Showing posts with label #refleksi. Show all posts
Showing posts with label #refleksi. Show all posts

Thursday, August 27, 2020

Domain Baru Semangat Baru

Tepat 17 Agustus 2020, laman pribadi saya berganti dari domain [dot]com menjadi [dot]id. Alamat laman saya sejak itu menjadi https://www.uruqulnadhif.id/. Saya sebenarnya tidak enak untuk mengganti domain lama karena telah ada sejak 2013 silam. Lebih dari sebulan saya menunggu domain lama saya tidak aktif, namun ternyata tahunya dibeli orang. Saya segera setelah itu membeli domain lain dan jatuh pada pilihan [dot]id di jasa penyedia domain dan server yang dimiliki sebuah perusahaan Indonesia. Butuh sekitar 2-3 hari proses hosting selesai dan laman baru saya online.

Di laman baru, beberapa nama menu saya ubah seperti "Profil Blogger" menjadi "My Profile" juga tentunya tagline blog baru saya ini menjadi "Learning to Lead" sebagai motivasi untuk terus menjadi yang terbaik. Meskipun template blog tidak berubah, namun dengan bergantinya domain ini saya menjadi lebih semangat untuk menulis di blog ini dan juga di platform blog saya yang lain di mana saya tautkan di laman ini seperti medium, tumblr, kompasiana, dan wordpress. Selain itu, tentunya tulisan ilmiah sebagai konsekuensi saya sebagai peneliti seperti jurnal dan buku.

 


Blog saya ini merupakan kompilasi dari segala aktivitas saya di dunia maya. Blog ini juga semacam medium saya belajar untuk berkarya khususnya melalui dunia konten. Tidak ada harapan spesifik bahwa melalui tulisan saya akan mengubah sesuatu. Tidak ada yang perlu saya ubah kecuali diri saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tahun 2020, tahun di mana pandemi besar melanda dunia diharapkan menjadi tahun titik balik bagi saya untuk memulai hal baru. Memulai hal baru tentunya disertai dengan semangat baru, semangat 17 Agustus.

Saya mengubah foto profil di beberapa media sosial yang saya miliki tentunya dengan foto baru. Foto yang diambil oleh seorang spesial menambah spesial foto ini. Harapannya foto baru ini merepresentasikan semangat baru untuk berkarya meskipun tengah ada pandemi covid. Tidak ada kata lelah untuk berkarya meskipun di depan banyak sekali rintangan. Namun meskipun laman personal saya baru, folosofi hidup yang saya anut tetap sama yaitu menjadi pribadi yang terus belajar. Saya tidak mengenal kata "gagal" dan "sukses" karena keduanya itu adalah bagian dari proses belajar. Keduanya adalah sekedar label untuk menilai sejauh mana langkah hidup kita. Mari kita hadapi 2020 dan tahun-tahun selanjutnya dengan optimis ! 

Thursday, January 02, 2020

Refleksi 2019

Dekade baru 2020 sudah dimulai. Saatnya saya membuat kilas 2019 dari aktivitas yang saya jalani selama itu. Sejak dari awal tahun, kefokusan saya adalah seputar bagaimana riset saya selesai. Keluarannya yaitu publikasi minimal tiga paper di jurnal internasional Q3. Energi saya kesedot ke sana setiap hari khususnya di pagi dan sore hari dengan nongkrong di kafe sampai malam. Tak hanya riset, saya tetap menjalankan pekerjaan saya yang lain terkait manajemen informasi. Meskipun itu prioritas kedua, namun realitanya saya justru habiskan waktu saya lebih banyak ke situ.

Seingat saya di akhir tahun 2018, saya telah menjalin komunikasi dengan dosen Informatika untuk meminta beberapa mahasiswanya membantu kami di PPID. Alhamdulillah, permintaan saya dikabulkan dengan diberikan tujuh mahasiswa dengan satu diantaranya adalah mentor. Kebetulan di jurusan tersebut matakuliah Rekayasa Perangkat Lunak yang tugas utamanya adalah mengerjakan projek profesional secara berkelompok. Saya memberikan tugas mereka untuk membuat website PPID dengan tampilan/fitur kombinasi dari website PPID milik PPID DKI Jakarta, IPB, dan ITS.

Selain melibatkan mahasiswa IF, kami juga melibatkan 10 mahasiswa S1 lintas jurusan untuk magang di PPID. Mereka mengerjakan banyak hal seperti content creator website dan media sosial, infografis, admin media sosial, video creator, pengembangan portal satu layanan, website LLH, mobile app android, dan juga mengembangkan web PPID. Jika ditotal di semester pertama tahun lalu saya harus mengkoordinasi total 17 mahasiswa aktif. Itu belum ditambah dengan aktivitas rutin di PPID di mana saya harus berkali-kali memimpin rapat seperti penentuan Daftar Informasi Publik (DIP) dan Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIK). Saya juga sempat ke Surabaya untuk mewakili kampus di acara sosialisasi PPID dari Kemenristekdikti.

Saya dengan piagam ITB "Informatif" di Intana Wapres RI
Semester awal selesai, selesai juga koordinasi saya dengan mahasiswa IF. Meskipun demikian, pekerjaan mereka perlu penyempurnaan. Untungnya ada mahasiswa magang di PPID yang menangani persoalan ini. Menjelang semester kedua, pekerjaan besar lainnya ada lagi yaitu pengembangan website official ITB. Saat liburan semester genap, kami merekrut 16 mahasiswa yang akan membantu kami dengan posisi content writer, graphic designer, dan photographer. Mereka kami kontrak 5 bulan. Selain mereka yang masuk dalam tim web di bawah koordinasi saya adalah 3 pegawai dengan posisi backend developer, frontend developer, dan administrasi. Sementara itu, mahasiswa magang untuk PPID kali ini bertambah dua menjadi 12 orang dengan posisi sedikit berbeda dengan semester pertama. Kali ini ada empat orang khusus mengerjakan web ITB Magz (2 orang) dan konten majalah tersebut (2 orang). Jika ditotal, saya mengkoordinasi secara langsung 31 orang.

Di semester dua ini, kami dihadapatkan dengan pemeringkatan keterbukaan informasi publik untuk PPID. Untungnya update DIP-DIK udah, begitu pula pengembangan website-nya. Dalam rangka pemeringkatan, saya seperti tahun sebelumnya turut mendampingi atasan untuk presentasi di Jakarta. Di luar pemeringkatan, saya sempat diutus ke Makassar untuk mewakili kampus menghadiri workshop reformasi birokrasi dari Kemenristekdikti. Tiga bulan menjelang berakhirnya tahun, saya memulai menulis buku tentang “Komersialisasi Teknologi” dengan dosen di MoTLab SBM. Pekerjaan ini adalah subtitusi atas belum berhasilnya saya publikasi paper. Dengan beban yang besar ini, saya spend waktu sore saya hampir setiap hari di kafe. Saya di sana sampai malam sekitar jam 21 atau 22.

Selain pekerjaan rutin, tulisan saya sempat diterima di salah satu surat kabar nasional yaitu Jawa Pos setelah sebelumnya ditolak oleh surat kabar lain. Saya aktif menulis di blog wordpress saya, namun tidak dengan blog domain [dot]com dan juga medium saya. Di sana saya menulis beberapa saja. Di tahun itu, saya belum berhasil di hal asmara meskipun sempat dekat dengan beberapa perempuan. Saya biasa habiskan waktu luang saya untuk jogging di Saparua dan juga ngopi di Los Tjihapit setelah sebelumnya sarapan di Mak Eha.

Luaran

Meskipun masih belum berhasil untuk publikasi di jurnal internasional, juga fokus untuk studi doktoral, alhamdulillah ada beberapa capaian yang bisa saya banggakan di tahun 2019 ini. Pertama, ITB melalui PPID mendapatkan penghargaan tertinggi dari Komisi Informasi Republik Indonesia dengan predikat “Informatif” setelah tahun sebelumnya “Menuju informatif” dan “Kurang Informatif”. Kedua, buku ketiga saya akan segera terbit. Kali ini dengan kolega saya dari MotLab SBM. Lebih senangnya lagi, buku ini diberi kata pengantar dari Pak Kusmayanto Kadiman, salah satu tokoh panutan saya. Ketiga, ITB akan segera memiliki tampilan dan fitur website baru. Kritik saya selama ini alhamdulillah dapat terjawab. Keempat, inisiasi kecil saya seperti ITB Magz dan portal satu layanan sudah ada wujudnya. 

Di ranah lari, alhamdulillah untuk pertama kalinya saya dapat finish marathon 42 km dengan waktu 7 jam kurang 42 detik. Saya terbilang nekat mengikuti event Pocari Bandung Marathon pertengahan tahun tersebut. Gelar "finisher" cukup membuat saya percaya diri sebagai pelari amatir. Kurang lebih tiga bulan setelah event tersebut, saya kembali mengikuti event lari yang kali ini di ITB Ultra Marathon Relay 9 atau lari sekitar 20 km. Saya mendapatkan rute di daerah Cianjur. Selain lari, di tahun 2019 saya sempat bertemu dengan tokoh-tokoh yang menjadi role model saya seperti Pak Wiranto Arismunandar, Pak Kusmayanto Kadiman, Pak Saswinadi Atmojo, Pak Subagjo, Pak Gede Wenten, Pak Trio Adiono, mas Arief Widhiyasa dan Pak Tjia May On (alm).

*) ditulis di Graha Pena Surabaya pada 2 Januari 2020 

Friday, December 07, 2018

Selamat Milad 1 Abad Madrasah Mu'allimin

Pekan ini adalah minggu peringatan milad 1 abad Madrasah Mu'allimin-Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, setelah kemarin (6/12) dihadiri Presiden Jokowi dilanjutkan dengan agenda lain sampai akhir pekan ini. Saya yang tidak bisa secara langsung datang ke Jogja, hanya bisa melihat dari berbagai media sosial seperti Youtube, Facebook, dan Instagram. Saya merasa bangga bahwa madrasah di mana saya pernah sekolah selama 6 tahun, peringatan miladnya sebegitu meriah. Dari jarak jauh, saya melihat optimisme untuk Mu'allimin ke depan untuk menjadi madrasah yang unggul di banyak hal khususnya kepemimpinan (leadership).

Gedung Mu'allimin Lama (sumber : Fanpage Mu'allimin)
Teringat pada 2006 silam saya dihadapkan pada realita untuk tetap bersekolah di Mu'allimin atau keluar. Kala itu saya mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) relatif tinggi dan masuk 10 besar di Mu'allimin di mana sebagian besar memilih untuk pindah ke beberapa SMAN favorit seperti halnya SMA Teladan Yogyakarta. Saya ikut apa kata Bapak. Bapak meminta saya untuk tetap sekolah di Mu'allimin dan berlajutlah saya mondok di sini dengan segala konsekuensinya. Kala itu gedung utama madrasah sedang dibangun pasca gempa 5.9 SR melanda Jogja pada Mei 2006, akibatnya ruang kelas harus berpindah-pindah. Kala itu atmosfer belajar sangat rendah, hampir setiap hari saya tidak pernah absen dari tidur di kelas. Bahkan sampai ada satu pelajaran di mana hampir semua siswa tidur di kelas, tinggal 1-3 orang yang tetap memperhatikan.

Kelas 4-5 (1-2 Aliyah/SMA) keseluruhan waktu habis untuk aktivitas non-akademik. Akademik hanya terfikirkan saat ujian akhir semester. Sebagian besar siswa termasuk saya menghabiskan waktu untuk organisasi. Kala itu saya aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) dengan menjadi staff Departemen Bahasa pada kelas 4 dan koordinator departemen yang sama pada kelas 5. Kegiatan non-organisasi yang pernah saya ikuti diantaranya tim debat bahasa Inggris dan tim olimpiade sains, namun saya tidak pernah sekalipun dapat juara. Saya lebih totalitas di organisasi dari yang lain. Apalagi saat menjadi Badan Pimpinan Harian (BPH) dengan menjadi koordinator departemen, saya mengetuai dua event besar ; Usbu'ul Lughoh (pekan bahasa se-Mu'allimin), dan Galaction (lomba bahasa se-DIY). Di samping itu ada event baru yang belum pernah ada sebelumnya yaitu Mu'allimin Language Master (MLM). Pengalaman ini kemungkinan kecil saya dapatkan jika memilih pindah ke sekolah lain.

Gedung Mu'allimin Baru (sumber : fanpage Mu'allimin)
Euforia organisasi berakhir saat kelas 6 (3 Aliyah/SMA). Saya harus fokus akademik untuk mendapatkan peluang kecil masuk di PTN ternama nasional. Kala itu nilai UN tidak berpengaruh masuk-tidaknya siswa ke PTN. Kelulusan UN hanya sebatas tiket masuk. Karena nilai rapor saya tidak bagus-bagus amat, jalur satu-satunya yang bisa saya masuki adalah jalur Ujian Mandiri (UM) dan jalur seleksi nasional (SNMPTN). Karena jalur ini peminatnya luar biasa besar saya harus mati-matian belajar. Di samping bimbel di madrasah, saya ikut juga bimbel di luar sekolah. Hampir setiap sore saya ke bimbel. Tiba saatnya ujian seleksi masuk PTN, saya gagal di SIMAK UI, UM UGM, dan USM ITB. Tiba saatnya satu ujian pamungkas, SNMPTN. Jika saya gagal, saya tidak akan kuliah tahun tersebut dan menunggu sampai tahun depannya. Takdir berkata lain, alhamdulillah saya diterima di ITB. Saya pun menjadi lulusan Mu'allimin ketiga yang diterima di ITB.

Pesan Kyai Dahlan

Saya teringat betul pesan Buya Syafi'i Ma'arif yang dipampang di baligo besar depan madrasah menjelang kelulusan kami dulu, "Kader Bangsa, Ummat, dan Persyarikatan" sebagai tagline lulusan Mu'allimin. Pesan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa lulusan Mu'allimin dapat memilih ladang amal untuk berjuang di level manapun, tidak terbatas di organisasi Muhammadiyah. Biarpun demikian di manapun kita berada, kita akan tetap memikirkan masa depan Muhammadiyah dalam bentuk sekecil apapun. Saat ini mungkin kita belum bisa meyumbangkan sesuatu ke Muhammadiyah, mungkin di beberapa waktu ke depan. Mau tidak mau, lulusan Mu'allimin adalah kader Muhammadiyah, bukan ormas lain.

Pesan Buya senada dengan pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga pendiri Mu'allimin :

"Muhammadiyah hari ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah Guru, kembalilah pada Muhammadiyah. Jadilah mester, insinyur, dan lain-lainnya dan kembalilah pada Muhammadiyah".

Selamat Milad 1 Abad (1918-2018) Madrasah Mu'allimin-Mu'allimat Muhammadiyah Yogyakarta !

Tuesday, December 19, 2017

Tanpa Ucapan Selamat Ulang Tahun

Tanpa ucapan selamat ulang tahun, tanpa tiupan lilin, atau lainnya, saya memulai hari di hari ulang tahun dengan bangun lebih pagi dari sebelumnya tapi sudah terlewat azan subuh. Betapa sulitnya bangun subuh bagi saya. Saat itu kondisi saya tidak sedang fit, ada sesuatu yang menganggu tenggorokan dan rongga hidung saya. Habis sholat, saya kembali tidur sampai saya dibangunkan oleh gerimis dan sinar matahari. Pecel pical Padang sebagai sarapan saya pagi itu kemudian dilanjutkan dengan menyeduh teh manis hangat di warung Medan tak jauh dari lokasi sarapan. Kindle hitam mengiringi seruputan teh pagi itu, aku membuka buku Technological State in Indonesia buatan senior yang bekerja di Singapura.

**

Aku tetap melakukan langkah yang tolol di selang usia 26 tahun. Aku bahkan melogiskan hal yang tidak logis dan sering kali berfikir mengawang di atas langit. Hal itu membuat kegalauan seringkali muncul tanpa diundang, di mana diri terhanyut ke dalamnya. Kompleksitas hidup membuat diri sukar mencari benang merah dan kemudian meragukan pegangan. Usia 26 adalah pertarungan antara prinsip dan realitas, antara pegangan dan hasrat.

Aku merindukan sosok dan suasana yang bisa diajak berdialog dan berkontempelasi namun itu tak kunjung tiba karena diri sungkan untuk menjemput takdir. Kesendirian yang menjadi pilihan seorang periset seringkali dijadikan kambing hitam untuk mengatakan bahwa itu bukan dunia yang ideal. Hidup di alam pemikiran merasuk dalam pola hubungan dengan sesama manusia, akibatnya diri terlalu sering fokus pada persoalan, bukan pada solusi.

**

Tertulis di candela kamar tepat di depan meja kerjaku di kosan target-target fisikal di tahun 2018, di usiaku ke-27. Saya kira itu tidaklah menarik jika ditulis di sini. Kunci dari semua targetku yaitu satu “Percaya Diri” sebagai seorang lelaki. Membangun kepercayaan diri aku kira tidak mudah, butuh alasan mendasar “Mengapa aku harus Percaya Diri ?”. Jawabannya adalah masalah prinsip dan prinsip itu sifatnya adalah non-fisikal. Semakin tua, aku harus mampu menjadi pribadi yang percaya bahwa aku adalah seorang manusia hidup yang diberi pikiran dan hati. Aku harus membuang jauh rasa takut ditolak, dikacangin, atau bahkan disingkirkan selama aku berpijak pada kebenaran dan cita-cita.

**

Terima kasih Allah SWT yang masih memberi kesempatan pada saya untuk hidup. Aku berniat di usia yang baru ini untuk memperkuat pegangan sehingga tidak terombang-ambing oleh gebyarnya dunia.

Bandung, 19 Desember 2017

Sunday, October 15, 2017

Novel Penyeimbang Oktober yang Sibuk

Oktober ini saya nampaknya bakal 5 kali ke Jakarta. Yang sudah baru dua kali tepatnya tanggal 1 oktober pas nikahan Hakiki, teman SMA, dan 5 Oktober pas Forum Group Duscussion (FGD) IoT Mastel. Selasa besok (17 Oktober) saya kemungkinan akan ke Jakarta kembali untuk ikut serta seminar IoT perwakilan dari tim kajian Mastel, disusul dengan tanggal 23 Oktober untuk presentasi penelitian di IPTEKIN LIPI. Jadwal terakhir ke Jakarta kemungkinan di tanggal 28 Oktober dengan menghadiri nikahan Tomy, teman seangkatan Matematika. Di samping agenda ke Jakarta, agenda lain yang baru saja selesai 10-13 Oktober lalu saat presentasi hasil penelitian awal dengan tim SBM di Kuala Lumpur tepatnya di International Conference on Human Capital and Knowledge Management (IC-HCKM).

Selain agenda di beberapa tempat di luar Bandung, kegiatan di Bandung tetap begitu padat. Saya harus mempersiapkan banyak hal untuk agenda-agenda tadi juga agenda kerjaaan lain seperti halnya proses finishing sistem info publik ITB, pembuatan paper untuk publikasi jurnal internasional dengan tim SBM, buku hasil kajian Tim Mastel yang akan rilis awal Desember, dan juga proses pembuatan buku terkait startup yang sudah saya mulai beberapa bulan lalu. Praktis ini akan menyedot waktu sekali. Saya hampir tidak punya waktu yang benar-benar kosong. Namanya juga projek, proses kontrolnya ya di bagaimana selesainya, jadi saya harus bisa atur-atur waktu.  


Novel

Pekerjaan yang padat itu sesekali munculkan kemalasan yang amat diakibatkan perasaan stres. Perasaaan ini muncul saat diri ingin segera selesaikan kerjaan tapi apa daya diri tidak bisa. Upaya pemaksaan diri untuk bekerja itulah yang munculkan perasaan stres. Wujudnya bisa macam-macam yang dalam pengalaman saya ini negatif. Saya tidak akan cerita di sini nanti jadi demotivasi. Keadaan stres ini jelas setiap orang ingin menjauhi, terkadang juga sulit. Jika saat stres melakukan tindakan negatif, tindakan ini akan terpikir di saat diri ingin melakukan lebih baik. Ada perasaan guilty feeling atau menyesal entah karena rugi materi atau moriil. Nah, ada satu teori yang mengatakan untuk tidak stres pergi ke kafe dan ngopi di sana. Teori ini tidak guna bagi saya, tetap saja stres ya stres. Hari ini saya dapatkan rumusan baru : Baca Novel !

Ini adalah kesenangan saya dulu biarpun novel-novel yang saya baca terkesan biasa saja, tapi saya nikmat dengan membaca. Imajinasi saya mengarah ke hal-hal idealisasi yang dibuat oleh penulis novel dan itu positif bagi kepedean saya, hi hi. Saya sedang memulai membaca novel "Golak Ganesha" yang menceritakan kondisi ITB pada 1970an ketika kampus sedang diduduki tentara. Moga novel ini bisa menemani masa-masa sibuk bulan Oktober. 

Monday, December 19, 2016

26 Tahun, Masih Muda Sih Tapi

Tepat 26 tahun lalu aku dilahirkan di dunia ini. Artinya usiaku sudah seperempat abad lebih setahun. Memang sih terlihat masih muda, secara aku belum sampai kepala tiga. Tapi apa sih arti dari umur jika keberadaan kita di dunia ala kadarnya. Sebelum aku cerita apa yang telah dilakukan di usia 25 tahun, saat aku menulis ini aku tidak betul-betul fit. Aku terserang pilek dari semalam. Ingus bening seringkali keluar di saat aku berposisi ingin kerjakan sesuatu. Bahkan saat aku sholat Dzuhur berjamaah di masjid tadi siang, aku tidak enak dengan jamaah di samping kanan dan kiri aku. Aku batuk-batuk dan tentunya disertai dengan keluar ingus biarpun dikit. Aku jauh dari fokus tunaikan ibadah.  Dalam hari kecil aku, “Kapan ya sholat ini segera selesai ?”,  jauh dari khusyuk memang.

Saat ini aku sebenarnya berencana melengkapi bahan tesis yang akan aku presentasikan kamis besok. Baru baca-baca satu bab di buku Triple Helix Etzkowitz tapi mau menuliskan di laporan tesis dan powerpoint masih sulit. Bersin-bersin dan ingus seringkali keluar. Tissue satu wadah pun tinggal setengah. Aku coba istirahat tadi sebelum dzuhur, juga ambil makan pagi dan siang dengan lauk tongkol dan ayam dari Ibu kos. Buah pisang tak ketinggalan sama apel New Zealand yang aku beli kemarin masih ada dua biji. Di samping kasur, air putih dan air teh manis menemani saat-saatku menulis cerita ini. O iya, aku tadi install aplikasi NIKE + dipakai untuk ukur jarak lari. Moga aja sore nanti bisa aku pakai, moga-moga saja pilek aku menjadi agak mendingan.

Tidak semuanya perlu dibuktikan, enjoy aja
Jika melihat taget “25 tahun usia emas” yang aku tuliskan di cermin kaca dimana aku sering lihat wajah itemku, jelas jauh dari tercapai. Di usia ini aku seringkali buang waktu atau istilahnya “wasting time”. Lihat aku sampai sekarang aku belum pratesis apalagi sidang, ditambah dengan tulisan yang jarang-jarang, publikasi  boro-boro, atau pacar. Jauh betul kalo poin terakhir mah. Aku justru sering bertarung dengan pikiranku sendiri. Ini mungkin akibat negatif dari berfikir kalkulatif ala matematika, “Jika A maka B”. Nah, target-target yang kubuat juga terkesan dengan unsur kalkulatif yang kuat. Akhirnya aku jauh dari realistik. Yang aku targetkan jauh dari unsur kegembiraan. Ini menjadikan hari-hariku dipenuhi target-target yang menjemukan alih-alih menyenangkan. Saat naik gunung di Papandayan pada April 2016 lalu, pikiranku ada pada ujian Matematika Keuangan Internasional (MKI) yang aku ambil di Jurusan Matematika ITB. Saat aku liburan lebaran di rumah selama 2 minggu, aku kepikiran dengan tesis yang harus segera diselesaikan. Saat kerjakan tesis, aku kepikiran dengan pekerjaan pasca tesis. Ini artinya aku sulit fokus. Indikasi apa yang membuatku demikian, adalah karena kurang piknik.

Selama kuliah mengambil konsentrasi di bidang Ilmu Sosial yang masih nyrempet-nyrempet dengan ilmu keteknikan, aku semakin tahu banyak bahwa persoalan bangsa ini kompleks. Saking kompleksnya jadiin aku bingung setengah mati. Apalagi aku punya background “aktivis”.
Bayangkan saja, ketika ngelihat pejabat di Jakarta sana yang gak becus benerin kementerian, aku gak bisa apa-apa selain mengutuk lewan lisan dan jika ada waktu aku tulis lewat tulisan. Ini kan menyakitkan bagi aku. Jadinya penyelesaian persoalan secara langsung hanya bisa aku lihat dari Televisi atau media massa lainnya. Jelas ini menyakitkan. Mungkin aku telah terjangkiti sindrom “intelektual” yang mikirin persoalan tanpa diajak berembug untuk selesaikan persoalan. Maka, bisanya cuma bisa “maki-maki” di tulisan, bukan status FB, celetukan di twitter, dan medsos lain. Padahal buat satu tulisan saja, energinya gede banget. Aku pernah merasakan itu. Aku pernah dicritai salah seorang dosen muda jika satu dosen di FSRD biasa nulis sebelum subuh saat orang-orang pada tidur dengan menghabiskan waktu beberapa jam. Gila memang.

Sebenarnya menulis itu menyenangkan bagiku. Seringkali kadang dalam satu hari dua essay 800-an kata kubuat. Ya, nggak kayak dosen FSRD yang ambil waktu saat pra subuh. Aku sih normal-normal saja di pagi dan siang hari atau tidak terlalu malam. Tulisanku juga seringkali mengalir begitu saja biarpun ambil beberapa referensi. Jika ditanya, “Berat ya tulisanmu?”, bisa jadi sih. Tapi aku akui minimnya bacaan dan pengalaman membuat analisis di tulisanku kurang begitu tajam. Aku kira ini diakibatkan oleh kebosananku di ranah akademik. Aku memandang lingkungan akademik terkadang menjemukan. Aku seringkali melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri dosen-dosen administratif yang hanya kejar KUM alih-alih kembangkan keilmuan. Yang dipikirkan bukannya hal-hal terkait perbaikan melainkan projek. Ini kan menjengkelkan. Tapi di sana aku mulai menyadari bahwa dunia akademik seperti di kampusku masih jauh dari sifat egaliter yang diadopsi umumnya oleh  para intelektual. Aku masih harus hormat karena senioritas, bukan karena keilmuannya. Jengkel sih tapi apa boleh buat.

Nah, kondisi ketidakidealan ini seringkali terfikirkan dan jadikan aku stres. Mungkin karena pandanganku hitam-putih. Tapi untungnya aku menemukan hobi baru yaitu lari. Sudah lebih dari sebulan aku lari hampir setiap hari. Awalnya hanya lari 6 putaran, trus 6 putaran plus fitness, dan sekarang biasanya lebih dari 6 putaran. Aku semacam menemukan kedamaian di saat lari. Awalnya sih target-target saja tapi akhirnya nikmat juga. Aku juga lihat perubahan dalam postur tubuh dimana saat jalan terlihat agak gagah. Mungkin beberapa bulan lagi aku akan punya dada seperti Iko Uwais (hahaha, ngarep). Tapi intinya, lari membuatku asik. Apalagi saat beberapa minggu lalu aku dapetin buku Murakami dari Kineruku tentang memoir larinya, jadi lebih semangat lagi aku dalam berlari. Memang belum sih aku lari marathon kayak dia, tapi setidaknya lari beberapa putaran keliling lapangan fitness Teuku Umar bisa menyenangkan. Itu jauh lebih cukup aku kira.

Akhirnya (karena aku harus ngerjain yang lain), tulisan ini harus aku cukupi. Intinya di usia 26 nanti insyaAllah aku akan lulus S2 di bulan Januari 2017 dan setelah itu aku akan kerja dan mungkin akan dapat jodoh (yang terakhir ini menarik dibahas kapan-kapan). Aku belum ada bayangan ngambil S3 dalam waktu dekat, tapi yang paling penting adalah aku pengen tidak lagi di Bandung (juga Jakarta). Aku pengen muter-muter daerah lain (mungkin juga Luar Negeri). But your English must be improved. Gambar ditulisan ini aku pakai Nash-Alicia di film Beautiful Mind di saat mereka berdua pacaran. Menarik bagi aku karena Alicia jelaskan apa itu cinta. Aku kasih gambarannya sedikit : Cinta itu seperti alam semesta, tidak dapat dibuktikan hanya bisa dilihat tanda-tandanya saja.

Bandung, 19 Desember 2016

Saturday, July 16, 2016

#Refleksi

Suatu ketika seorang anak muda memiliki ambisi yang luar biasa untuk bangsanya : "Saya ingin menjadi memajukan Indonesia. Negara ini sudah sekian lama dikuasai orang-orang yang pro-kemandekan, tidak pro-masa depan. Ini darurat, saya merasa terpanggil".

Anak muda ini pun semangat ketika membicaran masalah kebangsaan. Ia seringkali menyalahkan para birokrat negara yang menurutnya tidak tahu menahu bagaimana mengatur negara. "Dasar menteri ini goblok, tidak bisa apa-apa, coba saya yang mimpin. Akan ada perubahan yang signifikan di kementerian itu", ungkap pemuda itu suatu saat.

Pemuda ini terasa angker bagi sebagaian besar temannya. "Bawaannya kritik melulu anak ini, bosan saya", ungkap salah satu temannya. Ini membuat pemuda ini kemudian terasing, Ia bergabung dengan sesama orang terasing yang membicarakan masalah-masalah sosial-kemasyarakatan dan sering menyalahkan orang-orang yang tidak satu pandangan. Tak jarang juga, ia bersama teman-teman se-gank-nya sinis terhadap para pemuda kebanyakan. "Pemuda itu bodoh sekali, bisanya gitu doang. Padahal dia kan lulusan kampus ternama. Masak gini aja tidak bisa. Dasar robot-robot industri !", celoteh dia suatu saat.

Keterasingan itu berlanjut menjadi keterasingan yang hakiki. Ia pada akhirnya menganggap teman sesama gank-nya juga asing. Ia pun akhirnya sendiri. Fikirannya pun diolah secara sendiri. Ia enggan bertemu dengan orang-orang. Sampai akhirnya, Ia pun asing dengan dirinya sendiri. Ia tak kenal dengan siapa dirinya. Terkadang, Ia menyentuh-nyentuh dinding. "Ini alam nyata atau imajiner ?", tanyannnya suatu saat. Ia bangga ketika agak menyerupai tindakan John Nash yang menginap schizophrenia itu. "Biar sakit kayak gini tapi mirip John Nash, pintar !", lamunnya di suatu sore. Ia sukar bergaul dengan sesama orang. Ia pun meragui ajaran agama yang dipeluknya. Pemuda ini kehilangan pegangan. 

Di tengah kesendiriannya, Ia mencoba refleksi terkait kondisinya hari ini. Di pagi setelah subuh, Ia berjalan mengitari jalanan desa yang panjang dengan sawah-sawah masih terlihat hijau. Ia melihat buruh-buruh tani pergi ke sawah dengan mengendarai sepeda "onta"nya, juga burung "kuntul" yang berkerumun dan terbang rendah. Ia juga menyaksikan sekumpulan warga desa sarapan di sebuah warung kecil dari bambu. Di hari berikutnya anak muda ini kembali jalan dan melihat pemandangan serupa seperti hari lalu. Ia pun kemudian merenung, "Apakah dengan adanya keterbatasan materi yang membuat orang-orang itu menikmati kehidupan ?", "Apakah pasrah pada nasib adalah kunci kebahagiaan ?". Pertanyaan-pertanyaan itu memutari kepalanya sampai seratus kali. Ia kemudian berkaca pada dirinya hari ini, "Saya orang terdidik, berkecukupan secara materi, masih muda, mengapa seringkali saya stres ?". Pertanyaan-pertanyaan dengan redaksi lain bermunculan biarpun intinya tidak berbeda. Di hari berikutnya sampai tujuh hari setelahnya, muncul 1001 pertanyaan refleksi yang membuat Ia sampai pada satu kesimpulan, "Hidup itu sejatinya apa dan untuk apa ?".

Suatu saat, di sebuah surau ada seorang nenek yang di pagi gelap telah bersiap untuk sembahyang subuh. Wajahnya gelap dan giginya mengerikan, namun senyumnya renyah. Ia dengan rela menunggu iqomah yang setelah 20 menit pasca azan tidak kunjung datang. Ia ambil salat sunnah 2 rokaat sebelum salat fardlu, ditambah dengan zikir dan kalimat-kalimat thoyyibah komat-kamit dari bibirnya.

Tiba saatnya sang dai muda masuk surau dan sembahyang berjamaah diadakan.

Salat subuh kemudian diadakan dengan dai muda sebagai imamnya. Dengan nada syahdu, imam membaca ayat-ayat suci yang membuat bulu-kuduk anak muda ini merinding. "Assalamualaikum warohmatulloh", "Assalamualaikum warohmatulloh", salat dua rakaat ini diakhiri. Jamaah pun berdzikir, dan dengan disuasana yang hening dai muda membuka dengan kultum subuh, "Assalammualaikum warohmatullohi wabarokaatuh".

bersambung ...
Posted on Saturday, July 16, 2016 | Categories: