Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts
Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts

Friday, December 07, 2018

Selamat Milad 1 Abad Madrasah Mu'allimin

Pekan ini adalah minggu peringatan milad 1 abad Madrasah Mu'allimin-Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, setelah kemarin (6/12) dihadiri Presiden Jokowi dilanjutkan dengan agenda lain sampai akhir pekan ini. Saya yang tidak bisa secara langsung datang ke Jogja, hanya bisa melihat dari berbagai media sosial seperti Youtube, Facebook, dan Instagram. Saya merasa bangga bahwa madrasah di mana saya pernah sekolah selama 6 tahun, peringatan miladnya sebegitu meriah. Dari jarak jauh, saya melihat optimisme untuk Mu'allimin ke depan untuk menjadi madrasah yang unggul di banyak hal khususnya kepemimpinan (leadership).

Gedung Mu'allimin Lama (sumber : Fanpage Mu'allimin)
Teringat pada 2006 silam saya dihadapkan pada realita untuk tetap bersekolah di Mu'allimin atau keluar. Kala itu saya mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) relatif tinggi dan masuk 10 besar di Mu'allimin di mana sebagian besar memilih untuk pindah ke beberapa SMAN favorit seperti halnya SMA Teladan Yogyakarta. Saya ikut apa kata Bapak. Bapak meminta saya untuk tetap sekolah di Mu'allimin dan berlajutlah saya mondok di sini dengan segala konsekuensinya. Kala itu gedung utama madrasah sedang dibangun pasca gempa 5.9 SR melanda Jogja pada Mei 2006, akibatnya ruang kelas harus berpindah-pindah. Kala itu atmosfer belajar sangat rendah, hampir setiap hari saya tidak pernah absen dari tidur di kelas. Bahkan sampai ada satu pelajaran di mana hampir semua siswa tidur di kelas, tinggal 1-3 orang yang tetap memperhatikan.

Kelas 4-5 (1-2 Aliyah/SMA) keseluruhan waktu habis untuk aktivitas non-akademik. Akademik hanya terfikirkan saat ujian akhir semester. Sebagian besar siswa termasuk saya menghabiskan waktu untuk organisasi. Kala itu saya aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) dengan menjadi staff Departemen Bahasa pada kelas 4 dan koordinator departemen yang sama pada kelas 5. Kegiatan non-organisasi yang pernah saya ikuti diantaranya tim debat bahasa Inggris dan tim olimpiade sains, namun saya tidak pernah sekalipun dapat juara. Saya lebih totalitas di organisasi dari yang lain. Apalagi saat menjadi Badan Pimpinan Harian (BPH) dengan menjadi koordinator departemen, saya mengetuai dua event besar ; Usbu'ul Lughoh (pekan bahasa se-Mu'allimin), dan Galaction (lomba bahasa se-DIY). Di samping itu ada event baru yang belum pernah ada sebelumnya yaitu Mu'allimin Language Master (MLM). Pengalaman ini kemungkinan kecil saya dapatkan jika memilih pindah ke sekolah lain.

Gedung Mu'allimin Baru (sumber : fanpage Mu'allimin)
Euforia organisasi berakhir saat kelas 6 (3 Aliyah/SMA). Saya harus fokus akademik untuk mendapatkan peluang kecil masuk di PTN ternama nasional. Kala itu nilai UN tidak berpengaruh masuk-tidaknya siswa ke PTN. Kelulusan UN hanya sebatas tiket masuk. Karena nilai rapor saya tidak bagus-bagus amat, jalur satu-satunya yang bisa saya masuki adalah jalur Ujian Mandiri (UM) dan jalur seleksi nasional (SNMPTN). Karena jalur ini peminatnya luar biasa besar saya harus mati-matian belajar. Di samping bimbel di madrasah, saya ikut juga bimbel di luar sekolah. Hampir setiap sore saya ke bimbel. Tiba saatnya ujian seleksi masuk PTN, saya gagal di SIMAK UI, UM UGM, dan USM ITB. Tiba saatnya satu ujian pamungkas, SNMPTN. Jika saya gagal, saya tidak akan kuliah tahun tersebut dan menunggu sampai tahun depannya. Takdir berkata lain, alhamdulillah saya diterima di ITB. Saya pun menjadi lulusan Mu'allimin ketiga yang diterima di ITB.

Pesan Kyai Dahlan

Saya teringat betul pesan Buya Syafi'i Ma'arif yang dipampang di baligo besar depan madrasah menjelang kelulusan kami dulu, "Kader Bangsa, Ummat, dan Persyarikatan" sebagai tagline lulusan Mu'allimin. Pesan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa lulusan Mu'allimin dapat memilih ladang amal untuk berjuang di level manapun, tidak terbatas di organisasi Muhammadiyah. Biarpun demikian di manapun kita berada, kita akan tetap memikirkan masa depan Muhammadiyah dalam bentuk sekecil apapun. Saat ini mungkin kita belum bisa meyumbangkan sesuatu ke Muhammadiyah, mungkin di beberapa waktu ke depan. Mau tidak mau, lulusan Mu'allimin adalah kader Muhammadiyah, bukan ormas lain.

Pesan Buya senada dengan pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga pendiri Mu'allimin :

"Muhammadiyah hari ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah Guru, kembalilah pada Muhammadiyah. Jadilah mester, insinyur, dan lain-lainnya dan kembalilah pada Muhammadiyah".

Selamat Milad 1 Abad (1918-2018) Madrasah Mu'allimin-Mu'allimat Muhammadiyah Yogyakarta !

Saturday, April 16, 2016

Iptek dan Peran Cendekiawan Muhammadiyah

Oleh : Uruqul Nadhif Dzakiy[1]

“Aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu, dengan penuh harapan agar Muhammadiyah dapat dipelihara dan dijaga dengan sesungguhnya. Karena dipelihara dan dijaga, hendaklah dapat abadi hidup Muhammadiyah kita. Memelihara dam menjaga Muhammadiyah bukan pekerjaan mudah, maka aku tetap berdo’a setiap masa dan ketika dihadapkan ilahi Robbi. Begitu pula mohon berkat restu do’a limpahan rahmat karunia Allah, agar Muhammadiyah tetap maju, berbuah dan memberi manfaat bagi seluruh manusia sepanjang masa, dari zaman ke zaman. Dan aku berdo’a agar kamu sekalian yang mewarisi, menjaga, dan memajukan Muhammadiyah” – KH. Ahmad Dahlan, 1923

Dalam literatur ilmu ekonomi, produktivita adalah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Impilikasi akhirnya adalah kesejahteraan rakyat. Produktivitas secara sederhana didefinisikan dengan menggunakan input minimal namun didapatkan output maksimal. Produktivitas ini dipicu oleh berbagai faktor mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain-lain. Dimana letak teknologi ? Teknologi diletakkan dalam fungsi produksi. Secara sederhana fungsi yang dimaksud yaitu F(K,L) dimana K adalah kapital/modal dan L adalah tenaga kerja, sementara F adalah fungsi produksi. Ada yang mengatakan teknologi embedded di sana. Produktivitas yang dimaksud di atas adalah turunan dari fungsi produksi. Jadi tingginya produktivitas suatu bangsa merupakan cerminan kecanggihan teknologinya.

Dari sana kita akan bertanya, bagaimana tingkat produktivitas orang Indonesia ? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan aneka variasi jawaban. Ada yang menjawab, orang Indonesia itu produktif buktinya ekonomi kita tumbuh, buktinya krisis global pada 2008 lewat. Ada lagi yang menjawab lebih jauh lagi, dulu umat Islam jaya apalagi di kekhalifahan Usmaniyah. Kita dulu kuasai teknologi dan juga ekonomi. Jawaban-jawaban ini dengan mudah dibantah dengan permanent income hypothesis yang intinya mengatakan “Perilakumu hari ini cerminan dari nasibmu di masa mendatang”. Jadi intinya jangan bernostalgia dengan masa lalu. Dalam film Dead Poet Society dikatakan “Seize the day, rebutlah harimu!”.

Saya tidak akan membahas dunia Islam secara luas, namun terbatas Indonesia saja. Kemudian saya akan elaborasi potensi yang dapat dilakukan cendekiawan Muhammadiyah khususnya mereka yang bergelut di bidang sains dan teknologi. Potensi yang dimaksud adalah menjadi pelaku untuk kemajuan melalui persyarikatan Muhammadiyah. Di sini akan saya singgung beberapa bidang yang terdapat dalam struktural Persyarikatan Muhammadiyah. Saya baru bisa singgung di tingkat Pimpinan Pusat, belum sampai struktural di bawahnya seperti wilayah, daerah, cabang, dan ranting.

Saintek di Indonesia

Seperti yang saya jelaskan di muka bahwa kemajuan teknologi dapat diwakili (biarpun tidak sepenuhnya) dari tingkat produktivitas. Jika memakai definisi sederhana dari produktivitas maka perhitungannya adalah income total yang dihasilkan dari tenaga kerja dibagi dengan jumlah total dari tenaga kerja. Di sini kita nantinya akan mendapatkan jumlah income yang dihasilkan per bulan per satu pekerja (rata-rata). Data tersebut tidak berhasil saya dapatkan, namun saya hanya mendapatkan data gaji (disposable income) rata-rata orang Indonesia per bulan. Berdasarkan data yang dihimpun numbeo.com[2], Indonesia menempati peringkat 101 dengan 319.70 $ per bulan, sementara Malaysia (48/892.98 $), China (43/992.02 $), dan Amerika Serikat (11/2,794.81 $). Peringkat 1 ditempati Swiss dengan 5,781.75 $.

Gaji per bulan jelas disumbang oleh orang-orang yang bekerja. Oleh karenanya kita lihat berapa persen tenaga kerja kita. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio penduduk bekerja terhadap total penduduk adalah sebasar 61,7 % per Agustus 2015 (data terakhir). Artinya 319.70 $ disumbang oleh seorang dari 61,7 % penduduk Indonesia atau sekitar 157 juta (dari 255.461.700 pada 2015). Dari sekian persen penduduk yang bekerja, jika di-break down, berapa persen yang bekerja sebagai profesional  di perusahaan (dengan gaji tinggi) dan berapa persen yang bekerja serabutan (dengan gaji tidak menentu dan rendah).

Saintek di Indonesia jika dikorelasikan dengan gaji per bulan masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa perkembangannya di Indonesia tidak berdampak pada produktivitas orang Indonesia. Anda mungkin akan berpendapat, saintek itu tidak penting karena tidak berkorelasi dengan income buktinya sudah triliunan rupiah APBN digelontorkan buat perkembangan saintek tapi tetap saja perekonomian kita begitu-begitu saja.  Atau pendapat kedua, jelas saja income kita rendah, kan kita tidak kembangkan saintek dengan benar. Jika hanya dua pendapat ini, saya akan memilih alasan kedua biarpun demikian opsi pertama tidak benar-benar salah, masih ada benarnya.

Di opsi kedua pun saya tidak 100 % setuju, mengapa ? Karena di opsi kedua fulus minded alias hanya didasarkan pada material, uang. Saintek tidak sekedar itu tetapi lebih dari itu. Maksudnya apa ? Saya kira ini bahasan menarik dalam pertemuan kita nanti. Ini ada hubungannya dengan philosophy of technology (?) dan jelas panjang ceritanya. Nah, saya aka mencoba menggali beberapa data yang merepresetasikan pentingnya saintek. Pertama, kreativitas. Mengapa kreativitas ?. Hubungannya apa dengan saintek ?.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh martinprosperity.org[3], tingkat kreativitas (Global Creativity Index/GCI) Indonesia menempati nomor 115 dengan nilai 0,202. Sementara itu Malaysia (63/0.455), China(62/0.462), dan Amerika Serikat (2/0.950). GCI merupakan gabungan dari 3T (Teknologi[4], Talenta[5], dan Toleransi[6]), didasarkan pada peringkat dari tiga indeks keseluruhan dari tiga variabel tersebut. Perhitungan dilakukan secara equal artinya hasil dari ketiga indeks dijumlahkan dan selanjutnya dibagi tiga. Data ini cukup menggambarkan bahwa tingkat kreativitas bangsa ini masih rendah. Artinya orang-orang Indonesia belum banyak yang berfikir terbuka dan berkreasi yang positif. Ini cermin bagi kita yang muda, ngapain aja kita sekolah selama ini.

Jika data GCI dianggap kurang representatif menggambarkan kondisi Indonesia, data Global Innovation Index[7] (GII) bisa dirujuk. Di sana Indonesia menempati peringkat 97 dengan 29,79 poin, sementara Malaysia (32/45,98), China (29/47,47), Amerika Serikat (5/60,10). Peringkat 1 dihuni Swiss dengan 68,30 poin.

Tidak usah saya tunjukkan berapa budget pengembangan iptek di Indonesia, kita pasti mafhum bila dibandingkan dengan negara maju  pastilah  kita jauh. Namun sebenarnya yang menjadi persoalan inti bukanlah ini, namun paradigma proses transformasi penelitian kita yang keliru. Aliran inovasi masihlah difahami sebagai skema linear yang ini memunculkan masalah ketiadaan proses trasformasi pengetahuan di antara lembaga riset dan proses penelitian berada dalam lintasan irreversible. Sehingga antar lembaga peneltian seringlah tumpang tindih baik program penelitian maupun kewenangan. Selain itu yang paling fatal adalah ketiadaan gambaran kedepan riset Indonesia inginnya ke mana. Padahal untuk membentuk Republik Iptek menurut Yuliar (2011), selain penelitian harus berlangsung dalam lintasan reversible, juga perlu ada relasi-relasi antara jejaring penelitian dan jejaring non-penelitian yang memungkinankan ruang pembelajaran.

Potensi dari Persyarikatan

Lebih dari 100 tahun Persyarikatan Muhammadiyah berada di tanah air, bahkan meluas hingga di mancanegara dengan membentuk cabang istimewa. Keeksisan ini tak lain karena kiprah riil dari ormas ini kepada masyarakat. Salah satunya yaitu di dunia pendidikan. Jika dibandingkan dengan PTN di Indonesia, Muhammadiyah memiliki 161 buah yang tersebar di seluruh pelosok nusantara yang terdiri dari akademi, politeknik, institut, sekolah tinggi, dan universitas. Bandingkan dengan yang dimiliki oleh negara yang berjumlah 204 Perguruan Tinggi ( 15 akademi, 48 politeknik, 19 institut, 68 sekolah tinggi, 54 universitas) (MPI PP Muhammadiyah, 2013). Jangan tanya berapa banyak SD,SMP, SMA yang dimiliki ormas ini.

Dari aspek ini saja kira-kira apa yang dapat dilakukan oleh cendekiawan Muhammadiyah yang mendalami sains dan teknologi ? Tak lain adalah mewarnai kampus-kampus tersebut dengan nuansa sains dan teknologi. Jika ditanya bagaimana caranya ? Bisa dengan menjadi tenaga pendidik/peneliti di lembaga-lembaga tersebut. Ini saya kira tidak mudah karena di universitas negeri pun belum bisa dikatakan sukses. Dalam persepektif jaringan aktor, ide ini juga bisa dikatakan sulit biarpun tidak juga mustahil, karena stakeholder di berbagai PTM banyak sekali disertai dengan variasi kepentingan yang beragam. Intinya, menumbuhkan critical mass di tubuh Muhammadiyah untuk ngeh dengan sains dan teknologi.

Segi lainnya, satu hal yang menjadi titik lemah Muhammadiyah adalah kurangnya objektivikasi persoalan khususnya yang terkait kelompok sosial marjinal seperti kaum dhu’afa, masakin, fuqoro, dan mustadh’afin (Kuntowijoyo, 1995). Di sini perlunya cendekiawan Muhammadiyah untuk memformulasi dan menstrukturkan konsepsi lapangan sosial yang digarap oleh Muhammadiyah sehingga lebih berdampak riil ke masyarakat. Cendekiawan yang mendalami sains dan teknologi dapat mendifusi teknologi tepat guna sebagai contoh dalam teknis pemecahan persoalan.


Referensi :


Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2015, Badan Pusat Statistik


Yuliar, Sonny. (2011). Tranformasi Penelitian ke Dalam Inovasi, Jakarta : Penerbit Dewan Riset Nasional

Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. (2013). Muhammadiyah 100 Tahun Menyinari Negeri

Kuntowijoyo dkk. (1995). Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru. Yogyakarta : Mizan.

Cornell University, INSEAD, and WIPO. (2015). The Global Innovation Index 2015: Effective Innovation Policies for Development , Fontainebleau, Ithaca, and Geneva.



[1] Uruqul Nadhif Dzakiy adalah mahasiswa Magister Studi Pembangunan ITB

[2] Numbeo is the world’s largest database of user contributed data about cities and countries worldwide. Numbeo provides current and timely information on world living conditions including cost of living, housing indicators, health care, traffic, crime and pollution. (http://www.numbeo.com/common/)

[3] The MPI aims to deepen our understanding of economic prosperity. Housed the University of Toronto’s Rotman School of Management, MPI’s mission is to develop a new understanding of, and inform, the broader public conversation about shared and sustainable prosperity that should be an essential part of democratic capitalism. Led by world leading thinkers like Roger Martin, Richard Florida and Don Tapscott, the Institute’s fellows and researchers want to help create an enduring prosperity for all. (http://martinprosperity.org/about/the-institute/)

[4] Dua variable dari indeks teknologi yaitu : investasi R&D dan inovasi (paten)

[5] Two measures of talent – one that captures the creative class, the other based on educational attainment

[6] two measures of tolerance based on surveys of attitudes toward ethnic and racial minorities and gay and lesbian people.

[7]The Global Innovation Index GII) relies on two sub-indices, the Innovation Input Sub-Index and the Innovation Output Sub-Index, each built around pillars. Five input pillars capture elements of the national economy that enable innovative activities: (1) Institutions, (2) Human capital and research, (3) Infrastructure, (4) Market sophistication, and (5) Business sophistication. Two output pillars capture actual evidence of innovation outputs: (6) Knowledge and technology outputs and (7) Creative outputs. (https://www.globalinnovationindex.org/content/page/GII-Home) 

Sunday, January 31, 2016

Cerita dari Peneleh Gang VII

Senin (4/1/2016) saya bersama kakak saya mengunjungi rumah HOS Cokroaminoto di Jalan Peneleh Gang VII. Dengan dibantu tukang becak yang mengantarkan kami dari Pasar Turi ke lokasi serta setelah bertanya-tanya dengan warga setempat. Setibanya di lokasi, saya mengamati rumah berwarna hijau kebiru-biruan, konon itu rumahnya HOS Cokroaminoto (Pak Cokro). Di zaman Pak Cokro, rumah ini dijadikan kos-kosan dimana penghuninya saat itu adalah anak-anak muda yang kelak menjadi tokoh pergerakan nasional dengan corak ideologi yang berbeda-beda; Soekarno dengan nasionalisme, Semaun dengan komunisme, dan Kartosoewirjo dengan Islam. Rumah ini terlihat belum lama dipugar, terlihat dari cat rumah ini yang bisa digolongkan baru. Kami bertemu dengan tetangga rumah, seorang Ibu paruh baya. Beliau memberi tahu kami bahwa pengunjung diizinkan masuk ke lokasi dengan meminta izin dari ketua RT. Beliau mengantarkan kami ke rumah ketua RT dan kami bertemu Ibu RT. Ketua RT setempat, Pak Eko namanya, kebetulan sedang bekerja.
Rumah HOS Cokroaminoto tampak depan (dok. pribadi)
Diantar Bu RT, Bu Ana namanya, kami mengunjungi rumah hijau ini. Rumah Pak RT tak jauh dengan lokasi ini. Kami berjalan kurang dari lima menit. Di sepanjang gang ini banyak didapati bangunan tua peninggalan Belanda. Rumah-rumah di sekitar lokasi bisa dikatakan kecil dan di gang ini tidak saya dapati mobil satupun. Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada Bu Ana tentang dua kuburan tak jauh dari rumah Pak Cokro. Beliau katakan, " Itu kuburan sesepuh kampung". Di sepanjang jalan kami bercakap-cakap dengan Ibu asal Malang ini.

Suasana Rumah

Rumah HOS Cokroaminoto yang juga merupakan rumah indekost Bung Karno saat SMA di Surabaya tidak luas. Menurut cerita toko buku depan rumah HOS Cokro, warga setempat mengenal rumah ini belum lama setelah Megawati menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya, saat Megawati menduduki RI 1, rumah ini dikenal sebagai rumah Bung Karno. Pada masa itu sekitaran Gang Paneleh VII dipugar oleh kader PDIP. Tiba-tiba aja tak lama setelah itu, sudah ada plang pengumuman bertuliskan Rumah HOS Cokroaminoto di depan rumah.
 
Ruang tamu di bagian dalam rumah (dok. pribadi)
Jauh sebelum itu, rumah ini pernah didiami oleh Polisi. Kemudian sang Polisi ini pergi entah kemana dan kunci rumah dititipkan oleh seorang tetangga tepat di depan rumah ini, Bu Narjo namanya. Oleh anak angkat Janda ini, rumah tersebut dipakai sebagai kos-kosan sampai rumah ini dikenal sebagai rumah Bung Karno. Jadi lama sekali rumah ini dipakai sebagai kos-kosan yang menjadikan warga setempat tidak mencurigai rumah ini sebagai rumah seorang pahlawan.
 
Di dinding rumah, banyak dijumpai foto berpigura atau tulisan sejarah
HOS. Cokro dan penghuni indekost (dok. pribadi)
Rumah ini terdiri dari dua kamar. satu kamar ditempati HOS Cokroaminoto dan keluarga, dan satu kamar luas ukuran sekitar 10 x 4.5 m2 di lantai dua yang ditempati oleh anak-anak indekost. Adapun kamar mandi sudah tidak asli. Pemkot Surabaya melalui dinas terkait mengganti kamar mandi lama dengan yang baru. Bekas-bekasnya hilang sama sekali. Berdasarkan penuturan Bu Ana, kamar mandi lama berupa batu bata yang tersusun rapi. Seringkali cucu HOS Cokro, Bu Ani (alm) – istri MS Hidayat (Menteri Perindustrian), mandi di sini saat berkunjung ke Surabaya. Dinding-dinding dari rumah ini dihiasi oleh foto-foto dan aneka pigura berisi penjelasan terkait kiprah HOS Cokro maupun Bung Karno namun tidak lengkap. Mebel-mebel di rumah ini berdasar penuturan Bu Ana sulit dijelaskan mana yang asli dan replika. Dinding dan langit-langit dari rumah juga telah diganti dengan yang baru namun menyerupai bentuk asli. Rumah ini sebetulnya lebih luas dari sekarang. Bagian belakang rumah awalnya merupakan pekarangan dan dapur namun sekarang dipakai bagunan Sekolah Dasar (SD).
 
Perkakas di dalam kamar HOS Cokro (dok. pribadi)
Kamar kosan Bung Karno berlantai kayu dengan dua kayu membentang tepat di bawah langit-langit. Bentuknya seperti rumah adat Padang dimana bagian langit-langit ke atap berbentuk prisma segitiga. Kamar ini relatif gelap dengan ventilasi hanya lubang berbentuk garis sebanyak lima buah. Garis ventilasi sebelah barat relatif lebih panjang dibandingkan dengan sebelah timur. Di sini tidak didapati satupun dipan, meja, dan sebagainya. Berdasarkan penuturan Bu Ana, memang kamar kostan Bung Karno pada saat itu campur dengan anak kostan lainnya. Bisa dikatakan mereka tidur tidak berkasur. Sementara itu ruang kamar HOS Cokro jauh lebih kecil dibandingkan kamar yang dikostkan. Ukurannya sekitar sepertiganya. Di kamar ini ada pajangan logo PSII tepat di atas tulisan "Allah" dan "Muhammad" dalam tulisan bahasa Arab. Kamar ini terletak di belakang ruang tamu. Sedangkan di depan kamar HOS Cokro ada perkakas-perkakas seperti meja kursi dan sebagainya. Menurut penuturan Bu Ana, ada dua kursi hibah dari ayahnya Maya (mantan istri Ahmad Dani, cucu Pak Cokro). Ayah Maya sendiri merupakan mantan Rektor ITS.
 
Kamar indekost Bung Karno dan lainnya (dok. pribadi)
Di ruang tamu tersedia kursi tamu dan juga gambaran umum tentang HOS Cokro yang diambil dari pamflet majalah Tempo. Berdasarkan cerita dari Bu Ana, silsilah HOS Cokro belum didapatkan sampai sekarang. Seringkali Pak Eko ditanya mahasiswa terkait hal ini, namun beliau belum mampu menjawabnya. Buku-buku yang menceritakan HOS Cokro jauh lebih sedikit dibandingkan tentang Soekarno. Karena hal inilah gambaran tentang sosok Bung Karno jauh lebih lengkap dibandingkan dengan gurunya, HOS Cokroaminoto.
 
Ruang tengah rumah HOS Cokro (dok. pribadi)
Antara HOS Cokro, Kyai Dahlan, dan Bung Karno

Setelah mengeksplorasi rumah Pak Cokro, kami mengunjungi toko tak jauh dari rumah ijo ini. Toko ini termasuk tua yang berdasarkan penuturan Bu Ana, saat zaman HOS Cokro, toko ini adalah perpustakaan. Setibanya di toko ini, kami disambut sama penjaga toko dan pemilik toko, Pak Ashari. Kami berbincang panjang lebar terkait sejarah toko, kiprah HOS Cokro, dan sejarah masuknya Muhammadiyah ke Surabaya. Selain menjual buku-buku Muhammadiyah, toko ini berperan sebagai agen distributor majalah Suara Muhammadiyah (SM) ke daerah-daerah di Jawa Timur seperti daerah saya Lamongan.
 
Toko "Muhammadiyah" tak jauh dari rumah HOS Cokro (dok. pribadi)
Dalam penuturan Pak Ashari, toko ini awalnya adalah sebuah percetakan. Kala itu kakeknya, Haji Abdul Latif Zen, sebagai pemilik percetakan yang mencetak buku-buku. Kakek Pak Ashari diperkirakan seumuran dengan Bung Karno. Setelah kakek Pak Ashari berkenalan dengan Mas Mansyur, beliau bergabung di kepengurusan Muhammadiyah Surabaya dan aktif menerbitkan karya-karya Mas Mansyur seperti khutbah jumat. Muhammadiyah berkembang di Surabaya pada tahun 1926 dimana saat itu persyarikatan yang didirikan oleh Kyai Dahlan ini hanya memiliki satu amal usaha yaitu Taman Kanak-Kanan (TK) ‘Aisyiyah di Plampitan Surabaya.
 
Pemilik toko Pak Ashari (kiri) dan karyawan toko (kanan) (dok. pribadi)
Pak Anshari menceritakan bahwa Pak Cokro memiliki kedekatan dengan Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kyai Dahlan beberapa kali berkunjung ke rumah Raja Jawa Tanpa Mahkota ini. Menurutnya, Kyai Dahlan memiliki peranan membentuk pemahaman keislaman Bung Karno saat indekost di rumah Pak Cokro.

Film Guru Bangsa Tjokroaminoto

Bu Ana dan Pak Anshari menuturkan bahwa shooting film layar lebar “Guru Bangsa Tjokroaminoto” tidak diadakan di rumah Pak Cokro di Peneleh gang VII, melainkan di Jogja. Di sana dibuat replikanya.  Namun biarpun demikian, beberapa aktor seperti Reza Rahardian dan Christine Hakim mensurvei rumah Pak Cokro di Peneleh terlebih dahulu. Tidak dipilihnya lokasi rumah Pak Cokro sebagai lokasi shooting karena lokasinya bisa dikatakan sempit sehingga tidak mampu dijangkau oleh alat-alat shooting.

Semenjak itulah, rumah Pak Cokro semakin ramai dikunjungi. 

Wednesday, July 01, 2015

Anak Muda Muhammadiyah Bijak dan Cerdas dalam Berjejaring Sosial

Oleh : Uruqul Nadhif Dzakiy[1]

“I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” Albert Einstein[2]

Saat ini bisa dikatakan sebagai era informasi. Era ini ditandai dengan kemudahan akses terhadap aneka informasi yang di era sebelumnya tidak pernah terjadi. Pada masa ini lahirlah aneka gadget yang memfasilitasi setiap orang untuk berselancar (surfing) dan menjelajah (browsing) aneka informasi yang bertebaran di dunia maya (internet). Akses informasi ini semakin dipermudah dengan hadirkan ponsel pintar (smartphone) berharga murah sehingga memungkinkan setiap orang untuk dapat mengakses informasi. Ponsel pintar tersebut menyajikan aneka fitur yang memfasilitasi pengguna untuk secara mudah mengakses aneka aplikasi. Satu dari jenis  aplikasi yang digandrungi anak muda adalah jejaring sosial. Jejaring sosial (social network) merupakan satu fitur yang memungkinkan setiap orang untuk saling berkomunikasi dengan sesama pengguna fitur tersebut. Sebagai contoh jejaring sosial yang sedang tren adalah facebook, twitter, instagram, path, whatsApp, LINE, dan sebagainya.

Berjejaring sosial bisa membuat candu penggunanya. Sekian waktu yang ada dapat terserap sebagian besarnya hanya untuk update status, melontarkan komentar, atau sekedar memberikan like. Saya punya seorang teman yang gila akan jejaring sosial di smartphone-nya. Pernah suatu kali saya ngobrol sama dia namun bukan memperhatikan apa yang saya omongkan, dia malah tertawa-tawa sendiri memperhatikan status-status yang ada di akun pribadi berbagai jejaring sosial yang dimilikinya. Ini menunjukkan bahwa jejaring sosial menjadikan hubungan yang jauh terasa dekat, dan hubungan dekat terasa jauh. Jika diambil konklusi berjejaring sosial yang tak terkontrol dapat memutuskan tali silaturrahim seperti yang diprediksi Einstein pada quote di atas. Dalam Islam memutus tali silaturrahim ini merupakan dosa besar.

Dampak kedua berjejaring sosial yang tak terkontrol adalah sulitnya konsentrasi. Sebuah survei yang dirilis di website hechingerreport.org menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki konsentrasi dimana ia tidak terpengaruh dengan aneka gangguan seperti dering SMS (Short Message Service) handphone mendapatkan nilai akademik yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang sulit konsentrasi. Survei tersebut memang dilakukan di Amerika Serikat namun jika kita melihat kondisi di Indonesia tidak terlalu berbeda. Banyak mahasiswa atau generasi muda di Indonesia melakukan suatu secara multitasking sebagai contoh mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan diselingi dengan bermain facebook atau mengecek grup WhatsApp. Kegiatan ini jelas menganggu konsentrasi yang berujung pada ketidakfokusan. Ketidakfokusan ini lantas membuat pekerjaan tidak dapat diselesaikan dengan hasil optimal karena dualisme kerja otak. Dalam sebuah penelitian, otak pada dasarnya tidak dapat melakukan dua hal sekaligus. Ini adalah pertanda bahwa setiap orang harus berkonsentrasi penuh ketika mengerjakan segala sesuatu. Menurut Daniel Goldman, kemampuan untuk berkosentrasi memiliki keterkaitan yang kuat dengan kesuksesan.

Persoalan yang muncul selain dua poin di atas dari aktivitas berjejaring sosial adalah memunculkan kemampuan berfikir rendah (low order thinking). Pengguna jejaring sosial memungkinkan untuk terpengaruh dengan opini yang tersebar di aneka status, komentar, dan penyebaran informasi dari pengguna lainnya di mana keabsahan dan kesahihan informasi yang didapat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini diperparah dengan kondisi literasi kita yang secara umum rendah (Lihat  http://www.uruqulnadhif.com/2013/12/membudayakan-membaca.html). Kondisi tersebut membuat kita susah bernalar secara logis. Sebagai indikasinya kita dapat melihat aneka status hujatan, makian, dan debat kontraproduktif (twit-war) yang ada di jejaring sosial.

Sementara Itu Tantangan yang Dihadapi

Jejaring sosial seringkali membahas hal-hal yang kurang begitu esensial seperti halnya curhatan, berita sedih, gembira, dan sebagainya yang sifatnya sangat individual. Akibatnya jejaring sosial kebanyakan didominasi dengan berita dan informasi yang kurang bermutu. Jika ini keterusan, akan menenggelamkan tantangan ke depan yang seharusnya dari dini kita sadari. Maka dalam segmen ini akan saya tampilkan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda, negara berkembang, dan dunia Islam. Ini mengandung maksud agar kita dalam bergerak ke depan jelas, tidak belak-belok, apalagi salah jalan.

Pertama kita akan melihat postur demografi kaum muda Indonesia. Postur demografi Indonesia sejak 2010 didominasi oleh usia produktif termasuk di dalamnya kaum muda yang akan mencapai puncaknya pada 2030 yang akan datang. Kondisi ini dapat dipandang sebagai bonus demografi jika memang kaum muda terberdayakan dengan optimal dengan memasuki pos-pos produktif seperti dunia kerja. Sebaliknya kondisi ini juga dapat dipandang sebagai petaka jika kaum muda tidak memiliki kompetensi memadai yang berujung pada ketidakstabilan ekonomi negara.
 
Logo Muhammadiyah (sumber http://www.muhammadiyah.or.id/)
Jelas sebagai warga negara Indonesia kita menginginkan kaum muda terberdayakan sehingga bonus demografi bisa terwujud. Makna 'berdaya' ini tak hanya diartikan sekedar mendapatkan peluang kerja an sich melainkan kaum muda yang dapat menjawab berbagai tantangan yang dihadapi dunia dan negara berkembang yang sebagian besarnya adalah dunia Islam termasuk di dalamnya Indonesia. Setidaknya ada dua hal tantangan negara berkembang. Pertama, negara berkembang berada dalam dominasi kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan militer negara adi kuasa. Seperti halnya Indonesia sampai detik ini belum bisa lepas dari bayang-bayang International Monetery Fund (IMF) dan Bank Dunia. Kedua, negara berkembang berkutat dalam persoalan bagaimana meletakkan dasar-dasar ekonominya supaya bisa bersaing di pasar internasional (Lihat http://www.uruqulnadhif.com/2015/06/ekonomi-pembangunan-itb-keunggulan.html).

Jika kita perhatikan poin pertama kekuasaan negara adikuasa selain ada pada bidang ekonomi dan militer, juga di bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terutama sains dan teknologi mengambil peranan penting dalam pembangunan. Dulu dunia Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia. Mahzab Arsitotelian yang diadopsi oleh ilmuwan muslim berhasil menjadikan dunia Islam menguasai dasar dan landasan Ilmu Pengetahuan seperti matematika, filsafat, dan kedokteran. Keunggulan pada masa lampau tak hanya dikenang sebagai nostalgia melainkan sebagai motivasi untuk kembali mengulang kejayaan masa lampau. Kita sama-sama tahu bahwa dunia muslim masih dihantui dengan kemiskinan, kebodohan, dan perang saudara. Namun, sebagai upaya untuk meraih kembali kejayaan tiga langkah yang bisa dilakukan, mengutip Ahmad Zawail, ilmuwan Mesir pertama peraih nobel ilmu pengetahuan. Pertama, membangun sumbedaya manusia dengan cara memberantas buta huruf, memastikan adanya partisipasi aktif perempuan dalam masyarakat, dan memperbaiki pendidikan. Kedua, harus ada reformasi konstitusi demi adanya kebebasan berpikir, meminimalkan birokrasi, mengembangkan merit system, dan membangun hukum yang kredibel dan bisa ditegakkan. Terakhir, cara terbaik untuk meraih kepercayaan diri adalah menyiapkan centers of excellence di dalam bidang sains dan teknologi di masing-masing negara muslim untuk menunjukkan bahwa cita-cita itu bisa diraih, untuk menunjukkan bahwa muslim bisa berkompetisi di era ekonomi global ini dan mendorong kaum muda untuk lebih bergairah belajar (Lihat http://budhiana.salmanitb.com/catatan/dapatkah-dunia-islam-kembali-ke-cahaya-ilmu-pengetahuan/).

Tantangan seperti yang disajikan di atas jelas tidak dapat dipandang sebagai tantangan mudah. Ini perlu disikapi dengan bijak oleh segenap warga negara dan umat Islam Indonesia. Jika mindset telah terbentuk maka akan muncul sikap-sikap positif untuk berjuang ke visi jangka panjang. Kita terlebih kaum muda tidak lagi berkutat dalam masalah-masalah kecil kontraproduktif seperti perbedaan khilafiyah, politik praktis, dan sebagainya. Namun, kaum muda terlebih kaum muda Muhammadiyah dapat memulai untuk memberi gambaran bagi masa depan Indonesia dan umat Islam secara mayoritas. Suatu saat lalu saya mengobrol dengan teman saya, dia mengutip kata-kata dosennya "Apa yang dibanggakan dari Indonesia kalo tidak kuliner dan tari-tarinya?". Sungguh, saya sebagai bagian dari kaum terdidik merasa terhina dari lontaran cerita teman saya. Bagaimana tidak negara kita yang kaya akan Sumber Daya Manusia (SDM) tidak mampu menghidupi dirinya sendiri dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimilikinya. SDA hanya dijual murah kepada asing tanpa perlu diberi nilai tambah terlebih dahulu. Maka mau tidak mau secepatnya kita harus dapat beralih dari resource based economy ke knowledge based economy.

Bijak dalam Berjejaring Sosial

Paparan di awal tulisan ini bukan lantas kita mengatakan bahwa berjejaring sosial itu haram, melainkan agar kita bersikap bijak dalam menggunakan jejaring sosial. Jangan sampai kita terperdaya dengan jejaring sosial, melainkan kita harus memperdaya jejaring sosial. Kita harus dapat puasa berjejaring sosial ketika sedang bekerja, belajar, atau berinteraksi dengan orang. Kita dapat menggunakannnya di waktu-waktu luang seperti sedang menunggu antrian atau istirahat. Prinsipnya jejaring sosial tidak menyita core pekerjaan kita sehingga kita bisa konsentrasi optimal dalam menyelesaikan aneka pekerjaan yang sedang kita hadapi. Jika kita dapat melakukannya, peluang sukses akan terbuka lebih luas.

Selain kita mengetahui kapan kita harus menggunakan jejaring sosial, kita juga tahu terkait perjuangan apa yang dapat kita lakukan dengan jejaring sosial. Sebagai seorang muslim selain kita dituntut menjadi seorang yang bertakwa (saleh pribadi), juga dituntut juga untuk saleh secara sosial. Saleh secara sosial ini erat kaitannya dengan dakwah. Setiap dari kita memiliki tugas suci berdakwah yakni mengajak manusia ke jalan kebenaran. Jika saya tafsirkan, sebagai umat Muhammad kita memiliki kewajiban menunjukkan jalan lurus ke segenap umat manusia. Ini tak lain karena panutan kita, Muhammad SAW, adalah rahmat bagi seluruh alam, seperti firman Allah SWT "... dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam" (QS. Al-Anbiya' : 107).

Kewajiban untuk menebar kebajikan (berdakwah) saya tafsirkan tak sekedar kita menyampaikan ayat-ayat kauliyah melainkan juga ayat-ayat kauniyah seperti halnya tantangan-tantangan yang sedang kita hadapi saat ini. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan jejaring sosial. Penebaran ide dalam menghadapi tantangan-tantangan yang tertera di atas jelas merupakan langkah maju untuk menebar harapan untuk meraih masa depan bangsa dan juga umat Islam. Penebaran ide ini pasti membutuhkan kekayaan informasi yang didapatkan dari sumber-sumber terpercaya yakni melalui membaca. Tegasnya langkah menebar ide berkemajuan ini berarti menstimulus gerakan intelektual. Kita bersama tahu bahwa gerakan intelektual merupakan nafas bagi kekayaan umat Islam di masa lampau dan juga masyarakat Barat dengan gerakan renaissance-nya.

Kaum muda Muhammadiyah dengan berbagai wadah yang dimiliki seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah (PM), dan Nasyi'atul 'Aisyiyah (NA) dapat memulai gerakan ini secara masif. Orientasi yang diharapkan selain memunculkan mindset berfikir berkemajuan di kalangan kaum muda Muhammadiyah juga sebagai upaya untuk mensyiarkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam membentuk peradaban suatu bangsa dan umat. Kaum muda Muhammadiyah yang sudah terbiasa dengan jejaring sosial dapat memanfaatkannya untuk menebarkan ide-ide konstruktif tersebut. Bayangan saya jika gerakan ini dapat terlaksana, akan dapat menggantikan konten-konten destruktif dalam jejaring sosial seperti berita hoax, debat kontraproduktif, saling cela dan caci-maki, dan segala jenis hal-hal negatif yang dihasilkan dari jejaring sosial lainnya. Tentunya langkah/gerakan ini harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak pula. Mengutip ayat Al-Qur'an " Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik." (QS. An-Nahl : 125).

Gerakan intelektualisme yang dilakukan kaum muda Muhammadiyah menjadi pelengkap peranan Muhammadiyah dalam upaya mencerahkan dan mencerdaskan bangsa dan umat melalui pendirian berbagai lembaga-lembaga pendidikan mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT). Selain itu, gerakan tersebut sebagai upaya Muhammadiyah entaskan masalah-masalah sosial yang terjadi di kalangan muda seperti narkoba, pornografi, free sex, dan sebagainya.[3]

Muktamar Sebagai Momen Ijtihad

Beberapa bulan yang lalu saya ditelpon teman saya sesama alumni Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta terkait dengan rencananya membuat portal intelektual dari alumni almamater (kunjungi http://anakpanahinstitute.org/). Lalu beberapa bulan setelah pembicaraan sekitar setengah jam tersebut, teman saya merilis website dengan aneka tulisan dari alumni almamater mulai dari generasi tua sampai dari generasi muda yang baru beberapa tahun lulus. Dalam portal tersebut, tulisan-tulisan yang ada bervariasi mulai seputar keislaman, kemuhammadiyahan, kemanusiaan, sampai kebangsaan. Gerakan intelektual yang diinisiasi teman saya tersebut akan berlanjut di momen temu alumni di Muktamar Makassar Agustus nanti. Rencananya portal ini akan di-launching berbarengan dengan reuni akbar almamater.
 
Logo Muktamar 47 Makassar ( sumber http://muktamar47.muhammadiyah.or.id/)
Saya kira gerakan yang diinisiasi oleh teman saya tersebut merupakan langkah maju untuk tumbuhkan jiwa intelektual yang saat ini mulai terkikis di generasi muda kita. Gerakan tersebut mendapat sambutan yang baik dari kalangan alumni. Dampak positifnya cukup membuat momen reuni alumni almamater tidak sekedar ajang saling sapa antargenerasi melainkan sebagai ajang/momen untuk saling bertukar fikiran dan gagasan. Melalui pertukaran gagasan ini akan muncul solusi dari stagnasi permasalahan umat yang sukar untuk ditemukan jalan keluarnya. Konkretnya di grup WhatsApp alumni Mu'allimin angkatan saya saat ini tak sekedar ajang untuk menyampaikan keadaan masa perantauan, nostalgia masa sekolah, undangan nikahan, dan sebagainya melainkan juga sebagai wahana sharing ide terkait berbagai masalah sosial, kebangsaan, dan keagamaan. Kedepan, saya yakin jika gerakan intelektual anak panah tersebut tetap berjalan akan menimbulkan kekritisan di kalangan alumni almamater saya dan secara tidak langsung akan berpengaruh dalam masyarakat luas.

Saya rasa kaum Muda Muhammadiyah bisa mencontoh gerakan yang diinisiasi oleh teman saya tersebut. Bentuknya tidak harus sama melainkan yang penting adalah ide yang diusung sama yakni menumbuhkembangkan intelektualisme di kalangan kaum muda Muhammadiyah. Gerakan ini juga perlu disesuaikan dengan kapasitas kaum muda Muhammadiyah saat ini. Saya sangat yakin kaum muda Muhammadiyah adalah seorang yang kretif dalam mengemas sebuah visi besar menjadi gerakan taktis yang segar dan inspiratif. Melalui inisiasi gerakan baru, muktamar tidak hanya sekedar mengganti pimpinan organisasi melainkan juga sebagai wahana berbagi gagasan untuk membentuk pribadi dan watak berkemajuan. Semua ini diperuntukkan guna membentuk suatu negeri yang adil, makmur, sentosa dibawah naungan Allah SWT, Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofuur. Langkah maju tersebut merupakan ijtihad guna mengantarkan umat ini menuju watak maju dan visioner. Mengutip motto Muktamar 47 di Makassar 3-7 Agustus 2015 nanti ; Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan.



[1] Uruqul Nadhif Dzakiy adalah alumni Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2009 yang sekarang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Institut Teknologi Bandung.

[2] "Saya khawatir bahwa suatu hari teknologi akan melampaui interaksi antarmanusia. Jika itu kejadian, dunia akan memiliki generasi idiot"- Albert Einstein