Showing posts with label Entrepreneurial University. Show all posts
Showing posts with label Entrepreneurial University. Show all posts

Saturday, August 12, 2017

Menuju ITB Mandiri melalui Entrepreneuring

Komersialisasi riset bukan hal baru di ITB. Banyak civitas yang tak hanya dengar istilah ini namun juga sebagai pelaku. Jika kita membuka lembaran sejarah kampus ini, kita akan tahu bahwa 30an tahun yang lalu ITB dengan para ahlinya mencoba menghilirkan risetnya untuk menciptakan sesuatu untuk masyarakat. Sebagai contoh Filino Harahap dan beberapa dosen senior ITB waktu itu kembangkan Pusat Pengembangan Teknologi (PPT) dan kemudian Development Technology Centre (DTC) dengan teknologi tepat gunanya. Semaun Samandikun dan Iskandar Alisjahbana kembangkan semikonduktor dan alat radar penunjang satelit palapa (?).

Di masa menjelang reformasi ada Mubiar Purwasasmita dengan LPPM mampu mendorong dosen ITB untuk melakukan projek-projek yang menghasilkan pundi-pundi dana tambahan bagi ITB. Di masa euforia reformasi ada Kusmayanto Kadiman dengan ketua LAPI dan LPPM, Noorsalam, terapkan kebijakan "merit system" yakni memberikan 'penghargaan' pada dosen ITB berdasarkan kinerja yang tengah ditekuninya seperti halnya projek, riset, dan mengajar. Saat itu ITB seperti sebuah perusahaan (ITB Corp) dengan Rektor seperti seorang CEO.

Entrepreneurial ITB

Gelora Entrepreneurial kembali diangkat oleh Kadarsah Suryadi yang naik sebagai Rektor ITB pada 2014. Di masanya, ITB coba diarahkan ke Entrepreneurial University (EU) setelah di periode sebelumnya diangkat semangat Research University (RU). Nyatanya di lapangan, para dosen memiliki interpretasi yang bermacam-macam terkait maksud dari visi tersebut. Sebagian informan menilai visi Pak Rektor sebagai jargon semata, sebagian yang lain menilai ada dukungan entrepreneuring di ITB seperti riset hilir dan kemudahan berwirausaha yang tengah dikerjakan LPIK.

Biarpun demikian, visi Pak Rektor masih banyak catatannya karena pada dasarnya kegiatan entrepreneuring melibatkan berbagai aktivitas yang saling terkoordinasi. Beberapa dosen yang fokus pada hal ini umumnya besar karena ketelatenan dosen tersebut, peran institusi ITB sangat minimal.

Menuju ITB Mandiri

Saya kira perlu ditujukan dorongan untuk entrepreneuring di ITB semata-mata untuk ITB sendiri. Bagaimana ITB dengan aktivitas ini mampu menjadikan sebagai pundi-pundi utama penghasilan kampus. Tidak menutup kemungkinan bahkan mahasiswa yang sekolah di ITB dibebaskan dari membayar biaya kuliah dg catatan dilibatkan dalam kegiatan entrepreneuring.

Untuk menuju ke sana, pertama yang perlu dilakukan adalah pemetaan kapabilitas komersialisasi riset ITB misalkan menelusuri dosen, mahasiswa, atau alumni yang sedang bergelut di sini. Selanjutnya didengarkan kendala-kendala yang dihadapi mereka dan bagaimana mereka dapat keluar dari situ. Di samping itu perlu juga dilihat bagaimana pelaku organisasi ITB seperti satuan kerja (satker) bekerja, jangan-jangan sistem/manajemennya masih buruk. Semangatnya dari sini kita tahu kondisi ITB saat ini (existing condition) sehingga dari sini kita akan dapatkan alternatif-alternatif solusi untuk mencapai visi tadi.

Sumber data :
1. Buku Aura Biru 1 Bab Filino Harahap
2. Hasil wawancara dengan berbagai dosen secara random untuk riset
3. Hasil obrolan dengan dosen terkait dan dosen yang dekat dengan dosen terkait

Thursday, November 03, 2016

[OPINI] Berlomba-Lomba World Class University

Tidak asing bagi kalangan kampus akan istilah World Class University (WCU) yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Universitas Kelas Dunia. Banyak kalangan khususnya petinggi Perguruan Tinggi ternama di Indonesia mengangkat istilah itu sebagai label kampus yang dipimpinnya. Dari sinilah saya kemudian bertanya apa itu WCU ?. Beberapa tahun terakhir saya amati khususnya di kampus saya, Institut Teknologi Bandung, dimana saya telah belajar selama 7 tahun di sini, bahwa WCU dimaknai hanya sebatas peringkat kampus di beberapa instansi pemeringkat dunia seperti webometrics, akreditasi internasional untuk Program Studi, dan publikasi internasional. Artinya ini hanya masuk dalam tataran administratif. Sementara iklim pembelajaran di kampus tidak banyak berubah. Di sini timbul satu pertanyaan lagi, apakah dengan melakukan internasionalisasi lembaga (peringkat, akreditasi, dan publikasi) menjadikan suatu universitas patut disebut universitas kelas dunia ? Saya kira tidak semudah itu. 
 
Institut Teknologi Bandung (dok. Majalah Ganesha ITB)
Saya kira WCU tidak jauh berbeda dengan label lain yang seringkali kita dengar seperti Research University (RU) dan Entrepreneurial University (EU). Label-label ini seringkali dipakai universitas-universitas kita untuk mendongkrak pamornya di masyarakat. Harapannya banyak masyarakat yang kemudian tertarik masuk dan menjadi mahasiswa suatu universitas. Cara ini bagi kampus yang sudah punya nama seperti ITB, UI, dan UGM tidak banyak pengaruhnya karena tanpa promosi pun kampus-kampus ini kebanjiran calon mahasiswa di setiap tahunnya. Biarpun label itu tidak dibutuhkan dalam konteks promosi, namun realitanya kampus-kampus ini tetap menamai dirinya dengan label tersebut. Sebagai contoh ITB dalam periode kepengurusan Kadarsah Suryadi (2014-2019) melabeli ITB dengan Entrepreneurial University setelah sebelumnya di era Akhmaloka (2010-2014) dengan World Class University (WCU).

Akui Saja Teaching University

Nama WCU, RU, maupun EU merepresentasikan visi dan misi universitas, kemana univeritas ini akan dibawa. Setiap nama di atas memiliki filosofi masing-masing, jadi tidak ujug-ujug dengan memakai label itu langsung menjadikan pola kehidupan di universitas menjadi berubah. EU konon pertama kali dikenal di universitas-univeristas Amerika di awal abad-20 dimana universitas adalah partner strategis dari berbagai industri. Stanford University adalah mitra terdepan Silicon Valley yang melahirkan aneka perusahaan IT dunia seperti Microsoft dan Hewlett-Packard (HP). Baru kemudian setelah perang dingin, universitas-universitas di Amerika mengubah citranya dari EU menjadi RU. Pada masa ini, universitas berlomba-lomba melakukan riset dasar untuk kebutuhan pertahanan dalam negeri. Investor terbesar riset tak lagi dunia industri melainkan pemerintah. Di masa ini, kita dapat melihat perkembangan keilmuan fundamental sangat masif seperti riset terkait atom. Sementara itu WCU hadir setelah EU dan RU hadir sebelumnya. Kampus-kampus luar negeri khususnya Barat yang telah settle dengan dunia riset baik yang orientasinya untuk industri maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri lambat laun entah melebeli dirinya sendiri atau dilabeli dengan sebutan World Class University (WCU). Artinya kampus-kampus tersebut tidak sibuk dengan promosi WCU dimana-mana, namun cukup dengan melakukan riset yang masif, dunia akan mengakui dengan sendirinya.

Lantas bagaimana dengan universitas di Indonesia ?. Riset (penelitian) dalam universitas kita belum menjadi suatu budaya. Artinya riset belum menyatu dalam diri civitas akademika khususnya dosen bahwa kegiatan pengajaran dan riset adalah satu kesatuan profesi dosen. Dosen tidak bisa mengajar saja melainkan harus juga melakukan riset. Definisi riset terbaru yang saya dapatkan datang dari salah dosen ITB bahwa riset dan publikasi adalah kesatuan yang utuh. Artinya di sini tidak boleh hanya meriset bertahun-tahun namun nihil publikasi. Biarpun saya masih bertanya-tanya apakah definisi riset dengan mengkaitkan dengan publikasi itu cocok karena bisa jadi ada dosen yang meneliti suatu objek/fenomena bertahun-tahun tanpa publikasi satu pun, lantas itu tidak dikatakan suatu riset ?. Nampaknya jika kita membahas ini, tulisan ini akan menjadi lebih panjang. Asumsikan kita sekarang memakai definisi riset ala dosen ITB itu, maka publikasi adalah parameter masif atau tidaknya riset suatu perguruan tinggi. Data scopus per 1 Agustus 2016 memperlihatkan bahwa jumlah publikasi 5 besar kampus penyumbang publikasi terbanyak di Indonesia (ITB,  UI, UGM, IPB, ITS) jika dijumlahkan seluruhnya masih kalah dengan satu universitas di Malaysia yaitu Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) (18537 : 24633). Dari data itu kita harus akui bahwa riset kita memang tidak masif.

Jadi jika tidak ada aktivitas riset secara masif, apa yang dilakukan universitas kita ? Tak lain adalah pengajaran. Pandangan masyarakat akan dosen umumnya pada tataran bahwa dosen itu tugasnya mengajar mahasiswa dari tidak bisa menjadi bisa, titik. Kita harus akui bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini univeristas kita tak banyak mengalami perubahan sebagai univeristas pengajaran (teaching university). Dengan mengakui identitas ini, baru kemudian kita dapat berfikir bagaimana universitas kita diarahkan menjadi RU, EU, atau bahkan WCU.

Pelan-Pelan Tapi Pasti

Semua orang menginginkan perubahan tak terkecuali dunia universitas. Setelah mengakui bahwa sejatinya universitas kita masih TU dan untuk  melangkah ke RU, EU, apalagi WCU harus menjadikan riset sebagai budaya, maka langkah selanjutnya adalah mendefinisikan dengan tepat riset itu apa, tidak sesederhana yang diungkapkan dosen ITB di atas. Definisi riset dijelaskan secara apik oleh Johanes Eka Priyatma di kolom Opini Kompas (27/9/2016) dimana Ia menawarkan gagasan jejaring aktor yang diambil dari Teori Jejaring Aktor (Actor-Network Theory/ANT). Melalalui teori ini dapat dijelaskan bahwa riset adalah masalah yang kompleks yang disana melibatkan aneka aktor baik manusia maupun benda yang dalam bahasa ANT disebut artifak. Dalam konteks riset di Perguruan Tinggi perlu diidentifikasi artifak-artifak penyusunnya seperti halnya siapa yang memanfaatkan riset, siapa yang mendanai riset, riset itu sendiri di bidang apa, pelaku riset, dan sebagainya.

Publikasi riset di jurnal internasional adalah satu sisi dari riset, maka jika hanya satu sisi yang diperhatikan tidak akan menciptakan budaya riset yang masif. Maka disini diperlukan sisi-sisi lain. Merujuk pada sejarah berbagai universitas di dunia bahwa sisi-sisi lain yang dimaksud adalah pengguna hasil riset (industri, masyarakat), pemberi dana riset (pemerintah, industri), pelaku riset (selain universitas lainnya juga periset dari lembaga lain serta mencakup juga kapabilitas pelaku riset), dan sebagainya. Sisi-sisi itu harus ditengok dan dijalin secara kontinyu sehingga dihasilkan hubungan yang harmonis. Dalam hal ini Kemenristekdikti diperlukan untuk menjalin sisi-sisi itu dengan pihak kampus. Jika dilihat dalam tataran makro, usaha ke arah ke sana jelas sangat berat karena dibutuhkan lintas institusi dan lintas kementerian, namun jika tidak segera dimulai harapan untuk menjadikan universitas kita menjadi RU, EU, atau bahkan WCU hanya akan tinggal harapan dan mimpi. Artinya di sini budaya riset di kampus kita selamanya tidak akan terjadi dan kampus kita akan selamanya sebagai kampus pengajaran.

Uruqul Nadhif Dzakiy, mahasiswa Magister Studi Pembangunan ITB

Tuesday, August 09, 2016

#OpiniHarteknas : Komersialisasi Riset di Perguruan Tinggi Kita

Setidaknya ada beberapa poin yang dapat saya ambil dari tulisan Fajri Siregar di SELASAR (5/8/2016) yang berjudul “Memberdayakan Riset”. Pertama, perlunya menyelaraskan riset dengan kebutuhan sehingga hasil riset akan dapat termanfaatkan secara langsung. Kedua, perlu dijembatani antara hasil riset dengan pengguna riset. Dua poin ini mengantarkan saya pada satu istilah yang umum bagi pegiat inovasi yaitu komersialisasi riset.

Komersialisasi riset sederhananya berarti memanfatkan hasil riset untuk kepentingan ekonomik. Sebagai contoh hasil riset dimanfaatkan oleh perusahaan. Implikasinya terdapat hubungan yang cukup erat (harmoni) antara pelaku riset dengan pelaku usaha (industri). Industri biasanya memberikan dana riset kepada pelaku riset (peneliti). Setelah riset telah selesai dan berhasil, hasil (produk) riset akan dimanfaatkan industri. Pola ini bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme, dimana peneliti diuntungkan dengan insentif dan peluang untuk riset, sedangkan perusahaan diuntungkan dengan produk riset yang kompetitif.

Komersialisasi Riset : Baik atau Buruk ?

Pertanyaan ini seringkali muncul khususnya dari kalangan akademisi Perguruan Tinggi. Mereka dapat dikelompokkan dalam dua aliran (mahzab). Mahzab satu mengatakan bahwa komersialisasi riset itu baik karena hasil riset akan langsung termanfaatkan sehingga tidak mubazir. Ada yang menyebut hal ini sebagai bentuk dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabidan kepada masyarakat. Mahzab satunya lagi mengatakan bahwa komersialisasi riset berarti kapitalisasi pengetahuan dimana ini bertentangan dengan jatidiri universitas sebagai lembaga pendidikan yang jauh dari unsur bisnis (komersial). Dua mahzab ini seringkali bertikai dan tak ada ujungnya. Tak hanya di Indonesia, di negara-negara Barat yang kampusnya bisa dikatakan mapan juga mengalami hal serupa. Ini tak lain disebabkan karena latar belakang berdirinya universitas di berbagai negara berbeda.



Sebagai contoh berdirinya kampus-kampus di Amerika Serikat tak dapat dilepaskan dengan golongan pedagang Eropa yang ingin mengembangkan bisnisnya. Posisi kampus-kampus saat itu bisa dikatakan sebagai pelayan industri/perusahaan. Berbeda halnya dengan kampus-kampus di Eropa yang berdirinya tak dapat dilepaskan dari golongan kaum bangsawan seperti kalangan kerajaan serta pemuka agama. Aktivitas komersialisasi riset mulai masif digalakkan di masa berdirinya kampus-kampus di Amerika tersebut. Silicon Valley adalah bukti betapa suksesnya hubungan Perguruan Tinggi (Stanford University) dengan dunia usaha yang berbasis di California ini. Satu poin penting dari sini adalah berdirinya suatu kampus bertujuan untuk menjawab kemauan investor kampus itu. Jika dilihat dalam konteks Amerika Serikat, maka dunia usaha adalah investornya.

Namun, jika melihat konteks Indonesia, sungguh sangat pelik. Ambil contoh saja Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdirinya kampus ini pada 1920 adalah untuk men-supply tenaga kerja terdidik dari kaum pribumi untuk nanti bekerja pada Belanda. Tujuan awal tersebut bergeser ketika Indonesia merdeka, sampai tiba tenaga pengajar dari Amerika Serikat (Kentucky Contract Team) menggantikan pada dosen dari Belanda. Saat itu, hal-hal peninggalan Belanda diganti dan konon buku-buku peninggalannya dibakar. Pada masa Belanda, metode pengajaran di ITB lebih ditekankan aspek pemahaman secara mendalam atas teori yang diajarkan. Pada masa itu peragaan di kelas menjadi hal biasa dan ujian dilaksanakan secara lisan. Budaya akademis semacam itu diganti dengan budaya baru dari Amerika. Pada masa itu, buku ajar (textbook) mulai diperkenalkan metode tanya jawab, juga multiple choise pada saat ujian. Biarpun metode ajar sudah mengikuti metode Amerika, dosen-dosen ITB yang pernah diajar akademisi Belanda masih cukup banyak dan berpengaruh di ITB. Warna mereka masih sangat terasa di ITB, apalagi setelah ditambah dengan banyaknya dosen yang studi lanjut ke Eropa dan Jepang. Karena heterogenitas dosen ITB sangat tinggi ditambah dengan arahan Pemerintah yang tidak jelas dalam hal riset, para akademisi ITB seoalah bergerak sendiri-sendiri baik dalam hal riset maupun aktivitas lainnya. Komersialisasi riset yang ada di ITB pun pada akhirnya dilakukan atas inisiatif dosen tertentu, bukan dari ITB secara institusi,

Dari sejarahnya, komersialisasi riset dilakukan karena interaksi yang kuat antara dunia usaha (industri) dan Perguruan Tinggi. Ini bisa dikatakan sukses dijalankan di Amerika Serikat. Jika ditarik ke wilayah Indonesia, hal ini menjadi kurang begitu relevan. Hal ini dikarenakan tujuan awal didirikannya kampus bukan untuk itu. Hubungan kampus-kampus kita dengan industri pun tidak kuat. Umumnya kampus kita masih bergerak di tataran pengajaran (teaching) dan menghasilkan lulusan yang siap kerja, bukan siap mendirikan usaha. Munculnya beberapa dosen dan juga mahasiswa yang melakukan komersialisasi riset menjadi hal yang tidak bisa dilarang.

Menselaraskan dengan Visi

Pada masa Pemerintahan Jokowi, Kementerian pendidikan tinggi dipisah dengan pendidikan dasar yang bernama Kemenristekdikti. Harapan dibentuknya kementerian baru salah satunya adalah untuk memperbaiki kualitas riset kita secara signifikan. Realitanya ternyata tak jauh berbeda dengan periode sebelumnya. Kampus-kampus kita secara kualitas ternyata masih jauh jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Luar Negeri (Tulisan Fuad Rakhman di Jakarta Post (7/12/2013) http://www.thejakartapost.com/news/2013/12/07/ri-universities-cannot-compete-internationally.htmlmasih relevan). Celakanya, Pemerintah juga tidak memberikan ‘arah’ riset bagi kampus-kampus khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Publikasi internasional seakan-akan satu-satunya parameter kemajuan riset. Padahal, kemajuan riset ini ditopang dengan aneka variabel yang kompleks, tidak bisa parsial.

Karena Pemerintah tak dapat diharapkan, satu-satunya harapan adalah visi Perguruan Tinggi dalam rentang satu periode rektor. Terkait komersialisasi riset, sebenarnya sangat selaras dengan visi yang dibawa rektor ITB saat ini, Kadarsah Suryadi. Dalam lima tahun kedepan sejak 2014, Kadarsah mengusung entrepreneurial university sebagai upaya memajukan ITB. Ekspektasi dari hadirnya ide ini adalah para dosen dan juga mahasiswa yang mampu menangkap peluang bisnis dari apa yang dipelajari (komersialisasi riset) diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang. Namun ternyata, realitanya tidak demikian. Kampus tidak peduli dengan aktivitas bisnis yang dilakukan baik dosen maupun mahasiswa. Kampus hanya memonitoring hal-hal rutin seperti pengumpulan nilai dan berkas akademik lain. Ini saya kira kerugian bagi kampus itu sendiri. Padahal jika ditengok dari kalangan mahasiswa ITB saja untuk angkatan 2008 lulusannya 6 persen terjun di dunia usaha sedangkan angkatan 2007 dengan 7.05 persen (Tracer Study ITB). Fakta ini menunjukkan gap terkait komersialisasi riset dalam tataran ide dan praktik. Nah, apakah dengan adanya momentum Harteknas yang diperingati tiap 10 Agustus dapat menangkap fenomena ini ? Entahlah. 

*) sumber gambar research.fsu.edu

Tuesday, August 02, 2016

The False Promise of the Entrepreneurial University

Saya barusan kelar baca cepat (karena g mudeng semua isinya, hehe) terkait Entrepreneurial University. Judul aslinya seperti yang saya tulis di judul tulisan ini. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia bunyinya gini "Janji yang keliru dari Entrepreneurial University (EU)". Buku ini tebalnya 129 halaman pdf.

Nah, konteks geografis dalam buku ini adalah Amerika Serikat. Secara di sana banyak sekali kampus yang mengadopsi konsep EU. Intinya kalo g salah begini. Beberapa kampus di AS coba meniru gaya Stanford University yg berhasil membuat lingkungan inkubator bisnis Silicon Valley. Mereka pengennya adopsi mentah2 aja tanpa faham betul potensi yang dimiliki wilayah dimana kampus2 itu berdiri. Akibatnya apa? Yang dipikirkan adalah paten dan beberapa karya akademik yg memiliki nilai ekonomik.

Sebagai contoh sebuah kampus di Wilwaukee AS pengen jadi Silicon Valley di bidang teknologi air (Water Technology) tapi akhirnya gagal. Mengapa? Karena lingkungannya tidak mendukung. Beda halnya dengan Israel dan Singapura yang dikenal lama maju di bidang ini. Artinya disini adalah berdirinya sebuah teknopolis dikarenakan ada kebutuhan, tidak sekedar keinginan.

Banyak juga yang menginginkan kampus itu penyedia segala macam kebutuhan industri. Ini juga keliru. Kampus itu sejatinya pencetak orang-orang yang memiliki keahlian tertentu yang nantinya akan digunakan di dunia kerja. Hubungan kampus dan industri sekedar hubungan yang proporsional.

Selanjutnya, spending dana untuk riset yang besar-besaran di kampus AS tidak serta merta akan otomatis menggeliatkan ekonomi di wilayah kampus berdiri. Sekaya bagaimanapun, kampus adalah lembaga pendidikan yg tujuan utamanya mendidik (to educate).

Monday, August 01, 2016

Belajar dari Pak Budi Rahardjo (Bagian 2)

Setelah kemarin saya ceritakan petikan ide dari Pak Budi Rahardjo, kini saya akan sampaikan petikan yang lain. Kan kemarin saya tulis beberapa petikan ? Betul, dua petikan kan bisa dikatakan beberapa petikan kan ? Hi hi hi. Oke, pada tulisan kali ini saya akan ceritakan terkait bagaimana konsepsi entrepreneurial university versi pelaku entrepreneurship yaitu Pak Budi sendiri. Saya dulu pernah sih menulis terkait konsep ini di opini saya yang formal, namun malas ah pake referensi-referensi buku kayak gitu. Mengapa ? karena subjek penelitian di buku yang saya baca itu Barat, beda pisan ama ITB. Hehe

Pak Budi ini unik, beliau bukannya sering bicara bahwa menjadi startup itu asik dan bla bla bla, namun beliau ini justru ceritakan panjang lebar tentang kendala yang dihadapi seorang startup. Itupun ditambah dengan “Bisa jadi yang akan Anda rasakan beda dengan yang saya rasakan”. Nah ini kan menegangkan juga menakutkan betul. Ya, Pak Budi pengen ceritakan apa adanya, tidak melebih-lebihkan bahwa profesi bisnis startup ini lebih mulia dan berkasta lebih tinggi dibandingkan yang lain. Tidak kayak gitu. Jika diperas lagi, beliau pengen ceritakan betul bahwa entrepreneurship adalah mental. Tidak ada rumus khusus untuk mempelajarinya (jadi inget Artificial Intelligence yang katanya rumusnya tidak sesaklek kriptografi, hehe).

Oke kembali ke topik pembahasan. Pak Aca (nama panggilan rektor kita semua, Pak Kadarsah Suryadi), di proses kampanye menjelang Pemilihan Rektor beberapa waktu lalu mengenalkan konsep Entrepreneurial University. Intinya sih gini, ITB ingin mencetak buanyuaaaaakkkkk sekali pengusaha muda. Nah, tapi kumaha ieu ? Ini yang sulit kita saksikan hari ini hasilnya. Padahal Pak Aca kan udah hampir 2 tahun menjadi rektor (cek ya barangkali saya salah). Lantas Pak Aca kita salahkan begitu saya ? Jangan buru-buru gitu, saya bukan Jonru/tipikal pengamat politik. Intinya ITB itu kompleks bahkan lebih kompleks dari bilangan kompleks. Di dalamnya banyak sekali orang-orang dengan keminatan yang bueesar di bidang tertentu. Saya pernah menemukan dosen saya baru pulang pagi hari dari kantornya, ini kan jelas bahwa beliau ini tidur di kantornya. Nah, ini satu indikasi bahwa orang-orang ITB umumnya punya determinasi yang tinggi di bidang keilmuan.

Kembali ke topik pembahasan (2). Banyak pelaku bisnis yang juga akademisi (saya ambil sampel dosen tesis dan Pak Budi doang, heu) yang katakan bahwa setiap kita mendengar ungkapan Entrepreneurial University pasti langsung menyebut Stanford University. Betul, kampus inilah yang berada dibalik berdirinya Silicon Valley, yang melahirkan aneka bisnis di bidang IT seperti Google dan Facebook itu. Konon iklim berbisnis startup di sangat di dorong. Sebagai contoh di sana ada data terkait berapa banyak alumni Stanford yang berkiprah di dunia bisnis (di ITB kan ada tracer study, iya sih tapi masih g sedetail mereka). Iklim yang lebih riil di kampus itu saya belum tahu. Mungkin akan dibahas di lain kesempatan (underline kata ‘mungkin’ ya). Nah, kembali ke ITB. Niat Pak Aca sih baik dan saya yakin beliau mengenal konsep entrepreneurship yang cukup dari jurusannya di Teknik Industri (secara beliau professor di sana). Namun, konsep ini  tidak ujug-ujug bisa terlaksana dengan hadirnya Pak Aca dengan idenya tentang Entrepreneurial University. Konsep ini jika akan dilaksanakan kompleks sekali. Sistem pendidikan ITB, pola pengajaran, aturan-aturan akademik, dan suasana di kampus ini harus sama sekali berbeda dengan pola-pola sebelumnya. Itu harusnya, realitanya ? ITB tidak banyak berubah. Periode Pak Aca dengan sebelumnya (Pak Loka) sulit bagi kita temukan perbedaannya secara signifikan. Yang ketara dari ITB sekarang ya dorongan kepada dosen-dosen ITB untuk publikasi paper. Nah, inikan sama saja dengan university pada umumnya. Ya, kita masih universitas yang fokusnya ngajar di kelas. Kata Pak Budi, “Jadi ini sebenarnya secara kenyataan teaching university. Jadi akui aja teaching university.”


Lantas apa yang perlu dilakukan ITB ? Pendapat saya tanggalkan konsep Entrepreneurial University yang masih imajinatif ini. Kita fokus pada rakyat ITB (dosen dan mahasiswa, karyawan gimana ? Itu beda konteks yak). Kita kan sama-sama tahu bahwa ITB itu kumpulan orang-orang yang bergairah dan berhasrat menjadi orang top di bidang tertentu. Nggak cuma dosen saja, mahasiswa juga (mudah kita dapati mahasiswa S1 yang balapan IPK-nya, hehe). Nah itu bagaimana mereka semua itu difasilitasi dan diklaim sebagai bagian dari keunggulan ITB. ITB kudunya tidak membiarkan mereka hidup dengan dunia mereka sendiri, tapi diemong. Sebagai contohnya Pak Budi. Beliau aktif mementor mahasiswa di bidang startup dan juga memiliki beberapa perusahaan di bidang IT. ITB dapat mengklaim kegiatan Pak Budi ini sebagai bagian dari program kerja ITB mendorong mahasiswanya untuk berwirausaha. Nanti ITB bisa gembar-gembor ke publik bahwa ITB berjasa untuk menciptakan pengusaha-pengusaha Indonesia. Pak Budi mengakui sendiri sangat boleh ITB melakukan ini justru beliau pengen ITB bersikap demikian. Ini cara Stanford bisa dicontoh (ITB kan kiblatnya MIT ? Iya gitu, he he).

Langkah kedua adalah ITB membebaskan dan men-support betul mahasiswa untuk berwirausaha selama studi. Pak Budi bercerita bahwa di kampus Luar Negeri sana (Stanford dan Berkeley) mahasiswa diizinkan cuti selama satu semester untuk fokus dalam kegiatan bisnis startup. Masa cuti ini tidak dimasukkan dalam masa studi normal. Sebelum cuti, mahasiswa ini harus menghadap tim reviewer dari kampus untuk ditanyai kelayakan bisnisnya. Jika oke, go !, jika tidak, Balik studi ya !. Nah, dalam prosesnya selama satu semester sang mahasiswa ini gagal, dan dia pengen balik ke kampus, kampus mengizinkan, tidak di-DO. Selain dua langkah ini, langkah lain adalah kampus kudu dinamis dengan pola/ritme kerja yang sama-sekali berbeda baik dari pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, karyawan, dan lain sebagainya. Dinamisasi ini di-support betul. Sebagai contoh adalah ditiadakannya jam malam. ITB terbuka 24 jam bagi segenap civitas akademika yang ingin beraktivitas di dalamnya. Tidak kayak sekarang, jam 23.00 WIB mahasiswa yang nongkrong di unit diusir begitu saja. ITB mendorong kreativitas mahasiwa dengan diberikan kemudahan izin beraktivitas, akses pada stakeholders, dan sebagainya. Keluarannya tidak dengan menang di berbagai perlombaan bisnis lo, tapi alumni-alumni ITB siap berbisnis khususnya di bidang keilmuan yang digelutinya.

Oke itu aja dulu yak, ditunggu komentar-komentarnya. Semoga kita tetap semangat J
Pak Budi Rahardjo (2)