Showing posts with label ITB. Show all posts
Showing posts with label ITB. Show all posts

Monday, September 09, 2019

Belajar menjadi Rektor dari Pak Wir dan Pak KK

Institut Teknologi Bandung (ITB) kini sedang mengalami pesta pemilihan Rektor periode 2020-2025 dengan jumlah kandidat yang mendaftar sejumlah 34 orang. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode awal era BHMN ITB pada 2000-an dengan jumlah pendaftar saat itu lebih dari 100 orang. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas terkait pemilihan Rektor saat ini, melainkan hanya akan memberikan pandangan terkait Rektor itu baiknya ngapain sih. Kebetulan saya beberapa waktu lalu mewawancarai secara langsung dua mantan Rektor ITB yang kata banyak orang ITB fenomenal yaitu Prof. Wiranto Arismundar (Pak Wir) dan Kusmayanto Kadiman, PhD (Pak KK).

Pak Wir dan Kiprahnya

Pak Wir menjabat sebagai Rektor ITB cukup lama yakni dua periode pada 1988-1997. Dalam kepemimpinannya sebagai Rektor, beliau menggagas visi ITB sebagai kampus yang ramah khususnya bagi orang luar. Beliau yang mantan pemain bola Persema Malang juga mencetuskan kuliah wajib olahraga. Baginya, tidak hanya aktivitas akademik yang harus dimiliki mahasiswa ITB melainkan juga aktivitas non-akademik seperti olahraga. Beliau juga sangat mendorong mahasiswa ITB untuk aktif di kegiatan ekstrakulikuler apapun. Tak hanya itu, program lain yang digagas beliau yaitu "zero drop out" belajar dari banyaknya mahasiswa ITB yang keluar tidak pada waktunya saat itu. Program itu tidak berarti ITB umbar ijazah, namun upaya ITB untuk membenahi sistem pengajaran dengan menakankan pendekatan pada mahasiswa khususnya yang bermasalah.

Dengan Pak Wir sekaligus pamer buku saya

Program paling fenomenal dari kepemimpinan beliau adalah pembangunan besar-besaran gedung ITB. Tercatat ada sekitar 13 gedung utama ITB dibangun di mana beliau seperti halnya empat labtek kembar, gedung Sabuga, Saraga, dan Sunken Court. Sampai saat ini, jejak beliau sebagai "Bapak Pembangunan ITB" tak hilang. Kita bisa lihat pesan Pak Wir di Plasa Widya dan juga pintu masuk gedung utama Sabuga. Terlihat pemikiran Pak Wir di sana "... Supaya lulusannya bukan saja sebagai pelopor pembangunan tetapi juga pelopor pesatuan dan kesatuan bangsa". Pembangunan ketika itu tidaklah mudah karena ITB tidak punya uang yang cukup. Berbekal sikap nekat, Pak Wir mengutus jajaran pembantunya untuk pergi ke Jepang cari dana dan dapat. Kepemimpinan Pak Wir dikatakan lengkap karena tak hanya fisik (gedung) yang dibangun melainkan mental juga yakni budaya akademik. 

Kiprah Pak KK

Pak KK bisa dikatakan Rektor dengan periode terpendek (2001-2004) dan bukan profesor satu-satunya sampai sekarang. Sebelum Rektor beliau adalah sekretaris Rektor yang dari sana beliau tahu banyak tentang ITB yang menjadi satu faktor untuk maju pada pemilihan Rektor di periode awal ITB sebagai BHMN. Saat menjadi Rektor, beliau menetapkan visi "ITB Bersih" tak hanya fisik melainkan mental. Program bersih-bersih Pak KK dimulai dengan pembersihan kawasan ITB dari hal yang paling jorok yaitu jamban, halaman, sampai PKL di jalan Ganesha. Saat itu ITB dibagi menjadi delapan zona dengan sejumlah karyawan dan satpam yang standby di sana. Jalan Ganesha yang penuh PKL disulap bersih berbekal kerjasama yang intens dengan Pemkot dan Kodam. Beliau mengadopsi konsep dari Kodam Siliwangi saat itu, "Cukat" yang berati "muncul-sikat" yang berarti ketika melihat PKL langsung diusir biar tidak jualan di sana. Satpam saat itu dipekerjakan khusus untuk mengawasi PKL di Jalan Ganesha. Tak hanya itu, dibuat halte angkot dengan gaya khas ala "gajah" dengan maksud biar PKL susah jualan di sana. 

Dengan Pak KK habis wawancara

Bersih selanjutnya adalah terkait mental. Beliau terapkan metode kepemimpinan ala CEO perusahaan dengan menekankan pada profesionalisme kerja. Beliau menyadari betul bahwa Rektor di masa BHMN harus unggul dalam dua hal sekaligus yaitu akademik yang unggul (The magnificent Rector) dan manajemen (CEO). Di kampus-kampus Amerika dua fungsi tersebut dipisah, namun tidak dengan ITB. Makanya tugas Rektor ITB bisa dikatakan sangat berat. Sebagai cara untuk menjalankan dua fungsi ini, beliau mengangkat Wakil Rektor dengan keunggulan di dua bidang tersebut. Sementara beliau memperkuat ITB melalui penguatan sisi profesionalisme untuk mewujudkan ITB sebagai kampus unggul. Maka di masa beliau memimpin, diterapkan merit system, dibuat Sistem Penjamin Mutu (SPM), PT LAPI, dan Yayasan LAPI. Gedung CC Barat dan CC Timur juga dibangun di masa beliau. Saat itu, beliau setiap rabu-kamis menyambangi alumni-alumni yang menjadi pimpinan di berbagai perusahaan di Jakarta untuk dimintai bantuannya. Nama-nama di Labtek kembar ITB adalah empat penyumbang terbesar saat itu dengan masing-masing menyumbang 25 Milyar rupiah.

Belajar dari Kedua Rektor

Kedua Rektor tersebut memiliki kemiripan yakni sama-sama memiliki visi besar ketika masa kepemimpinan masing-masing. Bagi mereka berdua menjadi Rektor ITB jauh lebih istimewa dibandingkan ketika keduanya diminta Presiden untuk menjadi menteri. Pak Wir adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di era Presiden Soeharto, sementara Pak KK adalah mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) di era Presiden SBY. Kedua Rektor ini sama-sama mengangkat pembangunan fisik dan mental meskipun dengan gaya dan pola yang berbeda. Jika Pak Wir membangun infrastruktur primer ITB (13 gedung utama) dan juga program peningkatan softskill, Pak KK membangun infrastruktur dasar ITB untuk dapat melesat menjadi Perguruan Tinggi terkemuka melalui pembangunan berbagai perusahaan ITB dan penguatan sisi profesionalitas baik untuk kalangan dosen maupun pegawai. 

Dari sana, tidak berlebihan jika keduanya adalah Rektor dengan kontribusi sangat besar pada almamater. Saya tidak mengatakan Rektor yang lain tidak berkontribusi. Sangat mungkin kontribusi Rektor lain juga besar juga namun saya tidak tahu saja. Saya angkat kedua tokoh ITB karena tak hanya saya yang membicarakan, melainkan juga banyak dari kalangan dosen dan pegawai. 

Pesan untuk Rektor ITB 2020-2025

Kata Bung Karno "Jas Merah, Jangan Lupakan Sejarah". Penting bagi 34 calon Rektor terdaftar untuk mengamati kiprah para Rektor sebelumnya lebih khusus dua tokoh yang saya angkat di sini. Kedua tokoh ini telah menulis masing-masing 3 buku (Pak Wir) dan 4 buku (Pak KK) yang isinya kiprah keduanya sebagai Rektor ITB dan Menteri. Mungkin perlu bagi calon Rektor untuk membaca buku-buku tersebut. Jika tidak cukup waktu membaca, mungkin bisa membaca tulisan saya ini, hehehe.

Dari cerita saya tentang kiprah dua Rektor ini dapat saya simpulkan tiga hal penting yang perlu dimiliki Rektor ITB ke depan. Pertama, menjadi Rektor adalah bentuk pengabdian pada almamater dengan implikasi terbesar baik untuk institusi dan orang-orang yang ada di dalamnya dan juga untuk bangsa, negara, dan dunia. Maka, pergunakan masa itu untuk bekerja total. Jangan dipakai posisi ini untuk sekedar jembatan menjadi menteri. Pak Wir dan Pak KK mengatakan menjabat Rektor ITB lebih menantang dari pada Menteri (Menteri tidak sebergengsi Rektor ITB ya, hehe). Kedua, visi boleh besar namun harus terukur dengan diwujudkan melalui program-program yang konkret. Buat apa ITB jadi world class university tapi internet sering mati dan Jalan Ganesha ruwetnya minta ampun, hehe (malah curhat). Ketiga, menggalakkan kolaborasi di lingkungan ITB. Zaman telah berubah, kini tak lagi masanya untuk berkompetisi namun masa untuk berkolaborasi. Jangan sampai ada sentimen antarunit/antarfakultas. ITB harus solid secara internal sehingga kita secara bersama-sama dapat bersaing dengan kampus besar di level ASEAN minimal dengan karya-karya besar tentunya. Bosen rasanya ITB seolah jago di level nasional saja. 


*Uruqul Nadhif Dzakiy (pegawai dan periset biasa)

Saturday, August 31, 2019

Manusia Ganesha


Biasa sabtu pagi sehabis jogging di GOR Saparua, saya sarapan dan ngopi di Tjihapit. Saat ngopi, saya ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang ada di sana. Tidak biasanya obrolan tadi terkait manusia ganesha, atau manusia ITB.  Wah ini topik sensitif nih, karena aku bagian dari situ. Aku sudah 10 tahun hidup di kampus ini dari mahasiswa S1,S2 sampai kerja, jadi ini auto-kritik buat saya juga. Setelah obrolan selesai saya bergegas pulang ke kosan, buka laptop dan segera nulis hasil obrolan tadi. Alasan saya sederhana, buat reminder bagi saya dan mungkin buat para pembaca sekalian, khususnya yang merupakan bagian dari kampus ganesha. Aku kasi judul tulisan ini, “Manusia Ganesha”.

Manusia Ganesha itu …

Dalam sebuah obrolan dengan adik saya yang merupakan alumni dari Airlangga, dikatakan bahwa anak ITB itu ambis. Dia amati teman-temannya yang masuk kemudian lulus dari ITB menurutnya pada punya karakteristik yang sama, punya ambisi yang tinggi dengan cita-citanya masing-masing. Saya tak berfikir panjang mengiyakan, karena saya juga orangnya ambis. Bahkan saat bertemu adik, seringkali bukan obrolan santai keluar justru topik mimpi-mimpi besar di masa depan, nasihat-nasihan ke adik, dan lain-lain yang serius. Karena sudah menjadi kebiasaan, saya ngerasa biasa saja dan tidak aneh. Sementara orang-orang lain bisa jadi menganggapnya aneh. Konsekuensinya lingkaran pertemanan saya terbatas pada orang-orang yang setipe, manusia dengan mmpi-mimpi dan idealismenya. Jadi saya merasa susah ketika harus bertemu dengan orang lain, merasa “kikuk” dan sebagainya.

Ada tambahan lagi dari kawan dari kedai kopi tadi bahwa manusia ganesha itu secara kultural terbentuk sebagai elitis. Saya kira ada benarnya ya kalo orang ITB itu merasa terbaik, “cream of the cream” istilahnya. Kayak Real Madrid dengan sebutannya “Los Galacticos”, manusia dari galaksi lain. Sifat elitis ini tak hanya dimiliki oleh para dosen, namun juga mahasiswa bahkan pegawai. Alumni juga termasuk. Elitis ini implikasinya sukar menerima hal baru, dianggap keliru kah dan sebagainya. Akibatnya kerjasama atau kolaborasi dengan orang lain jadi susah. Bahkan untuk berkomunikasi sekalipun. Saya tidak ambil sampel orang lain, saya sendiri saja. Tadi kawan mengkritik saya secara langsung, “Mas ini sudah lama ke sini, tapi mas hanya ngobrol dengan saya”, “Njir, ini menohok banget”, kata saya dalam hati.

Setelah saya fikir-fikir, meskipun saya tidak merasa elite, orang lain memandang saya begitu. Kritik kawan saya adalah bukti bahwa saya selama ini belum bisa bersikap santai pada semua orang. Mungkin ada benarnya adik saya bahwa saya masih ambis dengan aneka mimpi-mimpi dan target. Sebagai upaya untuk mencapai mimpi, saya pun berinteraksi dengan orang-orang setipe yang ambis juga. Hasilnya, saya kaku dan tidak bisa bergaul secara santai dengan orang-orang yang berbeda. Ketika berkomunikasi, topik-topik yang dipilih adalah topik-topik serius yang in-line dengan mimpi-mimpi besar dan seterusnya. Jelas saja orang jadi “eneg”, “Ngomong apaan sih elu ?, Gue gak butuh..”.  Nyesek sih, tapi gimana lagi udah kejadian. Tapi untungnya aku sadar kalo selama ini aku punya sifat yang keliru, ada kesempatan bagi saya ke depan untuk memperbaiki.

Jadi Manusia Ajah

Gak salah dengan ambis, tapi kadarnya harus ditakar. Masak ngobrolin inovasi teknologi ama pedagang lontong sayur, yang bener aja. Artinya harus nyesuain diri sama masyarakat sekitar. Itu memang tidak mudah bagi seorang yang sudah kebentuk secara budaya di “Negara ITB” sebut temen saya tadi. Intinya harus cepet sadar kalo selama ini kita (lebih tepatnya saya) sudah dirasa orang lain sebagai elite. Biasa saja bersikap dengan siapapun tanpa terkecuali, lepas baju Ganesha-mu, jadilah manusia ajah, “merely human”!. Jadi manusia itu sederhana tapi karena sederhana jadi susah. Kata Leonardo da Vinci, “Simplicity is the ultimate sophistication, sesuatu yang sederhana pada dasarnya adalah kecanggihan luar biasa”.  Karena sederhana itu canggih dan itu susah dijalankan, maka harus dilatih. Menjadi manusia yang tidak elitis harus dilatih, biar apa ? jadi manusia ajah, embel-embel “Ganesha”-nya ilang.

Tadi kawan saya tanya, “Lantas kelebihan anak ITB itu apa?”, “Percaya Diri-nya tinggi”, jawabnya. Nah, bagi saya ini positif. Tapi terlalu PD-nya bisa jadi sombong. Sombong dan PD itu dekat biarpun beda. Nah tinggal bagaimana kombinasi antara “manusia ajah” dan “PD” jadi “Manusia ajah yang PD”.  Saya tafsirkan istilah tersebut sebagai manusia dengan tujuan, manusia dengan goal. Artinya tidak mampir minum aja hidup di dunia ini, tadi dia berbuat meskipun kecil pengaruhnya. Tambahan syarat lagi yakni itu semua dilakukan dengan sadar artinya dia tahu alasan mengapa dia memiliki tujuan itu, tidak asal ikut-ikutan saja. Bagi aku sih, ini paripurna banget kalo orang ITB (khususnya saya) punya sikap itu. Kita jadi manusia gak belok-belok, tapi ada sesuatu yang pengen dicapai sebelum masa hidup di dunia ini selesai.

Aku jadi teringat ada seorang mengatakan, konon dengan masifnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dengan banyaknya robot yang akan bantu kehidupan manusia, manusia akan jadi manusia paripurna. Kata Elon Musk dan juga Founder Softbank (lupa gue namanya) bilang kalo robot akan lebih cerdas jadi manusia, ini aku setuju, tapi robot tidak punya empati, kreativitas, rasa cinta, dan sebagainya yang itu hanya dimiliki oleh manusia. Nah, sisi itu yang kini hilang karena manusia “teralienasi” dengan hadirnya impact dari teknologi (juga yang lain) kayak elitis yang saya sebut di atas akan dimiliki kembali oleh manusia secara umum. Di situlah, manusia jadi saling berinteraksi dan berkolaborasi dengan yang lain tanpa bedakan latar belakang almamater, pangkat, posisi, dan lain-lain. Manusia akan menjadi makhluk sosial. Tegasnya manusia secara sadar butuh manusia lain. Moga aja betul hadirnya robot membuat kita menjadi manusia utuh, atau justru sebaliknya kayak film Skynet (bener gak) ? Entahlah. Tetap yang terpenting, kita (saya) menyadari bahwa sikap kita (saya) selama ini salah, kita (saya) harus mengubahnya.  

Saturday, August 18, 2018

FISH : Perkuat Keilmuan Baru Buka Prodi

Gedung Studi Pembangunan ITB

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi hadirnya ilmu sosial di ITB. Pada 1993 silam berdiri Magister Studi Pembangunan ITB yang salah satu tujuannya adalah mengkaji pembangunan tidak semata ekonomik namun penegasan posisi iptek dalam pembangunan. Hadirnya jurusan ini membuat nuansa ITB tidak melulu membahas aspek teknik, namun ITB dapat menelaah aspek politik yang tengah berkembang. Pendiri jurusan ini yang saya tahu adalah para "pewarna" ITB yakni dosen-dosen yang sering mengkampanyekan urgensi iptek dalam berbagai forum. Satu orang yang saya tahu adalah Prof. Saswinadi Sasmojo (Pak Sas).

Era reformasi membuka peluang bagi ITB untuk lebih berani membuka pakem keilmuan baru di bidang sosial dengan hadirnya Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM). Fakultas ini didirikan pada 2003 dengan salah satu tokohnya adalah senior jurusan Teknik Industri, Prof. Kuntoro Mangkusubroto (Pak Kuntoro). Lahirnya fakultas ini sejalan dengan visi Rektor ITB saat itu, Dr. Kusmayanto Kadiman (Pak KK) yang mengadopsi prinsip entrepreneurship dalam memimpin ITB. Fakultas ini kemudian berkembang cukup pesat dan menjadi favorit baru baru lulusan SMA jurusan IPS di seluruh Indonesia.

Belajar dari Dua Pengalaman

Sebelum jurusan Studi Pembangunan lahir, terlebih dahulu ITB memiliki Pusat Penelitian Teknologi (PPT) pada 1973 yang salah satu fokusnya adalah memkampanyekan teknologi tepat guna pada masyarakat (lebih lanjut bisa baca tulisan lama saya). Artinya telah ada semangat dari segenap civitas akademika ITB lintas jurusan untuk menggapai kebermanfaatan dengan masyarakat melalui teknologi. Lahirnya jurusan ini sebagai langkah pemformalan ide yang sudah ada akan dapat terus dikembangkan.

Lahirnya SBM saya kira tak berbeda jauh dengan jurusan tersebut. Namun bedanya para tokoh SBM di awal-awal didominasi oleh para senior dari Teknik Industri sehingga nuansanya tidak cukup merepresentasikan ITB secara keseluruhan. Biarpun demikian, cikal bakalnya landasan fakultas ini diantaranya adalah visi Rektor ITB saat itu. Biarpun terdapat perbedaan signifikan dalam segi aktor : jurusan studi pembangunan cenderung grass-root dan SBM top-down namun kedua jurusan/fakultas ini lahir dari urgensi yang menjadi kebutuhan ITB saat itu.

FISH : Langkah Awal Seperti Apa ?

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISH) beberapa tahun terakhir menjadi pembahasan yang cukup intens di kalangan ITB bahkan masyarakat umum. Saya pernah mendapatkan cerita terkait pembahasan fakultas ini di Senat yang cukup alot. Biarpun sudah beberapa tahun dibahas, namun fakultas ini masih belum juga didirikan. Saya belum tahu persis apa yang menjadi alasan belum disepakatinya pendirian fakultas ini.

Berkaca dari jurusan Studi Pembangunan dan SBM, ada dua hal yang perlu dilakukan : 1) akar  keilmuan harus kuat, dan 2) dukungan top executive ITB dengan jejaring yang lengkap. Untuk kasus FISH saya kira langkah kedua memiliki korelasi kuat dengan langkah pertama. SBM bisa melakukan langkah kedua karena potensi uang jurusan ini besar dan sesuai dengan market Indonesia. Banyak orang yang tertarik dengan manajemen yang menjadi core keilmuan jurusan ini. Sedangkan FISH, potensi uangnya saya kira tidak sebanding dengan SBM. Satu-satunya yang dapat dijual adalah keilmuannya itu sendiri di mana dapat menjadi alternatif bagi pembelajar ilmu sosial seperti ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

Maka, menurut hemat saya pembahasan FISH di-suspend dulu, cukup dibahas saja jurusan baru seperti Ekonomi Pembangunan untuk S1 dan jika memungkinkan S3 untuk Studi Pembangunan. Kedua jurusan ini sudah ada akarnya yaitu Studi Pembangunan yang telah berdiri lebih dari 20 tahun. Jauh lebih penting lagi, perlunya dibuat knowledge milieu di bidang keilmuan sosial seperti kuliah umum, diskusi intens, jurnal ilmiah terakreditasi, dan sebagainya yang menjangkau seluruh civitas akademika ITB sehingga nantinya akan didapatkan cirikhas keilmuan sosial yang akan dikembangkan ITB. Jika yang dipikirkan sekedar berdirinya fakultas, saya tidak yakin keilmuan sosial akan terwarnai dengan hadirnya fakultas baru ini.

Tuesday, July 24, 2018

Dosen-Dosen Radikal ITB

Aula Barat ITB, simbol keradikalan "civitas akademika" ITB

Sekitar bulan puasa lalu, media massa banyak  mengangkat laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait perguruan tinggi besar tanah air yang terpapar radikalisme. Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah salah satunya. Memang sih kampus ini radikal, saya akan ceritakan dalam tulisan ini. 

Pengalaman saya selama kuliah di ITB dari 2009-2017 (lama betul) saya merasakan aura keradikalan kampus ini. Sumber keradikalan itu salah satunya adalah dosen. Iya, kampus ini dihuni banyak dosen yang radikal. Banyak di antara mereka tidak hanya mengajar dan meneliti lalu pulang, tapi di benak mereka fikiran-fikiran besar yang membuat saya sebagai mahasiswa kala itu langsung menjadikan mereka sebagai idola.

Latar belakang saya dulu adalah wartawan kampus. Jadi saya tidak hanya kenal satu jenis dosen dari jurusan saya dulu di Matematika, namun banyak jurusan. Hampir semua jurusan pernah saya singgahi untuk sekedar menemui dosen dan saya wawancarai. Selain jurnalis yang kerjaannya turun ke lapangan, saya juga megang unit yang nyawanya saat itu adalah website dan media sosial. Akibatnya saya seringkali “ngepoi” dosen-dosen terlebih yang “radikal”. 

Nama-Nama

Siapa saja dosen radikal versi saya ? Pertama, Budi Rahardjo. Saya kenal nama Pak Budi kalo nggak salah sejak tingkat satu kuliah di ITB. Dia dikenal pakar IT. Semakin tua saya di kampus, semakin dalam mengenal beliau sampai pernah wawancara langsung beliau di rumahnya. Tahun lalu bahkan saya projekan bareng sama beliau. Radikalnya beliau adalah tidak kenal lelahnya beliau untuk mendorong anak-anak muda Bandung untuk buat startup. Tak hanya mendorong bahkan beliau ada pelaku startup itu sendiri. Perusahaannya berdiri, mati, berdiri, mati, dst. Bahkan belum lama ini beliau mendirikan perusahaan Internet of Things (IoT). Radikal !

Nama kedua adalah Djoko Sardjadi. Beliau saya kenal pertama kali saat saya menjadi peserta Technopreneuship Orientation Program (TOP) yang dibuat oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirasusahaan (LPIK) ITB. Kala itu yang pertama. Pak Djoko saat itu memberikan wawasan ke kami terkait bisnis teknologi. Kesempatan yang lebih panjang dengan beliau saat saya melakukan studi perusahaan yang didirikan beliau yaitu UAVINDO untuk keperluan tesis. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan buku yang mengulas perusahaan beliau dan perusahaan “anak cucu” beliau. Edannya Pak Djoko ini adalah totalilitasnya beliau dalam berindustri. Beliau pernah ketipu investor lalu perusahaannya jatuh, namun bangkit lagi. Tak hanya itu, melalui perusahaan yang dibangunnya, beliau adalah inspirator bagi karyawannya untuk mendirikan perusahaan lain. Terbukti ada sekitar lima perusahaan terkait teknologi drone yang dibangun karyawannya. Radikal !

Orang ketiga adalah Pak Adi Indrayanto. Saya baru kenal beliau tahun lalu saat diajakin projek ama senior. Pak Adi kala itu adalah ketua projek. Saat itu kita sedang ngerancang buku terkait bagaimana ngebangun industri perangkat Indonesia. Gairah Pak Adi saat bahas kebijakan industri sangat besar. Bahkan ketika Forum Group Discussion (FGD) dengan beberapa Dirjen dan perwakilan perusahaan, Pak Adi bisa dijuluki “singapodium”. Bayangkan dari pagi-sore, beliau mengendalikan forum. Energi beliau tak habis-habis. Radikal !

Selanjutnya adalah dosen pembimbing saya, Pak Sonny Yuliar. Awalnya saya anggap beliau ini dosen biasa saja. Namun, persepsi saya berubah 180 derajat setelah saya dibimbing tesis dengan beliau. Kala itu kami sering bimbingan di warung bakso Mandep. Pak Sonny jika membimbing tidak kenal waktu dan jelas “free of charge”. Pernah saya dibimbing sendirian 6 jam non-stop. Tak hanya itu, beliau anytime dapat dihubungi atau menghubungi. Pernah mendekati jam 12 malam, beliau kontak saya untuk sekedar menanyakan progres tesis. Beliau ini dosen yang benar-benar senang akan ilmu. Totalitas beliau ini yang membuat saya salut. Radikal !

Sampel terakhir yang akan saya angkat adalah Pak Mikrajuddin Abdullah. Sejak S1 saya kenal beliau, namun baru pertama kali ngobrol panjang dengan beliau saat wawancara tahun lalu. Beliau ini dah publikasi internasional lebih dari 100 jurnal, nulis sudah puluhan buku. Tapi beliau selalu katakan “biasa saja”. Beliau tidak pernah gembar-gemborkan reputasi mengkilapnya ini. Ya biasa aja menulis jurnal toh itu kan kewajiban dosen, jadi tidak ada yang spesial. Begitu kira-kira pelajaran yang saya ambil dari beliau. Radikal !

Ada lagi dosen-dosen lain seperti Pak Mubyar Purwasasmita (alm), Pak I Gede Wenten, Pak Hendra Gunawan, Pak Iwan Pranoto, Pak Yasraf Amir Piliang, Pak Acep Iwan Saidi, Pak Mohamad Tasrif, Pak Indra Budiman Syamwil, Pak Tisna Sanjaya, Pak Eko Mursito Budi, Bu Heni Rachmawati, Pak Widyo Nugroho Sulasdi, dan masih banyak lagi.

Menjaga “Keradikalan” 

Dari dosen-dosen radikal ini, secara pribadi saya merasa keradikalan kampus ITB ini. Mereka adalah contoh bagi saya untuk selalu menjaga “keradikalan” dalam berkarya. Tidak perlu khawatir akan masa depan selama niat kita baik untuk membangun bangsa. Melalui mereka ITB menjadi besar  dan akan tetap besar selama terus muncul dosen-dosen radikal dari kampus ini. 

Terakhir, saya ucapkan terima kasih banyak kepada dosen-dosen radikal ini karena berkat mereka wawasan saya menjadi lebih luas dari pada saat saya pertama kalinya menjejakkan kaki di kampus ganesha ini.

Monday, May 08, 2017

Akhirnya Punya Kalender 2017

Hampir bisa dikatakan seharian saya berada di lingkungan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Ya, sejak bulan lalu saya tegabung riset di sana. Saat ini saya sedang mengerjakan riset tentang employee engagement. Nah, tadi pagi sekitar setengah 10 (harusnya jam 9 sih, saya telat), saya tiba di kantor Pak Hary (dosen yang ajak saja riset) dan tak lama setelah itu presentasi progres. Proyektor pun dinyalakan dan Pak Hary mengedit secara interaktif paper awal penelitian yang saya buat. Saat diskusi, saya dapat kenalan baru dari jurusan Magister Manajemen SBM, namanya Widi kalo gak salah. Dia sekarang masuk dalam jajaran karyawan Kemenkeu. Menariknya diskusi tadi, saya jadi tahu posisi konsep employee engagement (EE) dilihat dalam level attachment seseorang pada organisasi. Diatasnya EE ada value (meaning making) dan happiness. Atau istilahnya SAY - STAY - STRIVE. Anda cari sendiri maksud dari istilah-istilah tersebut.


Kantor Pak Hary ternyata tidak sepi dari orang-orang SBM khususnya dosen dan asisten riset muda. Ada Dani dan Dema yang paling sering berada di kantor. Siang tadi tepatnya jam 14 ada rapat dengan pihak rektorat (WRSO) terkait penelitian ini. Ternyata penelitiannya cukup besar dengan Pak Jann (senior SBM) sebagai ketuanya. Penelitian EE adalah bagian dari penelitian besar ini, makanya saya ikut (kalo tidak disuruh mungkin tidak hadir sih, hehe). Sayang sekali setibanya di lantai 3 Gedung Annex, kursi tidak mencukupi dan terpaksa saya, Dema, Dani,  Mila, dan satu lagi Aria duduk di luar. Untungnya saya dapet temen ngobrol yang asikeun, Aria. Dia calon dosen di SBM dengan telah sandang status master dari salah satu universitas di Australia setelah kelar dari SBM (doi angkatan 2007). Dia cerita kalo pernah masuk dalam berbagai pekerjaan, sampai sekarang akhirnya milih kembali ke jatidirinya sebagai pengajar. Di samping beraktivitas di SBM, dia juga berbisnis di kopi dengan memiliki coffee shop di kompleks kantin Tamansari seberang Gedung SBM. Dia cerita banyak terkait bisnis kopinya ini. Karena saya juga penyuka kopi, obrolan pun jadi lama. Dia saranin kalo ngopi enak di Caffeto sekitar Sekeloa dan juga Coffeeq di Jalan Moh Toha, selain juga pastinnya memintaku untuk cicipi kedainya, Someday-lah gue kesana.

Beberapa hari mualees ngerjain paper teobati dengan aktivitas hari ini dengan kolega di SBM. Bismillah, kembali ke jalur produktif. O iya, dapet oleh-oleh kalender dari Pak Hary setelah saya bilang saya tidak tahu kalo kamis besok adalah tanggal merah :p

Friday, September 02, 2016

[OPINI] Menyoal Kenaikan Tarif Parkir ITB

Kamis kemarin (1/9/2016), saya membaca dari akun facebook beberapa mahasiswa ITB bahwa per 1 September 2016 tarif parkir ITB naik. Kenaikan tarif ini disertai dengan pergantian pengelola parkir yang semula ISS kini ganti. Kenaikan tarif ini menjadi persoalan karena kebijakan baru tersebut timbulkan penolakan dari sebagian mahasiswa, biarpun ada juga yang mendukung dan juga abstain. Persoalan ini saya kira masuk dalam domain ilmu studi pembangunan karena menimbulkan  implikasi yang tidak sederhana. Dalam tulisan ini saya akan mesoroti tiga hal ; gambaran persoalan, konsekuensi persoalan, dan rekomendasi. Harapannya tulisan ini menjadi bahan pembelajaran untuk mensikapi persoalan yang tengah berkembang di ITB ini.

Gambaran Persoalan

Sejak 1 September 2016 kemarin, penerapan kenaikan tarif parkir di lahan parkir kompleks kampus ITB Ganesha 10 diberlakukan. Lahan parkir yang dimaksud adalah kompleks parkiran Seni Rupa (SR) dan Teknik Sipil. Dari dua lahan parkir ini, costumer terbesarnya adalah kendaraan jenis motor atau roda dua. Pergantian tarif parkir ini diberlakukan oleh manajemen baru, bukan lagi ISS melainkan Auto Parking. Dari hasil potretan tarif yang dilaporkan salah satu mahasiswa, harga tarif motor per jamnya adalah Rp 1.000 dengan tarif maksimum Rp 5.000 sedangkan mobil adalah Rp 3.000 per jam dengan tarif maksimum Rp. 10.000 dengan masa perhitungan tarif dari jam 07.00-21.00 WIB. Di luar jam itu dikenakan tambahan tarif menginap di mana motor Rp 10.000 sementara mobil Rp 20.000.
Karcis baru manajemen Auto Parking (dok, teman)
Misalkan seorang mahasiswa  A memarkir motornya di parkiran tersebut pada jam 06.30 WIB dan pulang pada pukul 17.30 WIB, maka waktu parkir si A adalah 11 jam dengan 30 menit kena tarif menginap dan 10,5 jam kena tarif operasi. Implikasinya mahasiswa ini harus meembayar tarif parkir sebesar Rp 10.000 + Rp 5.000 = Rp 15.000. Tarif senilai itu juga akan dialami mahasiswa yang yang memarkirkan motornya jam 16.00 WIB dan pulang jam 21.30 WIB. Sementara itu, tarif dengan nilai yang lebih besar akan dialami mahasiswa yang menggunakan mobil.

Tarif parkir yang diatur sedemikian rinci ini nyatanya menimbulkan persoalan baik dari kalangan mahasiswa aktif ITB (khususnya S1) atau kalangan lain. Banyak kalangan yang merasa dirugikan atas kebijakan ini, biarpun ada juga yang bersikap mendukung juga abstain. Dari ketiga jenis kelompok penganggap persoalan ini yang menarik untuk disajikan dalam tulisan ini adalah kelompok yang kontra dengan kebijakan. Alasan yang dapat saya tangkap dari mereka yang kontra adalah : 1. Tarif motor yang baru dipandang terlalu besar, 2. Kekhawatiran dan konspirasi dibalik kenaikan tarif ini. Dari dua hal ini yang bagi saya manarik untuk dibahas adalah poin pertama bahwa tarif parkir di ITB terlalu besar.
Tarif parkir baru ITB yang menjadi viral di medsos
Sesuatu  disebut besar/kecil jika setidaknya ada yang diperbandingkan. Misalkan si X lebih besar badannya dibandingkan si Y. Faktanya memang si X massa badannya 80 kg, sementara si Y 79,875 kg. Artinya disini ada ukuran/parameter yang disepakati oleh publik. Dalam persoalan tarif parkir, di zaman ISS tarif parkir motor flat Rp 2.000 per hari, sedangkan pasca ISS (periode Auto Parking) bisa mencapai Rp. 15.000 per hari jika diasumsikan memakai perhitungan jam yang sama. Ini artinya pasca ISS tarif parkir ITB mengalami kenaikan 7,5 kali lipat. Jika memakai data historik, sebelum ISS tarif parkir ITB pernah menyentuh angka Rp 1.000 per sekali parkir. Jadi jika dipakai barisan berhingga dapat ditulis 1000, 2000, 15000. Dari kondisi pertama (1000) ke kondisi kedua (2000) kenaikannya dua kali, sedangkan dari kondisi kedua ke kondisi ketiga (15000) kenaikannya 7.5 kali. Faktor pengali (rasio) yang tidak fix (misal rasio = 2 kali) menjadikan barisan tersebut bukan merupakan barisan geometri. Saya menyebutnya barisan ini  tidak linear saja. Maka, ketidaklinearan kenaikan tarif ini sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa tarif baru ini relatif besar[1].

Konsekuensi persoalan

Tarif parkir baru yang relatif besar ini ternyata menimbulkan konsekuensi riil bagi orang yang tahu atas persoalan ini. Konsekuensi yang dapat kita lihat dengan jelas baik di dunia nyata maupun maya adalah penolakan. Penolakan dalam dunia nyata berwujud protes beberapa mahasiswa di gerbang depan ITB hari ini (2/9/2016). Mereka memarkir motornya tepat di gerbang depan. Ini disebut protes karena parkir di gerbang depan sejatinya tidak dibolehkan oleh satpam ITB. Sementara protes di dunia maya diwakili oleh beberapa mahasiswa dengan membuat meme, status, dan komentar di media sosial.
Mahasiswa parkir 'paksa' motor mereka di depan gerbang ITB (kiriman dari salah satu grup WA)
Karena adanya penolakan, maka atas dasar kemaslahatan bersama, kebijakan kenaikan tarif parkir sudah sepatutnya dikaji ulang. Peninjauan ulang ini akan menghasilkan setidaknya dua scenario : 1. Pihak ITB tetap memberlakukan kebijakan kenaikan tarif parkir, 2. Kebijakan kenaikan tarif parkir dibatalkan. Adapun untuk mencapai dua skenario ini pastinya akan melalui beberapa proses yang cukup kompleks seperti penolakan (demonstrasi) langsung seperti pada hari ini, audiensi beberapa mahasiswa dengan pihak rektorat, atau pertentengan-pertentangan opini di media sosial. Proses-proses yang ada ini akan meredam jika sudah muncul pernyataan fix dan mengikat dari pihak rektorat terkait kebijakan ini.

Menarik untuk digambarkan lebih jelas terkait dua skenario yang muncul nantinya. Pertama, pihak ITB tetap memberlakukan kebijakan kenaikan tarif. Ada beberapa implikasi atas skenario ini ; 1. Jumlah pemarkir baik mobil/motor di lahan parkir ITB bisa tetap atau bahkan berubah (naik/turun), 2. Munculnya alternatif-alternatif parkiran di sekitar ITB seperti parkir liar di Jalan Ganesha, Gelapnyawang, dlsb., 3. Banyak mahasiswa yang ke kampus dengan berkendara angkot/jalan kaki, 4. Konsekuensi intangible seperti semakin sepinya mahasiswa yang beraktivitas di unit/himpunan, malas kuliah, kongkalikong dengan satpam untuk bisa masukkan motor/mobil ke dalam kampus, dlsb. Kedua, kebijakan kenaikan tarif parkir dibatalkan. Implikasi dari skenario ini setidaknya ada beberapa hal : 1. Pola parkir mahasiswa dan elemen-elemen lain di lingkungan lTB tetap , 2. Spot-spot parkir liar di lingkungan ITB tetap bahkan meluas (fakta : jumlah keluarga besar ITB naik setiap tahunnya), 3. Lain-lain seperti poin 3 dan 4 pada skenario pertama. Dari beberapa konsekuensi dari dua skenario di atas, irisan yang patut disoroti adalah poin satu dan dua yakni : jumlah pemarkir mobil/motor di parkiran ITB dan fenomena parkir liar. Mengapa ? Fenomena ini riil, mudah dibuktikan dengan melihat langsung di lapangan.

Rekomendasi Kebijakan

Mempertahankan/merevisi kebijkan tarif parkir di lingkungan ITB Ganesha akan tetap menghasilkan implikasi seperti saya sebutkan di atas. Saya belum pernah mendengar dari pihak rektorat ITB terkait alasan pemberlakuan kebijakan ini. Jika pun saya mendengar, beberapa alasan seperti penurunan jumlah kendaran bermotor di lingkungan iTB dan juga agar ITB go green dengan naik angkot dan jalan kaki menjadi keinginan beberapa pihak (spesifiknya saya tidak tahu) agar ITB menjadi kampus yang lebih nyaman. Namun, sampai saat ini saya belum pernah membaca dokumen bagaimana mencapai dua alasan tersebut. Saya pernah mendengar desas-desus bahwa akan dibangun tempat parkir baru dengan sistem bertingkat dan juga terowongan (basement) di beberapa spot di ITB namun nyatanya sampai sekarang belum ada.

Atas dasar itulah saya merekomendasikan kepada pihak rektorat ITB selaku pengambil kebijakan untuk melakukan studi menyeluruh terkait persoalan parkir ini. Saya sarankan beberapa cara berikut : 1. Adakan riset yang dibiayai oleh LPPM atau pihak lain seperti LPDP/Dikti terkait persoalan parkir ini seperti memberikan mandat pada studi pembangunan ITB untuk mengkaji dengan pendekatan sistem/jaringan aktor atau dengan matematika ITB untuk menganalisis fenomena ini dengan pendekatan optimisasi dan statistik atau bahkan dengan SBM/Arsitektur/FSRD melalui pendekatan inovasi yang inklusif. Studi yang dilakukan ini adalah untuk menunjukkan implikasi-implikasi yang mungkin muncul  dari skenario yang saya jelaskan di atas, 2. Jika sudah ada kajian yang dipandang menyeluruh dari pihak rektorat jangan sungkan untuk menjelaskan kepada khalayak ITB untuk selanjutnya diberikan masukan. Kajian yang dimaksud bukan suatu yang final melainkan ada potensi perubahan. Langkah ini tak lain sebagai wujud pembelajaran bersama di lingkungan ITB sehingga persoalan konflik seperti ini tidak terjadi.

Sampai sekarang saya belum mendengar dan melihat bahwa telah ada dua hal seperti saya sarankan di atas. Persoalan parkiran dari sejak saya masuk ITB (2009) sampai sekarang nyatanya belum selesai. Ini artinya ITB belum berhasil mengatasi manajemen parkir yang menurut beberapa pihak merupakan masalah ringan (padahal nyatanya kompleks betul). Atas dasar itulah, saya sarankan kepada pihak Rektorat ITB untuk mempertimbangkan kembali kebijakan kenaikan tarif parkir tersebut demi kemaslahatan bersama dan juga melakukan  upaya penyelesaian yang serius atas persoalan parkir ini. Semoga kita tetap terbuka untuk memandang masalah secara jernih dan tuntas. Salam Ganesha !



[1] Saya berpotensi menghilangkan setidaknya dua faktor ; Pertama, jangka waktu dari suku pertama barisan ke suku kedua dan kemudian dari suku kedua ke suku ketiga bisa jadi tidak tetap (misal 3 tahun). Kedua, saya mengabaikan parameter inflasi di mana bisa jadi nilai rill uang tidak terwakili dalam nominal yang tertera dalam uang tersebut. 

Catatan : Tulisan serupa saya publikasikan di https://medium.com/@uruqulnadhif/menyoal-kenaikan-tarif-parkir-itb-45ab5309836a#.9ycmdvrtx

Sunday, August 21, 2016

[RESENSI] Meng-IDEAL-kan Manusia ITB

Saya seolah dibawah ke ranah mahasiswa ITB 70-an dimana orang-orangnya penuh dengan ambisi dan gairah menjadi individu yang unggul di bidangnya masing-masing. Buku biru karangan Cardiyan H.I.S ini sedikit banyak gambarkan kondisi ITB saat itu. Orang-orang ITB baik mahasiswa maupun alumninya dikenal Percaya Diri yang tak ketulungan (baca : sombong). Ini tercermin di setiap penyambutan mahasiswa baru dengan spanduk “Selamat Datang Putera Puteri Indonesia Terbaik”. Selain itu, masyarakat ITB umumnya adalah lulusan terbaik dari SMA-SMA-nya. Di samping itu, di ITB sendiri dosennya juga banyak memberikan sentilan “Terbaik” kepada para mahasiswa. Atas dasar inilah, banyak dari mahasiswa ITB saat itu lantang berbicara di depan umum untuk sekedar demonstrasi dan sejenisnya. Tak jarang, mahasiswa ITB memimpin aneka aksi yang dilakukan mahasiswa Indonesia.

Buku ini selain menyingkap kondisi ITB saat itu juga memberikan alternatif rekomendasi bagaimana manusia ITB seharusnya. Menurut penulis, manusia ITB seharusnya memiliki watak wirausaha (entrepreneurship kalo sekarang) yang dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Untuk mencapainya dibututuhkan iklim pendidikan yang pas seperti halnya menjalin kerjasama yang solid dengan industri-industri dengan melibatkan mahasiswa selama aktif kuliah. Dalam ranah yang lebih luas, dibutuhkan duplikasi ITB di daerah-daerah lain agar distribusi kualitas pendidikan tinggi di bidang iptek merata. Harapannya ke depan, Indonesia memiliki banyak pengusaha di bidang industri strategis, tdk sekadar UKM yang tidak memiliki akar pengetahuan yg solid.

Kritik akan Isi Buku

Buku ini terlalu mengasumsikan pendidikan ITB sudah sangat ideal. Saya kira penulis terlalu bias ITB. Penulis juga kurang begitu menggali seberapa jauh kontribusi ITB (termasuk alumninya) terhadap pengembangan Iptek di tanah air disamping disajikan posisi ITB dan alumni-alumninya. Selain itu, buku ini kurang menjawab tantangan-tantangan mendasar yang akan dihadapi manusia ITB di abad 21. Saya kira mungkin karena buku ini ditulis sebelum milenium jadi kurang bisa menerka apa yang akan terjadi di abad tersebut. Terakhir, penulis terlalu optimis bahwa Indonesia kedepan (2045) akan maju dan kontribusi ITB atas hal ini sangat besar. Di sini, penulis kurang menyadari bahwa struktur industri dan iklim usaha di Indonesia kurang begitu memperhatikan pengembangan Iptek. Penulis juga seringkali mengambil sampel perusahaan top Amerika dan Jepang (umumnya IT dan elektronika), padahal jika memakai sampel Indonesia industri yang relevan justru di bidang kelautan dan pertanian.

Thursday, August 11, 2016

[OPINI] Momen Harteknas : di ITB yang Katanya Kampus Teknologi

10 Agustus ditetapkan setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harteknas). Tanggal ini konon dipilih untuk mengenang kesuksesan Pesawat N250 yang digagas BJ. Habibie terbang mengitari langit Bandung dan sekitarnya. Pesawat ini konon adalah pesawat asli buatan anak bangsa yang pertama. Dicanangkan Harteknas oleh Pemerintah salah satu harapannya adalah untuk memberikan spirit ke generasi penerus bahwa Indonesia dapat sejajar dengan negara dan bangsa lain untuk menguasai teknologi. Harteknas ini juga semacam klaim bahwa Pemerintah memberikan ruang yang besar bagi anak bangsa untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Realitanya sudah sekitar 20 tahun sejak puncak Harteknas pada 10 Agustus 1995, perkembangan sains dan teknologi di Indonesia mandeg. Saya yang sudah 7 tahun berada di kampus teknik tertua di Indonesia saja tidak begitu faham arah riset yang dilakukan oleh ilmuwan dan teknolog yang berada di lingkungan kampus ITB. Apalagi dari institusi lain seperti LIPI, BPPT, LAPAN, dan juga kampus-kampus lain. Mungkin Anda akan menyangkal, "Salah kamu sendiri tidak blusukan dengan lab-lab yang ada di ITB, di sana kan dikembangkan aneka keilmuan. Hasilnya bahwa diakui internasional seperti misalnya dipublikasi di jurnal internasional". Jika ada yang mengatakan demikian, saya akan balik tanya, "Dapatkan Anda menceritakan seberapa jauh progress dari penelitian yang telah dilakukan ? Apakah output dari penelitian sekedar publikasi ke jurnal ilmiah internasional yang terindeks scopus misalnya ?". Jika demikian kiranya, ini hanya sekedar routiney fool yang tidak memiliki orientasi yang riil. Dari sini saya bertanya, "What is science and technology for ?". Saya yakin hadirnya saintek adalah memudahkan meraih tujuan yang telah kita sepakati. Dalam konteks negara bangsa, maka saintek adalah merealisasikan tujuan negara yang tertera dalam Pancasila dan mukaddimah UUD 1945.

Saya tidak habis pikir setiap tahun Harteknas diperingati tentunya dengan biaya yang tidak murah. Padahal kita tidak melihat adanya hubungan iptek untuk kemajuan bangsa dan negara. Buktinya sederhana, teknologi dan industri hubungannya erat sekali (tak dapat dilepaskan), namun di kita ilmu-ilmu engineering di kampus tak dapat dipakai di dunia industri. Maka, jika industri meminta kampus untuk membantu maka tak lebih dari reverse engineering atau benerin mesin-mesin agar usianya lebih lama. Padahal di kampus dipelajari termodinamika dan beberapa konsep dasar lainnya yang keluarannya adalah membuat alat dan sebagainya. Industri kita nyatanya membeli peralatan mesin dari luar negeri, sementara para pekerjanya tinggal pakai. Dari sini tak kaget bahwa lulusan Perguruan Tinggi hanya mampu menjadi pekerja industri secara keadaan tidak memungkinkan mereka untuk membangun industri. Jika ada yang membuat perusahaan, maka itu masih dalam tataran perusahaan dengan skala mikro dan menengah dimana didalamnya tak ketat menggunakan basis keilmuan. 

Di ITB yang Sepi

Sejauh ini kampus ITB mengembangkan dirinya dengan konsep multikampus. Saat ini ITB berlokasi tak hanya di Jalan Ganesa Bandung, melainkan merembet ke Jatinangor dan yang paling baru Cirebon. Pengembangan ini sepintas menunjukkan bahwa gairah belajar Iptek setidaknya di Jawa Barat cukup besar, namun disini saya memandang lain. Pengembangan Iptek tak bisa tidak pasti dibutuhkan lokasi (lokus) yang didalamnya terdapat aktivitas dan komunitas yang solid terkait dengan itu. Tegasnya melalui interaksi yang intens di antara komunitas pengembang ipteks memunculkan budaya. Budaya ini menjadi corak dan tak mudah diduplikasi di wilayah lain. Kampus ITB Jatinangor dan Cirebon menurut saya tidak dapat disamakan budayanya dengan kampus ITB Ganesa karena selain usianya belum lama juga interaksi antarakademisi belum intens terbentuk. Apalagi dosen-dosen yang mengajar di kampus itu (kampus ITB Cirebon saya belum tahu) mengajar juga di kampus ITB Ganesa. Artinya mereka mbajak dari Bandung-Jatinagor PP. Saya lebih setuju jika ITB membuka cabang baik di Jatinangor maupun Cirebon atau tidak menutup kemungkinan di daerah lain maka dosen dan pengurus kampus itu (rektor dan turunannya) harus terpisah dari manajemen kampus ITB Ganesa. Pedoman saya, kultur (budaya) itu selaras dengan lingkungan (geografis). 

Pembukaan cabang ITB di kota-kota lain ini menjadikan kampus ini tak lebih sekedar jualan, tidak berbeda dengan kampus yang ada di Indonesia pada umumnya. Bukannya kualitas penelitian yang dipacu, melainkan jumlah lulusannya. Jika ini terus digalakkan, maka jangan kaget jika suatu saat ijazah lulusan ITB berharga murah karena sukarnya membedakan lulusan ITB dengan kampus lain. Artinya apa, karakter lulusan ITB tidak jelas. Saya akui, memang saya bukan lulusan ITB yang qualified secara keilmuan saya dulu di Matematika. Buktinya saya sekarang membelot ke Studi Pembangunan. Namun, saya khawatir dengan masa depan kampus ini jika tanda-tanda dugaan saya itu semakin mengarah ke kenyataan. Saya melihat tanda-tandanya sebagai contoh, jam malam di ITB digalakkan, di sini kampus tidak terbuka 24 jam bagi para mahasiswa ITB untuk beraktivitas. Kedua, dari dulu saya masuk ITB (2009) sampai sekarang, forum ilmiah sukar diadakan di kalangan mahasiswa. Kaderisasi dan acara-acara non-akademik yang justru ramai, di sini saya bertanya, "Halo, ini kampus atau Event Organizer ?". Ketiga, di kampus ini ilmuwan dan teknolog yang karyanya diakui di dunia akademik tidak seterkenal artis dan tokoh politik. Jadi di obrolan warung kopi, yang dibahas bukan "Si dosen A menemukan ini lo", tapi "Yuk kita buat event itu biar dapet projek dari Pak itu".

Kondisi-kondisi inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa pengembangan keilmuan yang riil di kampus ITB hanya dilakukan oleh beberapa orang atau kelompok saja. Sebagian besar dari civitas akademika melakukannya untuk jangka pendek saja. Apakah ini salah ? sulit untuk dijawab, mengingat Pemerintah yang memiliki saham terbesar akan masa depan ITB nyatanya tidak punya visi yang jelas dalam pengembangan Iptek. Maka dari sini tidaklah mengherankan bahwa momen Harteknas di kampus ini tidak seramai hari ulang tahun kampus. 10 Agustus tak lebih dari sekedar tanggal seperti tanggal-tanggal lain.