Wednesday, September 13, 2017
Thursday, November 03, 2016
[OPINI] Berlomba-Lomba World Class University
Thursday, August 04, 2016
Susu Murni Dingin
Cuaca Bandung seharian ini cerah. Siang tadi bahkan cukup panas. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan kewajiban saya membaca literaturn untuk thesis. Saya tadi baca sejarah universitas. Ini merupakan lanjutan dari halaman yang kubaca beberapa waktu lalu.
Inti dari apa yang saya baca tadi begini. Ada masa dimana jabatan akademis yakni profesor menjadi semacam gelar kehormatan di lingkungan masyarakat. Di beberapa negara Eropa di masa lalu adopsi ini. Implikasi dari hal ini yaitu beberapa profesor menjadi tokoh politik seperti halnya Presiden Universitas Harvard (lupa namanya) yang juga profesor di bidang hukum dan politik terpilih menjadi Presiden Amerika.
Bagian menarik lain yang ingin saya ceritakan yaitu Pengaruh Jerman (Prussia saat itu) di berbagai belahan dunia seperti Amerika Utara dan Amerika Selatan sangat terlihat. Pola pembelajaran kampus di Kanada misalnya gunakan sistem adopsi dari Jerman. Amerika Serikat juga demikian. Nah, saat Nazi berkuasa di Jerman banyak ilmuwan Jerman yang pindah ke AS dan kembangkan keilmuan di sana. Einstein adalah contohnya dg mengajar dan riset di Princeton University.
Kopmil DU
Saya penasaran dengan satu mobil van putih yang biasa parkir dan jualan di pertigaan Teuku Umar Bandung. Penasaran saya ini sudah lama dan belum sempat bagi saya untuk sekedar mampir. Nah, malam ini saya mampir. Ternyata van putih ini jualan susu murni, sachet, dan juga roti bakar. Brand yang dipakai adalah Kopmil DU. Saya tidak filosofi dari nama itu karena saya tidak ngobrol dengan pemiliknya. Di sini pengunjungnya ramai dengan dominasi anak muda seusia saya.
Saya pesan susu murni original dingin. Harganya satu cup 7 ribu rupiah. Dari aneka susu murni modifikasi (rasa macem-macem), ini paling murah. Namanya juga susu murni, tingkat kemanisannya rendah. Apalagi ditambah es jadi kemurnian susu murninya berkurang (saya ngomong apa sih?). Yang penting bagi saya berkunjung dan nongkrong beberapa saat di sini. Biarpun sendirian saja, tapi saya merasa asik aja lihat pengamen lalu lalang ke sini. Juga ngelihat anak2 muda saling bercengkerama.
Wednesday, August 03, 2016
University in a Neoliberal World
Barusan kelar baca buku tipis karangan Alex Callinicos berjudul "Universities in a Neoliberal World". Buku ini secara umum berupa kritik atas pengaruh neoliberalisme di Perguruan Tinggi. Neoliberalisme ini faham yang digagas Margareth Thatcher dan Ronald Reagan di tahun 1980-an dimana intinya adalah bagaimana market (pasar) sebagai penggerak perekonomian. Impact dari ini adalah terjadinya arus besar-besar swastanisasi berbagai aset milik negara dengan dalih efisiensi dan sejenisnya.
Kajian dari buku ini terfokus pada wilayah Inggris. Di buku diceritakan bahwa sejak masa Thatcher berkuasa, banyak kampus-kampus di Inggris menjalin kerjasama besar-besaran dg dunia industri. Kampus-kampus yang dimaksud bukan seluruh kampus di daratan Inggris, melainkan kampus yg dianggap memiliki reputasi baik seperti Oxford, Cambridge, Imperial, LSE, dan sebagainya. Kampus-kampus ini diberi anggaran riset yg luar biasa besar. Adapun donaturnya selain dari pemerintah juga pihak swasta (industri). Dalam perkembangannya, kampus2 ini menjadi elit dan menjadi kampus top dunia. Ini menjadikan banyak mahasiswa asing (terbanyak China) studi di sana. Orang-orang asli Inggris yg notabene tidak beruntung secara ekonomi akhirnya terpinggirkan. Akses ke pendidikan tinggi (higher education) menjadi esklusif.
Hal lain yang muncul adalah biaya pendidikan yang tinggi. Muncul skema utang dari pembiayaan PT seperti student loan. Namun ini menurut penulis, implikasi justru jelek. Banyak mahasiswa yg pada akhirnya tdk mampu membayar. Impact selanjutnya yaitu banyaknya mahasiswa yang disamping studi juga bekerja baik full-time maupun part-time. Ini menjadikan beberapa dari mereka terkendala dalam masalah studi.
Neoliberalisme memunculkan persaingan yang sangat di kalangan banyak scholar. Aura PT menjadi seolah-olah menjadi sebuah korporasi. Banyak kampus menerima mahasiswa yang banyak padahal sebenarnya kapasitasnya tdk cukup. Keadaan ini yang dikeluhkan oleh penulis. Dunia memang bergerak ke tatanan pasar bebas, namun PT seharusnya memiliki sikap untuk mempertahankan budaya diskusi dan mengkaji untuk memberikan sulusi bagi tatanan dunia ini. Kampus tidak boleh terlarut pada arus, tetapi dapat memberi warna pada arus tersebut.








