Showing posts with label reportase. Show all posts
Showing posts with label reportase. Show all posts

Wednesday, April 27, 2016

Pendakian Perdana Tahun Ini : Gunung Papandayan (25-26 Maret 2016)

Sebuah catatan perjalanan

Biarpun mendaki gunung itu capek, namun tetap bikin ketagihan. Saya rindu bertemu gunung lagi setelah hampir setahun puasa mendaki. Saya terakhir naik gunung awal tahun lalu di Gunung Pangrango dengan teman-teman dari PT Dirgantara Indonesia. Bagi saya mendaki bukan masalah nyampai puncak atau tidak, namun bagaimana kita (khususnya saya) dapat mengenal alam lebih dekat sehingga dapat bersyukur pada Dzat yang menciptakan.

Kekangenan saya pada gunung itu adalah suasananya yang natural dimana di sana saya dapat menikmati kopi sachet dengan lebih nikmat, menikmati nasi biarpun menyerupai bubur dengan lahap, menikmati mie tanpa direbus dengan rasa syukur, atau menikmati makanan ringan yang kami bawa dari kota dari satu teman ke teman lain. Lingkungan demikian benar-benar merindukan, disamping bercengkerama dengan teman sesama pendaki diselingi tawa, senyum, saling mengejek, marah, maupun terkadang rasa sedih.

Perjalanan ke Papandayan kali ini sungguh berbeda dengan perjalanan ke gunung ini tiga tahun silam. Perjalanan dari Bandung ke Garut kami gunakan mobil carry dengan Agita yang mengemudi. Sementara mobil lainnya, Nissan Juke dikemudikan oleh Ruri teman Mila. Mobil kami dihuni oleh para anggota AKS : Nita, Tami, Sofi, Agita, dan Saya. Sementara mobil satunya Mila dan teman-temannya (Ruri, Fahmi, dan Sasha).  Perjalanan ke Papandayan memakan waktu lebih dari 4 jam. Di Nagrek macet sekali, begitu pula pas masuk ke daerah Garut. Namun untungnya di mobil kami tidak garing, ada dua bidadari yang siap menghibur : Nita dan Tami. Dua orang ini pemicu gelak tawa. Dari mulai nyanyi, gosip, cerita ngalor-ngidul, dan lain-lain. Ini menjadikan perjalanan menjadi lebih hidup.  Aku  berandai, coba Teh Nina ikutan dan satu mobil bersama kami, pasti saya jatuhnya masuk RSJ pasca mendaki Papandayan. Hehehe

Sekitar jam 16 waktu Papandayan, kami sampai di parkiran. Ada ratusan mobil berjejalan. Wajar saya memang waktu itu adalah liburan panjang alias long weekend. Bayar di gerbang utama udah 75 ribu ditambah lagi saat akan markir mobil diminta lagi 45 ribu. Katanya 20 ribu buat kebersihan sisanya ‘pajak’ per orang 5 ribu. Saat itu cuaca hujan biarpun gerimis, untungnya mobil kami dapat parkir. Bukit batu Papandayan terlihat kurang jelas dari tempat parkir karena tertutup kabut. Kami pun segera bersiap dan tentunya foto-foto dulu. Beberapa menit berselang, Nissan Juke putih menghampiri mobil carry kami. Itu Mila ! Saya kira mereka tidak bakalan datang secepat itu.
Berfoto dulu full-team sebelum mendaki
Jadilah kami semua menyiapkan pendakian menuju pondok Saladah, tempat kami camp. Terlebih dahulu kami sholat, foto satu team, dan segera menuju puncak. Jam menunjukkan jam 17 lebih, bahkan nampaknya jam 17.30-an. Kami mulai mendaki dengan memakai jas hujan atau ponco. Iya, hujan turun biarpun tak deras.

Matahari semakin meredup pertanda malam akan datang. Dalam perjalanan saya tidak rileks. Saya merasa berat untuk mendaki, padahal seminggu terakhir saya berusaha jogging setiap pagi.  MP3 Kube saya nyalakan dengan earphone kutancap dikedua lubang telinga, namun tetap saja. Saya merasa berat untuk mendaki, bukan karena capek, tapi karena berat. Entah mengapa tetiba mendaki itu berat sekali. Kadang penyesalan muncul, mengapa saya mendaki malam ini dengan hujan yang semula rintik menjadi deras. Lebih baik di kosan, tidur dengan selimutan kan anget. Tetiba Mila bertanya, “Kamu sakit Kul?”, “Nggak Mil”. Kata Mila mukaku pucat. Akhirnya tenda yang kutenteng pun diambil alih secara bergiliran oleh Mila, Ruri, dan Fahmi.

Berkali-kali aku tanya Agita, “Git, masih lama gak ke tempat camp?”. Sampai akhirnya di pos 2 dimana di sana kita harus lapor. Saya pun senang karena menyangka di lokasi inilah kami akan bangun tenda. Nyatanya tidak. Tetap jalan sampai ke pondok Saladah. Di lokasi inilah kami bangun tempat camp. Kami nyampai tempat ini sekitar jam 21. Di sini ada sekitar 4000 orang berdasarkan info dari pos 2. Hujan masih belum juga reda dan alhamdulillah kami mendapat tempat untuk membangun tenda. Kami bangun tenda dengan ditemani hujan yang tidak lagi deras. Ada tiga tenda yang kami bangun. Dalam spesialisasi membangun tenda, saya teringat Andre dan Yoga, serta Abul cs yang bisa bangun tenda dalam waktu relatif efisien. Beberapa orang yang bangun tenda, Agitalah yang berada di atas rata-rata ke-expert-an dalam membangun tenda.

Setelah tiga tenda terbangun, kami memasak. Lauk malam ini adalah mie. Masak mie pertanda keamatiran kita dalam hal memasak. Namun tak papa, yang penting masak. Thank you Bunda Sofi, Tami, dan lainnya yang bersedia masak di malam yang dingin ini. Beberapa dari kita juga masak air untuk membuat minuman hangat. Sekitar jam 23 kita bergegas untuk tidur dengan planning pagi yang kurang kuat, “Sunrise attack”.

Efek hujan dan kecerobohan saya, sleeping bag (SB) saya kehujanan. Walhasil saya satu bersatu SB dengan agita. SB dibagi dua dengan posisi saya di pinggir dan Agita di tengah. Sementara Fahmi di pinggirnya lagi. Tidur malam ini kurang nyenyak, namun jauh beruntung bisa tidur di tengah malam yang dingin. Paruhan SB dengan balutan sarung punya saya dan Fahmi cukup membuat saya mimpi buruk malam ini.

Hari Kedua

Menjelang subuh, Agita bersuara membangunkan aku dan penghuni tenda lain untuk bersiap-siap sunrise attack, namun sayang ajakan Agita dikacangin oleh anak-anak. Tidak ada satupun anak yang keluar tenda untuk menikmati kemunculan mentari di pagi ini. Saya sendiri setelah bangun (ketika masih gelap dan segera tergantikan terang ) menuju ke kamar mandi umum kemudian lakukan sholat subuh. Selanjutnya ketika matahari sudah relatif tinggi, kami naik menuju ke hutan mati untuk foto-foto. Di sepanjang perjalanan jika ada spot yang bagus para fotografer segera memotret objek-objek yang dianggap bagus. Perjalanan ke hutan mati ini saya memakai celana pendek dengan jumper merah norwand andalan.
Fahmi-Sofi-Agita-Saya diantara pohon di hutan mati (dok. Ruri)
Dari hutan mati, saya, Sofi, dan Agita turun menuju tenda. Sementara yang lainnya menuju Tegal Alun dan spot-spot lainnya. Kami sempat lupa rute menuju tenda, namun setelah kesasar beberapa kali akhirnya sampai juga. Di tenda, kami memasak, mulai dari nasi sampai kopi. Agita dan Sofi berduaan mesra memamerkan secara terang-terangan ke sana. Oke, fine, urang jomblo. Heuheu.
Berpose di hutan mati
Di tenda, saya sempat mencoba baca kertas kopian materi di tas, buku yang kubawa tidak terbaca. Baru baca beberapa menit, saya terkantuk dan tidur di bawah tenda yang cukup panas akibat tersengat cahaya matahari. Ketika saya bangun, teman-teman lain selain kami bertiga berdatangan. Setelah mereka pada datang semua, kami makan siang sekaligus sarapan. Lauknya saat itu sarden dengan nasi yang sebagiannya beli karena gagal menanak. Makan siang hari ini biarpun kurang sempurna namun cukup menambah energi bagi kami khususnya saya. Jam menunjukkan jam 14 lebih, kami pun bersiap-siap meninggalkan lokasi perkemahan.
Berfoto di lokasi camping sebelum turun gunung
Setelah ketiga tenda berhasil kami robohkan  dan telah terkemas dengan baik di tasnya masing-masing, kami berfoto untuk meninggalkan jejak. Pemotret saat itu adalah seorang mas ganteng yang sedang berkemping tepat di depan tenda kami. Kalo tidak salah, Ana dan Sasha yang membujuknya.

Kerir dan tas ransel biasa telah siap untuk diletakkan di bahu kami, begitu pula perabot lain seperti tenda, nesting, dan lain sebagainya. Kami siap turun gunung ! Beberapa langkah kaki kami meninggalkan lokasi, hujan turun dan cukup deras. Setelah agak terang, kami lanjutkan perjalanan, dan tetiba selanjutnya hujan deras!  Karena sudah kadung (terlanjur), kami woles lanjutkan perjalanan sampai bawah. Di sepanjang jalan saya mencoba melawak dengan kicauan yang tidak lucu. Terkadang lawakan saya disambut dengan lawakan lain dari Nita, Tami, Mila, Sofi, atau lainnya. Saya seolah jadi orang gila saat itu, hehe.

Tetiba di lokasi parkiran, saya bergegas menuju kamar mandi untuk berganti baju. Saat itu hujan deras, dan saya menerobosnya untuk meletakkan tas ke mobil. Di situ ternyata sedang dipakai basecamp oleh para wanita tangguh (Sofi, Tami, Sasha, Nita). Jadi saya dapat meletakkan tas setelah mendapat izin mereka. Setelah tas berhasil saya letakkan, saya menuju ke mushola untuk sholat qoshor dhuhur-ashar. Pasca sholat, saya menuju ke mobil dan hujan semakin deras. Mobil kami harus melawan hujan yang derasnya minta ampun ini. Alhamdulillah Agita dapat melewatinya biarpun di jalan turunan dari Papandayan ini terdapat aliran air yang besar sekali. Di mobil satunya, Ruri pun berhasil mengatasi trek jalan yang tergenang dengan aliran air.
Agita-Sofi so sweet pisan, ditunggu undangannya ya :)
 Sementara, Sofi dengan sabar mengelap kaca mobil yang berembun, bergantian dengan Agita. Saya yang memandang dari belakang dalam hati berucap, “Kalian so sweet pisan”.  


Sunday, January 31, 2016

Cerita dari Peneleh Gang VII

Senin (4/1/2016) saya bersama kakak saya mengunjungi rumah HOS Cokroaminoto di Jalan Peneleh Gang VII. Dengan dibantu tukang becak yang mengantarkan kami dari Pasar Turi ke lokasi serta setelah bertanya-tanya dengan warga setempat. Setibanya di lokasi, saya mengamati rumah berwarna hijau kebiru-biruan, konon itu rumahnya HOS Cokroaminoto (Pak Cokro). Di zaman Pak Cokro, rumah ini dijadikan kos-kosan dimana penghuninya saat itu adalah anak-anak muda yang kelak menjadi tokoh pergerakan nasional dengan corak ideologi yang berbeda-beda; Soekarno dengan nasionalisme, Semaun dengan komunisme, dan Kartosoewirjo dengan Islam. Rumah ini terlihat belum lama dipugar, terlihat dari cat rumah ini yang bisa digolongkan baru. Kami bertemu dengan tetangga rumah, seorang Ibu paruh baya. Beliau memberi tahu kami bahwa pengunjung diizinkan masuk ke lokasi dengan meminta izin dari ketua RT. Beliau mengantarkan kami ke rumah ketua RT dan kami bertemu Ibu RT. Ketua RT setempat, Pak Eko namanya, kebetulan sedang bekerja.
Rumah HOS Cokroaminoto tampak depan (dok. pribadi)
Diantar Bu RT, Bu Ana namanya, kami mengunjungi rumah hijau ini. Rumah Pak RT tak jauh dengan lokasi ini. Kami berjalan kurang dari lima menit. Di sepanjang gang ini banyak didapati bangunan tua peninggalan Belanda. Rumah-rumah di sekitar lokasi bisa dikatakan kecil dan di gang ini tidak saya dapati mobil satupun. Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada Bu Ana tentang dua kuburan tak jauh dari rumah Pak Cokro. Beliau katakan, " Itu kuburan sesepuh kampung". Di sepanjang jalan kami bercakap-cakap dengan Ibu asal Malang ini.

Suasana Rumah

Rumah HOS Cokroaminoto yang juga merupakan rumah indekost Bung Karno saat SMA di Surabaya tidak luas. Menurut cerita toko buku depan rumah HOS Cokro, warga setempat mengenal rumah ini belum lama setelah Megawati menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya, saat Megawati menduduki RI 1, rumah ini dikenal sebagai rumah Bung Karno. Pada masa itu sekitaran Gang Paneleh VII dipugar oleh kader PDIP. Tiba-tiba aja tak lama setelah itu, sudah ada plang pengumuman bertuliskan Rumah HOS Cokroaminoto di depan rumah.
 
Ruang tamu di bagian dalam rumah (dok. pribadi)
Jauh sebelum itu, rumah ini pernah didiami oleh Polisi. Kemudian sang Polisi ini pergi entah kemana dan kunci rumah dititipkan oleh seorang tetangga tepat di depan rumah ini, Bu Narjo namanya. Oleh anak angkat Janda ini, rumah tersebut dipakai sebagai kos-kosan sampai rumah ini dikenal sebagai rumah Bung Karno. Jadi lama sekali rumah ini dipakai sebagai kos-kosan yang menjadikan warga setempat tidak mencurigai rumah ini sebagai rumah seorang pahlawan.
 
Di dinding rumah, banyak dijumpai foto berpigura atau tulisan sejarah
HOS. Cokro dan penghuni indekost (dok. pribadi)
Rumah ini terdiri dari dua kamar. satu kamar ditempati HOS Cokroaminoto dan keluarga, dan satu kamar luas ukuran sekitar 10 x 4.5 m2 di lantai dua yang ditempati oleh anak-anak indekost. Adapun kamar mandi sudah tidak asli. Pemkot Surabaya melalui dinas terkait mengganti kamar mandi lama dengan yang baru. Bekas-bekasnya hilang sama sekali. Berdasarkan penuturan Bu Ana, kamar mandi lama berupa batu bata yang tersusun rapi. Seringkali cucu HOS Cokro, Bu Ani (alm) – istri MS Hidayat (Menteri Perindustrian), mandi di sini saat berkunjung ke Surabaya. Dinding-dinding dari rumah ini dihiasi oleh foto-foto dan aneka pigura berisi penjelasan terkait kiprah HOS Cokro maupun Bung Karno namun tidak lengkap. Mebel-mebel di rumah ini berdasar penuturan Bu Ana sulit dijelaskan mana yang asli dan replika. Dinding dan langit-langit dari rumah juga telah diganti dengan yang baru namun menyerupai bentuk asli. Rumah ini sebetulnya lebih luas dari sekarang. Bagian belakang rumah awalnya merupakan pekarangan dan dapur namun sekarang dipakai bagunan Sekolah Dasar (SD).
 
Perkakas di dalam kamar HOS Cokro (dok. pribadi)
Kamar kosan Bung Karno berlantai kayu dengan dua kayu membentang tepat di bawah langit-langit. Bentuknya seperti rumah adat Padang dimana bagian langit-langit ke atap berbentuk prisma segitiga. Kamar ini relatif gelap dengan ventilasi hanya lubang berbentuk garis sebanyak lima buah. Garis ventilasi sebelah barat relatif lebih panjang dibandingkan dengan sebelah timur. Di sini tidak didapati satupun dipan, meja, dan sebagainya. Berdasarkan penuturan Bu Ana, memang kamar kostan Bung Karno pada saat itu campur dengan anak kostan lainnya. Bisa dikatakan mereka tidur tidak berkasur. Sementara itu ruang kamar HOS Cokro jauh lebih kecil dibandingkan kamar yang dikostkan. Ukurannya sekitar sepertiganya. Di kamar ini ada pajangan logo PSII tepat di atas tulisan "Allah" dan "Muhammad" dalam tulisan bahasa Arab. Kamar ini terletak di belakang ruang tamu. Sedangkan di depan kamar HOS Cokro ada perkakas-perkakas seperti meja kursi dan sebagainya. Menurut penuturan Bu Ana, ada dua kursi hibah dari ayahnya Maya (mantan istri Ahmad Dani, cucu Pak Cokro). Ayah Maya sendiri merupakan mantan Rektor ITS.
 
Kamar indekost Bung Karno dan lainnya (dok. pribadi)
Di ruang tamu tersedia kursi tamu dan juga gambaran umum tentang HOS Cokro yang diambil dari pamflet majalah Tempo. Berdasarkan cerita dari Bu Ana, silsilah HOS Cokro belum didapatkan sampai sekarang. Seringkali Pak Eko ditanya mahasiswa terkait hal ini, namun beliau belum mampu menjawabnya. Buku-buku yang menceritakan HOS Cokro jauh lebih sedikit dibandingkan tentang Soekarno. Karena hal inilah gambaran tentang sosok Bung Karno jauh lebih lengkap dibandingkan dengan gurunya, HOS Cokroaminoto.
 
Ruang tengah rumah HOS Cokro (dok. pribadi)
Antara HOS Cokro, Kyai Dahlan, dan Bung Karno

Setelah mengeksplorasi rumah Pak Cokro, kami mengunjungi toko tak jauh dari rumah ijo ini. Toko ini termasuk tua yang berdasarkan penuturan Bu Ana, saat zaman HOS Cokro, toko ini adalah perpustakaan. Setibanya di toko ini, kami disambut sama penjaga toko dan pemilik toko, Pak Ashari. Kami berbincang panjang lebar terkait sejarah toko, kiprah HOS Cokro, dan sejarah masuknya Muhammadiyah ke Surabaya. Selain menjual buku-buku Muhammadiyah, toko ini berperan sebagai agen distributor majalah Suara Muhammadiyah (SM) ke daerah-daerah di Jawa Timur seperti daerah saya Lamongan.
 
Toko "Muhammadiyah" tak jauh dari rumah HOS Cokro (dok. pribadi)
Dalam penuturan Pak Ashari, toko ini awalnya adalah sebuah percetakan. Kala itu kakeknya, Haji Abdul Latif Zen, sebagai pemilik percetakan yang mencetak buku-buku. Kakek Pak Ashari diperkirakan seumuran dengan Bung Karno. Setelah kakek Pak Ashari berkenalan dengan Mas Mansyur, beliau bergabung di kepengurusan Muhammadiyah Surabaya dan aktif menerbitkan karya-karya Mas Mansyur seperti khutbah jumat. Muhammadiyah berkembang di Surabaya pada tahun 1926 dimana saat itu persyarikatan yang didirikan oleh Kyai Dahlan ini hanya memiliki satu amal usaha yaitu Taman Kanak-Kanan (TK) ‘Aisyiyah di Plampitan Surabaya.
 
Pemilik toko Pak Ashari (kiri) dan karyawan toko (kanan) (dok. pribadi)
Pak Anshari menceritakan bahwa Pak Cokro memiliki kedekatan dengan Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kyai Dahlan beberapa kali berkunjung ke rumah Raja Jawa Tanpa Mahkota ini. Menurutnya, Kyai Dahlan memiliki peranan membentuk pemahaman keislaman Bung Karno saat indekost di rumah Pak Cokro.

Film Guru Bangsa Tjokroaminoto

Bu Ana dan Pak Anshari menuturkan bahwa shooting film layar lebar “Guru Bangsa Tjokroaminoto” tidak diadakan di rumah Pak Cokro di Peneleh gang VII, melainkan di Jogja. Di sana dibuat replikanya.  Namun biarpun demikian, beberapa aktor seperti Reza Rahardian dan Christine Hakim mensurvei rumah Pak Cokro di Peneleh terlebih dahulu. Tidak dipilihnya lokasi rumah Pak Cokro sebagai lokasi shooting karena lokasinya bisa dikatakan sempit sehingga tidak mampu dijangkau oleh alat-alat shooting.

Semenjak itulah, rumah Pak Cokro semakin ramai dikunjungi. 

Friday, January 30, 2015

Mewujudkan Kampus Ideal

Sebuah hasil wawancara dengan Yasraf Amir Piliang (Dosen FSRD ITB)

Siang kemarin (2/12/2014), redaksi ITB Magz mendatangi kantor Yasraf Amir Piliang di KK Budaya Visual Gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung. Selain dikenal sebagai dosen, Yasraf dikenal sebagai salah satu akademisi ITB yang konsisten menelurkan buah pemikiran baik dalam bentuk seminar, buku maupun tulisan di berbagai media. Tulisan dan pandangan Yasraf seringkali berupa kritik sosial budaya dan juga tentunya karya-karya lain di bidang semiotika yang menjadi keahliannya. Dalam kesempatan ini, redaksi bermaksud mengupas pemikiran Yasraf terkait Kampus ideal sebagai kelanjutan dari kuliah umum "ITB dan Perubahan Budaya" pada 3 November 2014 di ruang seminar FSRD ITB dimana Yasraf menjadi salah satu pembicaranya.

Kampus ideal adaalah sebuah tempat berkumpulnya orang-orang yang mencintai pengetahuan. Jika dalam perusahaan multinasional, suatu yang dianggap bernilai tinggi adalah materi/uang, namun di kampus bukan itu tetapi pengetahuan. Perguruan Tinggi itu tempat mencari dan mengembangkan ilmu serta mendisemasikan/menyebarluaskannya kepada masyarakat. Ketiga hal tersebut harusnya dimiliki oleh kampus kita. Keluarannya adalah sarjana yang disamping memilih keahlian profesional di bidangnya juga turut berpartisipasi menyebarkan ilmunya ke masyarakat. Dalam kata lain lulusan kampus adalah seorang cendekiawan/intelektual.

Mengambil Sepotong

Seiring dengan berubahnya zaman, peran kampus pun bergeser. Dalam masyarakat kita pembangunan ekonomi/industri menjadi prioritas. Arti pembangunan pun akhirnya dikerucutkan hanya pada tataran ekonomi saja. Perguruan Tinggi pun terkena imbasnya. Kampus akhirnya hanya menjadi supplier industri saja, sementara kegiatan mengembangkan ilmu dengan mereproduksi pemikiran-pemikiran atau teori-teori baru pun tidak berjalan dengan semestinya. Fakta tersebut tak lepas dari peran pemerintah dalam mendesain kurikulum dan berbagai kebijakan terkait pendidikan. Dulu pada zaman orde baru dikenal istilah Link and Match, selanjutnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan juga istilah Triple Helix (Academic-Business-Government). Biarpun namanya berbeda, sebenarnya esensinya sama saja yakni lulusan yang hanya menjadi tenaga profesional, tidak lebih.
 
Aula Barat ITB (dok. Majalah Ganesha ITB)
Dari situlah, nilai Perguruan Tinggi direduksi hanya sebagai wadah untuk hasilkan orang-orang yang siap dikaryakan di industri/pemerintahan. Dari situ terlihat bahwa satu-satunya yang dipandang adalah kompetensi/kecakapannya saja. Lantas siapa yang mengembangkan ilmu?. Entahlah. Peran sebagai pengembang dan pendiseminasi ilmu jadi terkikis. Sebagai konsekuesi kuliah-kuliah yang tidak memiliki nilai ekonomi seperti halnya filsafat, sastra sepi peminat. Perguruan Tinggi hanya menciptakan pekerja. Kampus menjadi pincang.

Kampus ideal harus memenuhi tiga pokok seperti yang telah disinggung dimuka yakni tempat mencari, mengembangkan, dan mendisemasikan ilmu. Yasraf mencontohkan sebuah kampus top di Amerika, Mesachussets Institut of Technology (MIT). Selain hasilkan lulusan profesional, kampus tersebut juga menghasilkan pemikir-pemikir atau para intelektual. Merekalah yang membentuk kita sekarang. Banyak dari kampus kita yang memakai buku karangan mereka. Sekarang, bandingkan dengan kampus-kampus di Indonesia, berapa konsep/teori yang kita hasilkan ? Sangat sedikiti.

Membentuk Wadah

Kampus kita seolah bergerak di tempat. Upaya menciptakan lulusan yang berjiwa intelektual nampaknya tidak ada atau mungkin saja ada namun tidak berjalan. Para pemegang kebijakan kampus kita seharusnya membuat wadah guna memberikan tempat untuk para scholar kampus. Sebagai contoh di MIT terdapat Sains and Technology Studies (STS). Di wadah tersebut dianalisis bagaimana keterkaitan kemajuan teknologi dan perkembangannya terhadap masyarakat. Tegasnya keterkaitan antara teknologi dan sosial budaya. ITB seharusnya bisa juga menciptakan wadah serupa. Yasraf merasa bahwa ITB hanya sekedar mengikuti arus. Di luar butuh apa, ITB menyiapkan. Mustinya ITB menciptakan arus baru.

ITB selain menyiapkan orang yang siap pakai di dunia kerja, harusnya juga memberikan ruang kepada para pemikir, penulis dan sebagainya. Ini tidak lain adalah sebagai jawaban atas kepincangan orientasi pendidikan di Perguruan Tinggi seperti yang dijelaskan di muka. Yasraf mencontohkan bahwa orientasi pendidikan di kampus kita masih menonjolkan kerharmonian dimana konflik sebisa mungkin dijauhi. "Misalkan di kampus, ada yang berfikir aneh sedikit dikucilkan lalu tenggelam. Muncul lagi, nasibnya sama. Jadi, manejemennya harus manajemen konflik. Jangan cari orang yang harmoni, aman. Ya, nggak bisa maju.", ungkap Yasraf.

"Pengetahuan itu bisa hidup karena dikritik", tambah Yasraf. Dari sini, Yasraf menyarankan untuk membuat wadah sebagai tempat dimana kritik itu diberi ruang. Hal ini guna mendorong si pembuat karya untuk lebih baik lagi.

Membuat Sistem

Selain membuat wadah, ITB perlu menciptakan sistem guna menciptakan iklim baru dalam Perguruan Tinggi. Tentunya iklim kampus ideal. Yasraf mencontohkan proses kaderisasi yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ospek UPI berlangsung empat-enam bulan. Yang unik dari kaderisasi di kampus ini adalah materi kaderisasi yang disusun secara sistematis yang melatih para mahasiswa baru akan kegigihan dan keras. Seperti pada minggu diajarkan berbicara sistematis, selanjutnya berturut-turut mahasiswa baru (maba) disuruh untuk menyanyi dan berteater guna melatih keberanian, menulis untuk melatih merangkai pemikiran, dan kemudian disuruh membuat proposal pengabdian masyarakat dan mengaplikasikannya guna melatih kepemimpinan. Setelah itu maba menjalani kegiatan outbond dengan dilepas di tengah hutan pada malam hari untuk merasakan penderitaan. Kesemuannya itu dilakukan untuk melatih hardskill, softskill, dan lifeskill mahasiswa baru. Kiranya program kaderisasi di UPI tersebut dapat dicontoh oleh ITB.

ITB juga bisa mewajibkan mahasiswa untuk menulis di media massa di salah satu mata kuliahnya. Ini tak lain untuk melatih intelektualitas mahasiswa. Selain itu, kampus bisa membuat kontrak belajar dengan mahasiswa seperti halnya mahasiswa tidak diperbolehkan merokok di kelas, memakai sandal jepit di kelas, tidak hadir di kelas maksimal 25 % di semua mata kuliah, dan sebagainya. Ini tak lain untuk melatih kedisiplinan mahasiswa.


Tuesday, January 28, 2014

2014, Pemerintah Akan Larang LTJ Diekspor Mentah

Hasil Wawancara dengan Dr. Sukhyar

doc. pribadi
Minggu, 3 November 2013, bertempat di Cafe Starbuck Cilandak Town Square (Citos) Jakarta Selatan pada jam 17.00-18.30 WIB, wartawan ITB Magz, Uruqul Nadhif Dzakiy, mewawancarai Dr. Sukhyar, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terkait kebijakan Pemerintah atas Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan beliau.

Seberapa penting LTJ bagi pemerintah ?

LTJ itu banyak dikuasai oleh negara industri. Negara industri terutama Amerika dan Eropa Barat yang menguasai industri dunia dan menguasai kemajuan itu sangat bergantung pada LTJ seperti halnya hightech industry seperti telekomunikasi, transportasi, dan energi terbarukan. Bahkan China dan Korea itu belum. Masih didominasi negara-negara maju. Tetapi tren ini akan juga dialami negara-negara berkembang. Kita akan sampai mengarah ke sana. Sementara ini bahan baku dikuasai Amerika dan China. Sebagai lembaga pemerintah (Direktorat Geologi, red), kita juga harus mencari sumber-sumber yang ada. Sementara ini pemahaman kita di Bangka Belitung. Di sana LTJ sebagai mineral ikutan yang dinamakan monasit. Monasit ini sangat kaya dengan LTJ. Tugas kita adalah mengidentifikasi berapa besar monasit yang ada disana kemudian mengolah menjadi LTJ. Sehingga kita menjadi pen-supply LTJ ke negara industri.

Berarti Pemerintah sudah sadar akan pentingnya LTJ ini ?

Dalam proses kebijakan, UU 4 tahun 2009 disana kita melarang. Di sana dikatakan bahwa untuk bijih timah harus dipisah monasit-nya. Kebijakan udah ada. Selanjutnya menjadikan LTJ sebagai logam strategis. Ini penting. Di amerika LTJ telah menjadi critical mineral. Kita sadar bahwa di Indonesia ada.

Langkah konkret Pemerintah Seperti apa ?

Dari sisi kebijakan sudah ada bahwa monasit harus dipisahkan. Kalau menambang bijih timah harus dipisahkan monasit-nya. Pemerintah memastikan bahwa benar tidak perusahaan itu sudah memisahkan monasit-nya. Kemudian, Pemerintah menyatakan bahwa LTJ sebagai logam strategis. Men-state bahwa LTJ adalah logam strategis. Selanjutnya, menjaga kemudian mengolah di dalam negeri. Badan geologi mengidentifikasi di mana lagi terdapat sumber LTJ. Strateginya diubah menjadi mencari LTJ.

Selain UU, adakah PP yang mengatur LTJ ?

Permen 07 Tahun 2012 sudah ada. Isinya melarang ekspor monasit dimana setiap menambang timah, monasit-nya dipisahkan, tidak boleh diekspor dan harus diolah dalam negeri. Sekarang masalahnya ada di pelaksanaannya di lapangan. Direktorat Jenderal Batubara akan lakukan inspeksi. Di Malaysia sudah ada pengolahan rare earth (LTJ, red). Pengkayaan rare earth (LTJ, red) sudah ada di Thailand. Di negara tetangga sudah ada dua pabrik. Kita harus mulai juga dong.

Pengawasan Pemerintah  atas kebijakan tersebut seperti apa ?

Sejauh ini belum ada. Ini tugas pemerintah dalam konsep konservasi mineral. Jangan kita buang-buang mineral kita. Mineral tersebut (LTJ,red) penting dan dilindungi. Sejauh ini masih sekedar ultimatum, pelaksanaannya belum.


Terkait kerjasama dengan Korea di Tahun 2014 dalam pengolahan LTJ seperti apa?

Logikannya sederhana. Bahan baku kita awalnya dikirim ke Korea, Jepang, dan China. Kini logikanya dibalik, mereka harus investasi di Indonesia. Mereka mengelola di dalam negeri (LTJ tersebut, red) menjadi intermediate (product, red). Misalkan bijih nikel menjadi ferro nikel. Itu kan bahan baku stailess stell. Mereka tidak ambil bahan mentahnya. Mereka investasi di dalam negeri. Kita memanggil mereka untuk investasi. Intinya mengundang korea untuk investasi. Harus begitu. Jangan sampai kita eksport bahan baku.

Selain Korea, ada lagi ?

Banyak, tidak hanya Korea. Bisa jadi kerjasama dengan China dan Jepang. Yang mengelola hampir semuanya dalam negeri hanya saja investornya banyak dari Luar Negeri. Kan mereka yang akan memakai produk tersebut.

Terkait pengolahan LTJ, bisa diceritakan keuntungan bagi Indonesia ?

Bahan baku dinaikkan nilai tambahnya. Nilainya bisa sepuluh kali lebih besar. Ide UU 04 Tahun 2009 adalah untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku kita. Jadi sebenarnya negara-negara yang punya LTJ memiliki kesempatan untuk kembangkan integreted industry. Ini kesempatan baik. Industri Hulu hilir bisa dibangun di Indonesia. Kalau pun LTJ kita habis, kita masih punya intangible asset. Sudah waktunya kita mengelola (LTJ kita, red) dalam negeri. LTJ kan bahan mahal.

Dibanding mengundang investor, bukannya strategi menunggu lebih baik ?

Pertanyaan sekarang apakah kita mampu bangun industri ini ? Itu kan tidak mudah. Bisa aja kita menahan, menimbun, tidak menjual. Tapi sampai kapan ? Kita punya bahan baku. Kita akan bekerjasama dengan industri. Kita akan supply LTJ-nya. Itu yang diharapkan.

Terkait program pemerintah atas LTJ di tahun 2014, bisa Bapak ceritakan ?

Tidak boleh lagi menjual tanah air. Harus mengelola. Dalam konteks rare earth, perusahaan wajib melindungi monasit. Monasit tidak boleh diekspor selama tidak diolah di dalam negeri.

Tegasnya di 2014 ?

Pada 2014, (LTJ kita, red) cuma tidak boleh ekspor bahan mentah. Tidak boleh buang tailing seenaknya. (LTJ, red) diperlakukan sebagai aset negara. Menjadikan mineral ikutan diperlakukan sebagai aset negara. Tidak boleh diekspor.

Bagaimana untuk mengawal kebijakan tersebut ?

Pertama, Pemerintah menetapkan LTJ adalah logam strategis nasional. Ini belum ditetapkan. Saat ini baru nikel, alumina, besi,emas, batu bara, dan tembaga. Sekarang (LTJ,red) musti juga.  Kemudian kerjasama pemerintah dengan BUMN atau BUMD. Ada industri yang me-recycle semua dari sisa-sisa penambangan timah. Selanjutnya kalau LTJ (sudah, red) menjadi logam strategis, strategi eksplorasinya harus diubah yakni ditujukan mencari LTJ. (Eksplorasi LTJ,red) sudah menjadi tujuan.

Secara teknis bagaimana ?

Regulator (saat ini, red) lebih fokus pada kontrak. Belum pada tatanan itu. Makanya saya selalu mendesak penetapan LTJ sebagai logam strategis. Saya hanya pada posisi ini (Kepala Direktorat Geologi, red). Yang menentukan menteri (ESDM, red). saya sudah berikan masukan. Namun, sejauh ini masih wacana. Aplikasinya belum. 2014, dicek bener itu. Tidak boleh membuang tailing seenaknya. Hal lainnya, meminta perusahaan memisahkan monasit biarpun tidak mengelolanya. PT Timah akan melakukan pilot project.

Kandungan LTJ di Bangka Belitung jauh lebih besar dari daerah lain di Indonesia, bagaimana jika pemerintah fokus mengolah LTJ di daerah ini ?

Jadi gini, negara maju saja baru mulai apalagi kita. Sekarang posisi kita baru (bisa, red) men-suplly untuk negara maju. Kita hanya bisa merebut teknologinya. Kita harus (menjadi, red) pen-supply LTJ bukan monasit.  (Memang, red) yang paling ekonomis Bangka Belitung.

Jadi pengolahan LTJ ke intermediate product belum ?

Untuk pengolahan LTJ (ke intermediate product, red) belum ada satupun. PT Timah kerjasama dengan Batan baru tataran uji.

Kapan pendirian industri intermediate product ?

Kita akan kerjasama dengan pemegang kepentingan (investor, red). Sebelum itu dilakukan, pemerintah men-state bahwa LTJ adalah logam strategis negara sehingga anak bangsa sadar. Tidak bisa main-main lagi.

Langkah pemerintah setelah itu ?

Dilakukan recycle, pemisahan mineral-mineral.

Target pemerintah ?

Masih panjang. Menurut feeling saya 3-4 tahun lagi akan ada pabrik yang memurnikan (LTJ, red).

Berarti sejauh ini pemerintah tidak punya visi industri ?

KemenESDM bukan mengurusi itu.

Bagaimana kolaborasi kementerian ESDM, perindustrian, dan perdagangan ?

Dengan adanya UU 04 2009, kita ingin majukan industri down stream. Nikel pada 2025 sudah punya roadmap. Tugas kita (kementerian ESDM, red) mencari bahan baku. Sebagai supply site. Mereka (Kementerian perindustrian dan perdagangan, red) demand site. Kerjasama itu ada, pasti.

Adakah visi bersama tiga kementerian tersebut?

Menjadi pegangan kita (saat ini, red) adalah logam-logam nikel, alumina, tembaga, besi, dan timah. Kalau kita ingin kembangan industri hilir berbasis logam, kita tidak bergantung dengan negara lain. Kita bisa mandiri. Kementerian perindustrian punya visinya (logam-logam tersebut, red). Sudah ada kerjasama itu. Terkait LTJ sama sekali belum.

Seberapa yakin Bapak bahwa Indonesia akan menjadi negara mandiri ?

Intinya kan, Undang-Undang minerba idenya tidak sekedar mengelola dalam negeri, (melainkan juga, red) mengidupkan industri hilir. Kemandirian yang berbasis bahan baku yang ada. Untuk RE (LTJ, red) butuh perjuangan. Untuk logam-logam dasar, kita tahu kan bahwa masih bicara infrastruktur seperti baja,logam campuran. Belum bicara kegunaan logam yang langka. Ini saya kira  perlu duduk bersama PT (Perguruan Tinggi, red) dan lembaga penelitian. Mungkin tidak kita membangun industri hilir. (Saat ini, red) masih wacana.

Bisa sebut tahun ?

Minimal 10 tahun lagi.