Showing posts with label university. Show all posts
Showing posts with label university. Show all posts

Wednesday, September 13, 2017

Link and Match Universitas-Industri

Istilah "link and match" bukanlah hal yang tabu di beberapa universitas besar di Amerika, namun tidak dengan Indonesia. Ada budayawan yang menganggap bahwa ide ini yang tak lain akan menciptakan lulusan universitas yang hanya sekedar menjadi sekrup industri. Bagi mereka sekrup industri berstigma negatif dan hanyalah kaum intelektual cerdik pandai yang dapat mereproduksi idelah idealnya seorang lulusan universitas. Namun ada beberapa pula yang mendukung ide ini karena percuma kuliah susah di Perguruan Tinggi namun harus sukar mencari pekerjaan saat lulus. Kedua golongan ini terlihat jelas berseberangan menanggapi istilah tersebut. Itu tidak salah mengingat latar belakang mereka pastinya berbeda.

Sebelum membahas lebih jauh maksud dari istilah tersebut, sedikit flash back bahwa di zaman orde baru istilah tersebut sempat didengungkan jadi pastinya itu bukanlah kosa kata baru dalam literatur akademik. Hanya saja semakin ke sini saya kira penafisiran istilah itu dapat diperlebar. Link and match mengandung makna hubungan erat, keterikatan. Sementara universitas adalah lembaga yang mereproduksi pengetahuan dan industri adalah lembaga yang menciptakan produk untuk dijual. Irisan universitas dan industri adalah terletak pada riset dan pengembangan (R&D). Biasanya industri yang sudah settle punya R&D sendiri dan seringkali lebih canggih dibandingkan yang dimiliki universitas. Karena keterikatan antara dua elemen itu suatu kolaborasi aktif maka keduanya saling bekerjasama dalam lingkup core-nya masing-masing.

Industri suatu ketika akan melihat bahwa melakukan R&D di perusahaannya sendiri akan costly maka skema yang bisa dilakukan dengan melakukan investasi ke universitas yang melakukan riset terkait bidang yang sedang dikembangkan oleh industri. Langkah ini dilakukan oleh Roll Royce kepada Oxford University. Jadi di sini beberapa topik riset universitas digiring ke kebutuhan industri. Apakah universitas dirugikan ? Tidak, karena tetap bisa menjaga indepensinya sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Hasil riset kerjasama ini juga tetap bernilai keilmuan sangat tinggi. 

Term riset untuk kebutuhan industri mengandung pertanyaan jika dibawa ke Indonesia. Adakah industri Indonesia yang telah tegak dalam R&D sehingga membutuhkan peran-serta aktif universitas untuk membantunya ? Ada tapi kuantitas dan kualitasnya mungkin jauh jika dibandingkan apa yang sudah ada di Barat. Nah, kondisi ini yang terkadang para periset di universitas tidak "ngeh" sehingga tetap saja melakukan riset advance yang ujungnya tidak lebih dari paper ilmiah. Apakah itu salah ?Tidak, namun dalam konteks pembangunanan itu investasi yang mubazir. 

Jadi istilah link and match universitas-industri melalui riset berlaku jika ditempatkan pada konteks pembangunan, tidak sekedar ekonomi. Pengembangan industri menjadi pintu masuk pengembangan iptek seperti yang pernah dilakukan Orde Baru. Melihat kondisi zaman yang cepat sekali berubahnya, istilah link and match demikian niscaya untuk kembali didengungkan oleh para developmentalist.

Thursday, November 03, 2016

[OPINI] Berlomba-Lomba World Class University

Tidak asing bagi kalangan kampus akan istilah World Class University (WCU) yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Universitas Kelas Dunia. Banyak kalangan khususnya petinggi Perguruan Tinggi ternama di Indonesia mengangkat istilah itu sebagai label kampus yang dipimpinnya. Dari sinilah saya kemudian bertanya apa itu WCU ?. Beberapa tahun terakhir saya amati khususnya di kampus saya, Institut Teknologi Bandung, dimana saya telah belajar selama 7 tahun di sini, bahwa WCU dimaknai hanya sebatas peringkat kampus di beberapa instansi pemeringkat dunia seperti webometrics, akreditasi internasional untuk Program Studi, dan publikasi internasional. Artinya ini hanya masuk dalam tataran administratif. Sementara iklim pembelajaran di kampus tidak banyak berubah. Di sini timbul satu pertanyaan lagi, apakah dengan melakukan internasionalisasi lembaga (peringkat, akreditasi, dan publikasi) menjadikan suatu universitas patut disebut universitas kelas dunia ? Saya kira tidak semudah itu. 
 
Institut Teknologi Bandung (dok. Majalah Ganesha ITB)
Saya kira WCU tidak jauh berbeda dengan label lain yang seringkali kita dengar seperti Research University (RU) dan Entrepreneurial University (EU). Label-label ini seringkali dipakai universitas-universitas kita untuk mendongkrak pamornya di masyarakat. Harapannya banyak masyarakat yang kemudian tertarik masuk dan menjadi mahasiswa suatu universitas. Cara ini bagi kampus yang sudah punya nama seperti ITB, UI, dan UGM tidak banyak pengaruhnya karena tanpa promosi pun kampus-kampus ini kebanjiran calon mahasiswa di setiap tahunnya. Biarpun label itu tidak dibutuhkan dalam konteks promosi, namun realitanya kampus-kampus ini tetap menamai dirinya dengan label tersebut. Sebagai contoh ITB dalam periode kepengurusan Kadarsah Suryadi (2014-2019) melabeli ITB dengan Entrepreneurial University setelah sebelumnya di era Akhmaloka (2010-2014) dengan World Class University (WCU).

Akui Saja Teaching University

Nama WCU, RU, maupun EU merepresentasikan visi dan misi universitas, kemana univeritas ini akan dibawa. Setiap nama di atas memiliki filosofi masing-masing, jadi tidak ujug-ujug dengan memakai label itu langsung menjadikan pola kehidupan di universitas menjadi berubah. EU konon pertama kali dikenal di universitas-univeristas Amerika di awal abad-20 dimana universitas adalah partner strategis dari berbagai industri. Stanford University adalah mitra terdepan Silicon Valley yang melahirkan aneka perusahaan IT dunia seperti Microsoft dan Hewlett-Packard (HP). Baru kemudian setelah perang dingin, universitas-universitas di Amerika mengubah citranya dari EU menjadi RU. Pada masa ini, universitas berlomba-lomba melakukan riset dasar untuk kebutuhan pertahanan dalam negeri. Investor terbesar riset tak lagi dunia industri melainkan pemerintah. Di masa ini, kita dapat melihat perkembangan keilmuan fundamental sangat masif seperti riset terkait atom. Sementara itu WCU hadir setelah EU dan RU hadir sebelumnya. Kampus-kampus luar negeri khususnya Barat yang telah settle dengan dunia riset baik yang orientasinya untuk industri maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri lambat laun entah melebeli dirinya sendiri atau dilabeli dengan sebutan World Class University (WCU). Artinya kampus-kampus tersebut tidak sibuk dengan promosi WCU dimana-mana, namun cukup dengan melakukan riset yang masif, dunia akan mengakui dengan sendirinya.

Lantas bagaimana dengan universitas di Indonesia ?. Riset (penelitian) dalam universitas kita belum menjadi suatu budaya. Artinya riset belum menyatu dalam diri civitas akademika khususnya dosen bahwa kegiatan pengajaran dan riset adalah satu kesatuan profesi dosen. Dosen tidak bisa mengajar saja melainkan harus juga melakukan riset. Definisi riset terbaru yang saya dapatkan datang dari salah dosen ITB bahwa riset dan publikasi adalah kesatuan yang utuh. Artinya di sini tidak boleh hanya meriset bertahun-tahun namun nihil publikasi. Biarpun saya masih bertanya-tanya apakah definisi riset dengan mengkaitkan dengan publikasi itu cocok karena bisa jadi ada dosen yang meneliti suatu objek/fenomena bertahun-tahun tanpa publikasi satu pun, lantas itu tidak dikatakan suatu riset ?. Nampaknya jika kita membahas ini, tulisan ini akan menjadi lebih panjang. Asumsikan kita sekarang memakai definisi riset ala dosen ITB itu, maka publikasi adalah parameter masif atau tidaknya riset suatu perguruan tinggi. Data scopus per 1 Agustus 2016 memperlihatkan bahwa jumlah publikasi 5 besar kampus penyumbang publikasi terbanyak di Indonesia (ITB,  UI, UGM, IPB, ITS) jika dijumlahkan seluruhnya masih kalah dengan satu universitas di Malaysia yaitu Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) (18537 : 24633). Dari data itu kita harus akui bahwa riset kita memang tidak masif.

Jadi jika tidak ada aktivitas riset secara masif, apa yang dilakukan universitas kita ? Tak lain adalah pengajaran. Pandangan masyarakat akan dosen umumnya pada tataran bahwa dosen itu tugasnya mengajar mahasiswa dari tidak bisa menjadi bisa, titik. Kita harus akui bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini univeristas kita tak banyak mengalami perubahan sebagai univeristas pengajaran (teaching university). Dengan mengakui identitas ini, baru kemudian kita dapat berfikir bagaimana universitas kita diarahkan menjadi RU, EU, atau bahkan WCU.

Pelan-Pelan Tapi Pasti

Semua orang menginginkan perubahan tak terkecuali dunia universitas. Setelah mengakui bahwa sejatinya universitas kita masih TU dan untuk  melangkah ke RU, EU, apalagi WCU harus menjadikan riset sebagai budaya, maka langkah selanjutnya adalah mendefinisikan dengan tepat riset itu apa, tidak sesederhana yang diungkapkan dosen ITB di atas. Definisi riset dijelaskan secara apik oleh Johanes Eka Priyatma di kolom Opini Kompas (27/9/2016) dimana Ia menawarkan gagasan jejaring aktor yang diambil dari Teori Jejaring Aktor (Actor-Network Theory/ANT). Melalalui teori ini dapat dijelaskan bahwa riset adalah masalah yang kompleks yang disana melibatkan aneka aktor baik manusia maupun benda yang dalam bahasa ANT disebut artifak. Dalam konteks riset di Perguruan Tinggi perlu diidentifikasi artifak-artifak penyusunnya seperti halnya siapa yang memanfaatkan riset, siapa yang mendanai riset, riset itu sendiri di bidang apa, pelaku riset, dan sebagainya.

Publikasi riset di jurnal internasional adalah satu sisi dari riset, maka jika hanya satu sisi yang diperhatikan tidak akan menciptakan budaya riset yang masif. Maka disini diperlukan sisi-sisi lain. Merujuk pada sejarah berbagai universitas di dunia bahwa sisi-sisi lain yang dimaksud adalah pengguna hasil riset (industri, masyarakat), pemberi dana riset (pemerintah, industri), pelaku riset (selain universitas lainnya juga periset dari lembaga lain serta mencakup juga kapabilitas pelaku riset), dan sebagainya. Sisi-sisi itu harus ditengok dan dijalin secara kontinyu sehingga dihasilkan hubungan yang harmonis. Dalam hal ini Kemenristekdikti diperlukan untuk menjalin sisi-sisi itu dengan pihak kampus. Jika dilihat dalam tataran makro, usaha ke arah ke sana jelas sangat berat karena dibutuhkan lintas institusi dan lintas kementerian, namun jika tidak segera dimulai harapan untuk menjadikan universitas kita menjadi RU, EU, atau bahkan WCU hanya akan tinggal harapan dan mimpi. Artinya di sini budaya riset di kampus kita selamanya tidak akan terjadi dan kampus kita akan selamanya sebagai kampus pengajaran.

Uruqul Nadhif Dzakiy, mahasiswa Magister Studi Pembangunan ITB

Thursday, August 04, 2016

Susu Murni Dingin

Cuaca Bandung seharian ini cerah. Siang tadi bahkan cukup panas. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan kewajiban saya membaca literaturn untuk thesis. Saya tadi baca sejarah universitas. Ini merupakan lanjutan dari halaman yang kubaca beberapa waktu lalu.

Inti dari apa yang saya baca tadi begini. Ada masa dimana jabatan akademis yakni profesor menjadi semacam gelar kehormatan di lingkungan masyarakat. Di beberapa negara Eropa di masa lalu adopsi ini. Implikasi dari hal ini yaitu beberapa profesor menjadi tokoh politik seperti halnya Presiden Universitas Harvard (lupa namanya) yang juga profesor di bidang hukum dan politik terpilih menjadi Presiden Amerika.

Bagian menarik lain yang ingin saya ceritakan yaitu Pengaruh Jerman (Prussia saat itu) di berbagai belahan dunia seperti Amerika Utara dan Amerika Selatan sangat terlihat. Pola pembelajaran kampus di Kanada misalnya gunakan sistem adopsi dari Jerman. Amerika Serikat juga demikian. Nah, saat Nazi berkuasa di Jerman banyak ilmuwan Jerman yang pindah ke AS dan kembangkan keilmuan di sana. Einstein adalah contohnya dg mengajar dan riset di Princeton University.

Kopmil DU

Saya penasaran dengan satu mobil van putih yang biasa parkir dan jualan di pertigaan Teuku Umar Bandung. Penasaran saya ini sudah lama dan belum sempat bagi saya untuk sekedar mampir. Nah, malam ini saya mampir. Ternyata van putih ini jualan susu murni, sachet, dan juga roti bakar. Brand yang dipakai adalah Kopmil DU. Saya tidak filosofi dari nama itu karena saya tidak ngobrol dengan pemiliknya. Di sini pengunjungnya ramai dengan dominasi anak muda seusia saya.

Saya pesan susu murni original dingin. Harganya satu cup 7 ribu rupiah. Dari aneka susu murni modifikasi (rasa macem-macem), ini paling murah. Namanya juga susu murni, tingkat kemanisannya rendah. Apalagi ditambah es jadi kemurnian susu murninya berkurang (saya ngomong apa sih?). Yang penting bagi saya berkunjung dan nongkrong beberapa saat di sini. Biarpun sendirian saja, tapi saya merasa asik aja lihat pengamen lalu lalang ke sini. Juga ngelihat anak2 muda saling bercengkerama.

Wednesday, August 03, 2016

University in a Neoliberal World

Barusan kelar baca buku tipis karangan Alex Callinicos berjudul "Universities in a Neoliberal World". Buku ini secara umum berupa kritik atas pengaruh neoliberalisme di Perguruan Tinggi. Neoliberalisme ini faham yang digagas Margareth Thatcher dan Ronald Reagan di tahun 1980-an dimana intinya adalah bagaimana market (pasar) sebagai penggerak perekonomian. Impact dari ini adalah terjadinya arus besar-besar swastanisasi berbagai aset milik negara dengan dalih efisiensi dan sejenisnya.

Kajian dari buku ini terfokus pada wilayah Inggris. Di buku diceritakan bahwa sejak masa Thatcher berkuasa, banyak kampus-kampus di Inggris menjalin kerjasama besar-besaran dg dunia industri. Kampus-kampus yang dimaksud bukan seluruh kampus di daratan Inggris, melainkan kampus yg dianggap memiliki reputasi baik seperti Oxford, Cambridge, Imperial, LSE, dan sebagainya. Kampus-kampus ini diberi anggaran riset yg luar biasa besar. Adapun donaturnya selain dari pemerintah juga pihak swasta (industri). Dalam perkembangannya, kampus2 ini menjadi elit dan menjadi kampus top dunia. Ini menjadikan banyak mahasiswa asing (terbanyak China) studi di sana. Orang-orang asli Inggris yg notabene tidak beruntung secara ekonomi akhirnya terpinggirkan. Akses ke pendidikan tinggi (higher education) menjadi esklusif.

Hal lain yang muncul adalah biaya pendidikan yang tinggi. Muncul skema utang dari pembiayaan PT seperti student loan. Namun ini menurut penulis, implikasi justru jelek. Banyak mahasiswa yg pada akhirnya tdk mampu membayar. Impact selanjutnya yaitu banyaknya mahasiswa yang disamping studi juga bekerja baik full-time maupun part-time. Ini menjadikan beberapa dari mereka terkendala dalam masalah studi.

Neoliberalisme memunculkan persaingan yang sangat di kalangan banyak scholar. Aura PT menjadi seolah-olah menjadi sebuah korporasi. Banyak kampus  menerima mahasiswa yang banyak padahal sebenarnya kapasitasnya tdk cukup. Keadaan ini yang dikeluhkan oleh penulis. Dunia memang bergerak ke tatanan pasar bebas, namun PT seharusnya memiliki sikap untuk mempertahankan budaya diskusi dan mengkaji untuk memberikan sulusi bagi tatanan dunia ini. Kampus tidak boleh terlarut pada arus, tetapi dapat memberi warna pada arus tersebut.