Showing posts with label Kampus. Show all posts
Showing posts with label Kampus. Show all posts

Monday, May 08, 2017

Akhirnya Punya Kalender 2017

Hampir bisa dikatakan seharian saya berada di lingkungan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Ya, sejak bulan lalu saya tegabung riset di sana. Saat ini saya sedang mengerjakan riset tentang employee engagement. Nah, tadi pagi sekitar setengah 10 (harusnya jam 9 sih, saya telat), saya tiba di kantor Pak Hary (dosen yang ajak saja riset) dan tak lama setelah itu presentasi progres. Proyektor pun dinyalakan dan Pak Hary mengedit secara interaktif paper awal penelitian yang saya buat. Saat diskusi, saya dapat kenalan baru dari jurusan Magister Manajemen SBM, namanya Widi kalo gak salah. Dia sekarang masuk dalam jajaran karyawan Kemenkeu. Menariknya diskusi tadi, saya jadi tahu posisi konsep employee engagement (EE) dilihat dalam level attachment seseorang pada organisasi. Diatasnya EE ada value (meaning making) dan happiness. Atau istilahnya SAY - STAY - STRIVE. Anda cari sendiri maksud dari istilah-istilah tersebut.


Kantor Pak Hary ternyata tidak sepi dari orang-orang SBM khususnya dosen dan asisten riset muda. Ada Dani dan Dema yang paling sering berada di kantor. Siang tadi tepatnya jam 14 ada rapat dengan pihak rektorat (WRSO) terkait penelitian ini. Ternyata penelitiannya cukup besar dengan Pak Jann (senior SBM) sebagai ketuanya. Penelitian EE adalah bagian dari penelitian besar ini, makanya saya ikut (kalo tidak disuruh mungkin tidak hadir sih, hehe). Sayang sekali setibanya di lantai 3 Gedung Annex, kursi tidak mencukupi dan terpaksa saya, Dema, Dani,  Mila, dan satu lagi Aria duduk di luar. Untungnya saya dapet temen ngobrol yang asikeun, Aria. Dia calon dosen di SBM dengan telah sandang status master dari salah satu universitas di Australia setelah kelar dari SBM (doi angkatan 2007). Dia cerita kalo pernah masuk dalam berbagai pekerjaan, sampai sekarang akhirnya milih kembali ke jatidirinya sebagai pengajar. Di samping beraktivitas di SBM, dia juga berbisnis di kopi dengan memiliki coffee shop di kompleks kantin Tamansari seberang Gedung SBM. Dia cerita banyak terkait bisnis kopinya ini. Karena saya juga penyuka kopi, obrolan pun jadi lama. Dia saranin kalo ngopi enak di Caffeto sekitar Sekeloa dan juga Coffeeq di Jalan Moh Toha, selain juga pastinnya memintaku untuk cicipi kedainya, Someday-lah gue kesana.

Beberapa hari mualees ngerjain paper teobati dengan aktivitas hari ini dengan kolega di SBM. Bismillah, kembali ke jalur produktif. O iya, dapet oleh-oleh kalender dari Pak Hary setelah saya bilang saya tidak tahu kalo kamis besok adalah tanggal merah :p

Friday, August 19, 2016

ITB Financial Industries Days 2016

Hari ini saya mengikuti acara ITB Financial Industries Days 2016 di Auditorium Ipteks lantai dasar CC Timur ITB. Acara ini yang diselenggarakan oleh KK Industri Keuangan Matematika ITB ini cukup menyedot antusiasme warga. Hari ini adalah hari kedua acara dan agendanya adalah workshop investasi pasar saham. Perwakilan dari BEI dan RHB Securities bertindak sebagai pembicara acara.

Acara seharian (8-17) hari ini cukup menyedot energi bagi saya. Jedahnya sekitar sejam barengan dengan waktu ibadah jum'at. Biarpun demikian itu sebanding dg materi yg dibawakan juga dengan fasilitas yang disediakan panitia. Saya hanya bayar 25 ribu ke panitia, namun dapat makan siang, snack, sertifikat dan juga materi tentunya. Ini jelas murah sekali. Moga acara ini bisa berlanjut di waktu-waktu selanjutnya. Saya dukung rencana Bu Rieske untuk buat semacam kerjasama (lebih erat) antara Industri Keuangan dengan ITB di kemudian hari dalam bentuk sertifikasi manajer keuangan  salah satu contohnya.

Investasi menurut Pak Berlian dari RHB Securities adalah bergerak bersama perusahaan. Artinya seorang yang bertindak sebagai investor memiliki implikasi atas maju/mundurnya perusahaan. Tujuan investasi sendiri adalah untuk mengatasi inflasi. Menurutnya inflasi riil jauh lebih besar dibandingkan dg data statistik yg diberikan pemerintah. Beliau mencontohkan Indomie. Dulu indomie harganya sekitar Rp 300 dan kini Rp 2000. Ini menujukkan telah terjadi kenaikan/inflasi sekitar 700 persen. Maka dari situlah investasi kudunya mengikuti angka ini.

Sementara itu, Bapak perwakilan dari BEI mencontohkan Warrent Buffet sbg investor yang berhasil. Di Indonesia juga ada ternyata yaitu Lo Kheng Hong. Menurutnya dua orang ini jeli dalam memilih saham mana yg memiliki prospek bagus. Lo membaca lebih dari 40 buku Buffet dan kemudian menerapkannya. Ia tekun dalam membaca laporan keuangan perusahaan. Saham-saham IPO (Initial Public Offering) dibeli (tentunya yg prospeknya positif) dan diendapkan beberapa tahun. Dalam tahap awal sebelum berinvestasi, Baffet bahkan sampai datang ke perusahaan dan ngobrol dengan pegawainya. Ini tak lain untuk melihat kinerja perusahaan secara lebih dekat agar tidak 'memilih kucing dalam karung'. Akhirnya, selamat berinvestasi di pasar saham :)

Tuesday, August 09, 2016

#OpiniHarteknas : Komersialisasi Riset di Perguruan Tinggi Kita

Setidaknya ada beberapa poin yang dapat saya ambil dari tulisan Fajri Siregar di SELASAR (5/8/2016) yang berjudul “Memberdayakan Riset”. Pertama, perlunya menyelaraskan riset dengan kebutuhan sehingga hasil riset akan dapat termanfaatkan secara langsung. Kedua, perlu dijembatani antara hasil riset dengan pengguna riset. Dua poin ini mengantarkan saya pada satu istilah yang umum bagi pegiat inovasi yaitu komersialisasi riset.

Komersialisasi riset sederhananya berarti memanfatkan hasil riset untuk kepentingan ekonomik. Sebagai contoh hasil riset dimanfaatkan oleh perusahaan. Implikasinya terdapat hubungan yang cukup erat (harmoni) antara pelaku riset dengan pelaku usaha (industri). Industri biasanya memberikan dana riset kepada pelaku riset (peneliti). Setelah riset telah selesai dan berhasil, hasil (produk) riset akan dimanfaatkan industri. Pola ini bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme, dimana peneliti diuntungkan dengan insentif dan peluang untuk riset, sedangkan perusahaan diuntungkan dengan produk riset yang kompetitif.

Komersialisasi Riset : Baik atau Buruk ?

Pertanyaan ini seringkali muncul khususnya dari kalangan akademisi Perguruan Tinggi. Mereka dapat dikelompokkan dalam dua aliran (mahzab). Mahzab satu mengatakan bahwa komersialisasi riset itu baik karena hasil riset akan langsung termanfaatkan sehingga tidak mubazir. Ada yang menyebut hal ini sebagai bentuk dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabidan kepada masyarakat. Mahzab satunya lagi mengatakan bahwa komersialisasi riset berarti kapitalisasi pengetahuan dimana ini bertentangan dengan jatidiri universitas sebagai lembaga pendidikan yang jauh dari unsur bisnis (komersial). Dua mahzab ini seringkali bertikai dan tak ada ujungnya. Tak hanya di Indonesia, di negara-negara Barat yang kampusnya bisa dikatakan mapan juga mengalami hal serupa. Ini tak lain disebabkan karena latar belakang berdirinya universitas di berbagai negara berbeda.



Sebagai contoh berdirinya kampus-kampus di Amerika Serikat tak dapat dilepaskan dengan golongan pedagang Eropa yang ingin mengembangkan bisnisnya. Posisi kampus-kampus saat itu bisa dikatakan sebagai pelayan industri/perusahaan. Berbeda halnya dengan kampus-kampus di Eropa yang berdirinya tak dapat dilepaskan dari golongan kaum bangsawan seperti kalangan kerajaan serta pemuka agama. Aktivitas komersialisasi riset mulai masif digalakkan di masa berdirinya kampus-kampus di Amerika tersebut. Silicon Valley adalah bukti betapa suksesnya hubungan Perguruan Tinggi (Stanford University) dengan dunia usaha yang berbasis di California ini. Satu poin penting dari sini adalah berdirinya suatu kampus bertujuan untuk menjawab kemauan investor kampus itu. Jika dilihat dalam konteks Amerika Serikat, maka dunia usaha adalah investornya.

Namun, jika melihat konteks Indonesia, sungguh sangat pelik. Ambil contoh saja Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdirinya kampus ini pada 1920 adalah untuk men-supply tenaga kerja terdidik dari kaum pribumi untuk nanti bekerja pada Belanda. Tujuan awal tersebut bergeser ketika Indonesia merdeka, sampai tiba tenaga pengajar dari Amerika Serikat (Kentucky Contract Team) menggantikan pada dosen dari Belanda. Saat itu, hal-hal peninggalan Belanda diganti dan konon buku-buku peninggalannya dibakar. Pada masa Belanda, metode pengajaran di ITB lebih ditekankan aspek pemahaman secara mendalam atas teori yang diajarkan. Pada masa itu peragaan di kelas menjadi hal biasa dan ujian dilaksanakan secara lisan. Budaya akademis semacam itu diganti dengan budaya baru dari Amerika. Pada masa itu, buku ajar (textbook) mulai diperkenalkan metode tanya jawab, juga multiple choise pada saat ujian. Biarpun metode ajar sudah mengikuti metode Amerika, dosen-dosen ITB yang pernah diajar akademisi Belanda masih cukup banyak dan berpengaruh di ITB. Warna mereka masih sangat terasa di ITB, apalagi setelah ditambah dengan banyaknya dosen yang studi lanjut ke Eropa dan Jepang. Karena heterogenitas dosen ITB sangat tinggi ditambah dengan arahan Pemerintah yang tidak jelas dalam hal riset, para akademisi ITB seoalah bergerak sendiri-sendiri baik dalam hal riset maupun aktivitas lainnya. Komersialisasi riset yang ada di ITB pun pada akhirnya dilakukan atas inisiatif dosen tertentu, bukan dari ITB secara institusi,

Dari sejarahnya, komersialisasi riset dilakukan karena interaksi yang kuat antara dunia usaha (industri) dan Perguruan Tinggi. Ini bisa dikatakan sukses dijalankan di Amerika Serikat. Jika ditarik ke wilayah Indonesia, hal ini menjadi kurang begitu relevan. Hal ini dikarenakan tujuan awal didirikannya kampus bukan untuk itu. Hubungan kampus-kampus kita dengan industri pun tidak kuat. Umumnya kampus kita masih bergerak di tataran pengajaran (teaching) dan menghasilkan lulusan yang siap kerja, bukan siap mendirikan usaha. Munculnya beberapa dosen dan juga mahasiswa yang melakukan komersialisasi riset menjadi hal yang tidak bisa dilarang.

Menselaraskan dengan Visi

Pada masa Pemerintahan Jokowi, Kementerian pendidikan tinggi dipisah dengan pendidikan dasar yang bernama Kemenristekdikti. Harapan dibentuknya kementerian baru salah satunya adalah untuk memperbaiki kualitas riset kita secara signifikan. Realitanya ternyata tak jauh berbeda dengan periode sebelumnya. Kampus-kampus kita secara kualitas ternyata masih jauh jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Luar Negeri (Tulisan Fuad Rakhman di Jakarta Post (7/12/2013) http://www.thejakartapost.com/news/2013/12/07/ri-universities-cannot-compete-internationally.htmlmasih relevan). Celakanya, Pemerintah juga tidak memberikan ‘arah’ riset bagi kampus-kampus khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Publikasi internasional seakan-akan satu-satunya parameter kemajuan riset. Padahal, kemajuan riset ini ditopang dengan aneka variabel yang kompleks, tidak bisa parsial.

Karena Pemerintah tak dapat diharapkan, satu-satunya harapan adalah visi Perguruan Tinggi dalam rentang satu periode rektor. Terkait komersialisasi riset, sebenarnya sangat selaras dengan visi yang dibawa rektor ITB saat ini, Kadarsah Suryadi. Dalam lima tahun kedepan sejak 2014, Kadarsah mengusung entrepreneurial university sebagai upaya memajukan ITB. Ekspektasi dari hadirnya ide ini adalah para dosen dan juga mahasiswa yang mampu menangkap peluang bisnis dari apa yang dipelajari (komersialisasi riset) diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang. Namun ternyata, realitanya tidak demikian. Kampus tidak peduli dengan aktivitas bisnis yang dilakukan baik dosen maupun mahasiswa. Kampus hanya memonitoring hal-hal rutin seperti pengumpulan nilai dan berkas akademik lain. Ini saya kira kerugian bagi kampus itu sendiri. Padahal jika ditengok dari kalangan mahasiswa ITB saja untuk angkatan 2008 lulusannya 6 persen terjun di dunia usaha sedangkan angkatan 2007 dengan 7.05 persen (Tracer Study ITB). Fakta ini menunjukkan gap terkait komersialisasi riset dalam tataran ide dan praktik. Nah, apakah dengan adanya momentum Harteknas yang diperingati tiap 10 Agustus dapat menangkap fenomena ini ? Entahlah. 

*) sumber gambar research.fsu.edu

Tuesday, August 02, 2016

The False Promise of the Entrepreneurial University

Saya barusan kelar baca cepat (karena g mudeng semua isinya, hehe) terkait Entrepreneurial University. Judul aslinya seperti yang saya tulis di judul tulisan ini. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia bunyinya gini "Janji yang keliru dari Entrepreneurial University (EU)". Buku ini tebalnya 129 halaman pdf.

Nah, konteks geografis dalam buku ini adalah Amerika Serikat. Secara di sana banyak sekali kampus yang mengadopsi konsep EU. Intinya kalo g salah begini. Beberapa kampus di AS coba meniru gaya Stanford University yg berhasil membuat lingkungan inkubator bisnis Silicon Valley. Mereka pengennya adopsi mentah2 aja tanpa faham betul potensi yang dimiliki wilayah dimana kampus2 itu berdiri. Akibatnya apa? Yang dipikirkan adalah paten dan beberapa karya akademik yg memiliki nilai ekonomik.

Sebagai contoh sebuah kampus di Wilwaukee AS pengen jadi Silicon Valley di bidang teknologi air (Water Technology) tapi akhirnya gagal. Mengapa? Karena lingkungannya tidak mendukung. Beda halnya dengan Israel dan Singapura yang dikenal lama maju di bidang ini. Artinya disini adalah berdirinya sebuah teknopolis dikarenakan ada kebutuhan, tidak sekedar keinginan.

Banyak juga yang menginginkan kampus itu penyedia segala macam kebutuhan industri. Ini juga keliru. Kampus itu sejatinya pencetak orang-orang yang memiliki keahlian tertentu yang nantinya akan digunakan di dunia kerja. Hubungan kampus dan industri sekedar hubungan yang proporsional.

Selanjutnya, spending dana untuk riset yang besar-besaran di kampus AS tidak serta merta akan otomatis menggeliatkan ekonomi di wilayah kampus berdiri. Sekaya bagaimanapun, kampus adalah lembaga pendidikan yg tujuan utamanya mendidik (to educate).

Sunday, March 06, 2016

Tiga Buku Rekomendasi

Untuk kesekian kalinya saya bertemu dengan senior, Irendra Radjawali, yang biasa saya panggil Bung Radja. Saya bertemu di kawasan Surapati Core dan berdiskusi lebih dari satu jam. Pembahasan tesis adalah salah satu topik yang diobrolkan dalam diskusi tadi. Beliau merekomendasikan saya untuk membaca dengan baik tiga buku berikut :
1. A Brief History of Neoliberalism karya David Harvey
2. The Will to Improve karya Tania Murray Li
3. Taking Southeast Asia to Market karya Joseph Nevins dan Nancy Lee Peluso

Saya berencana akan membahas ketiga buku tersebut dalam blog ini. 

Friday, February 26, 2016

SGRC UI : Sebuah Gerakan Pro LGBT atau Komunitas Diskusi ?

#1

Kabar dari pihak penyelenggara, diskusi LGBT tertutup di sebuah ruangan kosong dekat himpunan matematika dibubarkan oleh satpam. Alasanya karena perizinan. Diskusi semula akan diadakan di Amphitheater depan GKU Barat namun karena tidak diizinkan oleh pihak Lembaga Kemahasiswaan (LK) akhirnya diganti dengan diskusi tertutup. Realitanya diskusi tertutup pun dibubarkan juga.

Akhirnya, teman-teman penyelenggara baik dari pihak Tiben maupun MG, mengalihkan ruang diskusi di sekre Tiben. Saya tadi tidak mengikuti diskusi ini karena ada kegiatan lain, namun setelah diskusi usai saya mengobrol dengan dua orang aktivis SGRC (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies) UI yang menjadi narasumber diskusi selain dosen Unpad. Katakan dua aktivis ini A dan B, A cowok dan B cewek. Saya lupa nama soalnya.

Tujuan ngobrol saya adalah pengen tahu terkait SGRC UI. Begini kira-kira hasil obrolannya.

Pertama dengan A : Si A bukan pelaku LGBT dia heteroseksual. Dia katakan bahwa SGRC UI bukan kelompok yang anggotanya semua suspect LGBT. SGRC ini semacam sebuah ruang untuk berdiskusi seputar pelecehan seksual, masalah orientasi seksual, dan sejenisnya. Jadi LGBT adalah satu dari beberapa topik diskusi di komunitas ini. Akar masalahnya saat itu ketika SGRC mencantumkan nama UI di medianya dan menjadi viral di media lantas menjadi opini publik. SGRC UI dihakimi orang banyak sebagai gerakan pro LGBT, padahal menurut pengakuan si A, SGRC sekedar tempat kumpul.  

Kedua dengan B : Anggota SGRC UI pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan (diskriminasi) dari beberapa orang dikampus. Bahkan ada dosen yang terang-terangan berbuat diskriminasi kepada mereka baik lewat tulisan maupun lisan secara langsung. Namun, kini pihak kampus memberikan keluluasaan kepada mereka untuk beraktivitasl kembali setelah bertemu empat mata.  SGRC UI berdiri sejak 2014. Menurut pengakuannya, si B hetero juga.

Dari 8 orang dari pihak SGRC UI yang datang ke ITB, 2 orang normal, 2 orang lainnya lagi (menurut penuturan teman dari LS) adalah orang yg kontra dengan LGBT. Mereka berdua adalah muslim yang taat. Sementara empat orang lainnya, saya tidak tahu orientasi seksualnya.

Kesimpulan

Dari dua narasumber tadi, saya sekarang faham bahwa SGRC UI bukan sebuah ‘gerakan’ pro LGBT, namun sebuah ruang diskusi terkait seksualitas di UI di mana anggotanya adalah para mahasiswa UI. Di dalamnya ada anggota yang pro maupun kontra LGBT.  

Friday, December 25, 2015

Antara Jurusan dan Program Studi

Saya dengar dari salah satu mantan dosen di ITB bahwa basis pendidikan di ITB dulu adalah jurusan, bukan program studi (prodi) seperti sekarang. Perbedaannya sangat signifikan yang dampaknya juga sangat besar ternyata bagi proses pendidikan ITB di tahun-tahun selanjutnya.

Adalah Joko Santoso rektor ITB saat itu yang ingin menjadikan ITB lebih terintegrasi. Adanya jurusan dinilai sebagai penghambat dalam upaya pengintegrasian itu. Maka dibuatlah kebijakan dimana  fakultas memegang kendali akan prodi-prodi. Prodi-prodi inilah yang pada akhirnya menggantikan jurusan-jurusan yang ada. Tak hanya nomenklatur yang berubah, melainkan juga berbeda pula kewenangan yang dimilikinya. Sebagai dampak, dulu jurusan memiliki kewenangan besar atas anggaran jurusan, pengangkatan dosen, kebijakan akademik, dan berbagai penunjang kualitas akademik lain, namun sekarang tidak lagi. Sekarang, prodi kewenangannya hanya sebatas administratif sehingga tak salah ketua prodi adalah dosen-dosen muda dengan pengalaman yang relatif terbatas.

KK Sebagai Raja-Raja Kecil

Kewenangan yang terbatas pada Prodi inilah yang membuat pengembangan keilmuan menjadi tersendat. Betapa tidak, dulu jurusan memikirkan betul apa yang dibutuhkan oleh jurusan itu sendiri khususnya dalam kualitas jurusan itu, sementara sekarang siapa yang memikirkan itu, fakultas kah ? Jelas sulit. Dekan berasal dari salah satu prodi di fakultas dan pastinya Ia tidak begitu faham dengan apa yang dibutuhkan prodi-prodi lain. Birokrasi dari Prodi ke Fakultas tak mulus seperti yang dibayangkan. Saya pernah diterima di konferensi internasional di Dubai beberapa waktu lalu, kemudian saya ajukan proposal ke Prodi. Namun ternyata dana baru akan cari menjelang hari-H keberangkatan. Keterlambatan ini membuat saya batal ikut konferensi. Jika kasus saya adalah keikutsertaan pada konferensi non-akademik, maka bagaimana dengan nasib mahasiswa yang akan konferensi untuk mempresentasikan Tugas Akhir/Tesis/Disertasi-nya ? Sama. Bahkan saya pernah dapat cerita dari senior, bahwa keikutsertaan Ia dalam konferesi di Malaysia ditomboki dosen pembimbingnya !

Kerena dulu kekuatan ada pada jurusan, maka persaingan program, proposal, dan sebagainya ada pada level jurusan. Sekarang, fakultas. Jelas lebih sulit dan ribet. Bayangkan saja jika dalam satu fakultas ada empat program studi seperti FMIPA, belum lagi ditambah S2, S3, betapa sulitnya. Keribetan inilah yang menjadi cikal bakal pengembangan prodi menjadi tidak berjalan dengan baik. Pengembangan mencakup publikasi jurnal/konferensi internasional seperti yang saya singgung di muka, infrastruktur program studi seperti buku, himpunan mahasiswa, dan berbagai kegiatan keilmuan seperti diskusi ilmiah, kompetisi mahasiswa, dan sebagainya. Khusus untuk kegiatan mahasiswa, seharusnya para dosen ikutserta secara aktif di dalamnya untuk menjadikan mahasiswanya semakin senang dalam berkeilmuan, tidak seperti sekarang yang seolah berjalan sendiri-sendiri. Saya terkadang sedih mahasiswa yang relatif brilian namun hanya diperlakukan biasa saja, sebagiannya ada yang lurus namun ada juga yang belok dengan hanya mengikuti arus seperti lulus-kerja, padahal mereka punya potensi besar untuk kembangkan ilmu di masa depan. Ini tugas dosen untuk memberikan support kepada mereka.

Dalam lingkup jurusan, meredupnya program studi berbanding terbalik dengan Kelompok Keahlian (KK). KK memiliki peranan kuat dalam pengembangan keilmuan namun terbatas dalam lingkupnya saja, bagaimana grup KK ini berkembang. Lantas apakah KK satu akan memikirkan KK lain ? Jelas tidak. Terkadang bahkan munculnya KK timbulkan gap dan persaingan yang tidak sehat. Prodi seolah terpecah dan tercerai berai, padahal kuliah itu pada prodi bukan KK. Ketidakintegrasian antarKK membuat arogansi muncul yang akibatnya ada KK yang menonjol, ada pula yang meredup. KK menjadi Raja-Raja kecil dengan kewenangannya masing-masing. Akibatnya, upaya pengembangan prodi sebagai satu kesatuan menjadi tersendat-sendat.

Kembali ke Jurusan

Di tengah birokrasi ke fakultas yang cenderung ribet dimana menjadi sumber melambatnya pengembangan keilmuan di ITB, maka wacana pengembalian kewenangan jurusan dianggap perlu. Dulu kekuatan ITB ada di jurusannya yang kuat, sebagai contoh jurusan Sipil. Kini dengan kekuatan tersentral pada fakultas, kewenangan prodi dipukul rata. Prodi yang menonjol disuruh untuk menurunkan 'kualitas'nya untuk mengimbangi Prodi lain. Inilah yang membuat kekhasan kampus ITB lambat-laun tidak ada. Tidak mungkin ITB terkenal dengan semua jurusannnya yang menonjol. Pasti hanya sebagian jurusan saja. Lihat aja kampus lain di luar negeri.

Atas dasar kualitas pengembangan keilmuan, maka rektorat perlu untuk mengkaji wacana pengembalian wewenang jurusan. Jangan sampai karena birokrasi yang berbelit-belit, mahasiswa dan dosen semakin malas ikutserta mengembangkan ilmu. Jika tidak ada pengembangan ilmu, lantas apa yang dibanggakan dari kampus ITB?.
Posted on Friday, December 25, 2015 | Categories: ,

Wednesday, December 23, 2015

Para Intelektual Kampus Ganesha

Saya senang mendapat ilmu baru, dari siapapun, tak peduli dari profesor maupun pedagangan asongan. Bagi saya setiap orang tercipta sama sebagai individu yang merdeka dan setara. Saya tidak menjuluki diri saya intelektual, saya sekedar seorang fakir ilmu yang sadar akan kefakiran saya. Satu hal yang menjadikan saya betah untuk belajar hal baru adalah kawan-kawan saya di kampus khususnya yang sering kali nongkrong di ruang tengah Sunken Court, ITB. Saya menamai mereka kaum intelektual.

Kaum intelektual menurut saya adalah orang-orang yang cinta akan ilmu atau senang akan belajar. Mereka tak terkotak dalam boundary keilmuan jurusannya, namun mereka mencoba belajar lebih luas. Bahkan seringkali belajar bukan disiplin ilmunya. Mereka juga peka terhadap fenomena yang ada di masyarakat dan memiliki andil berupa gerakan yang konsisten. Selain itu tak lupa mereka selalu mengorientasikan kiprah mereka dalam sebuah tulisan yang beranjut. Artinya tidak melulu lisan, mereka kontinyu berbuat untuk berkarya sehingga melalui karya inilah mereka menyebarluaskan gagasan ke khalayak.

Sunken sebagai Inkubator

Saya kira dua tahun ini adalah kejayaan intelektualisme di kampus ganesha. Betapa tidak, kegiatan intelektual seperti malam budaya ganesha, diskusi, dan panggung bebas sastra berjalan kontinyu dan mendapat sambutan hangat dari massa kampus. Tak hanya itu, karya-karya tulisan akademik dan sastra bertebaran di dunia maya bahkan ada yang membukukan sebagai booklet. Saya akan sebut beberapa orang dibalik ini ; Pertama, Adit dari Majalah Ganesha yang kontinyu menulis terkait filsafat dan matematika, Kedua, Kartini dari Lingkar Sastra dengan konsisten menulis puisi-puisi dan membangkitkan unit Lingkar Sastra untuk show up di publik, Ketiga, Choirul dari Tiben yang hampir setiap hari menulis di portal miliknya wartamerta.com. Masi banyak yang lain seperti Haris dari Tiben, Husein dari Ganeca Pos, Okie dari Majalah Ganesha, Asra dari Lingkar Sastra, Kukuh dari Lingkar Sastra, dan lain-lain. Tak lupa, Senartogok alias Tarjo yang biarpun bukan orang ITB tapi dia konsisten membuat kolase, menulis majalah Zine dan juga men-support anak Sunken untuk berkarya dan berkarya. Sulit kiranya memisahkan Tarjo dengan anak Sunken.

Mereka seringkali bertemu di Sunken terutama di ruang tengah alias sekre Tiben. Di sana selain berdiskusi mereka juga ngobrol ngalor ngidul, membaca puisi, menulis, bermusik, dan sebagainya. Terlihat gairah anak muda yang selalu haus akan ilmu dan karya. Saya seringkali menimbrung bersama mereka untuk sekedar turut diskusi, mengkopi film, atau berselancar di dunia maya. Bagi saya mereka konsisten berkarya biarpun ada dari mereka yang berpuasa sementara dari dunia akademik kampus. Konsistensi mereka inilah yang menjadikan saya saat bersinggah disini menjadi semangat untuk menulis. Tak keliru saya menamai Sunken sebagai inkubator berkumpulnya kaum intelektual kampus.

Pemikir Masa Depan

Saya kira lingkungan intelektual yang sedemikian masif dengan aneka kegiatan mencapai kejayaan di dua terakhir ini. Saya tidak tahu ke depan penerus mereka masih ada atau tidak. Saya membayangkan para intelektual Sunken ini di depan akan menjadi para pemikir dengan umatnya masing-masing. Adit akan jadi matematikawan-filsuf, Choirul akan jadi filsuf besar begitu pula Haris, Kartini dan Asra akan jadi sastrawan besar, Okie dan Husein akan jadi pemikir sosial politik, dan sebagainya. Saya mengharapkan sekali dari mereka dunia intelektual Indonesia menjadi semakin riuh dengan karya-karya yang mengimbangi kegaduhan dunia politik.

Masa depan ditentukan dari bagaimana masa mudanya. Mereka saat muda sudah memulai tinggal kita lihat kadar konsistensinya. Memang kegiatan mereka jauh dari material namun saya kira mereka hidup dengan idealisme yang menyala. Mereka bisa bedakan antara mencari duit dan berkarya. Akhirnya, ketika saya kembali membaca tulisan ini di beberapa puluh tahun ke depan saya akan senyum-senyum dan berbangga karena orang-orang yang saya tulis disini menjadi seorang intelektual betul.

Sunday, August 09, 2015

METODE BERFIKIR, SISTEM, DAN TEORI PEMBANGUNAN

Rangkuman Kuliah 3 Agustus 2015
Mata Kuliah Sistem Pembangunan
Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu (SP 6004)
Dosen : Prof. Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI


Pendahuluan

Setiap organisasi memiliki budaya organisasi tertentu. Hal ini dapat diketahui dari anggaran dasar atau statuta. Oleh karenanya budaya organisasi ini perlu difahami agar tidak menimbulkan konflik yang tidak diinginkan. Sebagai contoh budaya organisasi di Amerika Serikat dan Jepang sungguh berbeda sekali. Budaya organisasi di Amerika bertumpu pada kapasitas dan kapabilitas individu. Contohnya adalah budaya Amerika sangat tidak suka dengan pinjam meminjam alat tulis misalnya. Disini titik tekan budaya Amerika adalah pada kemandirian. Hal ini bertolak belakang dengan budaya Jepang. Budaya Jepang bertumpu pada kinerja tim. Budaya Jepang lebih cocok dengan kultur Indonesia.

Perubahan yang paling sulit adalah perubahan kultural. Seringkali dalam budaya organisasi kita lebih kepada perubahan struktural, namun tidak terlalu fokus pada perubahan kultural. Oleh karenanya, budaya organisasi itu perlu dipelajari. Cara mempelajarinya melalui sistem. Sistem mencakup dua hal. Pertama, cara kerja. Kedua, keterkaitan antarkomponen-komponen pembangun sistem.

Kesuksesan itu dibangun oleh dua komponen ; 90 % kerja keras dan 10 % do’a. Kerja keras (all out) ini dibangun oleh dua hal. Pertama, mampu bekerja di bawah tekanan. Kedua, memiliki kemampuan adaptasi komunikatif yakni mampu berkomunikasi secara baik.

Dalam konteks sukses dalam menghadapi budaya organisasi, titik tekan mampu bekerja di bawah tekanan adalah ia sadar akan perbedaan budaya organisas. Dari sana ia mampu beradaptasi. Terkait dengan beberapa friksi yang datang kemudian, ia dapat mengkomunikasikan dengan baik.
 Metode Berfikir

Berfikir didefinisikan menggunakan kemampuan intelektual (intellectual power), kecuali persepsi sederhana yang melalui perasaan (senses), untuk menguji kecakapan-kecakapan intelektual tertinggi. Metode[1] berfikir terbagai menjadi dua hal ; ilmiah dan non-ilmiah. Perbedaan keduanya terletak pada bagaimana bukti kebenaran disampaikan. Pengetahuan ilmiah merupakan proses menemukan pengetahuan aktual melalui eksperimen dan observasi. Ia adalah langkah logis dan rasional dimana para ilmuwan sampai pada kesimpulan. Ilmuwan menggunakan observasi, hipotesis, teori, hukum-hukum, dan deduksi untuk membuat kesimpulan-kesimpulan ini. Pertama mempelajari elemen penting dari sains melalui metode analisis. Karakteristik pengetahuan saintifik terletak pada tiga faktor-objektif, logis, dan sistematik. Ia merupakan transformasi dari logika deduktif terhadap hipotesis, kemudian hipotesis terhadap teori dan teori terhadap hukum-hukum. Hal-hal tersebut dapat selesai melalui pembelajaran dari konsep dasar melalui asumsi, variabel, parameter, dan bentuk-bentuk fungsi. Hipotesis dan teori saintifik dites dan diverifikasi oleh ilmuwan lain, sehingga dapat diterima oleh komunitas ilmiah. Sedangkan pengetahuan non-ilmiah didapatkan melalui indera (perasaan), intuisi, ilham (wahyu), dan pengalaman. Kita tahu bahwa, bergerak lebih dekat ke api akan membuat luka dan terbakat. Maka, dia mendapatkan pengetahuan dengan indera fisik – melihat, mendengar, memegang, mencium, dan mengalami. Sementara yang lain mendapatkan pengetahuan melalui intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan perasaan yang kuat atau firasat dan wahyu merupakan sumber supranatural, seperti karena Tuhan, dewa, dan sebagainya. Pengetahuan didapat melalui pengalaman, intuisi, wahyu ditafsirkan sebagai pengetahuan pribadi. Pengujian objektif tidak dilakukan di metode non-ilmiah. Pengetahuan non-ilmiah menyimpan bahwa dunia tidak dapat difahami hanya dengan sains, melainkan dengan wahyu agama, pengalaman mistik atau dekonstruksionisme sastra.[2]
Dalam skema di atas disebutkan bahwa cara memahami metode berfikir ilmiah adalah dengan menggunakan filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Meskipun secara metodologis tidak membedakan antara ilmu alam dan ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu alam dan filsafat ilmu sosial.[3]

Sementara itu, cara pandang terhadap suatu persoalan dibutuhkan beberapa alternatif. Memandang suatu persoalan dengan objek materi yang sama hanya dengan satu perspektif akan dapat membuat ketidakluwesan dalam berfikir. Cara pandang dengan berbagai macam alternatif merupakan cara berfikir komprehensif.
Contoh berikut menunjukkan objek materi laut dipandang dari berbagai perspektif.


Sistem

Sistem adalah aset dari elemen (malahan sering disebut “komponen”) dan hubungan yang berbeda dari kumpulan atau elemennya terhadap elemen atau kumpulan lainnya. Dalam definisi lainnya. sebuah sistem adalah sebuah himpunan interaksi atau kesalingberhubungan komponen-komponen membentuk suatu keterpaduan (integrated whole)[1]. Adapun karakteristik dari sistem adalah sebagai berikut :
  1. sistem memiliki struktur, didefinisikan oleh komponen-komponen/elemen-elemen dan komposisinya. Tegasnya adanya keterkaitan komponen satu dengan yang lainnya.
  2. Sistem memiliki prilaku (behavior), yang meliputi input, proses, dan output dari energi material, informasi, atau ini. Hal ini tak lain berada dalam konteks manufaktur.
  3. Sistem memiliki interkonektivitas. Bagian-bagian yang bermacam-macam dari sebuah sistem memiliki hubungan-hubungan baik fungsional maupun struktural terhadap yang lainnya. Poin ketiga ini berlaku jika berada dalam berbagai sistem yang berbeda.
  4. Sistem boleh memiliki beberapa fungsi atau kelompok-kelompok fungsi.

Jika banyak komponen yang terlibat dalam sistem, maka dinamakan sistem kompleks. Dalam sistem kompleks ini, sulit untuk diterangkan secara keseluruhan prilaku.
Adapun konsep-konsep sistem, meliputi[5] :
  1. Lingkungan dan batasannya. Teori sistem menggambarkan dunia sebagai sistem kompleks dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Kita menjangkau sebuah sistem dengan mendefinisikan batasannya, ini berarti memilih entitas mana yang berada di dalam atau di luar sistem – bagian dari dari lingkungan. Kita kemudian membuat model dari sistem untuk memahami dan memprediksi atau mempengaruhi perilaku masa depannya. Model-model ini dapat mendefinisikan stuktur dan/atau kelakuan sistem.
  2. Sistem alam dan sistem buatan manusia. Sistem alam dapat tidak memiliki tujuan yang jelas tetapi kelyarannya dapat diinterpretasikan sebagai tujuan. Sistem buatan manusia dibuat dengan tujuan yang dicapai melalui pengiriman keluaran (output)nya.
  3. Kerangka teoretis. Sebuah sistem terbuka menukar unsur atau energi dengan daerah sekitarnya. Kebanyakan sistem merupakan sisrem terbuka, seperti sebuah mobil, pembuat kopi, atau komputer. Sedangkan sistem tertutup menukar energi namun bukan unsurnya dengan lingkungannya, seperti bumi atau Biosfer. Sistem terisolasi tidak menukar unsur maupun energi dengan lingkungannya. Contoh teoretik dari sistem tersebut adalah alam semesta.
  4. Proses dan proses transformasi. Sistem buka dapet juga digambarkan sebagai sebuah proses transformasi yang terbatasi, yaitu sebuah kotak hitam yang merupakan sebuah proses atay koleksi dari proses yang mentransformasikan masukan (input) kedalam output. Input terkonsumsi sedangkan output terproduksi. Konsep input dan output disini sangat luas. Misalkan output dari sebuah kapal penumpang adalah pergerakan orang dari keberangkatan menuju destinasi.
  5. Subsistem. Subsistem merupakan sebuah kumpulan dari unsur-unsur, yaitu sebuah sistem tersendiri, dan sebuah komponen dari sistem yang lebih luas.
  6. Model sistem. Sebuah sistem terdiri dari berbagai macam gambaran. Sistem buatan manusia seperti halnya konsep, analisis, desain, implementasi, penyebaran, struktur, data masukan, dan penyajian data keluaran. Model sistem diperlukan untuk mendeskripsikan dan merepresentasikan beberapa pandangan ini.
  7. Arsitektur sistem. Arsitektur sistem menggunakan model integrasi tunggal untuk deskripsi berbagai pandangan seperti konsep, analisis, desain, implementasi, penyebaran, struktur, kelakuan, data masukan, dan data keluaran adalah semacam model sistem.

Analogi sistem adalah tubuh manusia. Tubuh manusia terdiri atas sistem, organ-organ, jaringan, dan juga terdiri atas sel. Jika terjadi kerusakan pada organ tertentu akan mempengaruhi organ lainnya. Bahasa statistikanya, organ-organ itu berkorelasi.

Dalam upaya mencari solusi suatu persoalan, dibutuhkan tindakan teknologis. Tindakan teknologis ini mencakup seperti apa sistem yang diinginkan, bagaimana cara membangun sistem, dan bagaimana cara mengoperasikan sistem. Perhatikan gambar berikut :
Adapun aplikasi konsep sistem contohnya adalah sistem dalam berfikir strategis. Perhatikan gambar berikut :
Teori Pembangunan

Teori pembangunan terbangun atas tiga komponen ; multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin. Multidisiplin berarti keilmuannya tidak serumpun, terdiri dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Interdisiplin berarti terdiri dari beberapa disiplin lalu disintesis untuk dapat memecahkan suatu persoalan. Transdisiplin sama dengan interdisiplin hanya saja keluarannya adalah disiplin baru.

Rumusan Bank Dunia
  1. Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional (sistem kompleks). Sistem kompleks adalah unsur-unsur/bagian-bagian penyusun sistem dapat dijelaskan dengan mudah, namun prilakunya secara keseluruhan tidak mudah dijelaskan.
  2. Sistem kompleks yang menyangkut perubahan meliputi ; perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional



[1] Metode di definisikan cara teratur yg digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yg bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yg ditentukan. (sumber kbbi.web.id)
[2] http://www.ukessays.com/essays/philosophy/an-approach-of-scientific-and-non-scientific-knowledge-philosophy-essay.php
[3] Disarikan dari Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer karya Jujun S. Suriasumantri yang ditulis oleh Siti Halimatussadiah di https://www.academia.edu/8624371/Ringkasan_Filsafat_Ilmu_Jujun_S._Sumantri
[4] https://en.wikipedia.org/wiki/System
[5] ibid

Monday, August 03, 2015

KONSEP DPSIR DAN DEFINISI TEORI PEMBANGUNAN


Rangkuman Kuliah 6 Juli 2015
Mata Kuliah Sistem Pembangunan
Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu (SP 6004)
Dosen : Prof. Dr. Ir. Widyo Nugroho Sulasdi

Mengenal Konsep DPSIR

Setiap informasi yang didapatkan tidak langsung dipercaya begitu saja, tetapi perlu difikirkan lebih dalam (critical thinking) terkait keabsahannya. Karena setiap informasi memiliki keterbatasan (bounded rationality) yang menandakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak. Jangan sampai kita katakan “Berita ini katanya begini”. Pernyataan tersebut dapat diubah dengan “Berita ini saya dapatkan dari si A”.

Dalam memecahkan sebuah persoalan, dibutuhkan analisis D(Drivers),P(Presure),S(State),I(Impact),R(Respons).  Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut[1]. Drivers merupakan sosial, pembangunan demografi dan ekonomi dalam masyarakat dan bersamaan perubahan-perubahan dan gaya hidup, seluruh tahapan dari konsumsi dan pola-pola produksi. Maka dari sini Drivers merupakan segala kebutuhan manusia (human needs). Fungsi drivers dari aktivitas-aktivitas manusia yang sengaja maupun tidak sengaja menggunakan tekanan (pressure) dalam lingkungan. Aktivitas-aktivitas manusia yang melibatkan pressure mencakup perubahan penggunaan tanah (land use), konsumsi sumber daya, pelepasan zat, dan kerusakan fisik melaui penggunaan kontak langsung. Tekanan bergantung pada macam dan tingkat teknologi yang tercakup dalam sumber aktivitas, dan dapat berbeda berdasarkan daerah geografis dan skala spasial (ruang).

State merupakan kondisi dari komponen abiotik dan biotik dari ekosistem dalam sebuah wilayah tertentu dalam keadaan-keadaan dari variabel fisik. variabel kimia, variabel biologi. Perubahan dalam kualitas dan fungsional dari ekosistem memiliki sebuah dampak dalam kesejahteraan atau kesegaran (well-being) dari manusia melalui ketentuan dari jasa ekosistem. Nilai (value) dari pelayanan ekosistem bergantung pada kebutuhan manusia dan penggunaan (misalkan nilai pasar).  Manusia membuat keputusan dalam respon untuk dampak pada pelayanan ekosistem atau nilai-nilai yang dirasakan. Proses pembuatan keputusan terjadi dalam berbagai skala, baik dari individul ke manajemen lokal atau ke pemerintah federal.

Keuntungan dan Aplikasi Konsep DPSIR

Adapun keuntungan dari analisis DPSIR adalah ;
  1. Transparansi dan untuk mempermudah
  2. Memperbaiki komunikasi
  3. Memisahkan konsep-konsep dalam sistem yang lebih besar
  4. Human-centric
  5. Menyiratkan hubungan kausal (sebab-akibat)

Sebagai contoh Pembangunan gunung. 


Jenis Perairan dan Definisi Sumber Daya

Perairan terbagi menjadi lima ; perairan pedalaman seperti teluk, perairan kepulauan (perairan nusantara) seperti perairan di antara pulau, laut wilayah (laut teritorial), dan landas kontinen.

Batas laut wilayah itu ke arah horizontal sedangkan kedalaman laut ke arah vertikal. Itu sesuai dengan gambar peta yang berada di bidang datar. Kedalaman 0 meter itu diambil dari permukaan laut rata-rata dimana merupakan bidang referensi ke dalam.

Definisi Sumber Daya dapat dipaparkan berikut :
          1. Faktor produksi yang terdiri dari atas tanah, tenaga kerja dan modal yang dipakai untuk kegiatan ekonomi untuk hasilkan barang dan jasa serta distribusinya.
          2. Bahan/keadaan yang dapat digunakan manusia untuk memenuhi keperluan hidupnya.
          3. Segala sesuatu baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud yang digunakan untuk mencapai hasil, seperti peralatan, sediaan waktu, dan tenaga kerja. 
          Adapun Sumber Daya Alam (SDA) adalah potensi alam yang dapat dikembangkan untuk proses produksi.

          Perbedaan definisi terkait sumber Daya yang dipaparkan di atas mengandung pengertian bahwa tidak ada definisi yang sifatnya tunggal. Definisi yang pertama dan kedua dapat dikelompokkan dalam ekonomi yang berdasarkan pada sumber daya (resources based economy), sedangkan definisi ketiga dapat dikelompokkan dalam ekonomi berbasiskan pengetahuan (knowledge based economy).
          Potensi merupakan kemampuan yang belum diwujudkan.

          Program tol laut dan poros maritim yang sedang dicanangkan pemerintah baru sekedar resources based economy. Indikasinya karena Indonesia belum juga menyatakan keadaan saat ini (initial condition) sehingga bisa dilakukan pengembangan inovasi yang lebih spesifik.

          Daya saing komparatif merupakan penambahan nilai suatu barang (added value) dimana barangnya sama, sedangkan daya saing kompetitif merupakan keunikan yang tidak dimiliki oleh barang lain. Ekonomi Pembangunan ITB memiliki daya saing kompetitif karena memperhatikan aspek sains dan teknologi yang tidak dimiliki oleh jurusan serupa di kampus-kampus lain di Indonesia.

          Strategis mengandung pengertian yang mencakup hajat hidup orang banyak. Vital mengandung pengertian yang mencakup kebutuhan-kebutuhan tertentu. Industri mengandung pengertian proses yang berada dalam lingkup prinsip manufaktur.

    Definisi Teori Pembangunan

    Kata “Pembangunan” merupakan kata benda yang berarti proses, cara, perbuatan membangun
    Bangun : komposisi, pola, bentuk, perluasan, sadar, arsitektur
    Pembangunan : Ekspansi, pendirian, perluasan, pembentukan, dan penyusunan
    Dari definisi secara etimologi (bahasa) diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat pembangunan adalah perubahan. Perubahan merupakan adanya sesuatu berasal dari ketidakadaan.

    Adapun secara istilah, teori pembangunan dapat didefinisikan sebagai berikut :

    1. Penggunaan yang sistematik dari pengetahuan ilmiah dan teknis untuk menemui tujuan-tujuan atau persyaratan-persyaratan yang spesifik.
    2. Sebuah perluasan dari aspek-aspek teoretis atau praktis dari sebuah konsep, desain, penjelajahan, atau penemuan.
    3. Proses dari transformasi ekonomi dan sosial yang didasarkan pada faktor-faktor kulturan dan lingkungan yang kompleks dan interaksi-interaksinya.
    4. Proses penambahan perbaikan-perbaikan untuk sebidang tanah, seperti gradasi, subdivisi, drainase, akses, jalan, utilitas.
    5. Teori pembangunan adalah sebuah integrasi teori-teori tentang bagaimana perubahan yang diinginkan dalam masyarakat adalah terbaik untuk dicapai, seperti teori-teori tumbuh dalam berrbagai disiplin ilmiah sosial dan pendekatannya.


    [1] diambil dari www.epa.gov/ged/tutorial/docs/DPSIR_Module_2.pdf analysis DPSIR