Rizal Ramli


Dr. H. Rizal Ramli lahir pada 10 Desember 1953, di Sumatera Barat.  Ia sudah yatim piatu ketika menginjak usia Sekolah Dasar, sehingga untuk melanjutkan pendidikannya ia terpaksa ikut bersama neneknya di Bogor. Di Kota Hujan ini ia menyelesaikan SD sampai SMA. Ketika lulus SMA dan diterima menjadi mahasiswa ITB tahun 1973, Rizal Ramli bingung karena tidak memiliki uang untuk membiayai kuliahnya. Akhirnya, ia bekerja dulu di sebuah percetakan di Kebayoran Baru, Jakarta.

Enam bulan kemudian, setelah uang terkumpul, barulah Rizal Ramli mengenyam bangku kuliah. Karena sudah mahir berbahasa Inggris sejak SMA, Rizal Ramli pun kemudian bekerja sebagai penerjemah buku-buku maupun makalah berbahasa Inggris. Pengalaman hidup yang pahit itu menempanya menjadi orang yang dekat dengan rakyat. Ia bisa menyelami dan berempati pada kaum miskin yang sulit menjangkau sandang pangan karena pernah merasakan kehidupan yang amat sulit di masa muda.

Sebagai aktivis, dalam kapasitas sebagai Deputi Dewan Mahasiswa ITB, Rizal Ramli merupakan salah satu motor penggerak aksi mahasiswa tahun 1978. Karena menentang Rezim Otoriter Orde Baru, Rizal Ramli sempat dipenjara selama 18 bulan.

Pernikahannya dengan Hj. Herawati (alam), sosok yang bersahaja dan sangat humanis, membuat mereka semakin dekat dengan lingkungan sekitarnya. Hera kerap terisak jika menyaksikan pengemis di jalanan. Ia tidak canggung memandikan anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan.

Pada tahun 1990, sepulang dari Amerika Serikat, seusai meraih Doktor Ekonomi dari Boston University, pasangan Rizal Ramli-Herawati sempat tinggal di Jl. Syaridin, Pasar Minggu. Mereka mendirikan Perpusatakaan Bambola bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu,  keluarga ini juga kerap mengedarkan buku untuk anak-anak jalanan lewat sanggar-sanggar anak jalanan.

Perhatian terhadap masa depan akan-anak dari keluarga kurang mampu memang sangat besar. Ketika meluncurkan buku HERA Dalam Keping-Keping Cerita Kehidupan, Karya, dan Kenangan, untuk mengenang kembalinya Hera kepada Sang Pencipta, pada akhir tahun 2007, Rizal memberikan beasiswa kepada 15 mahasiswa ITB yang tidak mampu, di samping menyumbangkan buku bagi almamaternya.


Setelah dicopot dari jabatannya sebagai Komisaris Utama PT Semen Gresik, Rizal Ramli kerap berkunjung ke berbagai pesantren, seperti di Cirebon dan Tasikmalaya, memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Malang, turun ke pasar dan berdialog dengan para pedagang. Rizal Ramli juga menggelar Safari Demokrasi dengan mengunjungi tokoh-tokoh yang pernah dizalimi penguasa Orde Baru, seperti Gus Dur, Adnan Buyung Nasution, dan Hariman Siregar. Rizal Ramli juga diminta memberikan ceramah Subuh oleh Radio El Shinta dan menjadi khatib pada Hari Raya Idul Fitri, 1 Oktober 2008,  di Lapangan Urip Sumoharjo, dengan tema “Kesalehan Sosial: Modal Dasar Bagi Perubahan Bangsa,”

Karena menilai pemerintah SBY-JK gagal meningkatkan kesejahteraan mayoritas rakyat, mengingat kebijakan ekonomi yang ditempuh sekarang masih saja bertumpu pada filosofi Neoliberalisme, Rizal Ramli akhirnya membulatkan hati untuk maju sebagai Calon Presiden pada Pilpres 2009. Langkah yang diayunkan, antara lain, dengan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Bintang Reformasi.


Rizal Ramli identik dengan ECONIT Advisory Group, lembaga think tank independen yang didirikannya pada tahun 1992. Lewat ECONIT, Rizal Ramli kerap melontarkan pandangan kritis terhadap kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah Orde Baru, yang dilandasi filosofi Neo Liberalisme. Tulisannya tajam dan menghunjam, ditopang data yang akurat dan analisis yang logis. Tak pelak, di bawah kepemimpinan Rizal Ramli, ECONIT tampil sebagai lembaga think tank independen terkemuka, yang sering menyodorkan alternatif kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Keberpihakan Rizal Ramli kepada rakyat kecil sudah tertanam sejak menjadi aktivis mahasiswa ITB pada tahun 1970-an. Setelah melakukan perjalanan panjang ke kantong-kantong kemiskinan di sepanjang Pantai Utara Pulau Jawa, akhirnya pada awal 1977 Rizal Ramli mencetuskan gagasan Gerakan Anti Kebodohan (GAK), yang kemudian menjadi program Dewan Mahasiswa ITB. GAK menekankan agar pemerintah menyediakan anggaran yang memadai untuk menampung 7 juta anak-anak miskin yang tidak bisa menikmati pendidikan dasar karena ketiaadaan biaya.

Ketika Presiden Abdurrahman Wahid terpilih menjadi Presiden RI menggantikan BJ Habibie, Rizal Ramli diminta memimpin Badan Urusan Logistik (Bulog). Rizal Ramli bersedia memimpin Bulog karena Gus Dur berpesan agar Bulog dibenahi sehingga berpihak kepada wong cilik, kepada para petani.


Posted on Thursday, May 05, 2011 | Categories:

Tuesday, March 22, 2011

KH Ahmad Dahlan


KH Ahmad adalah pendiri persyarikatan Muhammadiyah. Organisasi terbesar kedua di Indonesia yang bertujuan mewujudkan baldatul toyyibatun wa rabbun ghofur, negara yang baik yang dirahmati Allah. Sewaktu kecil, ia bernama Muhammad Darwisy. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga KH Abu bakar yang merupakan seorang ulama dan khatib terkemuka Masjid Gedhe Yogyakarta. Sedangkan ibu beliau adalah puteri dari H Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Yogyakarta pada masa itu.
KH Ahmad Dahlan

Semasa usia 15 tahun ia pergi haji dan tinggal di makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridla dan ibnu Taimiyah. Pada 1903, ia kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib bersama KH Hasyim Asyari, pendiri NU. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.

KH Ahmad dan Muhammadiyah

Tepatnya pada 18 November 1912, KH Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Hal itu didadasari oleh semakin jauhnya masyarakat dari ajaran islam dan saat itu kristenisasi semakin mengejala. Beliau menginginkan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan  beramal menurut tuntunan islam. Saat awal mula pendiriannya, ia mendapatkan tantangan hebat dari masyarakat sana. Surau beliau dirobohin dan beliau dianggap Kyai Kafir yang cenderung dekat dengan kolonial Belanda.
Lambang Muhammadiyah

Tidak hanya dari masyarakat, pemerintah kolonial pun demikian. Saat KH Dahlan mengajuan permohonan badan hukum pada 20 Desember 1912, baru pada 1914 dikabulkan. Badan hukum tersebut hanya berlaku di lingkungan Yogyakarta saja. Biarpun kondisi demikian, Muhammadiyah tetap mengembangkan sayap dakwahnya daerah lain seperti Srandakan, Wonosari dan Imogiri. Cabang-cabang tersebut bukan bernama cabang Muhamadiyah namun bernama layaknya ormas lain seperti Nurul Islam Di Pekalongan, Almunir di Makassar , SATF (Sidiq Amanah Tablih Fathonah) di Solo dan Ahmadiyah di Garut.

KH Dahlan merupakan Kyai yang toleran terhadap umat beragama lain. Beliau kenal dekat dengan Pastur Van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan agama katolik. Saat itu Kyai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya.


Posted on Tuesday, March 22, 2011 | Categories:

Thursday, March 17, 2011

The Young Entrepreneur Goris Mustaqim


Goris Mustaqim, 27 years old now is known as young entrepreneur in Indonesia. He has finished his study at Institut Teknologi Bandung in Civil Engineering. His entrepreneurship soul has been on fire since he studying here. After graduate from ITB he choose entrepreneurship as his work. He doesn’t want just becoming employee like most of his friends.

Goris is brief man. He firstly just know little about entrepreneurship but he go straight on. He’s not care. He in the first time ever useless fifty million dollars but he is still able to survive. When he was fresh graduate he with his six friends built company namely PT Resultan Nusantara that concern in RFID and smart card.
Goris with Obama

RFID is newest technology in Indonesia. Goris with the team go and back Jakarta Bandung for looking for donation and sponshorship. He’s not hopeless. He always motivated to be a better man. His first step eventually being success receive step above. His achievement very much like nomine Asia’s Best Young Entrepreneur and received President Barack Obama in White House as guest in presidential summit.
Now he has two office in BPPT building Jakarta and Surapati Core Bandung and he also lead Garut Young Association Asgar Muda.

Be your self and get what you dream !!!
Posted on Thursday, March 17, 2011 | Categories: