Showing posts with label Resensi Film. Show all posts
Showing posts with label Resensi Film. Show all posts

Saturday, March 23, 2019

Kartini dan Pandangan Saya tentang Perempuan



Siang tadi saya menyelesaikan menonton film “Kartini” karya Hanung Bramantyo (2017) setelah semalam jeda karena kuota hampir habis. Film biografis ini mengeksplorasi bagaimana sosok Kartini kecil yang sudah kritis akan kakunya budaya bangsawan Jawa, mengenal karya-karya kritis orang Belanda dari kakaknya, dan menjadi penulis yang cukup produktif. Menariknya seorang Kartini adalah bagaimana Ia bisa memberikan pandangan melalui olah pikiran terus-menerus yang diekspresikan melalui tulisan dan aksi sosial yaitu pendidikan. Ia berfikir sebelum membaca dan buku-buku adalah stimulan dia untuk semakin kritis untuk mempertajam tulisan dan aksi sosialnya tersebut. Ia bukan pemuja Belanda namun dari Belanda-lah Ia mengenal arti dari kebebasan dan kesetaraan pria-wanita untuk mengeyam pendidikan. Kartini berujar bahwa wanita tidak boleh bodoh, namun Ia tetap menerima keadaan sebagai seorang Jawa yang harus menjunjung tinggi budayanya.

Kartini tidak lantas berujar bahwa pria-wanita setara dalam segala hal. Ia amat faham arti kesetaraan itu dan kesetaraan dalam segala hal tidaklah mungkin. Kartini dapat berdamai akan nasib seorang anak bangsawan (Bupati Rembang) yang harus diperistri oleh kaum bangsawan lain (Bupati Jepara) guna mempertahankan eksistensi kebangsawanan mereka. Berdamai di sini tidak lantas diartikan dengan pasrah. Beda sekali. Kartini mengajukan empat syarat kepada calon suaminya. Dua poin yang paling saya ingat yaitu saat nantinya Kartini resmi menjadi istri, keluarga harus memperlakukan ibu kandungnya dari sebagai pembantu menjadi layaknya keluarga bangsawan. Kedua, suaminya mengizinkan Kartini untuk membuka lembaga pendidikan untuk kaum perempuan. Pengajuan syarat seorang perempuan bangsawan pada masa itu adalah tabu dan Kartini menerobos ketabuhan itu dengan keyakinan. Terkabulnya syarat-syarat tersebut adalah wujud kesuksesan Kartini untuk mengangkat derajat kaum perempuan.

Perempuan dan Karier

Kartini adalah sosok yang menjadi role model banyak perempuan modern di zaman ini. Namun amat disayangkan bahwa pemahaman banyak perempuan akan kesetaraan yang diperjuangkan Kartini tidak utuh. Ada yang mengatakan kesetaraan terwujud dalam bagaimana perempuan harus berkarier tinggi layaknya lelaki. Ada juga yang mengatakan perempuan bebas memilih pekerjaan apapun layaknya lelaki. Ada bahkan yang mengatakan dalam ranah kepemimpinan (bahkan di dalam keluarga), perempuan berhak memimpin layaknya laki-laki. Anggapan ini ada benarnya namun tidak cukup tepat jika kita benturkan dengan konteks Kartini pada masanya. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk menjalankan fitrahnya masing-masing. Fitrah laki-laki adalah pemimpin kaluarga yang memastikan keluarga berjalan secara harmonis, sedangkan perempuan adalah menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Begitu juga dengan fitrah-fitrah lainnya. Fitrah ini jika tidak dipatuhi berpotensi menciptakan ketidakstabilan dan berujung pada ketidakselarasan hidup dan memudarnya arti bahagia.

Lantas apakah perempuan tidak boleh berkarier tinggi ? Sangat boleh, namun harus tetap memegangteguh fitrahnya sebagai perempuan. Memang pada akhirnya perempuan sangat kompleks menjalaninya, laki-laki tidak ada apa-apanya. Namun itulah kelebihan perempuan yang ditakdirkan untuk menjadi manusia kuat. Di situlah perempuan membutuhkan asupan pengetahuan (knowledge) yang cukup di mana dengan itu Ia dapat menjalankan semua perannya secara bijak. Pengetahuan ini didapatkan tak sekedar membaca, melainkan juga dengan berdamai dengan realitas seperti yang dilakukan Kartini. Belajar terus-menerus akan mendorong perempuan untuk menjadi bijak dan kuat. Perempuan bukanlah pemuas lelaki, namun sebagai pelengkapnya. Dalam konteks berkeluarga perempuan tidak sekedar menjadi istri namun menjadi teman dan sahabat sekaligus bagi lelakinya. Di situlah letak kesetaraan itu ; menunaikan hak dan kewajiban sebagai istri, tidak merasa di bawah ketiak lalaki dengan menjunjung egaliter dalam memandang hidup, dan menjadi partner yang asik bagi lelakinya dengan tetap memperjuangkan tujuan hidup yang dipegangnya. 

Menunggu atau Menentukan

Perempuan yang meneladani Kartini sudah pasti tidak mengadopsi pandangan “jodoh sudah ditentukan” secara pasif namun mengartikannya dalam kerja aktif di mana istilah “ditentukan” adalah buah dari kerja. Di sini perempuan tidak menunggu seorang laki-laki yang pdkt kemudian memperistrinya namun Ia juga berjuang untuk mendapatkan suaminya kelak. Istilah “menembak” ini relevan tak hanya hanya untuk lelaki namun juga perempuan. Jika kamu perempuan dan suka akan lelaki tertentu sampaikanlah, jangan menunggu sampai lelaki itu menyampaikan. Bisa jadi itu tidak akan terjadi karena banyak juga lelaki yang cenderung “anget-anget tahi ayam” untuk memikirkan perempuan yang akan jadi istrinya kelak. Lelaki secara fitrah didominasi dengan logika, maka Ia akan mudah move-on saat perempuan pujaannya menolaknya. Berbeda halnya dengan perempuan yang lebih kepada perasaan.

Maka bagaimana sosok Kartini modern hari ini ?  

Kartini modern adalah seorang perempuan yang memiliki tujuan hidup dan berjuang untuk itu melalui pengasahan pikiran terus-menerus dengan  belajar sepanjang hajat  dan tetap berdamai pada realitasnya sebagai seorang perempuan.

Thursday, December 28, 2017

Ayat-Ayat Cinta 2 : Sosok Sempurna itu Bernama Fahri

Niatnya mau kerjakan paper sore itu (22/12), tapi apa daya Jogja tetap sebagai tempat liburan melepas penat dari kesibukan di Bandung. Jumat siang pasca Jumatan, saya bergegas dari Grand Aston menuju sebuah hostel baru di daerah tak jauh dari Malioboro untuk memindahkan barang. Ternyata di hostel ini saya orang kedua yang masuk tempat ini. Segera setelah masukkan barang di loker, saya ganti baju dan keluar. Targetan pertama adalah ke Gudeng Yu Jum yang legendaris di daerah dekat alun-alun utara. Saya penasaran sekali dengan gudeg ini karena banyak orang yang ngomongin dan saya sekalipun belum pernah mencoba. Setelah perut keisi, dengan diantar mas Gojek, saya menuju Ambarrukmo Plaza di daerah jalan Solo untuk nonton melepas penat. Ragu antara mau monton Jumanji atau Ayat-Ayat Cinta  (AAC) 2. Akhirnya saya putuskan untuk nonton AAC 2 dan saya kala itu sendiri, “Biarin !”.

Aku coba ingat-ingat apa ending di AAC 1, "lupa, sial !". Di awal film, Aisha berada di daerah konflik Gaza Palestina dengan bombardir bom dari tentara Israel. Aisha jatuh dan alur film pun berpindah ke daerah damai di Inggris Raya. Di sana ada sosok Fahri (yang diperankan oleh Fedi Nuril) yang sedang introduksi mengajar di Edinburg University, kala itu ia masih sebatas dosen pengganti. Biarpun demikian, bukan Fahri kalo tidak membuat wanita jatuh hati. Banyak mahasiswinya dibuat kagum satu per satu. Kata kunci Fahri saat itu : ganteng dan pintar. Di luar kelas, Fahri hidup di lingkungan yang sangat hetegoren di mana di sana penduduknya beda latar belakang agama dan kehidupan : ada Yahudi tulen, wanita pemabuk, dan sosok muda yang tuna karya. Sebagian besar mereka benci Fahri karena dipandang seorang muslim teroris. Intimidasi pada Fahri sering diberikan seperti mobilnya yang beberapa kali kena vandalisme. Tapi itu disikapinya dengan lapang dada, bahkan Fahri tak canggung untuk menawarkan bantuan pada tetangga-tetangganya itu.

Suatu ketika, saat Fahri duduk-duduk di taman kota, ada wanita cadaran-pengemis yang sedang diburu oleh polisi. Fahri pun menyelamatkan wanita itu dan ditampung di rumahnya dan kemudian dijadikan pembantu rumah tangga. Latar belakang wanita tidak satupun dari satu rumah ini yang tahu kecuali satu orang tetangganya yang seorang Yahudi. Aktivitas Fahri yang padat yaitu sebagai dosen dan juga pengusaha (Fahri punya minimarket di pusat kota) tidak membuatnya terlarut dalam pekerjaan saja namun Ia tetap membantu orang-orang yang membutuhkan, dan ini Ia lakukan secara totalitas. Satu demi satu wanita menghampiri Fahri dengan memberikan hadiah, makanan, bantuan, atau perasaan sukanya padanya secara langsung dengan kode-kode khas. Semua wanita yang mendekat pada Fahri cantik semua, tak ada yang cacat. Satu wanita yang hampir tidak pernah absen dalam kehidupan Fahri adalah Hulya, sepupu Aisha istri Fahri yang hilang entah kemana pasca konflik Gaza.

Ending yang Indah

Hulya (yang diperankan Tjajana Saphira) ini cantiknya kebangetan dibandingkan dengan Aisha (Dewi Sandra). Namun film ini jelas sudah diset untuk Fahri hidup dengan Aisha kembali. Mungkin karena keseringan ketemu, Fahri pun menaruh tanggung jawabnya pada Hulya dan segeralah mereka menikah. Fahri setelah diingatkan sahabatnya Misbah (Arie Untung) untuk segera move on. Pasca menikah mereka hidup bahagia dan tak lama mereka akan mendapatkan seorang anak lelaki.

Di sebuah POM bensin, saat Hulya dan Sabina (nama samara Aisha di film) mau ke toilet, mereka ketemu dengan Bahadur, seorang penjahat yang pernah ditemui Aisha di Mesir. Jika tidak salah Bahadur ini yang pernah menyiksa Maria yang dibela sama Aisha. Aisha sontak menyebut “Bahadur !”, penjahat ini kemudian memelototin Aisha dan segera mengeluarkan pisau dari celananya. Terjadilah perkelahian yang tidak seimbang. Pisau Bahadur mengenai perut Hulya yang hamil tua, pendarahan hebat pun terjadi. Perkelahian selesai pasca polisi mendor Bahadur.

Dalam perjalanan menuju Ruang Gawat Darurat rumah sakit, Hulya menyebut Sabina dengan panggilan Aisha. Sontak Fahri jadi kaget. Setelah Hulya masuk di ruangan operasi, Sabina dan Fahri tatap-tatapan dan mereka saling sedih dan marah, campuraduk. Tapi endingnya mereka pelukan. Singkat kata, Hulya meninggal dunia namun tidak dengan anaknya. Diam-diam Hulya berwasiat pada Aisha. Segera setelah meninggal wajah cantik Hulya dipindah ke wajah Sabina yang cacat. Sabina pun utuh menjadi seorang Aisha-Hulya sekaligus. Endingnya, Fahri dan Sabina hidup bahagia dengan satu anak. Gambaran ini setidaknya yang terlihat secara zahir, secara batin saya tidak tahu soalnya tidak mungkin Sabina akan punya anak dari Fahri karena kelaminnya telah dirusaknya saat akan diperkosa oleh oknum tentara Israel. 

Hikmah

Saya pernah menuliskan review film ini secara singkat di blog saya satunya. Saya katakan di sana bahwa menjadi sosok Fahri bisa dikatakan mustahil. Namun saya katakan di sini bukannya tidak mungkin. Dalam teori kehidupan, peluang sekecil mungkin adalah kemungkinan (possibility). Pelajaran yang mungkin diambil adalah menjadi sosok yang cukup secara keilmuan dan amal itu penting. Belajar segiat mungkin sehingga kita mendapatkan ilmu yang luas dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan. Ada satu pepatah arab mengatakan “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah”. Menjadi Fahri itu bukan tujuan, tapi menjadi diri yang terus belajar adalah hakikat sempurna dari seorang manusia.


Sunday, August 21, 2016

[RESENSI FILM] The Man Who Knew Infinity

Barusan sekali saya selesai nonton film briografis yang menceritakan perjalanan intelektual matematikawan India, Srinivasa Ramanunjan. Judul lengkap film ini adalah "The Man Who Knew Infinity” dan bisa Anda secara online di link http://layarkaca21.tv/man-knew-infinity-2016/. Kecerdasan Ramanujan (dalam film diperankan Dev Patel) terlihat saat Ia menjadi seorang pegawai sebagai juru hitung di sebuah departemen milik kolonial Inggris. Di sana ada seorang India yang melihat kecerdasan Ramanunjan. Hasil kerjaan Ramanunjan dikirimkannya ke Trinity College, Cambridge, kepada seorang matematikawan terkemuka G.H. Hardy. Surat balasan Hardy diterima Ramanunjan yang isinya mempersilahkan matematikawan otodidak India ini untuk bergabung di sana.

Sesampai di Trinity, Ramanunjan disuruh oleh Hardy untuk membuktikan teorema yang berhasil dipecahkannya. Ramanunjan kesal dengan anjuran Hardy pada awalnya. Ia berdalih bahwa rumus-rumus matematika yang dipecahkannya adalah hasil kontempelasi yang tak harus dibuktikan. Ia seperti seni. Hardy yang berlatarbelakang matematika pun tidak puas dengan sikap Ramanunjan sampai terjadi perdebatan hebat pada suatu malam. Ramanunjan pasca kejadian ini justru membuktikan teoremanya dengan apik sampai Hardy dibuat terpukau. Satu teorema hebat yang dipecahkan Ramanunjan adalah teori tentang partisi. Ramanunjan pergi ke Cambridge tujuan awalnya adalah untuk publikasi. Secara diam-diam, Hardy mempublikasikan karya Ramanunjan dengan bantuannya yakni di hal pembuktian. Selanjutnya Ramanunjan dapat membuktikan sendiri (teori partisi) dan ini satu hal yang menjadikannya diterima sebagai fellow Royal Society.

Penemuan hebat Ramanunjan terjadi selain karena peran G.H. Hardy juga Littlewood dan MacMahon (ahli kobinatorika di Trinity College). Namun sayang sekali setahun setelah Ramanunjan menjadi anggota Royal Society, Ia meninggal dunia. Saat itu matematikawan India ini berusia 32 Tahun. Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah bahwa ilmu pengetahuan datang dari aneka macam orang, baik yang yang mengenyam pendidikan akademik di kampus maupun tidak. Ramanunjan adalah salah satu contoh seorang matematikawan yang tidak berpendidikan formal. Biarpun begitu, Ia sejajar dengan Bethoven, sang mahaguru di bidang musik klasik. Hardy dalam film menjajarkan nama Ramanunjan dengan Isaac Newton. Karya Ramanunjan yang dipajang di Trinity College pada 100 tahun kemudian dipakai untuk menganalisis lubang hitam (black hole). 

*) sumber gambar geeknewsnetwork.net

Tuesday, May 10, 2016

Soe dan Aktivismenya

Saya kembali menonton film GIE siang tadi pasca penat hadapi ujian Matematika Keuangan Internasional (MKI). Film yang disutradarai Riri Riza ini menekaankan sisi biografis dari seorang Soe Hok Gie. Soe (Gie) dicitrakan sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi kebenaran yang dipercayainya di masa itu. Mahasiswa sastra UI ini tak bergeming untuk menerima ajakan beberapa temannya untuk bergabung dengan organisasi ekternal kampus yang bercorak politis. Bagi Soe, "politik tai kucing" itu hanya menjunjung tinggi kepentingan semata.

Sikap Soe demikian menjadikannya musuh bagi pemuka organisasi (eksternal) lain. Pemilihan senat fakultas menjadi bukti ketegangan itu. Soe dengan teman-temannya mengangkat Herman Lantang sebagai calon ketua senat berhadapan dengan kubu lain yang unsur politisnya sangat ketara. Di sini Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI sebagai organisasi pengusungnya. Organisasi ini dikisahkan tidak ditunggangi unsur politik manapun, murni dibangun oleh "idealisme" mahasiswa. Proses kampanye yang dijalani juga unik. Tak hanya orasi oral khas aktivis mahasiswa, melainkan juga melalui selebaran tulisan edukatif (nan persuasif) dan juga pemutaran film.

Ia dikenal karena menulis

Darah intelektual Soe mengalir dari ayahnya yang seorang penulis. Dari kecil, Soe terbiasa membaca buku-buku berbobot yang bercorak sosial-humaniora. Aktivitas rutin membaca ini diiringi Soe dengan menulis biarpun awalnya sekedar catatan harian. Seiring  dewasa, Soe terlibat aktif di bidang kepenulisan seperti menjadi penulis di Kompas. Tulisannya pun semakin tajam, apalagi setelah Ia lebur dengan berbagai aktivitas dunia intelektual di kampusnya UI. Sebelum mendirikan Mapala, Soe dengan teman-temannya aktif mengadakan diskusi dan pemutaran film.
Soe, Nicholas Saputra dalam GIE (2005), sedang membaca "The Rebel" (sumber : pandasurya.wordpress.com)
Menonjolnya Soe di dunia pemikiran membuat banyak orang untuk mengajaknya bergabung di berbagai organisasi. Soemitro, tokoh yang "dilengserkan" rezim, juga mengajak Soe di organisasi bentukannya yang bercorak sosialisme itu. Pernah suatu ketika, Soe menulis terkait pembunuhan besar-besaran di Bali di saat terjadi ketegangan antara militer dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari tulisan tersebut, Soe seringkali dibuntuti oleh orang-orang tak dikenal. Kehidupan Soe dimata-matai rezim.

Sosok Soe masih relevan

Aktivisme Soe di dunia kepenulisan terwariskan sampai generasi sekarang berkat kumpulan catatan hariannya yang dibukukan berjudul "Catatan Seorang Demonstran". Buku ini semacam buku wajib bagi aktivis mahasiswa di zaman saya. Banyak aktivis mengutip penggalan pemikiran Soe dari beberapa tulisannya. Soe di mata banyak aktivis adalah "role model" seorang aktivis. Dari Soe aktivis mahasiswa kudu kritis, menjunjung tinggi kebenaran yang diyakini, tidak politis, menulis, bercinta, dan dekat dengan alam.

Jika ditanya relevan atau tidak dengan zaman sekarang, saya akan menjawab "masih", namun tentunya harus disesuaikan dengan konteks. Kemudahan akses informasi dengan hadirnya berbagai jejaring sosial mendorong diferensiasi gerakan. Artinya mahasiswa sekarang tidak bisa mengadopsi mentah-mentah gerakan yang dilakukan Soe. Tegasnya harus berinovasi. Biarpun demikian, landasan dan intinya sama yakni bersikap dan bertindak berdasarkan kebenaran yang lahir dari aktivitas pengkayaan ilmu pengetahuan. Ini yang membedakan dengan gerakan politis yang mengandalkan arogansi golongan dan juga dangkal dalam berfikir.

Monday, August 17, 2015

Real Steel dan sebuah 'Legacy'

Real Steel adalah film jenis drama dengan bintang Charles 'Charlie' Kenton yang diperankan oleh Hugh Jackman dan Max Kenton yang diperankan oleh Dakota Goyo. Berawal dari Charlie, seorang mantan petinju profesional, yang kini menggeluti dunia robot fighting. Seluruh kehidupannya diarahkan untuk robot. Berkali-kali Ia membeli robot dan dipertandingkannya mulai dari kelas amatiran (pertandingan tidak resmi) sampai profesional. Charlie seringkali kalah sampai Ia jatuh pailit. Ia tidak memiliki rumah, yang ada hanyalah truk tua yang menemaninya kemana saja Ia pergi. Kalaupun Ia bermukim, Ia numpang di sebuah rumah bekas gym milik pacarnya, Caroline. Charlie sebenarnya sudah menikah namun istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Saking tergila-gilanya Charlie dengan robot, Ia sampai tidak 'sudi' mengurusi anaknya, Max Kenton, yang akrab dipanggil Max. Anak usia 11 tahun ini akhirnya akan diadopsi seorang kaya raya. Dalam sebuah persidangan, diputuskan calon orang tua Max membayar setengah dari total uang tebusan yang disepakati (50 grands, $ 50,000). Setengah bagian lagi akan diberikan ke Charlie kemudian. Dalam proses adopsi, diputuskan Max tinggal selama beberapa waktu dengan Charlie. Pada saat itu, Max mengenal sosok ayahnya dari dekat. Saat itu, Max memanggil ayahnya hanya dengan sebutan namanya langsung 'Charlie' bukan 'dad' atau ayah. Hubungan Max dengan Charlie tidak seperti hubungan layaknya bapak dengan anak, namun sekedar seperti teman.

Saat Charlie jatuh pailit akibat robot asal Jepang terakhirnya 'Noisy Boy' harus telan kekalahan di sebuah pertandingan, Charlie terpaksa harus ke gudang tersembunyi entah punya siapa, tempat dimana banyak rongsokan robot ditemui. Ia kesana dengan Max. Waktu itu cuaca hujan relatif deras. Charlie tidak nemukan apapun, namun tidak demikian dengan Max. Max yang tergelincir akibat labilnya tanah dan hampir jatuh ke jurang justru menemukan robot. Tangan robot ini menahan baju Max sehingga seorang anak cerdas ini tidak jatuh terperosok di jurang yang dalam. Setelah ditolong Charlie, Max mendorong sendiri robot itu ke truk Charlie. Robot rongsokan yang bernama Atom inilah yang menjadi bintang di kemudian hari.

Atom dan Pengakuan Charlie

Di awal ditemukannya Atom oleh Max, Charlie menganggap sinis kemampuan robot ini. Sampai akhirnya 'sparing bot' ini menang di sebuah pertandingan dengan sebuah robot milik ketua gank. Dari sini pertandingan demi pertandingan dijalani Atom. Setelah berkali-kali menang, nama Atom pun tersebarluaskan melalui radio. Atom pun mencicipi pertandingan profesional di Virgin America, tempat pertandingan resmi robot profesional digelar. Virgin America sendiri dikuasai oleh Farra Lemkova, seorang kaya raya berdarah Rusia. Dalam pertandingan profesional pertama, Atom akan menghadapi Twin Cities. Sebelum bertanding, Charlie hampir mengiyakan Atom dibeli oleh Farra namun Max menolaknya.
 
Charlie - Atom - Max
(sumber spinoff.comicbookresources.com)
Pertandingan dengan 'Twin Cities' berlangsung kurang dari dua menit dan berakhir dengan kemenangan Atom. Di akhir pertandingan, Max merebut microphone wasit dan menyatakan bahwa Atom siap melawan Zeus. 'Mighty' Zeus adalah robot yang tak terkalahkan selama ini. "I challenge Zeus to a fight, any time, any where, any place, You name it, we will be there !", tantang Max pada Farra Lemkova.

Tiba saatnya momen yang ditunggu-tunggu, pertandingan Atom vs Zeus. Pertandingan kembali diselenggarakan di Virgin America dengan tak ada kursi penonton yang kosong. Suasana sangat ramai. Banyak orang rela berjudi ribuan dollar untuk pertandingan ini. Babak pertama dimulai. Zeus memberikan pukulan ke Atom dan Atom langsung jatuh. Kejadian serupa berulang yang membuat penonton pendukung Atom deg-degan. Berkali-kali Atom jatuh lalu bangun. "Right uppercut" perintah Charlie, tangan kanan Atom memukul wajah Zeus. Zeus 'shock' begitu juga Tak Mashido (rekan Farra Lemkova). Pria berdarah Jepang ini sampai membuka kacamata hitamnya pertanda tidak percaya. Atom kemudian melakukan pukulan berkali-kali ke Zeus, namun tak lama kemudian Zeus membalas. Atom adalah robot dengan remote sensor suara yang didapat dari robot 'Ambush' dan 'Noisy Boy' yang hancur beberapa hari lalu.

Babak-babak selanjutnya berlangsung seru. Atom dan Zeus bergantian saling serang. Atom berkali-kali jatuh tapi bangun kembali. Tiba akhirnya di akhir babak empat. Atom babak belur dan hampir jatuh, namun diuntungkan dengan posisinya yang berada di ujung ring. Di posisi itu, sensor suara untuk Atom tidak berfungsi. Akhirnya di babak terakhir, Atom digerakkan dengan sensor bayangan (shadow boxing) oleh Charlie.  Itulah momen-momen yang menegangkan sekaligus mengharukan.

Max Panggil 'Dad', Legacy dari Charlie

Zeus semakin tertekan dipukul bertubi-tubi oleh Atom dan akhirnya untuk pertama kalinya Zeus jatuh. Penonton bersorak untuk Atom. Tak Mashido mengambil alih kendalikan gerak Zeus tapi tetap saja robot gagah ini semakin tersudut. Di saat Atom akan menjatuhkan Zeus untuk kedua kali, bel berbunyi pertanda waktu pertandingan habis. Sorak-sorai untuk Atom riuh, namun sayang waktu memutuskan kemenangan untuk Zeus. Zeus menang angka tapi Atom menang dukungan. "People's champion?, sounds pretty good to me", kata Max menanggapi komentator.

Detik-detik 'kemenangan' Atom membuat haru. Di saat Charlie yang memerankan bayangan (shadow) Atom, Max meneteskan air mata. Senyum haru Max menunjukkan sikap bangga Max terhadap Charlie yang merupakan ayah biologisnya. Charlie meninggalkan warisan 'legacy' ke Max dengan personal branding-nya. Charlie dikenal Max sebagai seorang ayah yang sangat gigih dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita sebagai seorang pemain robot fighter profesional. Tidak karena sekedar uang, Charlie melakukannya karena cinta. Dari situ Ia melakukannya dengan totalitas. "Dad ?, dad !, dad !", panggil Max ke pada Charlie setalah pertandingan berakhir.

Dari kisah Charlie dan Max ini, dapat diambil pelajaran bahwa kebanggaan seorang anak pada orangtuanya salah satu sebabnya adalah karena orangtuanya meninggalkan warisan 'legacy' ke anak-anaknya. Warisan tak sekedar rumah mewah, perusahaan besar, atau barang-barang material lain, melainkan yang lebih penting adalah ilmu dan semangat menghadapi hidup. Warisan inilah yang dikenang dan dicontoh oleh seorang anak di kemudia hari.  

Bagi calon orangtua, fikirkanlah warisan apa yang akan kalian berikan ke anak-anak Anda. Jadikan mereka bangga kepada Anda.