Showing posts with label bingkai ITB. Show all posts
Showing posts with label bingkai ITB. Show all posts

Monday, September 09, 2019

Belajar menjadi Rektor dari Pak Wir dan Pak KK

Institut Teknologi Bandung (ITB) kini sedang mengalami pesta pemilihan Rektor periode 2020-2025 dengan jumlah kandidat yang mendaftar sejumlah 34 orang. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode awal era BHMN ITB pada 2000-an dengan jumlah pendaftar saat itu lebih dari 100 orang. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas terkait pemilihan Rektor saat ini, melainkan hanya akan memberikan pandangan terkait Rektor itu baiknya ngapain sih. Kebetulan saya beberapa waktu lalu mewawancarai secara langsung dua mantan Rektor ITB yang kata banyak orang ITB fenomenal yaitu Prof. Wiranto Arismundar (Pak Wir) dan Kusmayanto Kadiman, PhD (Pak KK).

Pak Wir dan Kiprahnya

Pak Wir menjabat sebagai Rektor ITB cukup lama yakni dua periode pada 1988-1997. Dalam kepemimpinannya sebagai Rektor, beliau menggagas visi ITB sebagai kampus yang ramah khususnya bagi orang luar. Beliau yang mantan pemain bola Persema Malang juga mencetuskan kuliah wajib olahraga. Baginya, tidak hanya aktivitas akademik yang harus dimiliki mahasiswa ITB melainkan juga aktivitas non-akademik seperti olahraga. Beliau juga sangat mendorong mahasiswa ITB untuk aktif di kegiatan ekstrakulikuler apapun. Tak hanya itu, program lain yang digagas beliau yaitu "zero drop out" belajar dari banyaknya mahasiswa ITB yang keluar tidak pada waktunya saat itu. Program itu tidak berarti ITB umbar ijazah, namun upaya ITB untuk membenahi sistem pengajaran dengan menakankan pendekatan pada mahasiswa khususnya yang bermasalah.

Dengan Pak Wir sekaligus pamer buku saya

Program paling fenomenal dari kepemimpinan beliau adalah pembangunan besar-besaran gedung ITB. Tercatat ada sekitar 13 gedung utama ITB dibangun di mana beliau seperti halnya empat labtek kembar, gedung Sabuga, Saraga, dan Sunken Court. Sampai saat ini, jejak beliau sebagai "Bapak Pembangunan ITB" tak hilang. Kita bisa lihat pesan Pak Wir di Plasa Widya dan juga pintu masuk gedung utama Sabuga. Terlihat pemikiran Pak Wir di sana "... Supaya lulusannya bukan saja sebagai pelopor pembangunan tetapi juga pelopor pesatuan dan kesatuan bangsa". Pembangunan ketika itu tidaklah mudah karena ITB tidak punya uang yang cukup. Berbekal sikap nekat, Pak Wir mengutus jajaran pembantunya untuk pergi ke Jepang cari dana dan dapat. Kepemimpinan Pak Wir dikatakan lengkap karena tak hanya fisik (gedung) yang dibangun melainkan mental juga yakni budaya akademik. 

Kiprah Pak KK

Pak KK bisa dikatakan Rektor dengan periode terpendek (2001-2004) dan bukan profesor satu-satunya sampai sekarang. Sebelum Rektor beliau adalah sekretaris Rektor yang dari sana beliau tahu banyak tentang ITB yang menjadi satu faktor untuk maju pada pemilihan Rektor di periode awal ITB sebagai BHMN. Saat menjadi Rektor, beliau menetapkan visi "ITB Bersih" tak hanya fisik melainkan mental. Program bersih-bersih Pak KK dimulai dengan pembersihan kawasan ITB dari hal yang paling jorok yaitu jamban, halaman, sampai PKL di jalan Ganesha. Saat itu ITB dibagi menjadi delapan zona dengan sejumlah karyawan dan satpam yang standby di sana. Jalan Ganesha yang penuh PKL disulap bersih berbekal kerjasama yang intens dengan Pemkot dan Kodam. Beliau mengadopsi konsep dari Kodam Siliwangi saat itu, "Cukat" yang berati "muncul-sikat" yang berarti ketika melihat PKL langsung diusir biar tidak jualan di sana. Satpam saat itu dipekerjakan khusus untuk mengawasi PKL di Jalan Ganesha. Tak hanya itu, dibuat halte angkot dengan gaya khas ala "gajah" dengan maksud biar PKL susah jualan di sana. 

Dengan Pak KK habis wawancara

Bersih selanjutnya adalah terkait mental. Beliau terapkan metode kepemimpinan ala CEO perusahaan dengan menekankan pada profesionalisme kerja. Beliau menyadari betul bahwa Rektor di masa BHMN harus unggul dalam dua hal sekaligus yaitu akademik yang unggul (The magnificent Rector) dan manajemen (CEO). Di kampus-kampus Amerika dua fungsi tersebut dipisah, namun tidak dengan ITB. Makanya tugas Rektor ITB bisa dikatakan sangat berat. Sebagai cara untuk menjalankan dua fungsi ini, beliau mengangkat Wakil Rektor dengan keunggulan di dua bidang tersebut. Sementara beliau memperkuat ITB melalui penguatan sisi profesionalisme untuk mewujudkan ITB sebagai kampus unggul. Maka di masa beliau memimpin, diterapkan merit system, dibuat Sistem Penjamin Mutu (SPM), PT LAPI, dan Yayasan LAPI. Gedung CC Barat dan CC Timur juga dibangun di masa beliau. Saat itu, beliau setiap rabu-kamis menyambangi alumni-alumni yang menjadi pimpinan di berbagai perusahaan di Jakarta untuk dimintai bantuannya. Nama-nama di Labtek kembar ITB adalah empat penyumbang terbesar saat itu dengan masing-masing menyumbang 25 Milyar rupiah.

Belajar dari Kedua Rektor

Kedua Rektor tersebut memiliki kemiripan yakni sama-sama memiliki visi besar ketika masa kepemimpinan masing-masing. Bagi mereka berdua menjadi Rektor ITB jauh lebih istimewa dibandingkan ketika keduanya diminta Presiden untuk menjadi menteri. Pak Wir adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di era Presiden Soeharto, sementara Pak KK adalah mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) di era Presiden SBY. Kedua Rektor ini sama-sama mengangkat pembangunan fisik dan mental meskipun dengan gaya dan pola yang berbeda. Jika Pak Wir membangun infrastruktur primer ITB (13 gedung utama) dan juga program peningkatan softskill, Pak KK membangun infrastruktur dasar ITB untuk dapat melesat menjadi Perguruan Tinggi terkemuka melalui pembangunan berbagai perusahaan ITB dan penguatan sisi profesionalitas baik untuk kalangan dosen maupun pegawai. 

Dari sana, tidak berlebihan jika keduanya adalah Rektor dengan kontribusi sangat besar pada almamater. Saya tidak mengatakan Rektor yang lain tidak berkontribusi. Sangat mungkin kontribusi Rektor lain juga besar juga namun saya tidak tahu saja. Saya angkat kedua tokoh ITB karena tak hanya saya yang membicarakan, melainkan juga banyak dari kalangan dosen dan pegawai. 

Pesan untuk Rektor ITB 2020-2025

Kata Bung Karno "Jas Merah, Jangan Lupakan Sejarah". Penting bagi 34 calon Rektor terdaftar untuk mengamati kiprah para Rektor sebelumnya lebih khusus dua tokoh yang saya angkat di sini. Kedua tokoh ini telah menulis masing-masing 3 buku (Pak Wir) dan 4 buku (Pak KK) yang isinya kiprah keduanya sebagai Rektor ITB dan Menteri. Mungkin perlu bagi calon Rektor untuk membaca buku-buku tersebut. Jika tidak cukup waktu membaca, mungkin bisa membaca tulisan saya ini, hehehe.

Dari cerita saya tentang kiprah dua Rektor ini dapat saya simpulkan tiga hal penting yang perlu dimiliki Rektor ITB ke depan. Pertama, menjadi Rektor adalah bentuk pengabdian pada almamater dengan implikasi terbesar baik untuk institusi dan orang-orang yang ada di dalamnya dan juga untuk bangsa, negara, dan dunia. Maka, pergunakan masa itu untuk bekerja total. Jangan dipakai posisi ini untuk sekedar jembatan menjadi menteri. Pak Wir dan Pak KK mengatakan menjabat Rektor ITB lebih menantang dari pada Menteri (Menteri tidak sebergengsi Rektor ITB ya, hehe). Kedua, visi boleh besar namun harus terukur dengan diwujudkan melalui program-program yang konkret. Buat apa ITB jadi world class university tapi internet sering mati dan Jalan Ganesha ruwetnya minta ampun, hehe (malah curhat). Ketiga, menggalakkan kolaborasi di lingkungan ITB. Zaman telah berubah, kini tak lagi masanya untuk berkompetisi namun masa untuk berkolaborasi. Jangan sampai ada sentimen antarunit/antarfakultas. ITB harus solid secara internal sehingga kita secara bersama-sama dapat bersaing dengan kampus besar di level ASEAN minimal dengan karya-karya besar tentunya. Bosen rasanya ITB seolah jago di level nasional saja. 


*Uruqul Nadhif Dzakiy (pegawai dan periset biasa)

Sunday, August 21, 2016

[RESENSI] Meng-IDEAL-kan Manusia ITB

Saya seolah dibawah ke ranah mahasiswa ITB 70-an dimana orang-orangnya penuh dengan ambisi dan gairah menjadi individu yang unggul di bidangnya masing-masing. Buku biru karangan Cardiyan H.I.S ini sedikit banyak gambarkan kondisi ITB saat itu. Orang-orang ITB baik mahasiswa maupun alumninya dikenal Percaya Diri yang tak ketulungan (baca : sombong). Ini tercermin di setiap penyambutan mahasiswa baru dengan spanduk “Selamat Datang Putera Puteri Indonesia Terbaik”. Selain itu, masyarakat ITB umumnya adalah lulusan terbaik dari SMA-SMA-nya. Di samping itu, di ITB sendiri dosennya juga banyak memberikan sentilan “Terbaik” kepada para mahasiswa. Atas dasar inilah, banyak dari mahasiswa ITB saat itu lantang berbicara di depan umum untuk sekedar demonstrasi dan sejenisnya. Tak jarang, mahasiswa ITB memimpin aneka aksi yang dilakukan mahasiswa Indonesia.

Buku ini selain menyingkap kondisi ITB saat itu juga memberikan alternatif rekomendasi bagaimana manusia ITB seharusnya. Menurut penulis, manusia ITB seharusnya memiliki watak wirausaha (entrepreneurship kalo sekarang) yang dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Untuk mencapainya dibututuhkan iklim pendidikan yang pas seperti halnya menjalin kerjasama yang solid dengan industri-industri dengan melibatkan mahasiswa selama aktif kuliah. Dalam ranah yang lebih luas, dibutuhkan duplikasi ITB di daerah-daerah lain agar distribusi kualitas pendidikan tinggi di bidang iptek merata. Harapannya ke depan, Indonesia memiliki banyak pengusaha di bidang industri strategis, tdk sekadar UKM yang tidak memiliki akar pengetahuan yg solid.

Kritik akan Isi Buku

Buku ini terlalu mengasumsikan pendidikan ITB sudah sangat ideal. Saya kira penulis terlalu bias ITB. Penulis juga kurang begitu menggali seberapa jauh kontribusi ITB (termasuk alumninya) terhadap pengembangan Iptek di tanah air disamping disajikan posisi ITB dan alumni-alumninya. Selain itu, buku ini kurang menjawab tantangan-tantangan mendasar yang akan dihadapi manusia ITB di abad 21. Saya kira mungkin karena buku ini ditulis sebelum milenium jadi kurang bisa menerka apa yang akan terjadi di abad tersebut. Terakhir, penulis terlalu optimis bahwa Indonesia kedepan (2045) akan maju dan kontribusi ITB atas hal ini sangat besar. Di sini, penulis kurang menyadari bahwa struktur industri dan iklim usaha di Indonesia kurang begitu memperhatikan pengembangan Iptek. Penulis juga seringkali mengambil sampel perusahaan top Amerika dan Jepang (umumnya IT dan elektronika), padahal jika memakai sampel Indonesia industri yang relevan justru di bidang kelautan dan pertanian.

Monday, August 01, 2016

Belajar dari Pak Budi Rahardjo (Bagian 2)

Setelah kemarin saya ceritakan petikan ide dari Pak Budi Rahardjo, kini saya akan sampaikan petikan yang lain. Kan kemarin saya tulis beberapa petikan ? Betul, dua petikan kan bisa dikatakan beberapa petikan kan ? Hi hi hi. Oke, pada tulisan kali ini saya akan ceritakan terkait bagaimana konsepsi entrepreneurial university versi pelaku entrepreneurship yaitu Pak Budi sendiri. Saya dulu pernah sih menulis terkait konsep ini di opini saya yang formal, namun malas ah pake referensi-referensi buku kayak gitu. Mengapa ? karena subjek penelitian di buku yang saya baca itu Barat, beda pisan ama ITB. Hehe

Pak Budi ini unik, beliau bukannya sering bicara bahwa menjadi startup itu asik dan bla bla bla, namun beliau ini justru ceritakan panjang lebar tentang kendala yang dihadapi seorang startup. Itupun ditambah dengan “Bisa jadi yang akan Anda rasakan beda dengan yang saya rasakan”. Nah ini kan menegangkan juga menakutkan betul. Ya, Pak Budi pengen ceritakan apa adanya, tidak melebih-lebihkan bahwa profesi bisnis startup ini lebih mulia dan berkasta lebih tinggi dibandingkan yang lain. Tidak kayak gitu. Jika diperas lagi, beliau pengen ceritakan betul bahwa entrepreneurship adalah mental. Tidak ada rumus khusus untuk mempelajarinya (jadi inget Artificial Intelligence yang katanya rumusnya tidak sesaklek kriptografi, hehe).

Oke kembali ke topik pembahasan. Pak Aca (nama panggilan rektor kita semua, Pak Kadarsah Suryadi), di proses kampanye menjelang Pemilihan Rektor beberapa waktu lalu mengenalkan konsep Entrepreneurial University. Intinya sih gini, ITB ingin mencetak buanyuaaaaakkkkk sekali pengusaha muda. Nah, tapi kumaha ieu ? Ini yang sulit kita saksikan hari ini hasilnya. Padahal Pak Aca kan udah hampir 2 tahun menjadi rektor (cek ya barangkali saya salah). Lantas Pak Aca kita salahkan begitu saya ? Jangan buru-buru gitu, saya bukan Jonru/tipikal pengamat politik. Intinya ITB itu kompleks bahkan lebih kompleks dari bilangan kompleks. Di dalamnya banyak sekali orang-orang dengan keminatan yang bueesar di bidang tertentu. Saya pernah menemukan dosen saya baru pulang pagi hari dari kantornya, ini kan jelas bahwa beliau ini tidur di kantornya. Nah, ini satu indikasi bahwa orang-orang ITB umumnya punya determinasi yang tinggi di bidang keilmuan.

Kembali ke topik pembahasan (2). Banyak pelaku bisnis yang juga akademisi (saya ambil sampel dosen tesis dan Pak Budi doang, heu) yang katakan bahwa setiap kita mendengar ungkapan Entrepreneurial University pasti langsung menyebut Stanford University. Betul, kampus inilah yang berada dibalik berdirinya Silicon Valley, yang melahirkan aneka bisnis di bidang IT seperti Google dan Facebook itu. Konon iklim berbisnis startup di sangat di dorong. Sebagai contoh di sana ada data terkait berapa banyak alumni Stanford yang berkiprah di dunia bisnis (di ITB kan ada tracer study, iya sih tapi masih g sedetail mereka). Iklim yang lebih riil di kampus itu saya belum tahu. Mungkin akan dibahas di lain kesempatan (underline kata ‘mungkin’ ya). Nah, kembali ke ITB. Niat Pak Aca sih baik dan saya yakin beliau mengenal konsep entrepreneurship yang cukup dari jurusannya di Teknik Industri (secara beliau professor di sana). Namun, konsep ini  tidak ujug-ujug bisa terlaksana dengan hadirnya Pak Aca dengan idenya tentang Entrepreneurial University. Konsep ini jika akan dilaksanakan kompleks sekali. Sistem pendidikan ITB, pola pengajaran, aturan-aturan akademik, dan suasana di kampus ini harus sama sekali berbeda dengan pola-pola sebelumnya. Itu harusnya, realitanya ? ITB tidak banyak berubah. Periode Pak Aca dengan sebelumnya (Pak Loka) sulit bagi kita temukan perbedaannya secara signifikan. Yang ketara dari ITB sekarang ya dorongan kepada dosen-dosen ITB untuk publikasi paper. Nah, inikan sama saja dengan university pada umumnya. Ya, kita masih universitas yang fokusnya ngajar di kelas. Kata Pak Budi, “Jadi ini sebenarnya secara kenyataan teaching university. Jadi akui aja teaching university.”


Lantas apa yang perlu dilakukan ITB ? Pendapat saya tanggalkan konsep Entrepreneurial University yang masih imajinatif ini. Kita fokus pada rakyat ITB (dosen dan mahasiswa, karyawan gimana ? Itu beda konteks yak). Kita kan sama-sama tahu bahwa ITB itu kumpulan orang-orang yang bergairah dan berhasrat menjadi orang top di bidang tertentu. Nggak cuma dosen saja, mahasiswa juga (mudah kita dapati mahasiswa S1 yang balapan IPK-nya, hehe). Nah itu bagaimana mereka semua itu difasilitasi dan diklaim sebagai bagian dari keunggulan ITB. ITB kudunya tidak membiarkan mereka hidup dengan dunia mereka sendiri, tapi diemong. Sebagai contohnya Pak Budi. Beliau aktif mementor mahasiswa di bidang startup dan juga memiliki beberapa perusahaan di bidang IT. ITB dapat mengklaim kegiatan Pak Budi ini sebagai bagian dari program kerja ITB mendorong mahasiswanya untuk berwirausaha. Nanti ITB bisa gembar-gembor ke publik bahwa ITB berjasa untuk menciptakan pengusaha-pengusaha Indonesia. Pak Budi mengakui sendiri sangat boleh ITB melakukan ini justru beliau pengen ITB bersikap demikian. Ini cara Stanford bisa dicontoh (ITB kan kiblatnya MIT ? Iya gitu, he he).

Langkah kedua adalah ITB membebaskan dan men-support betul mahasiswa untuk berwirausaha selama studi. Pak Budi bercerita bahwa di kampus Luar Negeri sana (Stanford dan Berkeley) mahasiswa diizinkan cuti selama satu semester untuk fokus dalam kegiatan bisnis startup. Masa cuti ini tidak dimasukkan dalam masa studi normal. Sebelum cuti, mahasiswa ini harus menghadap tim reviewer dari kampus untuk ditanyai kelayakan bisnisnya. Jika oke, go !, jika tidak, Balik studi ya !. Nah, dalam prosesnya selama satu semester sang mahasiswa ini gagal, dan dia pengen balik ke kampus, kampus mengizinkan, tidak di-DO. Selain dua langkah ini, langkah lain adalah kampus kudu dinamis dengan pola/ritme kerja yang sama-sekali berbeda baik dari pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, karyawan, dan lain sebagainya. Dinamisasi ini di-support betul. Sebagai contoh adalah ditiadakannya jam malam. ITB terbuka 24 jam bagi segenap civitas akademika yang ingin beraktivitas di dalamnya. Tidak kayak sekarang, jam 23.00 WIB mahasiswa yang nongkrong di unit diusir begitu saja. ITB mendorong kreativitas mahasiwa dengan diberikan kemudahan izin beraktivitas, akses pada stakeholders, dan sebagainya. Keluarannya tidak dengan menang di berbagai perlombaan bisnis lo, tapi alumni-alumni ITB siap berbisnis khususnya di bidang keilmuan yang digelutinya.

Oke itu aja dulu yak, ditunggu komentar-komentarnya. Semoga kita tetap semangat J
Pak Budi Rahardjo (2)

Sunday, July 31, 2016

Belajar dari Pak Budi Rahardjo

Jumat lalu (29/7) sekitar jam 15.00 WIB saya ngobrol dengan Pak Budi Rahardjo di rumahnya, di kawasan Bojong Koneng Bandung. Saya tidak sempat menunggu, beliau langsung melayani wawancara saya dengan energik. Di rumahnya, terdapat tiga perusahaan yang dijalankan beliau. Maka wajar di halaman rumah puluhan motor dan beberapa mobil parkir. Karena beliau sangat semangat, saya terbawa semangat juga. Hi hi hi

Saya ngobrol dengan Pak Budi selama kurang lebih 45 menit. Topik obrolannya yaitu saya ingin menggali kehidupan Pak Budi yang disamping sebagai dosen ITB juga aktif dalam banyak hal khususnya menjadi seorang technopreneur di bidang IT. Sekarang setidaknya ada tiga perusahaan yang di-run beliau ;INDOCISC, Insan infonesia, dan ID-CERT. Saya tidak akan menceritakan terkait perusahaan-perusahaan beliau, namun yang saya anggap penting di sini adalah bagaimana cerita beliau menapaki karier di bidang IT ini. Beliau saya anggap sebagai dosen yang tidak biasa. Pak Budi menyebut dirinya sendiri sebagai hyper multitasking. Bagaimana tidak, kesibukan Pak Budi sungguh sangat luar biasa mulai dari aktif di kampus membimbing mahasiswa, mentoring bisnis di banyak lokasi di Bandung, me-run bisnis, juga mengerjakan berbagai projek terkait sekuriti. Nah, biarpun begitu beliau sangat welcome pada orang-orang yang pengen nemui beliau, termasuk saya pada waktu itu. Orang yang sekedar ingin wawancara atau nanya-nanya terkait IT dengan tanpa syarat apapun bisa bertemu dengan beliau. Jika tidak percaya, lihat saja blog-blog beliau. Terlihat sekali gaya bahasa beliau yang santai. Saya aja ketika baca tulisan beliau, mau ngakak. Ha ha ha

Kembali ke topik. saya akan mengulas beberapa pikiran beliau yang saya kira sangat penting untuk di sampaikan. Agar tidak melebar satu poin saja dulu. Ya, terkait bagaimana berkembang sebagai starter-up (beneran gak sih istilah ini ?) di bidang teknologi jadi bukan bidang buat kafe atau sejenisnya. Pada awal mulanya, inti dari segalanya adalah kecintaan. Nah, pastikan Anda cinta dengan bidang bisnis yang Anda geluti. Belajar dari Pak Budi, beliau sangat gandrung dengan namanya IT khususnya di bidang pemrogaman. Mengerucut lagi di bidang sekuriti. Maka disitu, biarpun pekerjaan beliau sesibuk apapun akan beres. Do till the end.

Berawal dari projek dari KPU yang didanai UNDP beliau menjalani projek pertama di bidang sekuriti. Di sini beliau didorong rekannya untuk membuat suatu perusahaan. Jelas dalam prosesnya beliau berinteraksi dengan aneka jenis orang (you know lah) kayak sesama rekan kerja, komunitas, dan juga investor. Macam-macam lah. Karena trust, banyak pihak memercayakan pekerjaan terkait sekuriti dan topik IT lain kepada Pak Budi. Lihat saja protofolio di CV beliau, banyak sekali. Di sini Pak Budi sadar bahwa semakin banyak orang percaya, maka diperlukan proses belajar soalnya bidang sekuriti itu sangat dinamis. Anda bayangkan malware (atau sejenis virus) dalam komputer kan berkembang luar biasa. Anda pasti ingat pelajaran biologi dan juga matematika, bahwa virus itu berkembang sesuai dengan deret geometri. Oke kembali ke topik lagi, nah maka Pak Budi harus menguasai ilmu dasar dari malware ini. Apa itu ? Kriptografi. Lebih dasar lagi adalah aljabar. Di sini Pak Budi bekerjasama dengan Bu Intan dan tim dari Prodi Matematika ITB. Pak Budi dan Bu Intan rutin adakan riset bersama seputar malware ini. Mereka "mamanfaatkan" mahasiswa bimbingan S2 dan S3 untuk melakukan tesis dan disertasi di bidang itu. Riset ini tak sekedar riset yang tujuannya untuk di-publish di jurnal internasional saja, tetapi dimanfaatkan di dunia industri. Jadi jelas sekali jluntrungan-nya.

Dari uraian singkat yang dapat saya ambil pelajaran dari seorang technopreneur, Pak Budi Rahardjo, adalah beliau adalah pribadi pembelajar. Itu satu. Kedua, beliau pribadi yang egaliter, tidak membeda-bedakan orang dalam hal bergaul. Maka disini beliau terlihat sekali renyah dalam senyum, bahkan ketika akan saya mintai foto beliau pasang kacamata biar kelihatan ganteng. Ha ha ha

Itu saja dulu, jika sempat saya akan tulis lagi terkait pemikiran Pak Budi yang lain. Stay tune di blog saya :) Btw, kalo ingin unduh buku (draft) punya Pak Budi terkait startup bisa berkunjung ke sini http://budi.rahardjo.id/files/start-up.pdf 

Pak Budi Rahardjo